
"Sayang~" Ujar Killian pelan berdiri diambang pintu dengan wajah sok kaget yang dibuat-buat.
Killian mendekati Joana dengan senyum yang begitu cerah. Lebih cerah dari senyum yang selalu ia berikan pada istrinya.
"Kau disini? Aku mencarimu di kamar tadi," Ujar Killian bohong mendekati istrinya seperti tidak terjadi apa apa.
"Apa itu ulahmu?" Tanya Joana menepis tangan Killian yang menyentuh tubuhnya. "Apa Kau yang membawa foto-foto menyebalkan itu ke kamar?" Sambungnya masih ingin melampiaskan emosi.
Killian mengangguk tegas. Setidaknya Dia mempertahankan aktingnya untuk tidak takut pada istrinya. "Kau suka?"
"Kamu nanya?!" Geram Joana semakin dingin. Bahkan es yang meruncing semakin keras di tangannya.
Killian menelan saliva kuat melihat es itu kemudian menatap wajah cantik joana yang sedang marah. "Aku membawanya karena kupikir Kau cantik digambar itu,"
"Menurutmu kenapa Aku menyembunyikan foto jelek itu dibalik pintu rahasia hah?"
"Karena Kau cantik,"
Deg!
Mendengar hal itu membuat Joana nampak tersipu, namun ia harus tetap bersikap tegas karena menurut Joana foto itu foto aib dirinya yang tidak boleh dilihat orang-lain. Ngomong-ngong kenapa dulu Aku mencetak foto itu ya? Tau ah, masa lalu jahannam. "Apa matamu masih normal menyebut foto jelek itu cantik?!"
"Tidak" Killian mengeleng cepat menyadari perubahan ekspresi Joana yang nampak malu-malu kucing. "Kau sangat cantik di gambar itu, Kau sangat manis dengan gayamu yang seperti ini," Sambungnya memperagakan gaya alay Joana menopang dagu dan mengedipkan satu mata.
"Kau mau mati hah?" Teriak Joana semakin marah. Bisa-bisanya Killian mengingat foto yang paling membuatnya jijik.
Killian lantas lari karena takut telah membuat istrinya kesal dan Joana balik mengejarnya.
Sementara di sisi Max akhirnya merasa lega dengan kepergian dua orang itu. Selama pembicaraan Max dibuat deg-degan sekaligus penasaran dengan gambar yang membuat Grand Duchess mengeluarkan aura mengerikan itu. Tapi lupakanlah, akhirnya ia terbebas dari ancaman kematian. Ini waktunya bertemu Daisy.
***
Killian menyesal dengan perbuatannya. Kini ia berdiri menatap pintu kamar yang dikunci dari dalam. Joana telah mengusirnya dari kamarnya sendiri.
Killian tidak habis akal, ia menyelinap masuk melalui jendela. Namun saat ia masuk malah ia terhalang oleh tembok es yang sangat tebal.
"Awas saja jika saat Aku bangun es itu hancur!" Ujar Joana menyadari kehadiran Killian yang masuk lewat jendela. "Akan ku robohkan mansion megahmu ini!"
"Aku tidak peduli, robohkan saja," Timpal Killian menyingkap lengan kemeja bajunya hendak memukul tembok es itu. "Aku bisa membangunnya lebih megah lagi,"
"Oh~ benarkah? Kalau begitu robohkan saja es nya dan jangan pernah berharap untuk tidur apalagi menyentuhku lagi,"
Pukulan Killian terhenti saat mendengar ancaman kedua, ia tidak berani jika ancamannya melibatkan Joana. Ini tidak bisa dibiarkan, Aku tidak akan bisa hidup Joana. Apalagi juniorku yang selalu menginginkan Joana. Aku harus melakukan sesuatu.
"Sayang~ Kumohon maafkan Aku..." Ucap Killian pada akhirnya. Ia benar-benar kalah dengan ancaman istrinya. "Aku membawanya memang benar Kau sangat cantik di gambar itu. Percayalah padaku hmm? Aku mencintaimu apa adanya. Kau cantik dengan menjadi dirimu, Sayang,"
Joana dari balik tembok es merasa tersentuh, untuk pertama kalinya ada orang yang mencintainya tulus.
"Sebagai gantinya, bolehkah Aku menyimpannya sendiri di tempat rahasia yang hanya bisa Aku yang melihatnya?" Bujuk Killian kemudian.
"Aku tidak ingin berpisah darimu satu menit pun. Aku ingin melindungimu, Aku ingin selalu bersamamu, Joana Alexandra,"
Joana menyerah. Ia tersentuh dengan kata-kata Killian suaminya. Ia pun melelehkan esnya dan mendapati wajah Killian yang sedih seperti anak kecil yang tidak diberi manisan orangtuanya. Namun pada saat Joana melelehkan esnya, ada senyum mengembang dibibirnya. Ia pun mendekat dan langsung mengangkan Joana dalam pelukannya. "I love you, Istriku."
Joana sedikit malu dengan pernyataan cinta Killian barusan. Ia merasa senang telah dicintai oleh orang yang sangat dicintainya juga.
"I Love you too, Killian." Balas Joana mengeratkan pelukannya.
"Kau mau mati hah?"
Entah kenapa ancaman kematian itu terasa manis di telinganya. Ia sangat bahagia ternyata Joana juga mencintainya. "Bolehkah Aku melakukan itu sekarang?"
Hah?
Killian melepaskan pelukannya memegang kedua sisi bahu istrinya. "Bolehkah?" Sambungnya memasang wajah puppy eyes.
Joana yang tahu maksud suaminya mendadak merah padam. Ia pun melepas tangan Killian dan berlari kecil naik keatas ranjang mentup seluh tubunya dengan selimut.
Killian terkekeh melihat tindakan kecil istrinya yang membuatnya bahagia setiap kali bersama Joana. Ia menyusul Joana dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang kemudian memeluk istrinya dari belakang. "Aku tidak akan melakukannya malam ini, tapi biarkan Aku melihat wajahmu, Sayang~"
***
Joana pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Joana memutuskan membeli bahan sendiri sekaligus membayar rasa penasarannya pergi ke pasar khusus bahan makanan.
Banyak jenis sayur dan buah meski Foresta Fredda adalah negeri salju yang jarang ditumbuhi sayur maupun buah.
Joana ditemani Daisy dan Max yang seperti sudah menjadi temannya di dunia ini.
Awalnya Killian ngotot ingin menemati tapi Joana tolak mentah-mentah. Wajah tampan Killian terlalu mencolok untuk berada di pasar ini. Bahkan Max sekalipun yang memiliki bekas luka diwajahnya sudah cukup menjadi rebutan diantara ibu-ibu.
"Nyonya, lihatlah disana menjual buah langkah, Nyonya," Ujar Daisy bersemangat menunjuk buah berwarna merah dari kejauhan. Dan Joana yang penasaran pun menghampiri kios yang menjual buah langkah yang dimaksud Daisy.
Buah naga?
"Waaah, lihat Nyonya, sangat segar dan buahnya juga besar Nyonya," Daisy nampak bersemangat mengambil satu buah untuk ditunjukkan pada Joana.
"Daisy, bisakah Kau memanggilku dengan Tuan saja?" Pinta Joana karena ia mengenakan setelan pria dengan rambut hitamnya yang ia kucir pony taile.
"Baik, Nyony-Tuan,"
"Selamat pagi nona yang cantik," Tiba-tiba seorang wanita muda berambut coklat dan warna mata senada menghampiri rombongan Joana. "Apa Anda ingin membeli buah naga ini, Nona?" Sambungnya dengan senyum ramahnya.
Dia terlihat seperti gadis desa biasa sehingga Joana tidak menganggapnya lawan. "Iya, Kata Daisy buah ini adalah buah yang langka, jadi Aku ingin mencobanya, Nona. Tunggu-"
"Kau tahu Aku seorang perempuan?" Tanya Joana baru sadar dengan panggilan nona untuknya.
Sementara gadis itu nampak tertawa pelan. "Wajah Anda sangat cantik nona, terlihat sekali kalau Anda adalah seorang gadis yang berpenampilan pria,"
"Ah begitu ya," Timpal Joana menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Ngomong-ngomong siapa nama Anda nona?"
"Anda tidak perlu seformal itu pada Saya, Nyonya Grand Duchess Edellyn. Saya hanya rakyat biasa tanpa gelar status."
"Kau tahu Aku Grand Duchess?" Joana cukup terkejut, bagaimana rakyat biasa bisa tahu, padahal ia saja hanya sekali menunjukkan wajahnya di depan umum, itu tup hanya di kalangan bangsawan saat pelantikan putra mahkota.
Gadis itu menunjukkan senyumnya lagi, "Warna rambut Anda, Nyonya. Hanya ada satu orang yang memiliki rambut hitam, dan Dia adalah Lady Adalberto yang sudah menjadi istri dari Grand Duke Edellyn."
Ah, benar juga...
"Nama Saya Akira Asher, Nyonya bisa memanggil Saya Akira."