The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 66



Sesuai perintah, Max membawa Daisy kedalam jeruji besi dengan ruangan yang sangat gelap dan lembab. Aroma darah dan bau busuk tercium dimana-mana.


Daisy diletakkan dengan lembut diatas tanah. Kemudian Max membangunkan gadis kecil itu.


Dan pada detik berikutnya Daisy pun terbangun.


Namun bukannya minta tolong untuk diselamatkan oleh Max, tapi malah Daisy meminta yang lain.


"Bunuh Aku Max. Kumohon..." Racaunya sambil menangis. "Kumohon, Max. Lebih baik Aku mati sekarang daripada Aku harus mati ditangan Tuan Stevan dan Nona Marina."


"Tidak, Daisy. Aku tidak akan membunuhmu." Balas Max panik. "Dengar. Kau katakan saja semuanya pada Tuan Stevan, dengan begitu mereka tidak akan menyiksamu Daisy." Bujuk Max.


"Aku tidak akan menghianati Nyonya Joana. Lebih baik Ku disiksa selamanya daripada Aku harus menghiatanati kepercayaan yang sudah diberikan Nyonya Joana padaku." Balasnya dengan teriakan menjerit atas pernyataan Max.


Kenapa Kau begitu peduli dengan mereka disaat Kamu disiksa Daisy... Batin Max merasa kasihan pada rekan yang pernah menghabiskan waktu dengannya.


"Waaah waaahhh. Ternyata ada pertunjukan menarik disini," Ujar Stevan yang tiba-tiba datang entah sejak kapan bersilang dada menyandar pada ambang pintu yang gelap.


Seketika Max pun menunduk atas kehadiran tuannya. "Saya mohon maaf, Tuan."


"Baiklah, Aku akan menuruti permintaanmu, gadis kecil. Menyiksamu seumur hidupmu dan selama yang Kau mau." Ujar Stevan dengan suara dingin dan menakutkan berjalan perlahan mendekat ke arah Daisy dan Max. "Aku ingin tahu, saat Aku menyiksamu, apakah Joana akan turut sedih dan datang kemari untuk menyelamatkanmu?" Sambungnya sinis mengejek kesetiaan Daisy.


"Jangan Kau lukai Nyonya Joana;" Teriak Daisy menantang dengan berani menatap wajah Stevan secara langsung.


Namun teriakan Daisy malah membuat badannya ditendang dengan keras Stevan.


Max amat merasakan kasihan pada Daisy. Daisy adalah gadis yang disukainya, tapi Dia tidak bisa berbuat apa-qpa untuk menolongnya. Dan kenapa Daisy begitu percaya dengan Joana.


Tubuh gadis itu terpelanting ke tanah membentur dinding. Lalu Stevan berjalan dengan menakutkan, berjongkok kemudian mengangkat kepala Daisy dengan cara menjambak rambut merahnya.


Darah yang tadi kering sekarang terbuka dan bertambah banyak. Tubuh Daisy seakan remuk disiksa oleh Stevan.


"Aku penasaran bagaimana caramu tahu tentang kehidupan Maurice." Sahut Stevan dingin mengeluarkan aura kegelapannya.


"Meskipun Kau membunuhku sekalipun, Aku tidak akan mengucapkannya!


Bug!


Stevan menjambak kemudian membenturkan kepala Daisy dengan keras ke dinding di belakangnya. "Kau sangat berani dengan jabatanmu yang hanya seorang pelayan." Sinisnya pada Daisy.


"Tuan," Sahut Max sudah tidak tahan dengan kekerasan yang dilakukannya pada Daisy. "Sudah cukup, Tuan. Dia bisa mati kalau Anda terus menyakitinya. Tubuhnya berbeda dengan para pembunuh bayaran yang Tuan Bunuh." Sambung Max beralasan agar Daisy tidak terluka lebih lagi. Saat ini Max hanya bisa menolongnya dengan cara itu. Entah cara apalagi nantinya.


Stevan pun menoleh kebelakang dengan malas menatap bawahannya yang sepertinya memiliki perasaan dengan gadis yang ia siksa. Tidak biasanya Max akan mencoba menghentikannya. Bahkan dulu saat Stevan menyiksa para gadis muda yang membeberkan identitas Stevan, Max tidak ada rasa kasihan menyiksa secara erlahan para gadis muda itu sampai memohon kematian pada Max.


"Kau menyukai gadis ini?" Tanya Stevan dingin menatap tajam penuh curiga pada Max.


"Te-tentu tidak, Tuan." Jawabnya terbata-bata.


Stevan pun berdiri membersihkan tangannya dari kotoran sehabis memegang Daisy. Lalu ia berjalan mendekati Max kemudian menepuk bahu kekarnya dan pergi keluar dari penjara busuk itu.


"Awasi Dia. Dia masih belum menikmati menu utama dariku, Max." Ujarnya sebelum meninggalkan penjara.


Dan sepeninggal Stevan.


Max menatap tubuh Daisy yang meringkuk diatas tanah yang dingin dengan luka disekujur tubuh kecilnya. Gaunnya yang semula berwarna biru sekarang berubah menjadi hitam, coklat, dan terdapat noda darah miliknya sendiri.


Di ujung bibirnya juga terdapat darah segar yang mengalir. Wajahnya penuh lebam tapi tak menunjukkan sedikitpun air mata.


"Kenapa Kau seperti ini Daisy. Kau bisa selamat jika Kau mengatakan semuanya. Kita tidak lebih dari seorang pelayan, Nyonya Joana tidak akan menyelamatkan pelayan seperti kita." Sahut Max dengan suara lirih mendekati Daisy. Rasa kasihan pada Daisy terus mengganggu pikiran. Hatinya dipenuhi gejolak memilih menyelamatkan Daisy atau menghianati Stavan.


"Kumohon, Daisy... Aku tidak ingin melihatmu disiksa lagi olehnya. Dan apa Kau tahu sakitnya disiksa menggunakan sihirnya?" Sambung Max mencoba membujuk Daisy.


Namun mendengar bujukan Max, Daisy malah tersenyum dan tertawa menatap kebodohan Max yang tega menghianati kepercayaan dan kebaikan Grand Duke dan Grand Duchess padanya. Max adalah pria terbodoh yang pernah ia kenal.


Hal itu membuat Max sedikit marah karena Daisy masih mempertahankan keyakinannya. Max pun pergi meninggalkan Daisy tanpa sepatah kata dengan perasaan yang mengganggu benaknya.


***


"Apa Kau tahu dimana Daisy ditahan?" Tanya Joana pada Aarash yang baru saja memberitahukan tentang Daisy yang ketahuan.


"Penjara phonix." Jawab Aarash.


"Penjara phonix?" Ulang Joana karena tidak tahu penjara apa itu.


"Kudengar penjara itu adalah penjara yang dengan kasus kematian paling parah. Orang-orang yang keluar dari penjara itu semuanya berubah menjadi abu. Tanpa ada satupun yang pernah hidup maupun mati dalam kondisi utuh." Timpal Kenzie yang membuat bulu guduk semua orang berdiri membayangkan kegerian penjara itu.


Joana yang mendengarnya seketika menjatuhkan dirinya diatas lantai. Kakinya lemas membayangkan Daisy akan bernasib sama dengan apa yang dikatakan Kenzie.


"Nyonya!" Sahut Ellia  menjongkok mensejajarkan pandangan dengan Joana yang jatuh. Pada detik kemudian Ellia pun memeluk Joana karena terlihat Joana sudah meneteskan air mata dengan wajah takut.


"Aku harus menyelamatkan Daisy, Ellia." Ujar Joana saat dipeluk Ellia. "Aku harus menyelamatkan Daisy. Dia temanku. Dia satu-satunya temanku!"


Ellia menengok ke belakang menatap Kenzie dan Aarash bergantian. Seakan memberi isyarat untuk mengatakan penghiburan pada Joana.


Brak!


Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras dari luar. Datanglah Arhan yang membopong Daisy dengan tubuh kotor dan bersimbah darah.


Serta dibelakangnya mereka ada Killian yang memapah Max yang sama terlukanya dengan Arhan dan Killan saat ini, entah apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya.


Segera Joana bangkit dan berlari dengan raut wajah panik melihat keadaan Daisy yang mengenaskan.


"Dia masih hidup," Ujar Arhan serasa tahu ke khawatiran Joana.