
Di hari yang sama, Max yang sudah ketahuan dengan penghiatannya pada Grand Duke Killia memilih untuk tidak kembali ke mansion itu lagi dan memutuskan bekerja kembali di gilda, pekerjaan sebelumnya sebelum bertemu dengan Killian.
"Kau lebih cocok tinggal disini sebagai wakil ketua gilda daripada Kau harus tunduk dibawah Killian, Max," Senyum culas Marina mengejek Max. "Tapi dengan Kau yng ketahuan, sudah hilang mata-mata untuk Stevan,"
"Apa Kau datang kemari hanya untuk mengejekku?" Balas Max dengan nada datar sedikit mengancam, berbeda dengan saat di mansion Killian yang selalu memqsang wajah friendly pada semua orang.
Marina kembali tersenyum sinis, "Ya, Aku jauh-jauh datang ke Gilda hanya ingin mengejekmu, Max. Akhirnya Tuan yang Kau layani sepenuh hati sekarang menganggapmu penghiatan dan mencari dirimu untuk di eksekusi, sungguh malang nasibmu, Max haha,"
Max semakin tidak tahan dengan keberadaan Marina. Untuk apa gadis jahat itu jauh-jauh datang ke gilda untuk alasan yang menyebalkan. Dia sangat berbeda dengan Grand Duchess Joana yang ramah dan baik hati.
"Apa Kau tahu, Max," Ujar Marina mengabaikan wajah Max sudah menunjukkan wajah geram. "Sebaiknya Kau katakan semua hal yang Kau ketahui tentang Joana padaku,"
"Untuk apa? Tuan yang kulayani bukan Kau, tapi Tuan Stevan." Balas Max dingin namun mendapat respon senyuman penuh arti dari Marina.
"Apa Kau pikir Aku tidak tahu Kau menyembunyikan sesuatu dari Kami?" Marina menebak kecurigaannya pada Max. Marina menebak pasti Max telah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting.
"Untuk apa Aku menyembunyikan sesuatu dri Tuan Stevan. Aku tidak akan menyembunyikan apapun dari Beliau."
"Benarkah?" Timpal Marina seakan tahu semua kebohongan Max, "Novel," Sambungnya yang membuat Max tertegun.
"Lupakan saja, Aku sudah melihat semua kebenaran dari wajahmu, Max." Marina bangkit dari duduknya meninggalkan Max di ruang kerjanya sebagai wakil ketua gilda.
***
Satu minggu sudah Max menghilang dari mata. Entah dimana Max bersembunyi, pasti ada kaitannya dengan Marina dan Stevan.
Rencana awal Joana yang berpura-pura tidak mengetahui wajah asli Akira akhirnya rencana itu di undur karena semua rencananya sudah di ketahui oleh Max. Dan rencana baru akan mereka laksanakan hari ini dengan Zero dan Joana yang telah berlatih keras dengan kekuatan sihir masing-masing.
Joana terlihat kelelahan dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Napasnya juga tak karuan karena terus-terusan mengeluarkan energi sihir untuk digunakan melawan sihir api merah Zero.
Berbanding terbalik dengan Joana, Zero malah terlihat masih bugar tidak terlihat lelah di wajahnya. Dia masih lincah mengeluarkan sihir api merahnya.
"Anak itu tidak ada lelahnya," Ujar Killian duduk bersebelahan dengan Joana yng tengah duduk beristirahat.
"Ha, Kau benar... Fisiknya lebih kuat daripada Aku," Jawab Joana menimpali omongan Killian.
"Wajar kalau tubuhmu lelah, Kau membawa anak di dalam perutmu, Dia yang menguras tenagamu,"
"Em, Kupikir Kau benar. Akhir-akhir ini Aku semakin lelah dari biasanya."
"Ibu! Lihat ini!" Tiba-tiba suara kecil Zeri mengintrupsi pembicaraan Killian dan Joana.
Di tengah lapangan berdiri Zero dan Aarash sebagai guru latihan untuk Zero.
Dengan mengagumkan, Zero mengeluarkan api yang berbentuk seekor harimau merah yang membuat takjub Joana, Killian, dan sekaligus Aarash. Bagaimana mungkin seorang anak usia 7 tahun baru latihan selama seminggu sudah bisa menguasai teknik yang biasa dapat dikuasi oleh ank usia 15 tahun. Tapi wajar jika ini sebuah Novel dan Zeri adalah tokoh utama di novel season duanya.
"Bagus sekali Zero!" Teriak Joana dari pinggir lapangan. Entah kenapa melihat Zero yang bersemangat latihan membuat Joana juga semangat kembali.
"Sepertinya cuaca hari ini mulai menghangat," Gumam Killian tiba-tiba.
Joana dan Killin telah merubah rencana dengan diketahuinya sihir Zero. Joana tidak lagi berniat untuk membuat Foresta Fredda tetap dingin, tapi membiarkan novel berjalan sesuai alur, biarkan Marina melelehkan es yang ada disini.
"Hari ini Arhan dan Kenzie tengah menyelidiki hutan kegelapan. Jika benar Marina bertindak, pasti sebentar lagi akan ada bencana di hutan kegelapan," Sambung Killian. "Apa Kau yakin ini rencana yang tepat?"
Joana pun hanya mengehela napas pasrah karena sebenarnya Dia juga tidak yakin dengan rencananya. Jika salah langkah bisa-bisa tidak ada dunia untuk kedepannya.
"Aku juga tidak tahu Killian, Semoga keputusan yang Aku buat tidak membuatmu terbunuh,"
"Kita pasti bisa, Sayang..." Balas Killian mencium kening istrinya lembut. "Kau jangan khawatir, Aku tidak akan mudah terbunuh."
"Kuharap Kau tidak bohong dengan ucapanmu, tetaplah hidup bersama denganku dan anak kita," Setetes air mata Joana turun tak terbendung. Ia selalu menangis setiap kli mengingat adengan kematian Killian.
"Apa Kau tahu siapa Ayahmu?" Tanya Killian tiba-tiba.
"Killian, hiks," Jawab Joana bingun dengan pertanyaan Killian.
"Apa Kau tahu sosok seperti apa putra mahkota Killian?" Tanya Killian lagi yang dijawab sebuah gelengan oleh Joana.
"Ayahmu ada panglima perang yang memiliki kekuatan api biru dan angin. Ayahmu adalah laki-laki yang sangat hebat sepanjang sejarah."
"Benarkah?" Tanya Joana tidak menyangka Ayahnya sangat hebat sesuai dengan apa yang dikatakan Killian. "Kau tahu dari mana?" Sambungnya dengan tangis yang mulai mereda.
"Kenzie memberikan sebuah buku padaku tentang sejarah yang disembunyikan istana."
"Buku?"
Killian mengangguk mengusap bekas air mata Joana. "Aku akan memberikan bukunya padamu nanti,"
"Ibu? Apa Anda menangis?" Tiba-tiba Zero dan Aarash datang menghampiri sepasang suami istri itu. "Ibu tidak apa-apa? Apa Tuan Killian yang membuat Ibu menangis?"
Joana segera memasang wajah dengan senyuman agar Zero tidak berpikir aneh-aneh. "Ibu tidak apa-apa. Ibu sangat senang Kau sangat hebat. Kau sangat luar biasa Zero, Ibu sangat terharu makanya Ibu menangis,"
"Benarkah?" Tanya Zero polos yang diangguki Joana.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa Kau memanggil Killian dengan nama? Apa Kau masih takut memanggilnya Ayah?" Tanya Joana mengalihkan topik.
"Tuan Killian sepertinya tidak suka denganku Ibu," jawab Zero ragu-ragu menatap wajah Killian yng terkesan menyeramkan dimata Zero padahal wajah Killian biasa saja, datar dan tanpa ekspresi.
Joana pun melirik tajam ke arah Killian. Wajahnya perlu di latih untuk menunjukkan ekspresi.
"Wajahnya memang seperti itu, tapi Dia sangat baik, Zero," Ujar Joana mengusap rambut hitam Zero. "Coba panggil dengan Ayah!"
Zero menatap diam kearah Killian yang semakin terlihat menyeramkan, apalagi dimatanya sekarang, Killian yang jauh lebih tinggi darinya meski Killian yang sedang duduk terlihat sangat dingin seperti aura kegelapan pekat menyeruak di tubuhnya.
Zero pun menelan salivanya berat dan berusaha berucap tidak ingin menolak permintaan Ibu Angkatnya, "A-a-Ayah,"