
Jadi Joana adalah anak yang lahir dari dua dunia yang berbeda.
***
"Bukankah hanya jiwa yang berpindah? Bagaimana bisa Tania membawa anak dari Putra Mahkota Killian?" Akhirnya Killian membuka pertanyaan setelah memahami cerita.
Daniova kembali tersenyum penuh makna. "Tania dan Aku sudah dinyatakan meninggal sesaat setelah perpindahan jiwa. Tapi saat kami kembali, kami membawa tubuh dari dunia itu, tubuh beserta jiwa dari Foresta Fredda. Bahkan cerita kami sempat menggegerkan dunia, kakak adik yang bangkit dari kematian."
"Lalu dimana Tania sekarang?" Tanya Killian lagi.
Daniova berdiri. Berjalan mendekat ke arah Killian. Sosok laki-laki yang pernah ia cintai di kehidupan dulu. Daniova mengangkat tangannya hingga dua jari tangan kanannya menyentuh kening Killian.
"Apa yang Kau lakukan?" Pekik Killian yang kemudian mencengktam tangan yang penuh keriput itu.
"Aku akan menuntun jiwamu ketika Kau mati. Jadi kembalilah ke duniamu. Killian." Gumam Daniova yang terdengar seperti mantra dan seketika tubuh Killian ambruk tak berdaya.
"Bawalah jiwa Joana kembali kemari."
"Kenzie." Daniova memanggil seseorang dari balik pintu. Dia adalah Kenzie sang Pangeran Kedua. Tapi dia bekerja dibawah perintah Daniova di dunia ini.
"Iya, Nyonya." Balas Kenzie dengan tatapan datar.
"Bawa pria ini kembali ke keluarganya." Sahut Daniova dan segera di angguki oleh Kenzie.
Daniova kemudian duduk kembali disamping keponakannya, membawa sebuah bukh dipangkuannya, buku yang berjudul 'Tbe Killian's Love' karya adiknya, Tania.
***
"....Ian....Killian..." Suara samar terdengar di telinga Killian.
Killian merasa ada sesuatu yang menggangunya tidur. Sepasang tangan mungil terus saja menggoyang-goyangkan tubuh besar Killian.
"Bangunlah, Brengsek! Apa Kau mau membuatku jadi janda hah?" Pekik seseorang memaki pria yang tak kunjung bangun.
Killian ingat dengan suara itu, itu adalah suara istri tercintanya Joana.
Killian masih memejamkan matanya, tersenyum ketika mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Joana.
Tunggu...
Sontak Killian langsung membuka mata, membulatkan mata merahnya menatap wajah Joana yang berada diatasnya.
Killian dalam posisi berbaring sedangkan Joana duduk disamping suaminya sembari menatap wajah suaminya dengan penuh derai air mata.
"Huaaaaa...." Tangis Joana pecah ketika akhirnya Killian bangun.
Seketika Killian langsung bangkit dan memeluk istrinya yang menangis.
Kali ini bukan sembarang pelukan. Killian memeluk Joana dengan penuh rasa rindu tak tertahankan. Killian tersenyum mendengar tangisan istrinya. Aneh memang, bagaimana bisa tersenyum diatas kesedihan istrinya sendiri.
Killian menepuk-nempuk punggung Joana. Sembari mengamati dibelakang Joana ternyata ada Kenzie dan Aarash yang teesenyum melihat Killian bangun.
"Cup cup cup... Sudah 26 tahun kenapa masih menangis?" Gumam Killian masih menepuk punggung Joana guna menengkannya. Ini pertama kalinya Joana menangis karena Killian.
"Huuaaaaa...." Killian semakin terkejut dan bingung kenapa tangis Joana semakin menjadi-jadi.
"Kenapa Sayang? Aku sudah bangun... Kenapa Kau menangisiku yang tidur 2 jam hah?" Sahut Killian yang panik.
Tidak mendapat jawaban dari Joana, lantas Killian melirik kedua temannya itu.
Namun yang didapat Killian mereka hanha membalas tatapannya dengan tatapan aneh.
"Anda sudah tidur selama dua hari, Yang Mulia." Ujar Aarash yang menyanggah pernyataan Killian yang bilang tidur selama 2 jam.
Hah? Killian membulatkan mata merahnya kemudian melepas pelukan dari istrinya. Killian memegang erat kedua bahu ramping istrinya.
"Benarkah itu?" Tanya Killian meminta kepastian.
Joana mengangguk di sela-sela tangisannya. " I-iya... Hiks."
Killian kembali memeluk erat Joana.
"Kalian kembalilah, Aku akan menemui kalian nanti." Sahut Killian memerintah kedua temannya untuk meninggalkannya bersama Joana.
"Kinsey sudah meninggal, Killian." Sahut Kenzie tiba-tiba.
Killian menaikkan kedua alisnya. Apa maksudnya?
"Bagaimana bisa?" Tanya Killian masih memeluk Joana.
"Kinsey dibunuh Marina."
Killian kembali melepaskan pelukannya, menatap lamat-lamat wajah Joana yang sembab akibat tangisan.
"Ke-kemarin Kinsey. Hiks. Datang kemari hiks. Di-dia ingin bertemu denganmu hiks. Tapi Ma-Marina datang kemari dan Hiks membunuh Kinsey Hiks di depan mataku hiks." Jawab Joana yang terbata-bata. Killian hampir tidak mengerti, namun Kenzie memperjelas ucapan Joana.
"Kemarin kakak datang kemari karena menyadari keberadaanku disini, tapi saat datang kemari, berbarengan dengan kedatangan Marina. Jadi entah apa yang ada di pikiran Marina sampai membunuh Kakak. Pihak kerajaan masih sudah mengurung Marina."
"Kenzie." Sahut Killian. "Aku akan menunggu kabar tentang Marina."
Kenzie mengangguk dan pamit meninggalkan ruangan bersama Aarash.
"Sayang..." Killian menatap wajah Joana. Jemari kasarnya mengusap menghapus air mata yang tersisa di bawah pipi istrinya. "Sejak kapan Kau bangun?" Gumam Killian lembut.
"Du-Dua hari lalu hiks."
"Jadi saat aku pingsan, ketika itu Kau bangun?" Tanya Killian yang masih dengan suara rendahnya.
Joana mengangguk lagi. "Ku pikir Kau mati hiks"
Killian terkekeh sejenak kemudian memeluk istrinya lagi. "Kau tidak akan menjadi janda, Sayangku... Aku masih ingin melihat wajah istriku di usianya yang 26 tahun. Dan aku masih ingin melihat wajah istriku yang menua bersamaku."
"Kenapa 26 tahun hiks?" Tangisan Joana sudah berhenti, tapi tidak dengan cegukannya. "Tadi Kau bilang usiaku 26 hiks. Aku masih 18 tahun tahu?!"
Sekali lagi, Killian terkekeh yang hampir tertawa. "Yaaa. Tubuhmu memang masih 18 tahun. Tapi jiwamu adalah Joana 26 tahun."
Joana tersentak. "Bagaimana Mau tahu usiaku?" Joana mendorong dada kekar kekar menjauhi tubuhnya. Padahal Joana tidak pernah memberi tahukan masalah identitasnnya pada Killian. Joana hanya memberitahukan tentang namanya saja. Tidak lebih.
Killian yang masih merindukan Joana kembali memeluk paksa dirinya kemudian membawa Joana jatuh diatas ranjang lembutnya.
"Aku akan menceritakannya nanti, Sayang." Bisik Killian menundukkan kepalanya dan kemudian ******* bibir merah muda Joana. Ya Joana sudah kembali menjadi Joana Adalberto dengan mata biru dan bibir merah muda bukan merah darah.
***
Setelah menangis tersedu-sedu, Joana tertidur di pelukan Killian. Sementara Killian yang sudah memastikan Joana tidur sepenuhnya, bangkit berdiri keluar dari kamar. Tidak lupa sebelum pergi ia menyelimuti tubuh Joana dengan selimut tebal agar tidak terbangun karena dingin.
Killian saat ini berada di penjara Istana Kerajaan, bersama dengan Kenzie yang telah diangkat menjadi Putra Mahkota menggantikan Kinsey. Sebenarnga belum resmi, upacara pengangkatan Putra Mahkota dilakukan dua minggu depan, karena kerajaan masih dalam keadaan berduka.
Killian dengan angkuhnya berjalan melewati lorong gelap dan lembab penjara istana. Tujuannya hanya satu, bertemu dengan Marina.
Killian berdiri tepat dibalik jeruji besi dimana Marina di rantai.
Marina yang melihat kedatangan Grand Duke Killian Edellyn lantas tersenyum ramah.
"Anda akan menyelamatkan Saya, Tuan?" Tanya Marina dengan percaya diri.
"Saya sudah membantu Anda membunuh pesaing cinta Anda, Tuan. Sekarang Ellia sepenuhnya milikmu. Kinsey sialan itu sudah tewas haha." Sambung Marina tawa culasya.
Di satu sisi Killian hanya menyunggingkan sebelah bibirnya.
Kenzie yang berada di samping Killian bergidik ngeri mendengar pengakuan Marina. Jadi Dia membunuh Kinsey karena rumor itu? Untung saja bukan Ellia yang Dia bunuh. Memang pantas sih Putra Makhota arogan itu mati.
"Siapa bilang Aku mencintai Lady Earlene, Marina?" Ujar Killian dengan wajah dingin dan menaikkan sebelah bibirnya.
Bagaimana part ini? Semakin penasaran dengan kelanjutan cerita yang membingungkan ini kan?