
Mendengar hal itu, Aarash dan Ellia saling menatap dengan pikiran yang sama. Yaitu bertanya lebih lanjut tentang Lady yang dimaksud. Apakah benar Tania?
"Waah benarkah? Tapi kenapa biji kopi ini sekrang tidak ada disini Nek?" Tanya Ellia agar tidak terkesan to the point.
"Apa Kau tahu gadis manis? Dulu Foresta Fredda adalah tempat yang sangat cantik tanpa salju. Semua pemandangan hijau penuh rumput, banyak anak yang bermain-main ditengah lapangan rumput. Biji kopi ini hanya cocok tumbuh di cuaca panas dengan curah hujan cukup. Foresta Fredda yang dingin ini tidak cocok untuk menumbukan biji kopi ini."
"Apa Nenek pernah melihat dataran rumput itu?" Tanya Ellia lagi.
Sebagai gadis yang dikenal memiliki sifat penasaran yang tinggi membuat si Nenek itu dengan senang hati menceritakannya. Apalagi dengan sikap Ellia yang yang sangat ramah.
"Sejak nenek tua ini lahir, Foresta Fredda ini sudah bersalju dan dingin. Hanya beberapa orang saja yang tahu kalau dulunya Foresta Fredda adalah tanah yang hijau. Dulu Ibu Saya sering bercerita tentang hijaunya Foresta Fredda. Namun Saya sering menganggap cerita Ibu Saya itu hanya karangan. Tapi setelah melihat perubahan disini, sekarang Saya mempercayai cerita itu lagi."
"Oh iya, gadis cantik. Saya dengar istana kerajaan telah terbakar. Apakah Kau baik-baik saja? Nenek sampai lupa menanyakannya padamu."
Ellia dengan senyuman manisnya menjawab. "Aku baik-baik saja Nek. Keluarga Kerajaan tidak ada yang terluka. Mereka saat ini berada di tempat aman."
"Oh ya Nek. Aku akan membeli biji kopi ini. Tapi bolehkah Aku bertanya satu hal lagi?"
"Tentu saja boleh. Nenek tua ini dengan senang hati menjawabnya."
"Benarkah?" Ujar Ellia tersenyum manis. "Apakah nenek pernah dengar cerita tentang Taman Surga?"
Mendengar pertanyaan itu membuat si nenek terdiam seketika.
Aarash pun menatap Ellia dengan anggapan ada yang salah ataupun nenek itu tidak mau menjawab. Tapi yang pasti, dari gelagatnya nenek itu pasti tahu sesuatu tentang Taman Surga.
Ellia hanya terdiam karena takut menyinggung nenek itu. Ia menunggu nenek itu menjawab saja.
"Darimana Kau tahu tempat itu?" Gumam nenek itu menatap tajam Ellia.
Hal itu membuat Ellia takut, karena tatapan ramah sebelumnya telah hilang diganti dengan tatapan tajam dan mengancam.
Apakah Taman Surga itu memang tempat yang tak boleh ada yang tahu?
"Siapa yang memintamu mencari tahu? Keluarga kerajaan?"Ujar nenek itu dengan ketus kemudian menatap Aarah yang berdiri diam sejak tadi.
"Ah, tidak Nek. Tidak ada yang meminta Saya." Balas Ellia membantah. "Sama sekali tidak ada, Nek. Saya hanya penasaran, Saya pernah membacanya di salah satu buku." Alasan Ellia.
"Pergi sana! Saya hanya akan menceritakannya pada orang yang tepat. Bukan sembarang orang seperti Kau!" Tiba-tiba nenek itu berteriak keras dan melempari Ellia dan Aarash dengan buah-buah yang dijualnya.
Aarash tidak mau pergi dari sana. Karena nenek itu bilang akan menceritakan pada orang yang tepat. Jadi setidaknya Aarash mengatakannya dulu. "Kami di utus Lady Alexandra. Lady Joana Alexandra."
Sedetik kemudian nenek itu berhenti melempar buahnya lagi ketika mendengar nama itu. "Alexandra?" Beo nenek tua itu.
***
Di tengah-tengah mengawasi Zero dan Killian latihan, tiba-tia Aarash datang mengabari kalau dirinya kedatangan tamu.
"Tamu untukku?" Beo Joana. Tidak biasanya Dia menerima tamu. Apalagi masih belum ada yang tahu kalau dirinya masih hidup. "Apa tamunya keluarga Adalberto?"
"Tidak. Dia adalah orang yang akan memberi tahu tentang taman surga."
Seketika Joana menatap kerah Killian dan dibalas dengan tatapan yang sama.
.
.
.
.
Joana bergegas menemui tamu yang sudah menunggu di ruang tamu.
Terlihat seorang nenek tua dengan pakaian lusuh duduk disamping Ellia.
Nenek itu tiba-tiba berdiri ketika melihat kehadiran sosok Joana dengan rambut dan mata berwarna hitam yang sangat cantik.
"Putri Tania?" Sahut nenek itu dengan suara pelan namun bisa di dengar oleh oleh Joana dan Killian yang berjalan mendekati nenek itu.
Joana dan Killian penuh dengan rasa penasaran yang sangat tinggi penasaran dengan nenek yang ada di hadapannya saat ini.
"Anda tahu Ibu Saya?" Ujar Joana.
"Ibu?" Beo nenek itu terkejut.