The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 65



Cuaca menghangat, Marina mengajak Maurice untuk menikmati udara segar musim semi di Foresta Fredda. Meskipun udara masih terasa dingin tapi tak membuat Marina dan para orang-orang yang menikmati pemandangan danau yang terbentuk dari lelehan gelanggang yang biasanya dijadikan untuk bermain ice skating umum di pusat kota.


"Ayo kita duduk disana, Maurice!" Tunjuk Marina pada sebuah tempat dibawah pohon beralaskan tanah dengan sedikit rumput. "Kita bisa menggelar tikar dan duduk disana."


"Ayo!" Dan dengan segera Marina menarik lengan Daisy untuk ikut bersamanya. "Bantu Aku menggelar tikar," Ujarnya mengeluarkan sebuah karpet berwarna biru yang Marina bawa di dalam kotak keranjng kayu.


.


.


"Lihat air mancur itu, Maurice! Stevan yang membangunnya kemarin!" Marina terlihat bahagia berpiknik bersama adiknya yang tak oernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya karena tugas Marina yang selalu disibukkan dengan tugas militer. "Haha, patungnya jadi terkesan lucu karena menggunakan patung Liberty."


"Kenapa Kakak melakukan itu?" Gumam Daisy tak memperdulikan kata-kata Marina.


"Hah?" Bingung Marina. "Apa maksudmu?"


"Apa Kakak tahu betapa bahayanya perubahan iklim disini?"


"Kenapa bahaya? Bukankah ini lebih baik. Udara tidak sedingin dulu. Dan lihat mereka, mereka sangat senang dengan perubahan ini."


"Hentikan, Kak!" Ucap Daisy tegas menatap mata hazel Marina. Meskipun takut, tapi Daisy harus melakukannya. Ini demi Foresta Fredda dan Joana yang sudah berjuang.


"Aku tidak mengerti maksudmu, Daisy. Menghentikan?" Ujar Marina bersikap tidak tahu menahu dengan pertanyaan adiknya.


"Kumohon, Kak. Hentikan sebelum Kakak menyesal." Bujuk Daisy namun malah membuat Marina menaruh curiga padanya.


"Jadi benar, Joana masih hidup." Sahut Marina dengan nada pelan namun terkesan dingin.


Deg!


Dan mendengar hal itu tentu saja membuat jantung Daisy berdetak lebih cepat. Marina sudah tahu?


"Apa maksud Kakak?" Tanya Daisy berpura-pura tidak tahu juga.


Haaaahhhh.


Suara helaan Marina yang cukup panjang terdengar.


"Apa Kakak boleh tanya?" Ujar Marina tegas mengabaikan alasan adiknya. "Siapa Kau?" Sambungnya dingin seperti oramg yang sedang mengintrogasi. Seperti Marina sang tentara sudah kembali.


"Apa Maksud Kakak? Tentu saja Aku Maurice."


"Dimana Maurice?!" Tiba-tiba dalam hitungan detik Marina langsung mencekik leher Daisy tanpa ampun. "Diman Maurice? Darimana Kau tahu cerita tentang Maurice?!" Sambung Marina dengan tatapan mematikan dengan hawa panas yang merasuk menembus dada Daisy.


Ugh


Daisy merasakan sakit yang luar biasa baik diluar dan didalam tubuhnya. Ditambah ia tidak bernapas karena cengkraman tangan Marina.


Uhuk uhuk


Daisy pun terbatuk-batuk menyesuaikan pernapasannya kembali. Tubuhnya terasa sakit. Namun luka ini tak seberapa. Daisy pernah mendapatkan luka yang lebih parah saat menjadi budak dulu.


Marina berjalan dengan marah mendekat ke arah Daisy. Tangannya sudah mengeluarkan sihir siap untuk menyerang pembohong Daisy.


"Stop Marina!" Dan syukurlah tiba-tiba Stevan datang menyelamatkan nyawa Daisy untuk sementara waktu.


Stevan datang dan langsung mencengkram lengan Marina untuk menghentikan agar Dia tidak mengeluarkan sihir api merahnya di depan umum. "Semuanya sedang melihat. Jangan mengacaukan rencana." Sambung Stevan.


Daisy mencoba mencari celah untuk lari sementara waktu. Dan saat mereka berdua berbicara, Daisy berlari sekencang yang ia bisa kabur dari mereka. Maaf Nyonya, tapi sepertinya Saya tidak bisa menepati janji Saya, batin Daisy teringat perpisahan Daisy dan Joana. Joana mengatakan pada Daisy untuk tetap selamat dan lari jika dalam bahaya.


Daisy terus berlari meski tahu dirinya akan tertangkap. Apalagi tubuhnya yang sakit akibat dipelanting Marina membuat tubuh mungil Daisy kesulitan untuk berjalan maupun berlari.


Blarrrr


Seketika bayangan hitam sekelebat datang tepat didepan Daisy. Kabut bayangan hitam berubah menjadi Stevan. Sosok yang sangat mirip dengan Grand Duke yang ia layani. Namun bedanya pria itu mengeluarkan aura kegelapan yang sangat pekat.


"Kaju mau lari kemana bocah?" Ujar Stevan dengan senyum mengejek Daisy yang mencoba kabur darinya.


Tentu saja kehadiran Stevan yang menemukannya membuat Daisy ketakutan. Mungkin inilah akhir dari hidupnya.


Alih-alih kata-kata pengampunan, Daisy malah tersenyum menatap wajah iramg yang akan menjadi malaikat mautnya. Setidaknya ia mati dengan bahagia karena gugur dalam pertempuran menyelamatkan dunia ini bersama Joana.


"Max!" Ujar Stevan dingin memanggil nama bawahannya yang ada dibelakangnya bersembunyi di suatu tempat.


"Iya, Tuan." Balas Max dengan jongkok ala kesatria. Matanya tertuju pada Daisy yang terluka cukup parah dengan darah di tangan dan pelipisnya. Bekas cengkraman Marina juga terlihat di leher putih Daisy. Max merasakan iba melihat gadis malang itu. Namun ia harus tetap bersikap tegas di depan Stevan, Tuannya.


Max dan Daisy bertemu tatap selama beberapa detik namun Daisy langsung mengalihkan pandang karena jijik dengan Max yang seorang penghianat.


"Bawa gadis itu ke penjara phoenix,"


"Apa?" Tentu Max terkejut dengan perintah tuannya. Kenapa harus penjara phoenix? Penjara yang dibuat sendiri oleh Stevan dengan tingkat sakit yang luar biasa karena tahanan yang masuk ke dalam penjara itu akan dibakar dengan api hitam.


Barangsiapa yang terkena api hitam akan merasakan kesakitan luar biasa dengan kulit meleleh sampai ketulang.


"Apa Kau mau membela mantan partner yang sudah Kau hianati?" Balas Stevan dingin kemudian menendang tubuh Max hingga pria dengan luka sayatan di wajahnya itu terjatuh tersungkur.


"Tidak, Tuan." Ujar Max pada akhirnya. Ia pun mengeluarkan sihir kegelapan meiliknybuntuk membuat Daisy pingsan kemudian membawa tubuh Daisy seperti menggendong karung beras ke tempat yang diminta Stevan.


"Jangan sampai membunuhnya sampai Dia mengatakan keberadaan Maurice yang sebenarnya." Ujar Marina datang setelah kepergian Max dan Daisy.


"Kenapa tidak Kau saja yang mengintrogasinya? Tugasku banyak. Aku sibuk." Sahut Stevan sebagai balasan


"Aku harus menyelidiki Joana dan Killian. Aku hars menemukan bagaimana gadis itu tahu banyak tentang Maurice.