
"Jadi apa yang ingin Kakak bicarakan?" Tanya Joana sembari memotong steiknya.
Ternyata bukan hanya Joana, Maurice juga menjadikan steik sebagai makanan favoritnya.
"Aku akan kembali ke kamp militer."
"Kapan?"
"Tiga hari lagi."
Dengan rencana perginya Marina ke kamp militer, berarti hidup Maurice tak akan bertahan lebih dari tiga hari.
Apa yang harus Aku lakukan?
Joana terdiam menghentikan makannya. Ia terlalu banyak pikiran tentang kematian Maurice.
Apakah kematian Maurice yang membuat Marina menjadi kejam?
Joana meletakkan pisau dan garpu di atas piring, "Apa Kakak percaya perpindahan jiwa? Dunia paralel?" Tanya Joana menatap wajah Marina dengan serius.
Marina pun menanggapinya sebagai sebuah candaan Mairice saja. Di tertawa ketika mendengar pertanyaan itu.
"Apa yang Kau bicarakan Maurice. Kita hidup di dunia serba modern. Haruskah Aku percaya tahayul seperti itu?"
Jika Joana yang mendapat pertanyaan itu pun akan bereaksi seperti Marina. Mana mungkin ada dunia lain dan perpindahan jiwa.
Joana pun ikut tertawa pura-pura pertanyaannya barusan hanyalah sebuah candaan semata.
"Oh ya. Apa Kakak boleh bertanya sesuatu?" Tanya Marina setelah suasana lebih tenang.
Joana pun menganggukinya.
"Aku mencari tahu tentang Joana."
Deg!
Seketika Joana membulatkan matanya menatap Marina lamat. Apa yang Dia cari tahu?
"Dia di tusuk oleh orang tak dikenal dan berakhir koma." Sambung Marina yng membuat Joana lega. Untung saja hanya itu.
"Tapi darimana Kau mengenal Joana? Dia adalah putri dari pemiliki perusahaan besar."
Joana sedikit ragu untuk menjawabnya. Namun pada akhirnya Joana menjawabnya dengan kebohongan.
"Kak Joana adalah orang yang sangat baik. Dia banyak membantuku saat Kak Marina pergi ke kamp militer."
Marina mengangguk mengerti, "Begitu ya,"
"Ngomong-ngomong, Kak." Ujar Joana takut-takut. "Apa Kakak luang hari ini? Aku ingin menghabiskan waktu dengan Kakak sebelum kepergian Kakak."
Marina terkejut dengan ajakan Adiknya. Karena selama ini Maurice selalu bersikap menjaga jarak dengannya, kenapa hari ini tiba-tiba?
"Tentu saja." Jawab Marina penuh semangat. "Apa Kau ingin pergi ke suatu tempat? Aku akan membawamu kemanapun Kau pergi. Aku akan selalu bersamamu Maurice."
Kalimat terakhir Marina membuat Joana tersentuh. Kasih sayang seorang saudara yang tidak pernah ia dapatkan malah ia terima dari tokoh antagonis novel. Kasih sayang seorang saudara yang selalu Joana inginkan.
"Apa Kau bilang?" Tanya Marina karena tak mendengar gumaman adiknya.
"Bukan apa-apa." Jawab Joana merubah ekspresinya menjadi senyum. "Kali ini Aku akan ikut kemanapun Kak Marina mengajakku pergi."
***
Sudah dua hari sejak saat itu.
Joana duduk di kursi menatap lapangan sekolah yang terasa asing menurutnya.
Joana memikirkan kapan waktu kematian Maurice.
Besok adalah keberangkatan Marina. Jadi berarti kematian Maurice bisa hari ini atau besok. Tapi yang jelas kematian Maurice ada Marina yang menyaksikan Maurice tertabrak mobil.
Kringgggggg!!!
Suara lonceng menandakan waktu belajar telah usai dan banyak siswa berlarian untuk segera pulang.
Joana pun ikut pulang.
Sepanjang perjalanan pulang dengan jalan kaki. Joana berjalan melamunkan adegan kematiannya.
Kali ini Dia berhenti karena lampu untuk pejalan kaki menunjukkan warna merah.
Joana menatap zebra cross itu dengan tatapan kosong.
Hingga tidak sadar ia berjalan meski terdengar suara klakson dari mobil yang lalu lalang.
Dan sayangnya pikiran Joana kosong bahkan tak mendengar suara klakson itu hingga akhirnya Dia tersadar karena teriakan Marina di sebrang jalan.
"Maurice!!!! Awaaaassss!!"
Joana menatap Marina dengan senyum, tak menyadari Marina meneriakinya meminta menyingkir dari jalan.
Brak!
Mata Joana menggelap. Dia seperti hilang kesadaran.
Terasah basah. Tapi Joana tidak tahu air apa yang membasahi kepalanya.
"Panggil Ambulan cepaaattt!" Teriak Marina memangku adiknya di pahanya.
Marina takut sekaligus panik melihat Maurice bersimbah darah.
Marina menangis mencoba membangunkan Maurice agar tetap tersadar.
Namun pandangan Joana semakin kabur. Yang ia lihat hanya wajah Marina yang terlihat menangis meski semuanya blur.
Apakah ini hari kematian Maurice?
"Ja-jangan men-jadi jahat, Kak." Gumam Joana sebagai kata-kata terakhirnya untuk Marina yang akhirnya Dia hilang kesadaran.