
"Kau bisa melihatku?" Tanya Joana menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan melihat Killian dengan wajah tak percaya.
"Tentu saja dengamu, siapa lagi?" Jawab Killian ketus namun berhasil membuat Joana gemas dengan sikap Killian kecil.
Joana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung mau menjawab apa. Situasi saat ini terasa akward dan aneh. Joana dewasa bertemu dan mengobrol dengan Killian kecil.
Tapi jika dipikirkan lebih dalam, ternyata sikap dingin Killian kecil lebih menakutkan daripada Killian dewasa.
"Aku ini istri masa depanmu tahu! Jangan bicara non-formal denganku. Saat ini Aku lebih tua darimu bocah!" Ujar Joana menyentil kening Killian. Momen langka bisa memperlakukan Killian seperti ini, rasanya menyenangkan.
Killian marah dengan sikap yang ditunjukkan Joana.
Tapi apa Dia bilang? Istri masa depan?
"Apa Kau gila?" Sini Killian menatap Joana seakan menatap orang gila, ekspresinya terlihat jelas kalau Dia merasa jijik dengan kata-kata Joana.
"Kalau Aku gila, berarti Kau juga gila karena Kau menikahi orang gila sepertiku."
"Siapa Kau?" Tanya Killian lagi mengabaikan jawaban Joana barusan.
"Aku sudah mengatakannya, Aku ini istri masa depanmu."
"Siapa namamu?" Tanya Killian sudah hampir kesabaran dan terlihat muak dengan jawaban Joana.
Joana pun langsung menggeplak kepala Killian, bagaimana bisa Dia sejahat ini padanya. Apalagi wajahnya yang tidak bisa dikondisikan itu, Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresinya dengan baik.
"Aku adalah anak kecil yang memberimu pertolongan tapi sayangnya Kau menolaknya mentah-mentah." Jawab Joana sekenanya. Joana sudah sebal dengan Killian.
Mendengar jawaban Joana, Killian nampak menyipitkan matanya menfokuskan menatap wajah Joana lebih detail. "Kau bukan Dia. Jelas Kau berbeda dengan anak kecil tadi."
"Ehhhmmm." Joana berpikir sejenak untuk memberikan jawaban pada Killian. "Untuk saat Dia memang bukan Aku. Tapi dalam beberapa tahun kedepan, Dia adalah Aku."
Hah?
Joana tergelak sejenak. Dia pasti tidak mengerti kan.
"Kau akan mengerti kata-kataku disaat yang tepat, Killian."
"Apa Kau bodoh atau apa hah? Bukankah Aku sudah bilang Aku istri masa depanmu. Tentu saja Aku tahu namamu."
Entah apa yang dipikirkan bocah itu. Dia tak merespon dan melenggang pergi meninggalkan Joana pergi ke ruang perapian. Dia duduk di sofa tunggal yang ada didepan perapian.
"Ngomong-ngomong. Apa sejak kecil Kau memang seperti ini? Dingin dan galak." Ujar Joana mengikuti Killian ke ruang perapian.
"Sejak tadi Kau bilang Kau adalah istri masa depanku. Apa buktinya?" Sahut Killian.
"Kau memiliki tanda lahir di paha bagian kirimu." Jawab Joana yang berhasil membuat Killian memerah.
"Ngomong-ngomong... Apa Kau punya makanan? Aku lapar. Aku tidak tahu berapa lama Aku terlempar ke beberapa masa dan dunia. Aku lapar."
Mendengar wanita yang mengaku istrinya itu. Killian menghela napas panjang kemudian berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Ya, meskipun diluar terlihat dingin, tapi yang sebenarnya Killian adalah orang yang sangat manis.
Killian pergi ke dapur mencari beberapa makanan yang sering ditinggalkan Kenzie disana.
Namun saat Killian kembali ke ruang itu lagi, Joana sudah menhilang entah kemana.
Killian mencari-cari Joana di seluruh kamar yang ada di pondok itu namun nihil, bahkan jejaknya tak ada sama sekali.
Killian pun terdiam membawa sepiring camilan ditangannya.
"Apa yang Kau cari?" Tiba-tiba suara Kenzie yang baru datang mengagetkan Killian.
"Sejak kapan Kau datang?" Tanya Killian.
"Barusn."
"Apa Kau melihat seorang wanita berambut hitam dan bermata hitam saat Kau datang kesini?" Tanya Killian lagi yang membuat Kenzie mengedipkan matanya beberapa kali.
"Wanita? Rambut hitam? Mata hitam?" Beo Kenzie.
"Sudahlah,"