The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 31



Killian tanpa ragu sedikitpun langsung menebas pria yang berteriak histeris membela Stevan. Telinganya sakit mendengar teriakan itu.


Cratsss


Lucius terjatuh ke lantai dan memberikan banyak cipratan darah di baju Killian. "Aisshh," Killian melihat noda darah yang terkena bajunya. "Joana tidak akan suka dengan noda darah ini." Sahutnya memberikan pedangnya pada Aarash.


Killian mundur untuk melihat bagian bajunya yang terkena darah. Dan sialnya ia terlalu bersemangat menebas Lucius sehingga darahnya cukup banyak terciprat dibajunya.


"Aarash, Beri mereka satu kesempatan dan bunuh jika mereka tidak mau mengambil kesempatan itu," Sahut Killian mendudukkan dirinya di kursi yang cukup jauh. Ia tidak ingin ada darah yang terciprat di bajunya lagi.


***


Setengah jam sudah Aarash dan Killian mengeksekusi para pengikut Stevan. Masih ada satu yang masih hidup. Karena Dia adalah satu-satunya yang pintar yang masih menyayangi nyawanya sendiri daripada berkorban demi Stevan.


Killian menyudahi acaranya dan membiarkan tahanan istirahat sebelum kematiannya.


Ya, Killian tidak akan membiarkannya hidup, Dia yang telah menghianati tuannya layak mati.


"Introgasi Dia kemudian lakukan sesukamu," Ujar Killian pada Aarash berada di luar area eksekusi.


Aarash tersenyum bahagia mendengar ucapan Killian. Tidak biasanya ia akan diberi tugas untuk membunuh semua sampah itu. Seringnya Killian yang menghabisi para sampah dan tidak menyisakan untuk Aarash.


"Baik, Tuan. Saya tersanjung dengan kemurahan hati Anda." Lebih terpatnya ia tersanjung pada Joana yang membuat Killian seperti ini, jadi Dia memiliki kesempatan untuk membunuh para tikus sampah itu.


***


Pagi harinya, Killian bangun dan tidak menemukan Joana disampingnya. Ia segera bangit, mengambil jubah tidurnya dan berjalan keluar mencari Joana.


Tempat yang pertama kali ia cari adalah dapur. Selain kamar, dapurlah yang menjadi nomor dua tempat yang sering dikunjungi Joana.


Namun nihil, Killian tidak menemukan Joana disana. Disana hanya ada beberapa pelayan dan koki dapur yang menunduk ketakutan menyadari kehadirannya.


Lantas ia pergi mencari Max di kamarnya untuk membantunya mencari Joana dan ternyata nihil juga. Max tidak ada dikamarnya.


Killian semakin mempercepat langkah meminta pelayan untuk mencari Joana juga. Killian pergi menuju perpustakaan, ruang tamu, kembali ke kamar lagi, dan hasilnya tetap kosong. Pelayan tidak ada yang mengetahui keberadaan Joana.


Killian pun bergegas menuju area pelatihan prajurit dengan tujuan meminta prajurit untuk membantu melakukan pencarian Joana. Ia sangat panik dengan menghilangnya Joana. Ia takut Stevan Anderson dalang hilangnya Joana kali ini.


Deg!


Killian berhenti di salah satu lapangan pelatihan. Ia menemukan Joana sedang menembakkan sihir esnya di tengah lapangan.


Disana juga ada Max yang berdiri dibelakangnya.


Killian menghela napasnya lega menyusul Joana.


Dia pun mendekati Joana dan langsung memeluknya dari belakang. "Kenapa Kau tidak bilang padaku terlebih dulu. Kau membuatku khawatir, tahu." Ujar Killian dengan nada manja memasukkan kepalanya di ceruk leher Joana.


Awalnya Joana tersentak dengan sentuhan itu, tapi saat menyadari ternyata itu suaminya. Ia merasa kalau kata-kata Killian terdengar sangat manis di telinganya.


Joana pun terkekeh sejenak sebelum menjawabnya, "Aku minta maaf, Aku dan Max sudah berusaha membangunkanmu, tapi karena Kau tidur sangat nyenyak, jadi Aku tidak tega."


"Kau tetap harus membangunkanku. Aku takut terjadi sesuatu padamu."


Joana akhirnya mengalah dan menyimpan sihirinya agar tidak mengenai Killian. "Baiklah, lain kali Aku akan ijin dulu padamu."


Max pun dengan cepat berbalik agar tidak melihat adegan romantis tuannya. Ada sedikit rasa malu karena telah melihat Tuannya bercumbu di tempat itu. Tapi Max segera membuangnya jauh-jauh.


Disatu sisi Joana semakin memerah karena menyadari masih ada Max disana. "Killian, hentikan." Rutuk Joana di jeda ciumannya. Namun Killian tidak menggubris dan melanjutkan ciumannya lebih ganas.


Joana dengan kesal mendorong tubuh Killian kebelakang. Hingga tubuh Killian pun terpelanting hingga mengenai punggung Max.


Max yang terkejut langsung menahan tubuh tuannya dan penasaran dengan apa yang saja terjadi.


Setelah di dorong, bukannya kesal Killian malah tergelak kemudia mengusap bibirnya yang ternyata di gigit oleh Joana sebelum ia didorong.


"Kau seperti kucing kecil yang nakal, Sayang." Ujar Killian dengan sedikit senyum menghampiri istrinya yang sudah kesal. "Sepertinya kekuatan fisikmu semakin kuat seiring dengan kekuatan sihirmu yang berkembang. Kau bahkan bisa mendorongku dengan mudahnya.''


"Itu salahmu sendiri, Aku sudah bilang untuk berhenti kan. Jadi jangan salahkan Aku karena mendorongmu." Jawab Joana memanyunkan bibirnya. Ia sebenarnya terkejut saat Killian terlempar, tapi karena kesal, ia menghiraukan kekhawatirannya apakah Killian terluka atau tidak.


Killian tergelak lagi dan mencoba merangkul istrinya, "Baiklah, Aku minta maaf karena sudah menciummu di tempat jelek ini. Lain kali Aku akan menciummu di tempat tertutup yang hanya ada kita berdua," Goda Killian lagi.


Bukannya minta maaf dengan benar malah semakin jadi rayuannya. "Kau mau mati?!" Joana dengan tatapan horornya.


Seketika Killian membungkam mulutnya. Ia sudah takut dengan ancaman istrinya.


"Aku lapar, Aku mau makan masakanmu, Sayang." Bujuk Killian dengan nada manja lagi. Ia tidak mau lagi melihat Joana dengan tatapan memebunuh seperti tadi. Joana terlihat lebih mengerikan daripada dirinya.


Sementara Max yang melihat interaksi keduanya cukup terkejut. Apalagi disaat Killian berbicara dengan nada manjanya. Apakah Dia masih tuannya?


Ya. Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun mengabdi untuk Killian melihat pemandangan itu. Killian yang selalu memasang tembok dengan wajah datarnya. Akhirnya runtuh dihadapan Grand Duchess. Wibawanya seakan hilang setiap kali berhadapan dengan istrinya.


"Baiklah, tapi lepaskan dulu pelukanmu sebelum Aku dorong lagi dirimu."


***


Killian, Joana, dan Max sedang menyantap sarapan bersama. Awalnya Max menolak untuk makan satu meja dengan Tuannya, tapi Joana memaksa dan Killian juga mengiyakan, jadilah Dia makan dengan menyaksikan adegan romantis pasangan suami istri yang sedang naik daun dibicarakan oleh para bangsawan kelas atas itu.


Max berasa nyamuk diatara mereka. Max hanya menunduk menatap makanannya yang dibuat langsung oleh Grand Duchess.


Ingin sekali Max membawa Daisy duduk di sebelahnya melalui masa sulit berhadapan dengan pasangan yang sedang dimabuk cinta ini. Tapi sayangnya Daisy sudah pergi dengan alasan mengantar novel kepada Baron pemilik pencentakan buku.


Dan disinilah Max. Di dapur makan bersama sembari melihat keuwuwan hakiki.


Max dengan canggung makan dengan cepat. Setiap suapan ia makan dengan lahap ingin segera menyudahi makannya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Mana mereka saling suap-suapan. Saling menggoda. Saling mencium seakan Max adalah benda transparan yang tidak ada di sana.


.


.


.


.


ADUH MAX, MALANGNYA NASIBMU. SINI YUK TEMANI AUTHOR AJA WKWKWK.