
"Ulang tahun?" Beo Killian dengan suara lirih namun masih bisa terdengar Joana.
Selama hidupnya tidak ada yang pernah merayakan hari jadinya, Killian juga tidak pernah menyambut hari jadinya sendiri, biasanya di saat itu Dia akan pergi berburu untuk menyenangkan diri. Darah adalah satu-satunya obat baginya untuk melupakan hari jadinya.
Saat di hari ulang tahunnya sendiri, rumahnya terbakar dan Ibunya meninggal. Hal itulah yang membuat Killian sangat benci dimana hari jadinya bertepatan dengan kematian Ibunya.
Di satu sisi, Joana agak bingung kenapa ekspresi Killian nampak berbeda, meski masih datar, tapi ia yakin Killian sedang sedih.
Pada detik berikutnya Joana teringat, tangannya sontak melepas alat yang Dia gunakan untuk mengocok tepung kue.
"Maaf-" Gumam Joana lirih merasa bersalah. "Aku lupa tentang insiden itu." Joana merapatkan tangannya dengan wajah tertunduk lesu.
Killian akhirnya mengangkat kepalanya, menatap sosok cantik yang bisa membuatnya lupa dengan kesedihan yang pernah ia alami. Killian langsung memeluk membawa kepala Joana di dada bidangnya. Tangannya mengusap rambut hitam pendek Joana.
"Tidak apa, cepat selesaikan kuenya, Aku ingin segera memakannya."
Joana pun mengangguk mengiyakan dan kembali mendaduk adonan kuenya.
"Apa ada yang bisa Aku bantu?"
***
Joana menyajikan kue dan lilin yang terpisah di meja makan, lilin yang Joana gunakan adalah lilin besar yang biasa digunakan untuk makan-makan berkelas ala bangsawan.
"Sebelum Kau memakan Kue nya, buat permohonan dan kemudian tiup lilinny." Ujar Joana sembari menyalakan lilin.
Alis Killian terangkat karena tidak paham dengan permintaan Joana.
"Cepatlah tutup matamu dan buat permohonan."
Killiam pun melakukan permohonan sesuai instruksi Joana, "Aku ingin hidup bahagia bersama Joana," ujarnya dengan suara lantang kemudian meniup lilin di depannya.
Joana tertawa kecil mendengar permohonan yng diucapkan dengan suara keras itu, ia lupa memberi tahu Killian kalau permohonannya harusnya diucapkan di dalam hati. Tapi sudahlah, Aku juga senang mendengar permohonannya.
Joana pun langsung mengambil piring dan memberikan sepotong Kue untuk orang yang sedang berulang tahun.
"Enak?" Tanya Joana mengharapkan pujian Killian yang sudah memasukkan sedikit Kue di mulutnya.
Killian mengangguk mengiyakan, "Enak,"
"Apa di duniamu dulu Kau sering masak?" Tanya Killian di sela-sela makannya.
Joana pun mengangguk mengiyakan. "Iya, Bibi Daniova yang mengajariku masak."
"Apa Kau tinggal bersamanya?"
"Tidak, Aku tinggal sendirian. Tapi bibi selalu datang setiap minggu ke kos ku, kadang membawa bahan makanan, kadang membawa oleh-oleh, setiap akhir pekan pasti Bibi Daniova selalu mengunjungiku."
"Kos? Apa itu nama lain dari rumah di duniamu?"
Mendengat pertanyaan yang tergolong aneh itu Joana terkekeh sejenak. "Sedikit benar, tapi Kos adalah rumah sempit yang bisa Kau sewa untuk tinggal bagi orang yang tidak memiliki uang banyak sepertiku."
"Tapi-" Joana membuka suara lagi. "Aku tidak yakin Bibi Daniova adalah reinkarnasinya Marina, Bibi Daniova sangat baik padaku."
"Mungkin itu bentuk penyesalannya," Balas Killian masih memakan cake buatan Joana. Meski sebenarnya Dia tidak terlalu suka makan makanan manis, asalkan buatan istrinya, Dia akan senang hati menghabiskannya. Apalagi Joana membuatnya khusus di hari ulang tahunnya.
"Apa sudah ada kabar dari Kenzie tentang lukisan pangeran yang Kau bilang adalah Ayahku?"
"Belum, katanya ruangan itu memiliki segel khusus yang hanya bisa dibuka oleh keturunan langsung raja pertama."
"Keturunan raja pertama?" Beo Joana tidak mengerti, bukankah anggota kerajaan itu semua dari keturunan asli raja-raja terdahulu?
"Raja sekarang bukanlah keturunan dari raja pertama, silsilah raja pertama terputus dengan kematian pangeran Killian De Fredda. Hanya itu yang Aku tahu dari Kenzie."
Oh~
Hanya itu yang ada di pikiran Joana.
"Jika Kau bilang Aku adalah anak dari Killian De Fredda apakah ada kemungkinan Aku bisa membuka segel itu?" Tanya Joana asal.
Killian mengangguk pelan menyudahi makannya.
"Max," Killian memanggil nama Max pengawalnya, entah dimana Dia bersembunyi, tapi saat namanya dipanggil, Max langsung ada di dapur itu.
"Siap melayani, Tuan." Sahut Max berjongkok ala kesatria.
"Bagaimana penyelidikan sebelumnya?"
"Kami sedang berusaha mencari Dia, Tuan. Saya juga sudah mengerahkan pengawal bayangan untuk pergi ke kerajaan lain, Tuan."
Killian mengangguk sekilas, dengan wajahnya yang masih datar ia terus mengobrol melupakan Joana yang sedari tadi menyimak pembicaraan dua laki-laki tampan di depannya.
"Baiklah, setelah Kau mengabari Kenzie, langsung datanglah kemari dan jadilah pengawal untuk Grand Duchess selama Aku pergi."
"Baik Tuan." Balas Max langsung menghilang melaksanakan perintah.
"Ngomong-ngomong~" Ujar Joana setelah kepergian Max. "Berapa lama Kau akan pergi?"
Killian memperhatikan wajah cantik istrinya, meski memakai pakaian laki-laki, dirinya tetap cantik. Meski rambutnya pendek, dia tetap manis. Meski rambutnya hitam, dia tetap mempesona.
"Apa Kau akan merindukanku?" Killian balas bertanya dengan menggoda Joana.
Joana mencebik dan bangkit dari duduknya di meja dapur.
Killian segera bangkin dan langsung menggendong Joana ala bride style.
"Aku harus memuaskan adik kecilku sebelum Aku pergi." Goda Killian melajukan jalannya tidak sabar untuk pergi ke kamar mereka.
Joana awalnya berontak, tapi karena Killian semakin berjalan dengan cepat, ia terpaksa mengalungkan tangannya di leher kokoh suaminya agar tidak terjatuh.
***
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari selalu memakai pakaian Killian, Joana memakai gaun biru muda berlayer putih dengan dihiasi sedikit mutiara yang terkesan simple namun mewah. Kini Joana berdiri di depan gerbang mansion Grand Duke untuk mengantar kepergian Killian melaksanakan misi dari Raja.
"Apa Aku tidak pergi saja? Aku sudah meeindukanmu." Sahut Killian yang sedari 10 menit lalu belum segera pergi menaiki kereta. "Raja sialan itu kenapa sih harus menugaskan Aku di saat seperti ini?" Killian mencebik merutuki raja sialan Ayah dari Kenzie.
Joana membalas pelukan itu dan tertawa geli melihay sifat manja suaminya.
Semua orang di Foresta Fredda sudah tahu tentang pernikahan antara Killian dan Joana. Jadi Killian tidak ragu mengumbar kemesraannya di luar.
Sejak pernyataan Killian pada Marina yang mengatakan Ellia bukan wanita yang ia sukai, Killian mulai terang-terangan memberitahukan bahwa Joana adalah satu-satunya wanitanya.
"Aku akan merindukanmu, Killian" Gumam Joana menikmati aroma tubuh Killian.
"Pergilah," Sahut Joana melepaskan pelukannya. Bisa-bisa pelukannya akan berlangsung seharian.
Killian yang tak segera masuk ke dalam kereta akhirnya Joana mendorong tubuh suaminya agar segera masuk.
"Baiklah, satu ciuman dulu." Killian berbalik dengan wajah manjanya.
Sontak 3 pelayan perempuan, satu pelayan pria paruh baya, dan Max yang mengantar kepergian Killian menunduk dengan malu.
Joana lantas merentangkan tangannya sebagai kode mengizinkan Killian untuk menciumnya, jika menolak bisa-bisa Killian merajuk lagi.
Killian dengan wajah berseri langsung ******* bibir istrinya, tidak peduli jika ada banyak mata di samapingnya, tapi mereka cukup tahu untuk tidak melihat keromantisan tuan yang dilayaninya.
Beberapa saat kemudian Killian melepaskan ciuamannya dan segera masuk ke dalam kereta.
Saat kereta mulai melaju, Joana pun melambaikan tangan ke arah kereta kuda yang sedang berjalan menjaihuinya.
Di tempat lain, ternyata ada sesosok yang sedari memperhatikan adegan romantis yang sengaja diumbar di depan umum.
Sosok misterius itu tersenyum ketika mengamati sosok Joana dari kejauhan yang nampak tersenyum berbicara dengan Max dan beberapa pelayan.
"Cantik," Ucap pria itu.
***