The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 50



Sudah satu Minggu penyelidikan dilaksanakan. Tapi selama satu ini tidak menemukan sesuatu.


Sementara para rakyat biasa di Foresta Fredda sedang berbahagia karena cuaca yang menghangat yang dianggapnya sebuah keajaiban, tapi di sisi Killian dan Joana ini awal dari bencana yang tidak boleh terjadi.


Setiap kali melangkahkan kaki ke area lingkungan tinggal rakyat biasa, ada kebahagian besar di wajah mereka. Dan tentu Joana yang melihatnya hanya terdiam. Ia tidak ingin membuat mereka merasakan takut atau khawatir dengan fakta yang akan terjadi.


Joana terus melangkahkan kaki di dampingi oleh Killian dan Zero di sisi dan kanan, sementara Daisy di belakang mereka.


Joana merasa ketakutan melihat senyum orang-orang itu akan hilang digantikan dengan kepedihan yang dalam seperti penglihatannya dulu dimana Foresta Fredda akan menjadi benua hitam.


"Belok kesini, Sayang," Sahut Killian menggandeng tangan kecil Joana berbelok menuju gang sempit yang sangat kecil yang hanya bisa di di lalui satu orang saja.


Mereka berempat berjalan menyusuri lorong itu dengan barisan Killian di depan, Joana, Zero, dan Daisy. Tujuan mereka adalah tempat persembunyian.


Dan selama perjalanan tadi, untung saja mereka memakai jubah khas ala bangsawan. Bukannua menyamar sebagai orang biasa, Joana memiliki ide untuk tidak menyembunyikan status bangsawan mereka. Karena banyak dari bangsawan kelas atas yang sering bepergian keluar dengan menggunakan jubah mahal ini. Jadi mereka tidak terlalu dicurigai.


***


Satu minggu sebelumnya...


"Aaa-aa-Ayah," Ujar Zero gugup.


Joana pun tersenyum mendengarnya. Tapi sepertinya tidak dengan Killian. Dia tetap memasang wajah esnya.


Tapi yang sebenarnya terjadi, Killian juga tersenyum, tapi sayangnya tidak ada yang menyadarinya. Pria itu terlalu gengsi untuk menunjukkan senyumnya pada anak kecil di depannya.


"Sekarang sudah hampir gelap, Aku akan memasak untuk kalian berdua," Balas Killian gengsi pura-pura mengabaikan pnggilan Ayah pada dirinya. Dia bangkit menggenggam tangan Joana untuk pergi bersama.


"Masak?" Beo Aarash yang tidak percaya pendengarannya namun diabaikan Killian, Dia terus berjalan meninggalkan Aarash dan Zero yang masih termangu tidak percaya.


Joana hanya tersenyum menoleh sebentat melihat wajah mereka berdua yang kebingungan. Joana pun menatap kembali suaminya yang terlihat tampan meski wajahnya terlihat jelas kalau Dia sedang malu. Malu karena panggilan Ayah yang ditujukan untuknya.


"Kau mau masak apa?" Tanya Joana pura-pura tidak menyadari wajah malu Killian.


"Nasi goreng," Jawab Killian singkat yang dibalas Joana dengan decakan bibir. Dia pikir Dia masak, rupanya hanya nasi goreng.


"Apa Aku juga boleh merasakan masakan Tuan Killian?" Ujar Aarash tiba-tiba sudah ada di belakang Joana dan Killian, Zero pun ikut bersama dengan Aarash berjalan di belakang.


"Masakan Ayah tidak enak," Celetuk Zero tiba-tiba. Semoga saja Aarash percaya dengan kata-katanya. Karena memang masakan Killian sangat tidak enak.


"Benarkah?" Tanya Joana dan Aarash serempak menoleh kearah bawah, ke arah Zero kecil.


"Kau pernah makan masakan Ayahmu?" Tanya Joana lagi. Joana semakin penasaran dengan rasa masakan Killian. Karena selama ini Killian tidak pernah masak untuknya, dan bhkan sekarang Joana mulai mempertanyakan apakah Killian bisa masak atau tidak.


"Setidaknya masih bisa dimakan kan," Bela Killian.


"Masakan Ayah bukan hanya tidak enak, tapi benar-benar tidak layak untuk dimakan. Bahkan jika disuruh memilih roti berjamur atau masakan Ayah, Aku lebih memilih roti berjamur saja,"


Killian pun menatap tajam ke arah Zero. Biasnya anak itu akan takut dengan tatapannya. Tapi setelah Dia berani memanggilnya Ayah, Dia juga semakin berani berbicara seperti itu. Dan tadi apa dia bilang? 'Aku'? Bukan 'Saya'?


Aarash hendak berbalik pergi tapi malah di tahan Killian dengan menarik kerah belakang Aarash sehingga pria itu tidak bisa pergi.


"Kau akan menjadi penguji rasa masakanku," Ujar Killian dengan suara baritonnya.


.


.


.


Dan disinilah Aarash berada. Di dapur pribadi yang biasa digunakan Joana. Disana juga ada meja makan jadi mereka bisa langsung menyantapnya langsung ketika selesai.


Aarash menelan salivanya kuat melihat sepiring nasi goreng berwarna hitam yang terlihat sangat gosong. Perasaannya mengatakan bahwa yang ada di depannya bukan makanan, tapi racun yang siap menghilangkan nyawanya.


Zero yang melihat gurunya hanya tersenyum mengejek, seakan di pikirannya mengatakan 'Rasakan betapa nikmatnya masakan Ayah yang bisa membawamu ke surga (Mati)'


"Makanlah," Perintah Killian tegas pada Aarash karena pria itu tidak segera mencicipinya.


"Apa Kau yakin itu bisa dimakan?" Tanya Joana yang tidak mengalihkan pandangan pada sepiring benda menjijikkan hasil karya Killian yang sudah memberantakkan dapur.


"Kita akan tahu setelah Aarash makan," Jawab Killian dengan mata yang menyorot Aarash untuk segera memakannya.


"Apa Anda sudah mencobanya tadi?" Tanya Aarash berusaha menghambat waktu kematiannya.


"Untuk apa Aku mencobanya? Aku tidak ingin meninggalkan bayiku yang belum lahir." Jawabnya seadanya yang membuat Aarash ingin marah tapi tak bisa karena statusnya. Bukan mati karena makanan, bisa jadi ia mati di tangan Killian.


Aarash pun menelan salivanya sebelum mengambil seperempat nasi goreng diatas sendok untuk dimasukkan ke mulutnya.


"TUNGGU!" Ujar Joana tiba-tiba yang membuat tiga laki-laki berbeda usia itu bingung. Pasalnya Joana bukan menghentikan aksi makan Aarash. Tapi sesuatu yang lain.


"Kita harus pergi dari sini!" Ujar Joana lagi menggandeng tangan Killian untuk pergi, "Aarash, gendong Zero keluar dari mansion ini!" Joana terlihat sangat panik meski ia sebenarnya juga tidak tahu kenapa ia bisa sepanik ini. Yang pasti Dia merasakan aura aneh yang sangat kuat. "Daisy! Suruh para pelayan meninggalkan mansion ini!" Teriak Joana ketika sudah berada di luar dapur dengan Daisy yang setia menunggu di depan.


"Apa?" Tanya Daisy tidak mengerti.


"Lakukan saja, ini perintah. Keluarkan semua pelayan dari mansion ini dan cari perlindungan." Ujar Killian. Ia tidak tahu apa yang membuat Joana panik. Tapi yang pasti, ia menurut saja pada Joana. Sebenarnya ia juga merasakan aura aneh, tapi yang dirasakan Killian adalah aura yang sangat tipis.


"Ba-baik, Tuan." Balas Daisy berlari berlawan arah dengan Tuannya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Aarash masih berlari mengejar Joana dan Killian.


"Apa paman tidak merasakan aura aneh?" Tanya Zero dogendongan Aarash.


"Aura aneh?" Beo Aarash.


"Ini Aura yang pernah di keluarkan Stevan saat menyamar menjadi Killian." Jawab Joana. Ya, Joana ingat aura pekat ini. Tapi yanh jadi pertanyaan, kenapa Killian dan Aarash tidak bisa merasakannya sementara dirinya dan Zero bisa merasakan aura yang sangat pekat ini.


"Api hitam!" Killian dan Joana terhenti karena ada api hitam di koridor lantai bawah menuju halaman utama.