The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 51



"Api hitam!"


Mata mereka berempat menatap pada hal yang sama. Api hitam menyala besar membakar tiang-tiang penyangga bangunan.


Joana mengeluarkan sihir esnya menutup api hitam itu dengan esnya. "Lari terus!" Ujar Joana sembari mengeluarkan sihir untuk mematikan apinya.


***


Mereka berempat sampai di area hutan yang ada di belakang mansion. Joana sudah kelelahan karena mengeluarkan sihir yang sangat banyak hari ini. Apalagi sihir yang ia buang masa latihan tadi belum pulih sepenuhnya.


Killian mendudukkan Joana bersandar di salah satu pohon besar dengan alas salju putih.


Killian berjalan satu langkah mengangkat tangannya mencoba membuat pelindung sihir. Di ikuti dengan Aarash yang ikut mengeluarkan sihirnya.


"Kita harus kabur sekarang," Sahut Joana dengan napas ngos-ngosan. Ia menunduk mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Jika terus di sini, mereka akn terluka. "Kita belum ada rencana untuk melawannya,"


Killian ingin sekali melawan Stevan dan Marina para sialan itu. Tapi sepertinya kali ini harus menuruti Joana. Sebelum perang melawan musuh, pelajari dulu keahlian dan kelemahan musuh.


"Zero, keluarkan sihirmu, gunakan untuk membakar hutan ini," Sahut Killian dengan rencananya.


"Apa?" Tanya Zero tersentak tidak mengerti kenapa tiba-tiba diminta membakar hutan ini.


"Bisakah Kau membakar hutan tapi tetap menyisakan jalan untuk keluar?" Tanya Killian memastikan jika bisa saja anak itu malah membakar semua hutan beserta mereka.


"Biar Saya saja," Aarash menunjuk diri menggantikan Zero.


"Tidak, harus Zero." Timpal Joana.


"Biar Marina mereka percaya hutan ini dibakar Marina," Sambung Killian.


"Zero, Lakukan!" Perintah Joana menatap Zerk yang sedikit ada ragu yang terlihat jelas di wajah anak kecil itu.


"Ta-tapi, A-piku sa-ngat be-sar. A-ku takut melukai kalian," Anak kecil itu tertunduk bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia ingin melakukannya, ia ingin melindungi orangtua barunya, tapi ia takut sihirnya yang terlalu besar akan melukai mereka.


"Zero, percaya padaku," Bujuk Joana menyakinkan Zero. Satu-satunya cara hanya memanipulasi keadaan untuk sementara.


Api sudah menyebar membakar sebagian besar area mansion mewah itu.


Tidak peduli pada harta benda lagi, satu-satunya yang paling penting adalah menghindar dari api hitam pekat yang menyelimuti mansion itu.


"A-aku takut, Ibu-" Zero tertunduk takut. Pikirannya masih kalut ketakutan.


"Anggap saja ini latihan, Zero. Kau pasti bisa," Aarash menyemangati Zero juga. "Percaya pada gurumu, Mengerti?"


Zero akhirnya mengangguk pasrah meski dalam hatinya ia masih takut. Ia pernah di ceritakan Aarash kalau api merah adalah tingkatan sihir tertinggi api. Karena itu lah Zero takut jika sesuatu yang buruk terjadi.


"Kau pasti bisa," Killian juga memberikan semangat.


Zero menelan salivanya kuat menatap mansion yang sudah terbakar. Terdengar teriakan dari dalam mansion itu. Sepertinya itu adalah suara para pelayan yang tidak sempat melarikan diri yang ketahuan Stevan ataupun terkena api hitam dan api merah yang bercampur menjadi satu. Pemandangan itu sangat mengerikan.


Anak kecil tujuh tahun itu pun memejamkan matanya merapalkan mantra untuk mengeluarkan api merah dari tangannya. Dan wushh, beberapa kobaran api besar menyalakan pohon yang membuat salju ikut meleleh.


Kobaran itu dengan cepat merambat diantara pohon-pohon besar yang tertutup salju.


Killian menggendong Joana meninggalkan kobaran api besar itu. Di susul Zero yang digendong Aarash untuk berlari sekuat tenaga.


Karena sihir Zero belum sepenuhnya terkendali, api itu membakar apapun yang ada disekitarnya dengan sangat cepat.


"Cepat Aarash!" Teriak Killian pada Aarash dan Zero yang berada jauh di belakang,


"Aku sedang berusaha!" Balas Aarash dengan teriakan juga.


***


Hah hah hah...


Suara deru napas Aarash begitu terdengar setelah sampai di tempat persembunyian (rumah orang tua Zero). Ya, mereka memilih rumah itu karena kemungkinan Marina dan Stevan tidak berpikiran kesana.


"Ibu-" Zero turun dari gendongan Aarash langsung berlari memeluk Joana. Anak kecil itu menitikkan air mata.


Hampir saja ibunya itu terluka karena api yang dibuatnya. "Maafkan Aku ibu, Aku tidak bisa melindungi Ibu dengan baik," Tangis Zero memeluk Joana yang duduk di kursi kayu lusuh yang ada di rumah sederhana ini. Ayahnya Zero sudah di hukum mati oleh Killian sebelumnya, jadi tempat ini kosong tak berpenghuni lagi karena Zero sudah tinggal bersama Killian dan Joana.


"Kau sudah melakukan yang terbaik Zero, Ibu sangat bersyukur Kau membantu kami dengan sihirmu," Balas Joana mengusap rambut hitam anak laki-laki itu. "Tentu Kau masih perlu belajar untuk mengontrol sihirmu, mengerti?"


Anak itu akhirnya mengangguk sambil mengalirkan air mata di mata merahnya. "Aku akan berlatih lebih keras agar bisa menolong Ibu, hiks-"


Joana pun tersenyum datar mengangkat Zero ke pangkuannya. "Ibu berterimakasih karena Kau sudah menyelamatkan anak yang ada di perutnya Ibu. Tanpa sihirmu, kita akan terlacak oleh orang jahat itu." Gumam Joana memeluk laki-laki bertubuh mungil yang kini sudah menjadi putranya.


.


.


.


"Apa Kau bisa mengabari Arhan dan Kenzie?" Tanya Killian membuka suara. Killian menyibak rambutnya kasar karena penyerangan tiba-tiba yang dilakukan Stevan dan Marina. Apalagi sihir Joana sudah menipis karena latihan rutin dan Dia memaksakan diri untuk mengeluarkan sihir yang sudah batasnya. Killian sangat marah dengan kejadian ini. Killian bersumpah akan menghabisi mereka semua yang telah mengganggu Dia dan Joana.


"Aku masih berusaha," Balas Aarash menatap langit yang sudah hilang cahayanya. "Kuharap Arhan mengerti kode yang Aku kirimkan padanya," Sambungnya setelah mengeluarkan sihir cahaya miliknya yang terbang ke atas menuju tempat tujuan, yaitu hutan kegelapan dimana Arhan dan Kenzie berada.


"Kita perlu menyusun rencana matang kali ini," Ujar Killian lagi dengan ekspresi marah luar biasa. Emosinya tidak bisa diredam begitu saja setelah melihat betapa menderitanya Joana yang kehabisan sihir.


"Sihir api hitam itu, Aku baru pertama kali melihatnya," Ucap Aarash menoleh ke lawan bicaranya yaitu Killian. "Aku juga tidak bisa merasakan kehadiran aura sihir mereka, dengan kekuatan besar yang membakar habis mansion mewahmu, jelas kekuatannya sangat besar,"


"Aku tahu, karena itulah, Kita harus menghubungi Arhan dan Kenzie. Penyihir Agung dan Putra Mahkota seharusnya tahu rahasia yang tidak kita ketahui,"


Aarash mengangguk dengan asumsi Killian.


"Kita akan bermalam disini selama beberapa hari," Gumam Killian mengamati rumah lusuh tanpa penerangan ini. Untung saja ada kekuatan cahaya Aarash sebagai pengganti lilin untuk menerangi malam kelam mereka.


Killian berjalan mendekat kearah Joana yang duduk memeluk Zero yang tertidur.


Killian pun mengangkat Zero dalam gendongannya untuk memindahkan anak itu tidur di tempat lain. "Kau juga tidurlah, Aku dan Aarash akan berjaga malam ini," gumam Killian mengusap puncak kepala Joana.