The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 40



"Kenapa Kau membawa anak jalanan ini hah?" Killian bersedap dada menyilangkan kakinya arogan menatap seorang anak kecil berambut hitam dan memiliki mata biru.


Joana terdiam bingung mau bagaimana lagi, sejak tadi Joana sudah membujuk Killian untuk menerima Zero-nama anak laki-laki yang dibawanya dari pasar.


Flashback On


"Siapa namamu anak kecil?" Tanya Joana menjongkok mensejajarkan dengan pandangan anak laki-laki manis itu.


Tapi anak itu hanya terdiam. Bukan karena tidak mau memberi tahu, tapi Dia tidak punya nama. Orangtuanya menyebutnya Anak terkutuk, jelas itu bukan sebuah nama.


"Heh, rupanya Kau juga anak terkutuk seperti bocah kecil itu!!" Ayah sang anak yang tahan oleh Max terus saja mengoceh tak jelas.


Tentu Max semakin geram, ingin rasanya Dia membunuhnya ditempat, tapi Max tentunya harus mendapatkan izin dari Grand Duchess terlebih dahulu.


Joana tidak merasakan apapun saat dipanggil anak terkutuk. Telinga Joana sudah tebal dengan hinaan-hinaan seperti itu. Tapi jika yang dihina adalah anak kecil lemah tak berdaya, Joana tidak bisa tinggal diam. Seorang anak tidak bisa memilih dari siapa mereka lahir, kaya miskin, anak tidak bisa memilih. Bahkan kelahiran yang menyebabkan kematian juga bukan salahnya.


"Tenanglah, nak. Kakak disini," Gumam Joana memeluk anak kecil itu. Nampak anak itu juga membalas pelukannya.


Baru kali ini anak kecil itu melihat seseorang yang memiliki rambut yang berwarna hitam sama sepertinya.


Joana melepas pelukannya kembali menatap netra biru kecil di depannya. "Siapa namamu?" Tanyanya sekali lagi.


Mata hitam legam milik Joana bak sebuah permen yang membuat anak itu terpesona. Tak pernah ia bayangkan bahwa rambut dan mata berwarna hitam bak langit malam itu akan sangat cantik dan bersinar seperti ini.


"Anak kecil?" Joana mencoba mengajak bicara anak itu, "Apa Kau tidak bisa bicara?"


"Saya tidak punya nama, Tuan..." Jawabnya dengan sedikit menunduk karena tak pernah ada yang bertanya tentang namanya. Dia sellu dipanggil dengan anak terkutuk, dan Dia sudah terbiasa dengan julukan itu.


Joana tertegun, merasa kasihan pada bocah kecil yang nasibnya lebih malang daripada Joana Adalberto.


Joana menghela napas kasar, membantu anak itu berdiri kemudian membersihkan debu dan kotoran yang menempel di tubuh mungil itu. "Berdirilah,"


Joana menoleh kearah Max dan Ayah dari anak kecil yang digenggam tangannya oleh Joana. "Max," Joana dengan cepat mengubah ekspresinya dengan datar. "Kurung Dia, dan jangan beri makan sampai Dia meminta maaf pada anak ini,"


"Baik Tuan," Balas Max senang, akhirnya ia bisa menghukum pria tua sialan yang telah menghina Grand Duchess.


"Ap-apa yang Kau lakukan hah?!!" Pria tua itu berteriak kesakitan karena lengannya dipelintir oleh Max. Max sangat ingin membunuhnya, tapi sayang Joana hanya meminta untuk mengurungnya saja.


"Joana~" Akira yang sedari diam menyaksikan Joana dan anak kecil itu hanya diam, tak menunjukkan rasa empati sama sekali. Bahkan saat ia ikut nimbrung di tengah kerumunan hanya berniat untuk cari muka di depan Joana. Tapi ternyata Akira mendapatkan tontonan yang sangat menarik. Dua anak terkutuk yang sama-sama membuat orang yang melahirkannya mati.


Flashback Off


"Ayolah Sayang, emm?" Bujuk Joana menempeli suaminya. Bodo amat dengan merayu duluan. Ia tidak bisa membiarkan anak yang telah ia beri nama Zero kembali ke Ayah sialannya.


"Jadi Tuan adalah Nona?" Tiba-tiba anak itu bersuara, sebenarnya ia sangat terkejut di awal saat tahu ternyata dirinya dibawa ke kediaman mewah milik Grand Duke kerajaan ini yang tidak lain Grand Duke Edellyn. Dan lebih terkejutnya lagi saat turun dari kereta kuda, ada sanga Grand Duke yang menunggu Tuan yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Ah, itu benar, Aku adalah seorang Nona," Jawab Joana dengan senyum manisnya menatap Zero.


Bukannya takut dengan sikap tegas yang terkesan dingin milik Killian, Zero malah menangguk seakan mengerti dengan patuh.


Joana mengedipkan matanya beberapa kali menatap anak di depannya kemudian mengulas senyum. "Bagus Zero, Kau sangat berani membalas ucapannya," Joana kembali tersenyum mengusap rambut hitam pendeknya.


Di lihatnya Killian merasakan panas terbakar api cemburu, berani-beraninya Dia di sentuh oleh istriku! Batinnya menatap horor si anak. Namun Zero hanya terdiam seakan tidak takut dengan tatapan itu, malah ia mengulas senyum yang ia tujukan pada Grand Duchess yang tidak ia ketahui namanya itu.


"Daisy," Panggil Joana pada pelayannya yang sedari tadi berdiri membelakangi sofa yang di duduki Zero. "Kau bawa Dia membersihkan diri,"


"Baik, Nyonya." Anak itu menurut kemudian ikut bersama dengan orang yang namanya Daisy.


Sepeninggal Daisy dan Zero, akhirnya mereka ada waktu berdua lagi. Joana pun menyesap teh kamomile yang sudah menjadi favoritnya sejak di dunia lain.


"Jujur padaku, Apa Dia anakmu?" Joana tersedak minuman mendengar pertanyaan aneh yang dilontarkan suaminya.


Joana terbatuk-batuk cukup lama karena tiba-tiba air masuk kedalam hidungnya.


Killian yang merasa bersalah bertanya tidak pada waktu yang pas masih terdiam tapi tetap memberikan perhatian dengan mengusap punggung istrinya.


"Apa Kau lupa siapa yang membuatku sudah tidak perawan lagi hah?!" Joana kesal langsung memberikan jawaban yang terkesan mesum pada suaminya. Bisa-bisanya Killian bertanya seperti itu.


Sementara Killian masih terdiam, Benar juga, Aku yang pertama untuknya.


"Lalu siapa anak itu?"


"Bukankah sudah kubilang Dia anak yang Aku pungut dari pasar," Desisnya kesal.


"Apa Kau yang menamai anak itu?" Tanyanya kemudian.


"Itu benar, Aku memberinya nama Zero," Jawab Joana sudah mulai bisa menahan emosi. Rasanya saat hamil ini emosi Joana semakin banyak marah dan kesal.


"Bukankah artinya bilangan Nol?"


"Kau tahu bahasa dari duniaku?" Rasa kesalnya tiba-tiba berubah dengan rasa penasaran yang cukup tinggi terhadap suamianya. Ya Zero adalah bahasa dari dunia asli Joana Alexandra. "Ah, Aku lupa kalau Kau pernah singgah beberapa jam di duniaku," sambungnya kemudian tanpa mendengar jawaban dari suaminya.


"Apa Kau tahu angka berapa yang paling banyak?" Tanya Joana ingin memberikan penjelasan.


Killian menebak, "10?"


Joana tersenyum mendengar jawaban yang dilontarkan Killian, ya, pasti banyak yang akan menjawan sepuluh. "Jika angka sepuluh tanpa Nol, Dia akan menjadi satu, angka terendah diatas nol. Tapi jika Kau memberikan beberapa Nol di depan angka satu, Dia akan menjadi bilangan yang besar, karena itu lah, Nol adalah angka yang pling banyak."


Mengerti dengan jawaban Joana. Killian mengangguk kemudian mengelus puncak kepala rambut hitam yang dikucir ponytail.


"Ayo mandi kemudian makan malam," Ajak Killian langsung menggendong istrinya ala bride style. Dan Joana hanya menurut mengalungkan tangangannya di leher suami tercintanya.