
Setelah pulang dari istana, Joana dan Killian memutuskan untuk berendam air hangat bersama di pemandian air panas dalam ruangan.
Mereka anteng layaknya berendam pada mestinya, itu karena beberapa menit yang laku mereka telah melakukan hubungan suami istri di sana.
Joana sedari tadi terus saja bercerita tentang pertemuannya dengan sang Ayah. Dan Killian juga terkadang menimpali cerita itu.
"Jadi apa menurutmu apakah Mama memang sengaja berbohong padaku?"
Killian masih memeluk Joana dari belakang, ia memangku Joana duduk diatas pahanya. Dengan air yang hangat yang membuat mereka nyaman berlama-lama disana. "Mungkin Mamamu memiliki alasan yang belum bisa ia sampaikan padamu, jadi tunggulah sampai Mamamu mengatakan apa yng sebenarnya terjadi. Jadi jangan sembarangan berpikiran aneh pada Mamamu."
Joana mengangguk mengerti.
"Ah, Aku lupa menanyakan hal penting pada Ayah," Gumam Joana.
Killian terdiam. "Aku lupa tanya pada Ayah soal kembaranmu, Killian. Masih ada kemungkinan jika pria itu adalah anak Ayah, tapi kemungkinannya sangat kecil sih, karena kalian bertiga memiliki wajah yang sama."
"Tidak, Sayang. Kupikir Dia tidak ada hubungannya dengan Ayahmu. Tapi denganku."
"Kenapa Kau bisa seyakin itu?"
"Dia memiliki rambut coklat terang dan bermata merah, itu adalah ciri keluarga Edellyn, jadi tidak mungkin di saudaramu."
Joana mengangguk mengerti hipotesis yang diberikan Killian.
"Ngomong-ngomong, apakah Ayahmu sangat mirip denganku?" Tanya Killian mengalihkan topik.
Joana tersenyum sejenak kemudian menoleh menatap wajah Killian yang ada di belakangnya. "Ya, dari segi wajah saja. Untuk warna rambut, warna matah, dan pembawaan, kalian sangat berbeda. Ayah lebih hangat daripada Kau yang sedingin es."
Mendengar jawaban itu Killian langsung mengeratkan pelukannya, membawa Joana semakin erat menempel ditubuhnya.
Joana pun merasa geli. Rasanya aneh jika kulit bertemu kulit tanpa sehelai benang pun.
"Kita udahan yuk, kulitku menjadi keriput karena lama berendam," Sahut Joana pada suaminya.
***
Ke esokan harinya, Joana terbangun karena mendengar suara riuh dari luar.
Ia mengusap matanya sebelum membuka mata.
"Tidurlah lagi, Aku akan meminta mereka untuk diam." Gumam Killian lirih mengusap puncak kepala Joana yang ada di pelukannya.
Namun Joana tetap membuka matanya dan menemukan wajah tampan Killian seperti biasa. Wajah yang terlihat seksi saat bangun tidur.
"Ada apa di luar?" Tanya Joana dengan suara serak khas suara bangun tidur.
"Mereka menyiapkan harta yang akan di kirim ke istana untuk ganti rugi," Jawab Killian santai. Namun bagi Joana tidak.
"Kenapa Kau yang menyiapkan uangnya? Aku bisa membayar kompensasinya," Joana tiba-tiba bangkit dari tidurnya. "Berapa kompensasi yang diminta Raja?"
"Seribu batang emas,"
Glek, Joana menelan saliva keringnya dengn berat. Biaya untuk menulis novel setiap bulannya bahkan tidak sampai seratus batang perak, tapi apa Dia bilang? Seribu gold? Itu sama saja Dia harus menulis novel selama 100 tahun untuk melunasinya.
"Ngomong-ngomong, apa semalam Kau belum puas?" Tanya Killian mengalihkan topik. Ia masih rebahan dengan menyanggah kepalanya dengan sebelah tangan menatap pemandangan indah di depannya.
Joana yang baru tersadar akhirnya menendang tubuh Killian hingga jatuh tersungkur di bawah ranjang. Lantas ia menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut putih disana. "Dasar mesum!"
Killian menggeram kesakitan, saat Joana dalam mode bermata hitam, kekuatannya lebih besar darinya.
Killian pun bangkit dan duduk kembali diatas ranjang. Tubuhnya juga polos tanpa sehelai benang dan menampilkan secara jelas milikinya yang sepertinya juga sudah bangun.
Joana menutup matanya karena malu.
"Kau harus bertanggung jawab pada Adikku."
Killian seketika langsung menyambar tubuh Joana.
***
Di tempat lain. Marina dalam proses pemulihan setelah penyiksaan sebagai hukumannya membunuh Kinsey De Fredda, Putra Mahkota terdahulu.
Sudah satu minggu Marina berada dalam pengawasan sosok yang mirip dengan Killian Edellyn. Dan selama satu minggu itu pula ia belum tahu identitas aslinya.
Asumsinya mengatakan ia adalah tokoh yang mirip dengan Joana adiknya, tokoh yang tidak pernah di ceritakan dalam novel.
Selain tentang Dia, Marina juga penasaran pada Killian yang mengetahui identitasnya. Identitas tentaranya dan juga bagaimana ia tahu tentangnya yang telah membunuh seluruh anggota timnya. Apa Dia traveler sepertiku? Apa Dia anggota tentara juga? Jika Dia bukan tentara, ia tidak mungkin tahu tentang rahasia yang akan disembunyikan negara dengan sangat baik.
Kembali ke sosok mirip Killian ini, dulu saat pertama kali bertemu, Marina ingat dengan jelas mata dan rambutnya berwarna hitam, tapi setelah beberapa saat rambutnya berubah coklat dan mata merah seperti Killian. Apa yang Aku lihat dulu karena saat itu gelap? Makanya Aku tidak bisa membedakan warna dengan jelas?
"Kenapa Kau membantuku?" Tanya Marina yang sudah menghabiskan sarapan paginya, dan pria itu terus saja mengamatinya selama ia makan.
Pria itu tersenyum sinis, baru sekarang ia bertanya? apa Dia begitu takut padanya?
"Aku ingin memanfaatkanmu Marina, jadi Kau harus tetap hidup untuk tujuanku."
Heh, bahkan Dia terang-terangan bilang mau memanfaatkanku?
"Siapa Kau?" Tanya Marina kemudian.
"Aku? Stevan Anderson, begitulah namaku di dunia yang dulu."
Deg!
Marina tersentak mendengar kalimat terakhir pria itu? dunia yang dulu? "Apa Kau juga berasal dari Bumi abad 21?"
"Juga?" Beo Stevan. "Ah, jadi Kau juga dari dunia lain ya,"
"Jawabannya adalah benar dan salah. Benar Aku berasal dari bumi, tapi Aku berasal dari abad 19. Sepertinya Kau jauh lebih maju dariku." Sambung Killian.
"Apa Kau tahu dunia apa ini?" Tanya Marina sekali untuk memastikan.
"Foresta Fredda? Itu yang kutahu tentang dunia ini."
"Bukan itu, maksudku tentang dunia ini yang merupakan dunia novel, apa Kau juga tahu?"
Stevan membulatkan matanya, apa maksudnya? Dunia novel? Kegilaan macam apa ini? Yang Aku pikir ini adalah dunia paralel.
Dengan perasaan terkejut Stevan mengeluarkan aura hitamnya, mata dan rambutnya berubah menghitam, lantas membuat Marina seperti terbakar seluruh tubuhnya. "Katakan semua yang Kau ketahui padaku, semua, tanpa terkecuali." Ujar Stevan dengan tatapan membunuh.
Marina pun ketakutan, ia seperti meleihat Joana dulu yang pernah hampir membunuhnya, meskipun ingatan itu milik Marina yang dulu, tetap saja membuat Marina bergidik ngeri.
Rasa panas dari apai hitam itu kian menjalar selurih tubuhnya. Marina semakin menjerit kesakitan. Bahkan untuk berbicara mengucapkan satu kata pun sulit.
"He-henti-kan..." Ucap Marina parau, berusaha menenangkan amukan mengerikan Stevan.
Uhuk-uhuk-uhuk.
Marina terbatuk setelah Stevan melepaskan sihirnya. Tatapannya masih menakutkan seperti tadi.
Marina menelan saliva sebelum menceritakan semua yang ia ketahui, termasuk alur novel Killian's Love yang ia baca dan kekuatan sihir es milik Joana yang hampir membunuh Marina yang dulu.
"Kau harus mencari tahu tentang Joana," Ujar Marina setelah Dia selesai berbicara. "Bisa saja Dia juga sama seperti kita, kemungkinan memang benar Dia dari dunia lain."
Stevan tentu memikirkan kemungkinan itu, bisa jadi Joana yang memiliki kemampuan sihir es itu berasal dari Bumi, bisa jadi dari abad yang berbeda dan tempat yang berbeda.
Ini semakin menarik saja, setidaknya ia ada alasan mengamati gadis itu. Gadis yang bisa tahu kalau dirinya adalah Killian yang palsu.
***
Joana sedang asik menulis novelnya. Ia sudah ditagih oleh Baron untuk segera menyelesaikan sekuelnya. Dibantu dengan Daisy yang menulis sementara Dia hanya berbicara kalimata untuk novelnya.
Kenapa bisa terlambat menulis novel? Yang jelas karena Killian. Setelah kepulangannya dari tugas dan bertemu dengan Killian palsu, Killian semakin menempeli kemanapun ia pergi, untuk menulis pun ia canggung karena ada beberapa adegan dewasa dalam novel. Jika Killian tahu bisa-bisa Dia terus digoda olehnya. Dan untungnya sekarang Killian sedang berada di dapur, katanya sih mau mambuatkan makan siang untuknya.
"Nyonya?" Sahut Daisy mendengar Joana tiba-tiba diam. "Apakah sudah selesai, Nyonya?"
"Ah, maaf." Balas Joana. Daisy sudah terlalu sering mendengar kata maaf dari Joana, jadi seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa, meski kadang saat bersama Yang Mulia Grand Duke, Daisy sering kali ketakutan.
"Kita lanjutkan lagi, masih kurang sekitar dua bab lagi."