
Setelah latihan berjam-jam dengan Arhan, Joana memilih berendam air hangat cukup lama untuk menghilangkan nyeri otot di sekujur tubuhnya.
Dan untung saja Killian tidak ada di mansion, entah Dia mau kemana Joana tidak peduli, mungkin saja Dia sedang bersenang-senang dengan mangsa barunya.
Jika Killian ada disini pasti akan membuat kedamaian Joana hilang.
"Sayang?" Suara Killian yang mengagetkan Joana yang masih berendam. Killian juga terkejut karena melihat Joana di sana. Killian pikir Joana masih berlatih dengan Arhan.
Joana cukup terkejut dengan kehadiran Killian, tapi tidak dengan tubuh Killian yang penuh darah. Benar saja Dia sedang bersenang-senang.
"Bersihkan tubuhmu di pancuran, terus masuk sini bersama," Ujar Joana kemudian yang membuat Killian berseri. Sudah beberapa hari sejak insiden kamar jadi dapur membuat Joana menjauhinya.
***
"Kau latihan apa saja dengan Arhan?" Tanya Killian memeluk Joana dari belakang. Posisi mereka saat ini tengah duduk berendam di bathtub.
"Aku hanya latihan seperti biasa," Jawabnya malas, Joana benar-benar sangat lelah hanya untuk menanggapi suaminya. "Lalu bagaimana denganmu? Sampah mana lagi yang Kau bereskan?"
"Bukan siapa-siapa, hanya anak buahnya Stevan."
"Stevan?" Yang awalnya tidak minat, Joana menengok belakang menatap penasaran suaminya, ia membutuhkan penjelasan terkait siapa Stevan. Nama yang jarang di Foresta Fredda ini.
Serasa keceplosan, Killian ingin mengganti topiknya, ia tidak ingin Joana tahu tentang si Stevan ini. "Ayo Kita keluar, Kau terlalu berendam, kulitmu akan keriput nanti," Tanpa izin dari istrinya, Dia langsung membopong istrinya yang telanjang bulat. "Aakkk!" Jerit Joana karena perilaku suaminya. Ia lantas mengalungkan lengannya agar tidak terjatuh sementara Killian berjalan mengambil handuk.
***
"Nyonya, ada Tuan Baron mengirim peti emas Nyonya," Ujar Daisy memberitahukan pada majikannya, Joana.
"Peti emas?" Beonya cengo namun kemudian mengingat tanggal ini, tanggal ini adalah tanggal pembayaran dari Baron atas penjualan novel karyanya.
Setelah ingatannya kembali tentang bayaran, wajah Joana berubah berseri bersemangat memikirkan berapa banyak bayaran yang ia peroleh.
"Antarkan Aku kesana, Daisy," Pinta Joana.
"Waaaahhhhh~" Hampir air liur Joana keluar karena melihat silauan sebuah peti besar berisi batang emas.
Max, pengawal Joana sekarang, juga takjub melihat peti emas itu, belum pernah ia melihat emas sebegitu banyaknya, ya belum pernah melihatnya karena setiap kali Killian meminta Max untuk mengantar peti emas, Max tidak pernah penasaran bagaimana rupa ataupun menghitung jumlah emas milik Tuannya.
"Emas dari mana?" Suara Killian tiba-tiba mengintrupsi ruangan mewah yang semula hanya di isi oleh tiga orang.
"Ini uangku tahu." Balas Joana tanpa menoleh kearah suaminya yang baru datang.
Killian terkekeh sejenak mendengar respon Joana yang seperti kucing liar sedang mempertahankan wilayahnya. "Iya Aku tahu ini milikmu, tapi darimana Kau mendapat emas sebanyak itu?"
"Dari Baron pemilik penerbitan buku," Jawabnya masih silau dengan kekayaannya. Kira-kira berapa ya jumlahnya Batin Joana mendekat dan menyentuh langsung batang emas yang sudah menjadi miliknya. Dia seperti seorang wanita yang gila akan harta, tapi apa salahnya juga.
"Tuan Baron mengirim 750 batang emas Nyonya," Daisy berkata membuka suara.
"Waaaah, 750?" Mata Joana nampak bersinar tatkala mendengar jumlah emas yang dilontarkan pelayannya. "Ini semua milikku hahaha," Betapa bahagianya Joana menghambur-hamburkan emasnya.
"Apa Kau mau Aku tambahi emasnya lagi? Kau nampak sangat menyukai emas," Killian tersenyum dengan kelakuan istrinya. Tidak pernah terbayang Joana yang dulu sangat datar dan dingin terhadapnya sekarang berubah menampakkan banyak emosi, begitupun Killian yang sedikit berubah sejak kehadiran Joana di sampingnya.
"Kau akan mendapat semua kekayaanku, Kau tidak perlu meminta akan ku kasih semua hartaku padamu," Balas Killian lembut mengusap puncak kepala Joana yang jongkok bermain dengan peti emasnya. Tidak menujukkan sifat bangsawan sama sekali. Apalagi pakaian yang ia kenakan, tapi Killian sudah terbiasa dengan sikap apa adanya dari Joana. Sikap yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi, untuk selamanya.
"Berapa kekayaanmu?" Tanya Joana yang sudah lama ingin diutarakan tapi belum menemukan waktu yang pas. Sejak awal Joana sangat penasaran dengan kekayaan yang dimiliki oleh seorang Grand Duke. Meskipun ini dunia novel, harta tetaplah harta, nomor satu diatas segalanya.
"Emmmm," Killian mencoba berpikir sejenak, "Apa Kau pernah menghitungnya Max?" Killian malah menanyakannya pada bawahan setianya. Killian juga tidak tahu berapa kekayaan yang ia miliki, sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli.
"Ada empat tambang berlian yang dinilai sekitar 800 juta emas, 15 Villa dan 7 rumah mewah tersebar di Foresta Fredda dan negara tetangga dengan harga kisaran 650 juta emas, selanjutnya ada penghasilan dari tiga gilda sekit-"
"Cukup Max, cukup, jangan buat Aku jadi berpikir serakah," Putus Joana pusing dengan angka angka fantastis yang belum mungkin bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Aku yakin emas yang dimaksud bukan emas kecil berbentuk koin seperti milikku, bisa jadi emas batangan besar, batinnya.
"Kau tidak perlu khawatir, Kau boleh serakah dengan semua harta milikku, Sayang. Karena semua millikku adalah milikmu juga," Killian menjongkok mensejajarkan wajahnya dengan istrinya kemudian menyilakkan anak rambut hitam Joana. "Kau pemilik semua hartaku, termasuk Aku juga milikmu," sambungnya lembut.
Entah kenapa Joana merasa panaa saat ini, ia pun panik berdiri mengipas wajahnya dengan satu tangannya. "Apa cuacanya menghangat sekarang?" Tanyanya mencari alasan dengan sikapnya.
Killian pun ikut berdiri tertawa kecil melihat wajah bersemu milik Joana. Dan sepersekian detik kemudian langsung mencium bibir merah itu dengan durasi cepat.
Sontak Daisy dan Max langsung membalikkan badan tidak ingin melihat perbuatan tidak senonoh tuan mereka.
Sementara Joana semakin merah bak tomat matang sempurna. "Apa yang Kau lak-"
Cup. Killian mencium bibir itu lagi. Lanjut ia mendekatkan diri mencium istrinya penuh penekanan.
"Emmmm," Joana ingin sekali bicara, rasanya tidak pantas di lakukan di tempat seperti, apalagi ada Max dan Daisy di ruangan yang sama.
Satu hal yang pasti, jangan sampai ada ******* yang keluar!
"Killi-"
"Kau sangat memabukkan, Sayang," Gumam Killian dengan suara rendah kembali memagut manja bibir istrinya yang sudah nampak bengkak karena ulahnya.
"Kita lanjut di kamar, ya."
Tanpa pikir panjang, Killian langsung menggendong Joana ala bride style, "Aku ingin menyapa benihku didalam perutmu,"
"Apa boleh? Berhubungan saat hamil? Apa benihnya akan baik jika kita melakukan itu?" Joana mengalungkan lengannya di leher kokoh suami tampan bermata merah.
Mendengar hal itu, Killian mengerjapkan matanya beberapa kali, ia juga tidak tahu.
Setelah meletakkan istrinya di ranjang bigsize di kamar lama yang di tempati Joana, Killian langsung pergi menggalkan Joana yang nampak kebingungan seperti diberi harapan palsu oleh suaminya.
Sebenarnya, Killian bergegas pergi ingin menemui Aarash secara langsung, Dia adalah seorang dokter, jadi Killian ingin mencari jawabannya saat ini juga.
"Apa Aku boleh melakukan itu dengan Joana?!" Butuh waktu satu menit untuk Killian datang ke tempat Aarash dengan teleportasi.
Sementara Aarash kaget setengah mati mendengar suara Killian yang terdengar tegas. Tapi apa pertanyaannya tadi? melalukan itu? itu apa? Batin Aarash mencoba berpikir setengah mati dengan pertanyaan ambigu temannya.
"Aku tanya, apa boleh Aku melakukan hubungan itu dengan istriku yang hamil?" Tanya Killian seakan mengerti wajah bingung Aarash.
Oooohhh