The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 42



"Aura aneh??"


Killian mengangguk masih memeluk Joana. Zero pergi, Max menhadap membelakangi pasangan yang selalu mengumbar kemesraan dimanapun dan kapanpun.


"Kau merasakannya juga?" Tanya Joana lagi, sebelumnya saat Joana menanyakan pad Max, Dia bilang tidak ada keanehan pada Akira.


"Ada sedikit aura Marina ditubuh gadis itu,"


Deg!


Jantung Joana tiba-tiba bereaksi cepat. Ia lupa dengan jalan cerita di novel.


"Marina. Tentu saja. Akira adalah Marina!" Gumamnya pelan.


Di dalam novel diceritakan setelah Marina melakukan ritual pemasukan segel sihir, fisiknya berubah. Dari rambut pirang berubah coklat dan matanya yang dulu berwana biru berubah hazel.


Napas Joana tampak tak beraturan yang membuat Killian berpikir bahwa ada yang disembunyikan Joana saat ini. Pasti ada yang membuatnya takut.


"Sayang, Kau kenapa?" Tanya Killian yang memegang pundak Joana dari depan. Nampak jelas wajah Joana yang ketakutan.


Napas Joana masih tak beraturan, ia bahkan tak mendengar ucapan Killian sama sekali. Pikirannya dipenuhi ingatan-ingatan dalam cerita novel itu.


Setelah Marina mendapatkan sihir merah, dalam waktu dekat cuaca Foresta Fredda akan menghangat dan salju yang tiba-tiba berhenti dan tak turun lagi.


Itu bukan lah keajaiban, tapi awal bencana yang disebabkan oleh Marina.


"Salju," Gumam Joana masih memasng wajah panik.


"Salju?" Beo Killian mengangkat alisnya masih menatap Joana lamat. "Ada apa dengan salju?"


"Aku harus apa? Aku harus bagaimana?"


Killian semakin bingung dan mulai panik dengan apa yang dialami Joana.


Joana gemetaran menjatuhkan tubuhnya karena lemas. Tapi untungnya dapat ditahan oleh Killian.


"Joana, katakan ada apa? Jangan buat Aku cemas seperti ini."


Joana akhirnya menatap wajah tampan yang sudah memasang wajah cemas. Dan akhirnya Joana menyuarakan isi hatinya.


"Dunia ini akan hancur," Gumamnya dengan satu tetes air mata yang turun ke pipinya. "Kamu akan mati, kamu akan mati,,,," Tangis Joana pecah mengatakan itu. Ia tidak bisa membayangkan bahwa Killian, laki-laki yang dicintainya akan mati di tangan Marina.


Killian terdiam kemudian memeluk Joana yang menangis. Ia cukup terkejut mendengar Dia akan mati dari mulut Joana.


"Cup cup, Aku tidak akan mati, Joana. Aku akan selalu disampingmu," Gumamnya menepuk punggung istrinya pelan.


Sebenarnya Killian sedikit takut jika dirinya mati meninggalkan Joana sendirian di dunia ini. Tapi jika di pikir, lebih baik dirinya yang mati daripada Joana. Ia tidak akan sanggup hidup tanpa ada Joana disisinya.


"Bisa Kau katakan lebih rinci?" Gumam pelan Killian.


***


Satu jam Joana menceritakan semua alir novel sampai tamat. Dimana setelah cuaca menghangat, sihir Marina akan bangkit lebih cepat dan lebih kuat. Cuaca yang menghangat menambah aura panas dalam sihirnya.


Dari sihir itu, hutan kegelapan yang akan menjadi tempat pertama yang akan hangus tak bersisa. Dataran putih penuh salju akan berganti menjadi hitam hangus terbakar.


Lalu yang akan hangus selanjutnya adalah istana. Ya, istana. Marina ingin membumi hanguskan tempat yang menjadi jantung dari dunia ini.


Di dalam novel, seharusnya Killian bertekad melengserkan raja yang sekarang. Dia berniat untuk membunuh raja dan menduduki kursi raja. Killian harus menjadi raja untuk membuat Ellia, tokoh utama berada di sisinya, tapi seiring berjalannya waktu, ternyata Killian menyadari kalau Dia mencintai Marina.


Dan alasannya untuk menjadi raja bukanlah tentang Ellia, tapi Marina. Dia ingin membuat negara baru yang bebas dari kediktatoran Raja saat ini.


Tapi sayangnya di ending, Marina malah membunuh Killian yang menghalangi tujuannya. Membumi hanguskan Foresta Fredda, tidak hanya istana, tapi Dunia ini.


Killian mati mengenaskan setelah berperang melawannya. Kekuatan Killian tidak cukup untuk melawan Marina. Hingga pada akhirnya ia tewas dengan api merah berbentuk oedang menembus jantungnya.


Salju putih menghilang, awan hitam dan hujan abu memenuhi Foresta Fredda.


"Max" Panggil Killian pada bawahannya yang sedari tadi ikut menyimak pembicaraan.


Sebenarnya otak Max saat ini dipenuhi banyak pertanyaan, kenapa Joana tahu semua ini. Apakah Joana bisa meramalka. masa depan?


"Iya, Tuan."


"Cari tahu kemana perginya Marina,"


"Baik Tuan" Balas Max langsung menghilang sekelebat mata. Marina yang dimaksud adalah Lady Asher yang tadi berkunjung. Ternyata Dia adalah Lady Marina Adalberto.


Pantas saja ia seperti familier dengan auranya. Meskipun samar, tapi sekarang Max yakin Dia adalah Marina.


Tapi yang jadi pertanyaan saat ini adalah, bagaimana bisa Lady Marina berubah secepat itu?


"Apa Kau bisa menurunkn salju?" Tanya Killian pada Joana yang sudah menghentikan tangisnya dan sudah agak mendingan.


Joana mengangguk sebagai jawaban.


"Seberapa jauh area yang bisa Kau berikan sihir untuk menurunkan salju?


"Entahlah, Aku belum pernah mencobanya."


"Apa Kau bisa membuat Foresta Fredda tetap dingin?"


Joana akhirnya tahu maksud Killian tentang menurunkan salju. Dia berniat untuk tetap membuat kerajaan ini tetap dingin dan jangan sampai menghangat.


Joana pun mengangguk penuh keyakinan meskipun sebenarnya Dia tidak yakin dapat melakuakannya.


Hanya dirinya lah yang dapat menyelamatkan Killian dan dunia ini dari kehancuran. Jangan sampai Marina melakukan apa yang ada di novel. "Aku akan mencobanya."


"Baiklah, Aku akan meminta bawahanku untuk mengawasi setiap gerak-gerik Marina,"


"Tidak," Ujar Joana tiba-tiba. "Biarkan Dia tetap mendekatiku, Jika Dia berpura-pura, maka Aku juga akan berpura-pura tidak mengetahui identitas aslinya."


"Itu sangat berbahaya Joana,"


Joana menggeleng pelan, "Aku tahu Marina, Aku membacanya, dan Aku tahu perasaannya," jawabnya yakin.


"Aku tetap tidak membiarkanmu berdekatan dengan gadis itu, Sayang..."


Namun tekad Joana sudah bulat. Ia akan tetap menerima setiap pendekatan yang dilakukan Marina terhadapnya. Ia ingin tahu alasan kenapa Marina mendekatinya.


"Kau cari tahu tentang Stevan, dan Aku akan mengawasi Marina, bagaimana?"


Killian terdiam. Hatinya masih belum menerima permintaan Joana istrinya. Apalagi didalam perutnya ada benih kecil yang rapuh.


Killian menghela napas cukup panjang kemudian menyisipkan anak rambut hitam Joana ke belakang telinga.


"Kau tidak boleh menurunkn kewaspadaanmu padanya, mengerti? Aku akan mengawasimu dari kejauhan."


Joana pun mengangguk mengiyakan.


"Jika Kau merasa tidak sanggup, larilah." Ujarnya kemudian.


"Iya iya, Aku tahu..."


Killian menghela napas panjang lagi menatap Joana dengan tatapan sayu. "Aku akan meminta Arhan untuk melatihmu lagi,"


Deg!


Sekali lagi, Joana merasa ada yang terlupa. Dan itu adalah Arhan... Penyihir Agung yang membantu Marina dalam ritual segel sihir api merah.


Arham adalah salah satu penyebab yang membuat Killian mati. Arhan berhianat dan lebih tunduk pada Marina.