The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 24



Acara pelantikan Putra Mahkota telah dilaksanakan dua jam yang lalu. Kini Kenzie bersama Ellia sedang melakukan dansa pertama.


Dan sesuai dengan arahan Kenzie, Killian dan Joana pergi menyelinap untuk pergi ke kamar yang dulunya miliki Putra Mahkota Killian De Fredda dan Putri Mahkota Tania Alexandra.


Jika memang benar Joana adalah keturunan langsung dari mereka berdua, Joana akan dapat membuka pintu itu.


Joana dan Killian telah sampai di depan pintu, bersama Aarash dan Arhan yang ikut bersama mereka karena rasa penasaran mereka.


Joana menyentuk gagang pintu dengan kedua tamgannya, tapi setelah beberapa kali dorongan pintu belum juga terbuka.


Joana pun memejamkan matanya mengeluarkan aura sihirnya, dan selang beberapa detik, diatandai dengan warna mata yang berubah hitam, Joana mendengar suara dari pintu. Yaitu suara pintu yang terbuka.


Ketiga pria berbeda usia itu sontak terkejut, bisa diartikan Joana adalah keturunan dari Raja pertama atau pendiri kerajaan Foresta Fredaa.


Klek!


Joana mengambil napas sebelum membuka pintu seutuhnya. Dan ketika pintu terbuka, Joana merasakan familiar menatap ruangan itu. Jantung Joana terasa berdetak sangat cepat. Rasanya air mata Joana akan keluar mengamati ruangan itu.


Sementara dari pandangan Killian, ruangan itu adalah kamar yang terkesan biasa saja dengan beberapa lukisan yang tertutup kain putih.


Awalnya Killian hanya memandang dalam isi kamar, tapi karena Joana tidak kunjung bergerak jadi ia melirik ke arah Joana.


Dan yang didapatinya adalah, Joana menangis dengan ekspresi yang tidak dapat ia mengerti.


"Kau kenapa?" Tanya Killian lembut. Ia tidak mengerti kenapa Joana menangis saat membuka pintu itu.


"Ini, adalah kamarku." Jawab Joana lirih namun masih dapat di dengar oleh Killian dan dua teman Killian yaitu Aarash dan Arhan.


Mereka bertiga saling tatap dengan pikiran yang sama, yaitu terkejut dengan pernyataan Joana.


Joana lantas melangkahkan kakinya memasuki kamar. Memang benar ini adalah kamarnya, kamar saat masih tinggal bersama dengan keluarga kandungnya sebelum Dia diusir dari rumah.


Ada beberapa hal yang cukup berbeda dengan kamarnya di kehidupan dulu, yaitu lukisan.


Kamar Joana tidak ada lukisan, tetapi beberapa foto yang tertempel di dinding yang menunjukkan dirinya saat usia bayi sampai foto kelulusan SMA.


Dengan langkah pelan, Joana berjalan kesalah satu lukisan yang tertutup kain putih itu dan berniat membukanya.


Deg!


Saat satu lukisan terbuka, nampak wajah Joana. Bukan Tania. Joana yakin itu adalah foto dirinya memakai toga dan membawa satu bucket bunga mawar merah.


"Ba-bagaimana ini ada disini?" Gumam Joana membulatkan matanya lebar.


Dengan cepat ia membuka kain disetiap lukiasan. Dan foto kedua adalah gambar Joana masa kanak-kanak yang tersenyum lebar bermain ayunan. Di foto itu juga ada Tania sebagai Ibu dari Joana.


Joana berlajut ke setiap foto, melepaskannya dengan paksa. Ia mengabaikan semua gambar yang familiar itu dan terus melepas semua kain yang menutupi.


Dibantu oleh Killian, Aarash, dan Arhan juga. Mereka berhasil melepas 12 kain putih yang ada disana.


Mereka pun menjauh menatap lukisan itu dari kejauhan.


Jantung Joana terasa berpacu begitu cepat. Bagaimana foto masa kecilnya berada di sini? Bagaimana lukisan itu sama persis dengan foto-foto yang menggambarkan masa laluku? Tempat apa ini sebenarnya? Apa tempat ini bukan sekedar latar novel?


Joana memutarkan matanya menatap semua lukisan bergantian. Lukisan yang mengingatkan dirinya dimasa lalu di dunia lain.


Saat melihat beberapa lukisan itu, mata Joana berhenti disatu lukisan SMA nya, lukisan bersama dengan teman-teman sekolahnya saat melakukan studi wisata.


Tapi bukan itu yang membuat Joana menatap lukisan itu, tapi Killian.


Di ikuti dengan Aarash dan Arhan, mereka bertiga melihat ke arah pandangan Joana pada satu lukisan dengan banyak wajah.


"Apa Kau melihat keanehan disana?" Tanya Joana pada ketiga pria termasuk Killian.


Mereka bertiga menyipitkan mata mencari keanehan dalam lukisan.


Tak membutuhkan waktu lama, Killian langsung dapat menemukan keanehan dari lukisan. Itu adalah ada gambar dirinya yang ikut (terfoto), meskipun kurang jelas, tapi ia yakin itu adalah dirinya.


"Dia mirip denganku," Gumam Killian menujuk gambar satu orang dari sekian banyak wajah disana. Kedua temannya pun tersentak ternyata memang benar sangat mirip.


"Apa Kau mengenalnya?" Tanya Killian pada Joana. Dan Joana langsung menjawabnya dengan gelengan.


Saat melihat gambar itu, Killian awalnya mengira Dia adalah sosok Killian di dunia lain yang pernah ia rasuki. Tapi ada perbedaan yang mencolok kenapa Killian menolak pemikiran itu, karena Killian pada gambar itu menunjukkan dirinya dengan rambut dan mata hitam, semetara tubuh yang Dia rasuki dengan rambut dan mata berwarna brown terang. Meski gambarnya agak buram, tapi masih terlihat dengan jelas dengan mata telanjang.


"Tunggu sebentar," Sahut Joana tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. Joana lantas berlari menuju salah satu ruangan yang ada didalam kamar. Jika memang benar sama, pasti akan ada kamar rahasia dibalik rak buku.


Joana pun membuka satu kamar kerja yang hanya ada rak buku dan meja kerja yang diatasnya ada beberapa tumpukan buku, sama seperti meja belajarnya.


Ketiga pria itu langsung mengikuti perginya Joana.


Joana menatap kearah barisan buku yang berjejer rapi dengan menggunakan aksara latin yang berbeda dengan aksara dari Foresta Fredda.


"Putriku tercinta, Joana." Gumam Killian berhasil membaca salah satu judul punggung buku di antara beberapa buku yang berjejer.


Mendengar hal itu, Joana langsung tersentak memandang Killian dengan tatapan penasaran.


"Kau bisa membacanya?" Tanya Joana.


Namun Killian hanya mengerjapkan matanya dan mengendikkan bahu, ia juga tidak tahu kenapa bisa membaca tulisan itu. "Mungkin karena Aku pernah datang ke duniamu?"


Ceklek!


"Waaah, ternyata bisa dibuka?" Kenzie tiba-tiba datang bersama dengan Ellia bersamanya.


Aarash dan Arhan pun keluar dari ruangan belajar menuju ruangan utama tadi, menyambut kehadiran pasangan Ellia dan Kenzie.


"Dia sangat mirip dengan Nyonya Grand Duchess Joana Edellyn." Sahut Ellia dengan polos melihat beberapa lukisan besar yang terpampang di tembok berwarna biru itu.


Kenzie pun mengedarkan pandang menatap semua lukisan itu. Memang benar, gambar itu terlalu mirip dengan Lady Joana.


"Dimana mereka?" Tanya Kenzie pada dua sahabatnya.


.


.


Sepeninggal dua orang tadi, Joana mengangguki jawaban Killian tentang bagaimana ia bisa membaca tulisan latin dari dunianya. Karena saat memasuki tubuh Adalberto, Joana juga dengan mudah dapat memahami dunia ini.


Joana lantas menarik buku dengan judul yang sebelumnya dibaca oleh Killian.


Buku itu adalah kunci menuju ruang rahasia yang sengaja Mamanya buat agar Joana bisa bersembunyi dari amukan para kakaknya yang selalu menjadikan Joana sebagai pelampiasan kala mendapatkan masalah yang tidak dapat terselsaikan.


Dan benar saja.


Krieeetttt


Suara decitan dari rak buku yang sudah lama tidak pernah terbuka.