The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 7



Setelah makan siang, Joana dengan intruksi dari Killian berlatih menggunakan sihir es nya.


Sihir yang bahkan tidak terdeteksi oleh bola sihir itu.


Joana kini duduk diatas tempat tidur duduk bersilang gaya ala yoga.


"Fokuskan pikiranmu ke satu titik, kemudian rasakan apa yang kau rasakan." Killian memberikan instruksi pelan.


Joana masih terpejam mencoba fokus ke satu titik.


Namun setelah berjam-jam mencoba tetap gagal. Ia tidak mengerti cara kerja sihir disini.


"Bisakah Kau memberiku petunjuk yang lebih mudah kumengerti?" Joana sudah lelah dengan posisinya yang sedari tadi tidak bergerak dari duduk ala yoganya.


Killian menghela napas. "Bahkan anak usia 7 tahun saja langsung mengerti dengan penjelasanku."


Mendengar hal itu, Joana merasa bahwa Killian ini sebenarnya sangatlah menyebalkan. Menghina istrinya sendiri. Awas saja kalau nanti malam minta jatah.


"Begini, apa perbedaanmu yang sekarang dengan dirimu di kehidupan dulu?" Tanya Killian mencoba mencari cara lain belajar ala Joana.


"Perbedaan?" Beo Joana. "Ada." Jawabnya cepat.


"Apa? Apa yang berbeda?"


"Mata. Di kehidupan dulu mataku berwana hitam. Hanya itu yang berbeda dari tubuhku yang sekarang."


"Warna mata hitam?"


Joana mengangguk yakin. "Ah. Disini tidak ada orang yang bermata hitam ya? Pasti kau tidak pernah melihatnya."


"Pernah." Gumam Killian.


"Benarkah? Siapa?" Tanya Joana dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Pasalnya di dunia ini, bola mata hitam sangat langka, bahkan bisa dibilang hanya muncul satu kali dalam seratus tahun.


"Kau. Aku pernah melihatnya darimu. Saat Kau membangkitkan sihirmu."


Joana yang mendengarnya mengerjap mengedipkan matanya beberapa kali. Ia memang tidak ingat peristiwa kebangkitan itu, tapi jika warna matanya berubah hitam, itu seperti tubuh aslinya di kehidupan dulu juga masuk ke dunia novel.


"Baiklah. Sekarang fokuskan pikiranmu. Bayangkan saja warna matamu kembali hitam. Oke?" Killian memegang kedua bahu menyemangati wanita yang ada di depannya.


"Mm. Semangat." Ujar Joana mengepal kedua tanggannya. Lalu berpose ala yoga seperti sebelumnya.


Setelah beberapa menit fokus, Joana merasakan ada hawa dingin di tangannya. Killian yang mengamati proses kebangkitan sihir Joana begitu takjub, sedikit demi sedikit ia merasakan ada aliran sidir di tubuh Joana. Walau kecil energinya. Killian juga melihat sedikit kabut yang muncul di telapak tangan Joana.


"Apa Kau merasakannya, Joana?" Tanya Killian di tengah-tengah proses.


"Mm." Joana berdehem mengiyakan. "Tanganku terasa dingin."


"Setelah Kau merasakannya, bayangkan sebuah es batu muncul ditanganmu." Sahut Killian kemudian.


Tak berselang lama, Joana berhasil mengeluarkan serbuk es yang seperti salju dari telapan tangannya.


"Buka matamu, Joana."


Joana membuka matanya dengan cepat menatap kedua tangannya yang terdapat salju dan kabut berwana putih.


"Kau lihat ini, Killian?" Joana menatap Killian penuh bahagia dan terkejut. "Aku bisa mengubah bentuk saljunya juga. Lihat, bentuknya mirip olaf." Ujarnya kemudian mengangkat telapak tangan yang berdiri sebuah boneka salju.


Tapi yang membuat Killian terkejut adalah, warna netra mata Joana yang berubah menjadi hitam pekat.


Ia ingat tentang ramalan yang dikatakan Arhan. Gadis yang memiliki mata sehitam malam, kulit seputih salju, dan bibir semerah darah.


Ia melihat sosok itu diwajah Joana yang semangat memainkan salju di tangannya.


Dalam benak Killian hanya ingin mencium bibir merah itu. Bibirnya tampak sangat menggoda.


"Killian!" Pekik Joana ketika tubuhnya ambruk dan bibirnya di ***** oleh bibir tebal Killian.


Killian dengan rakus ******* bibir merah itu, tak mau melepasnya walau sedetik.


"Mm" Jaoan berdehem mencoba mencari napas dibalik ciuman nakal Killian.


Setelah dirasa Killian melepas tautan bibirnya, akhirnya Joana menimpuk pipi Killian dengan bola salju yang dibuatnya.


"Aww!" Killian meringis terkena pukulan istrinya.


"Salahmu sendiri menciumku tiba-tiba."


Kini Killian sudah menjauhkan tubuhnya yang semula menindih Joana.


"Kau lebih cantik dengan mata hitam, Joana." Killian menatap netra hitam seperti membawanya kedalam ruangan tak berujung. Sangat dalam.


Joana yang mendengarnya cukup bingung, apalagi ditatap begini, membuat dia malu dan menampilkan pipi yang merah padam.


Killian terkekeh melihat ekspresi istrinya yang terlihat lebih menggemaskan ketika malu.


"Bercerminlah, Sayang." Sahut Killian.


Dengan gerakan cepat Joana bangkit menuju cermin rias yang ada di kamar. Benarkah warna matanya berubah sekarang?


Dan benar saja, bola matanya kini sudah hitam legam. Bola mata miliknya.


Joana takjub melihat perubahan warna itu. Seakan dengan warna bola matanya yang berubah menjadikan dirinya sebagai Joana Alexandra yang sebenarnya.


Killian dengan tiba-tiba memeluk Joana dari belakang. Mengamati wajah cantik Joana dari balik cermin. Kemudian menelusupkan wajahnya ke leher wangi gadis itu. "Welcome to Foresta Fredda, Joana Alexandra." Bisiknya pelan di telinga Joana.


Iya. Sekarang tubuh ini adalah Joana Alexandra yang sebenarnya. Mata hitam ini adalah perbedaanku dengan Joana Adalberto. Aku telah menjadi diriku sendiri.


Joana menitihkan air mata tat kala ia menyetuh area bawah mata dengan jarinya. Air yang keluar dari mata hitam ini adalah air mata Joana Alexandra.


"Aku adalah Joana Alexandra." Gumam pelan Joana menatap dirinya dari balik pantulan cermin.


"Iya, Kau Joana Alexandra, istri dari Killian Edellyn." Killian dengan senyuman membalas gumaman istrinya.


***


Di tempat lain, Marina sedang berusaha merubah takdirnya, memutuskan hubungan dengan Putra Mahkota dan bahkan menyindir putra mahkota dengan sindiran yang terlewat menyakitkan hati.


"Heh. Sepertinya dulu aku buta pernah tergila-gila pada pria sepertimu! Lemah!" Hina Marina pada Kinsey pada saat acara minum teh.


Mendengar hinaan itu, membuat Kinsey terpancing dan mendorong tubuh Marina dengan sangat keras.


Alih-alih meringis kesakitan, Marina malah tertawa terbahak-bahak.


"Betapa bodohnya Marina yang dulu bisa jatuh cinta pada laki-laki yang memperlakukan seorang wanita dengan sangat buruk."


Marina kemudian melirik Ellia yang memasang wajah polosnya. Marina kemudian mendekatinya.


"Apa yang mau kau lakukan pada Ellia?" Dengan tegas Kinsey menghalangi tubuh Ellia di belakangnya.


"Tidak perlu seperti itu, Yang Mulia. Saya hanya ingin memberikan selamat padanya karena pesaingnya berkurang satu, yaitu Aku." Jawabnya dengan memasang senyum penuh arti.


Marina dengan berani berbisik mengejek pada kekasih Putra Mahkota itu, tidak segan menghina Ellia dengan sebutan Lady bangsawan jatuh yang mengejar cinta Putra Mahkota. "Mimpimu terlalu tinggi, Sayang. Kau akan kesakitan jika jatuh dari mimpimu." Marina membisikkan ejekan itu tepat di telinga Ellia.


Ellia yang mendengarnya tentu merasa sedih hingga menitihkan air mata.


"Apa yang Kau katakan pada Ellia?" Kinsey marah menatap Marina yang memasang wajah tak bersalah. Sementara Ellia menahan tangan Putra Mahkota itu dan memintanya pergi dan mengabaikan bisikan Marina padanya.


"Saya hanya memberikan nasihat, Yang Mulia. Semoga hubungan kalian tetap langgeng seumur hidup." Ujarnya kemudian disusul senyuman miringnya.


Setelah dari acara minum teh di Kerajaan, Marina beralih menuju mansion Grand Duke untuk mendiskusikan suatu hal.


Sore itu, di tengah-tengah Joana dan Killian bermesraan di kamar.


Mereka diganggu oleh pelayan yang mengabari kedatangan Marina ke mansion Grand Duke.


"Apa lagi yang diingkan wanita itu?" Killian mencebik kesal.


"Kau harus menemuinya, Killian. Ini bagian dari rencana. Jika sesuai dengan ingatanku, dia akan membujukmu mencari segel yang dapat membangkitkan sihir api merahnya." Ujar Joana yang membujuk Killian. "Aku akan berada di kamar timur kalau-kalau dia meminta bertemu denganku." "Tapi sebisa mungkin Kau harus menghalanginya, Aku tidak ingin dia mengetahui perubahan warna mataku."


"Apa maksudmu dengan segel api? Apa itu nyata?" Tanya Killian terkejut.


"Mm. Setelah bertemu dengan Marina. Aku akan menceritakannya padamu." Jawab Joana kemudian mengecup pipi kiri suaminya.


Mendapat bujukan romantis, akhirnya Killian mengiyakan untuk bertemu dengan wanita jahat itu. "Cium bibir dulu." Sambungnya dengan memonyongkan bibir.


"Pergi sana!" Joana mengusir suaminya dengan candaan.


Killian dan Marina duduk berhadapan di ruang tamu kediaman Grand Duke Edellyn.


"Ada apa Nona Marina Adalberto tiba-tiba datang kemari?" Tanya Killian dengan memaksakan ramah pada wanita berambut pirang di depannya.


"Mohon maaf atas kelancangan Saya, Yang Mulia Grand Duke. Kedatangan Saya hanya ingin mendengar kabar Adik Saya, Joana Adalberto. Sudah beberapa minggu Saya tidak bertemu dengannya, Yang Mulia." Jawab Marina dengan seulas senyum.


"Sekarang Joana dalam pengawasanku, Nona. Bukankah Joana sudah dibuang dari keluarga Duke Adalberto?" Killian dengan nada mengejek memasang wajah dingin iblisnya.


"Saya hanya ingin meminta maaf pada Adik Saya, Yang Mulia." Sambungnya dengan senyum culas yang tak pernah luntur di wajahnya. "Saya memiliki informasi yang cukup menarik sebagai timbal balik dengan pertemuan Adik Saya, Yang Mulia."


Killian memicingkan sebelah alisnya seraya penasaran dengan apa informasi yang akan diberikan manita di hadapannya.


"Informasi apa yang akan Kau berikan, Nona Marina?"


"Segel sihir api." Jawab Marina mantap dan lugas. "Pasti Anda akan tertarik dengan segel sihir api ini, Tuan. Apalagi Anda juga pemilik sihir api hijau yang cukup langka di negeri ini."


Killian tersenyum tipis. "Segel sihir api hanya legenda, Nona?"


Marina kemudian membalasnya dengan senyuman juga. "Legenda itu berawal dari kenyataan, Yang Mulia. Dan Saya tahu letak dimana segel api berada."


"Bukankah informasi ini terlalu berharga jika hanya ditukar dengan bertemu dengan Joana, Nona?"


Marina tersenyum sekilas. "Anda mengerti maksud Saya rupanya."


"Saya ingin Anda melenyapkan Joana jika perkataan Saya benar adanya, Yang Mulia. Segel sihir api itu akan menjadi milik Anda. Dan Saya akan menerima bayaran dengan kematian Joana. Bagaimana Tuan?"


Killian terkekeh memutar mata merahnya dengan malas. "Kematian Joana?" Killian mulai menaikkan sebelah alisnya. "Joana sudah menjadi milikku, Nona. Aku tidak mungkin membunuh kelinciku."


Mungkin dalam batin Marina sekarang yang dimaksud kelinci adalah kelinci percobaan.


"Bukankah sihir es Joana sudah tidak bisa bangkit lagi, Yang Mulia? Anda tidak perlu menghabiskan banyak tenaga hanya demi gadis tidak berguna itu."


Killian hanya menatap netra biru itu tanpa ekspresi. Bagaimana ada orang yang meminta membunuh istrinya sendiri? Akan ku ikuti alurmu, Dasar Rubah sialan.


"Baiklah, Saya percaya dengan Nona Marina. Jadi, dimana lokasi segel sihir api itu?"


Marina akhirnya tersenyum bahagia. "Di perbatasan timur hutan kegelapan."


Setelah percakapan yang cukup serius, Killian membawa Marina menuju kamar timur mansion Edellyn yang terkenal sebagai kamar yang tidak pernah dikunjungi oleh Grand Duke sebelumnya.


"Tunggulah disini, Nona. Aku harus menanyakan pada Joana terlebih dahulu." Sebenarnya Killian hanya ingin membantu Joana menutupi warna bola matanya yang berubah warna.


Killian masuk dan langsung menutup pintunya. Ia terkejut karena warna mata Joana sudah kembali biru.


"Bagaimana Kau melakukannya?" Tanya Killian pelan agar tidak terdengar oleh Marina.


"Aku hanya memfokuskan pikiranku, seperti yang aku lakukan sebelumnya, tapi aku memfokuskan pada warna mata biruku." Jawab Joana dengan santai seraya tahu maksud pertanyaan Killian. "Apa Marina ada diluar?"


Killian mengangguk. "Aku akan tetap disini saat Marina masuk." Jawabnya sembari memeluk istrinya. Beberapa menit tidak bertemu ternyata sangat rindu.


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan Marina. Kau tinggalkan saja Aku bersama Marina." Bujuk Joana membalas pelukan Killian.


"Aku takut rubah jahat itu akan melukaimu, Sayang." Bisiknya pelan.


"Sudah minggir, jika terlalu lama mengobrol dia akan curiga pada kita."


Mau tidak mau Killian akhirnya menjauh dan membukakan pintu untuk Marina.


"Aku akan meninggalkan kalian berdua." Ujar Killian yang langsung berjalan kembali ke ruang tamu.


"Terimakasih, Yang Mulia."


Setelah kepergian Killian, Marina berjalan dengan tatapan mengancamnya. Berjalan dengan elegan, menghampiri Joana yang berdiri gemetar melihatnya.


"Kupikir Grand Duke Killian akan memperhatikanmu, tapi Kau malah lebih terlihat gembel, Adikku." Ujar Marina menarik kerah kemeja dengan dalih merapikannya.


"Sepertinya sifat penakutmu itu kembali setelah kebangkitanmu yang gagal." Sambungnya dengan sinis mengejek.


Joana sebisa mungkin berakting ketakutan pada Marina. Biarlah ia berasumsi seperti itu. "Kuharap Kau menikmati hidupmu disini, sebelum-"


Marina menarik kasar kerah baju Joana lagi. Seakan memperingatkan pada Joana agar tidak berulah lagi. "Sebelum Killian menghabisimu."


Mendengar hal itu, Joana semakin gemetar ketakutan, air matanya menetes perlahan. Menundukkan kepalanya karena takut.


"Tetaplah disini, jangan pernah memohon belas kasih Duke untuk tinggal disana. Ingat posisimu hanya seorang Lady terbuang, Joana."


Joana yang mendengarnya hanya menangis tersedu-sedu. Berakting seolah dunia sudah mencampakkan hidupnya yang begitu sial.


"Maafkan Aku, Marina. Kumohon bawa Aku pergi. Aku takut tinggal di sini Marina." Akting Joana tertunduk takut mengemis pada Marina.


Marina yang melihat putri kandung Adalberto menangis dibawah kakinya tersenyum penuh kemenangan. "Sejak dulu harusnya Kau tinggal disini Joana. Ini adalah nerakamu. Tinggal bersama Grand Duke gila yang haus darah." Balasnya dengan senyum culas kemudian berjalan pergi meninggalkan Joana yang terduduk diatas lantai dengan mengenaskan.


Setelah berbicara dengan Joana, Marina langsung pergi meninggalkan mansion dengan kereta kudanya.


Sepeninggal Marina, Joana langsung tertawa terbahak-bahak ternyata kemampuan aktingnya sangat luar biasa. Killian dengan langkah cepat berlari menuju kamar timur tempat Joana berada.


Ketika pintu terbuka, Killian mendapati Joana yang tertawa dengan bekas air mata di pipinya.


"Apa Dia melukaimu lagi, Sayang?" Tanya Killian menengok depan samping belakang tubuh Joana.


"Aku tidak menyangka ternyata aktingku sebagus itu sampai membuat Marina tertipu hahaha." Jawab Joana yang kembali tertawa keras.


Killian bernapas lega. Sudah cukup ia melihat Joana menangis lagi.


Killian pun menggendong Joana ala bride style menuju ranjang di sebelahnya.


Dan dengan cepat Killian menaikkan tubuhnya keatas ranjang dan merebahkan badan disampingnya.


"Apa yang Marina katakan padamu?" Tanya Joana merubah posisinya menjadi miring menghadap suaminya.


"Dia memintaku untuk menghabisimu." Balas Killian juga merubah posisi, sehingga mereka saling berhadapan.


Setelah mengatakan itu dengan mulutnya sendiri, Killian langsung memeluk istrinya. Menelusupkan kepalanya dibawah leher dan menghirup aroma istrinya.


"Membunuhku?" Beo Joana. Perlahan Joana melepaskan pelukannya kemudian mengangkat punggungnya dari ranjang. "Di novel, Marina tidak ada permintaan untuk menghabisiku, apa Dia benar-benar yang meminta?" Tanya Joana sedikit keheranan.


Joana terheran karena alur Marina sudah berubah. Seharusnya nama Joana tidak pernah diungkit dalam percakapan antara Marina dan Killian. Apalagi dalam novel juga nama Joana tidak pernah ada.


"Apa Dia mau menghabisiku karena Aku adalah kecacatan dalam novel ini? Jika iya pasti Dia merasa resah dengan kehadiran tokoh yang tidak pernah ada tapi membawa efek kupu-kupu. Apa karena sihirku juga? Apa Dia mengetahui masa depan yang kulihat juga?" Joana bergunam sendiri. Pikirannya sudah terbang kemana-kemana. Dengan kebiasaan Joana, setiap kali melamun pasti menggigiti kukunya. "Argh. Aku pusing!" Joana berteriak keras menarik rambut pendekknya.


Melihat Joana yang terlihat frustrasi membuat Killian bangkit dan menahan tangan Joana agar tak menyakiti dirinya sendiri.


"Joana." Sahut Killian menangkup pipi kurus Joana dengan tangan besarnya, terlihat netra biru yang terlihat sayup. "Tenangkan dirimu. Sejak awal alurnya memang berubah kan? Yang jadi pertanyaan disini, Marina memintaku menawariku segel api sebagai imbalan untuk melenyapkanmu, Apa yang Kau tau sesuatu dengan segel api?"


Sadar dengan kebiasaannya, Joana melepas tangannya yang menarik rambutnya, menatap mata merah yang sangat indah.


"Iya. Alurnya berubah karena kedatanganku." Jawab Joana dengan suara lirih.


Kemudian Joana menarik tangan besar Killian yang menyentuh pipinya. Membawa kedua tangan itu kedalam pangkuannya.


"Sejak awal Marina tahu kalau segel api tidak berpengaruh padamu, tapi karena Kau saat itu menyukai Marina, jadi kau memberikan segel api yang sudah Kau dapatkan susah payah pada Marina." Ujar Joana mengingat isi novel kemudian. "Setelah mendapatkan segel sihir api itu, Marina menjadi sangat kuat, tidak hanya sihirnya, tapi juga kemampuan bela dirinya yang sudah ia kuasai di kehidupan dulu sebagai kesatria meningkat pesat. Tapi seharusnya itu masih lama."


"Apa Aku habisi Marina sekarang juga? Biar masa depan yang Kau lihat tidak terjadi?" Timpal Killian seolah jiwa iblis haus darahnya kembali. "Apalagi sejak awal Aku sudah sangat membencinya."


"Tidak Killian. Aku tidak tahu, tapi instingku mengatakan tidak. Aku selalu berpikir mengapa Joana yang asli menuntunku membawa ke adegan cerita peperangan itu, mungkin setelah aku melihat kisah masa lalu itu berharap Aku dapat mengatasi ini dengan cara yang berbeda."


Killian menghela napas panjang. "Baiklah. Jika itu rencanamu. Tapi Aku tidak ingin Dia mendapat keinginannya, Sayang." Killian memeluk tubuh istrinya, merasakan aroma yang tercium memabukkan. "Aku takut kehilanganmu. Aku mencintaimu." Gumamnya lirih menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Joana kemudian mengecupnya.


Joana merasa risih dengan kecupan itu, terasa basah dan memabukkan.


"Killian, lepaskan dulu. Kita sedang bicara serius kali ini." Joana berusaha melepas pelukan suaminya, tapi karena perbedaan tenaga, Joana bahkan tidak bisa menggeser sedikitpun. Killian semakin beringas kemudian menggigit leher mulus itu hingga menampilkan jejak merah muda yang kontras dengan kulit Joana yang putih.


"Apa yang Kau lakukan?!" Geram Joana.


Hening.


Bibir Killian semakin menjamah ke bahu yang tertutup kemeja masa kecilnya. Jemarinya membuka satu persatu kancing kemeja Joana. Sementara bibirnya dengan nakal ******* bibir merah gadis cantik di depannya. Memejamkan matanya merasakan kenikmatan dari bibir manis itu.


Sementara Joana hanya pasrah setelah beberapa kali berontak. Namun karena tidak bisa melawan tubuh kekarnya, jadi Joana juga membalas ciuman itu. Menagalungkan tangannya ke leher pria itu. Sesekali menarik rambut coklat itu sebagai kode kalau dia kehabisan napas selama berciuman.


Killian melepaskan pungutannya, kemudian merebahkan tubuh Joana hingga berada di bawahnya. Melepaskan bajunya dan beralih melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuh istrinya.


Hingga terjadilah.... (Tahu lah ya hihi)


***


Pada malam harinya. Killian pergi entah kemana sejak pergulatan di ranjang sore tadi. Joana tidak ambil pusing kemana perginya suami, Dia sedang asik menulis kelanjutan bab terbaru untuk novelnya dengan nama pena Alexandra. Novel yang Dia buat laku di pasaran, bahkan sejak hari pertama novel di rilis sudah menjadi buah bibir di kalangan bangsawan.


Dengan jemarinya lihai menyusun kata demi kata, apalagi dengan pekerjaannya dulu sebagai editor novel, Joana menuliskan kata-kata yang layak disebut masterpiece di dunia ini.


Ketika sedang asik menulis, tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Killian yang masuk ke dalam kamar dengan jubah tebal yang penuh dengan noda darah.


"Killian?" Joana tentu sangat terkejut mendapat pemandangan mengerikan penuh darah di tubuh suaminya. "Apa Kau terluka?" Tanyanya berlari menuju ambang pintu tempat Killian berdiri.


Joana meraba tubuh Killian bagian depan samping belakang atas bawah dengan ssksama, berusaha menemukan sumber luka. "Bagian mana yang sakit?"


Namun sang empu malah tersenyum pernuh arti. Hanya diam berdiri saat tangan istrinya meraba seluruh bagian tubuhnya. "Ini bukan darahku." Jawab Killian santai.


Bagaimana part ini? Jangan lupa tulis komentar:D