
Berhari-hari Joana membaca buku itu, berusaha menemukan teka teki yang tersimpan disana.
Dari buku jelas sekali Ibunya telah melihat masa depat Joana.
Tapi saat ini Joana harus menemukan taman surga itu terlebih dahulu. Tempat yang selalu bersinar baik siang maupun malam. Apakah Foresta Fredda ada tempat seperti itu?
Joana begitu frustasi membuka setiap halaman buku harian itu lagi dan lagi. Tapi tak menemukan hasil.
"Hei, Kenzie. Apakah disini ada tempat yang selalu bersinar?" Tanya Joana saat sedang bersantai setelah mereka selesai latihan dengan Zero.
Kenzie yang selesai latihan merebahkan punggungnya dengan nyaman diatas lantai. Sementara Ellia duduk menyilang di samping Kenzie.
"Tempat yang selalu bersinar?" Beo Kenzie mengingat-ingat. "Satu-satu tempat yang selalu bersinar hanya istana. Ada banyak lampu disana."
"Apakah zaman dulu sudah ada lampu?" Gumam Joana pada diri sendiri. Namun tiba-tiba otaknya keluar lampu yang menandakan sebuah pencerahan datang dari kepalanya. "Apa Kalian tahu tempat yang selalu disinari sinar bulan?"
"Sinar bulan?" Beo Killian.
Joana pun mengangguk yakin. Jika masa lalu tidak ada lampu, maka yang menyinari taman saat malam adalah bulan. Jadi tempat itu pasti tempat dimana bulan selalu menyinarinya.
"Okey, Aku rubah pertanyaannya. Saat malam, saat semua orang mematikan lampunya, apakah ada tempat yang terang dengan cahaya bulan?"
Hmmm
Kenzie berdehem merebahkan tubuhnya mengingat-ingat tempat yang pernah ia kunjungi saat malam.
Disaat mereka berdiskusi, datanglah Arhan dan Max yang telah kembali ke pondok setelah kegiatan 'pembasmian'
Kemana perginya Aarash? Dia sedang memandikan si kecil Zero. Ini karena perintah konyol Killian yang selalu menyuruh Aarash untuk memandikan anak angkat Killian.
"Aku mendengar pembahasan Kalian dari luar." Ujar Arhan ikut duduk. Entah sejak kapan agenda diskusi di depan perapian selalu terjadi. "Kupikir tempat ini adalah tempat yang selalu terang saat malam."
"Tempat ini? Pondok ini?" Sahut Joana menanggapi ucapan Arhan.
Seperti mendapat petunjuk, Killian pun berdiri dengan tiba-tiba mengangetkan semua yang ada disana.
"Bukankah Kau bilang Taman surga hanya ada satu pohon besar?" Ujar Killian. "Di halaman belakang pondok ini ada satu pohon besar juga. Apakah mungk..."
Belum sempat Killian menyelsaikan ucapannya. Joana juga berdiri. Apa yang dikatakan Killian masuk akal. Jika benar taman surga ada disini, hal itu bisa menjelaskan kenapa sense Joana sangat kuat saat berada disini.
***
Joana dan lainnya sampai di tempat yang biasa digunakan Killian, Zero, dan Kenzie berlatih.
Joana menatap ke arah satu pohon besar yang bersinar diterangi cahaya bulan. Cahaya itu tepat mengenai atas pohon besar itu.
Joana memperhatikan sekitar, saat semua tanaman sudah menunjukkan warnanya, pohon itu masih tertutup salju tebal.
Apakah benar itu pohon yang ada di penglihatanku?
Arhan mendekati pohon itu berniat untuk menyingkirkan salju yang menutupi batang pohon. "Pohon ini diperkirakan sudah ratusan tahun." Ujarnya berbalik menatap Joana dan Killian bergantian.
"Apakah Kau bisa menyingkirkan saljunya?" Pinta Killian yang diangguki oleh Joana.
Pada detik berikutnya Joana pun mengeluarkan energinya untuk menyingkirkan semua salju yang menutupi pohon itu.
Wuuuuussssshhhhh
Salju-salju yang menutupi menghilang. Dan secara langsung menampakkan pohon yang sama dengan pohon dimana tempat Tania dan Daniova bermain saat kecil.
Sebagai pembuktian Joana pun mendekat dan menyentuhnya secara langsung. Warna daun yang jatuh masih berwarna hijau segar, berbeda dengan pohon-pohon lainnya yang tak memiliki daun.
Perlahan Joana menempelkan telapaknya menyentuh batang pohon itu. Namun tak lama... Joana tiba-tiba ambruk pingsan yang di tahan oleh Arhan.