Stay with me

Stay with me
Pukulan Kebencian



Setibanya di apartemen, Jun masih tidak berkomentar, Hana yang baru saja turun mencoba untuk mengucapkan sampai jumpa tapi sayangnya Jun sudah pergi menancap gas dengan sangat cepat, Hana hanya dapat melihat kepergian pria itu sampai mobilnya menghilang di kegelapan.


Sementara itu, Jun yang baru saja mendapat sebuah pesan dari Katakura segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju alamat yang tertera pada layar ponselnya, Pria itu benar-benar geram sampai melayangkan tinjuannya pada stir mobil.


Kini Jun sudah berada di depan sebuah apartemen kelas atas yang hanya di tempati oleh orang-orang kaya, Sayangnya hal itu tidak membuat Jun kesulitan untuk mengakses masuk sebab pemilik dari apartemen itu adalah saudara dari ayahnya sendiri, Bahkan satpam yang bekerja di sana menyambut kedatangan Jun dengan sangat ramah. Begitu Jun memarkirkan mobilnya di parkiran, Pria itu langsung menuju kamar yang sebelumnya sudah di ketahuinya dari informasi yang di dapar dari Katakura.


Di depan sebuah pintu kamar bernomor 2020 Jun segera menekan tombol bel berulang kali sampai pemilik apartemen itu keluar, Beberapa saat kemudian seorang pria membuka pintu dan langsung mendapat tinjuan penuh kemarahan pada wajahnya sehingga membuat pria itu jatuh tersungkur sambil memegang wajahnya yang terasa sakit.


" Kembalikan barang-barang Hana sekarang juga!!! " Sentak Jun mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.


Dean mencoba untuk bangkit dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil barang-barang Hana, Pria itu memberikan barang Hana tanpa mengatakan apa-apa, Namun Jun terus melontarkan kata-kata yang tajam hingga mengancamnya penjara kalau melakukan sesuatu yang membuatnya emosi.


" Mulai detik ini Hana berhenti bekerja, Kalaupun kau meminta denda aku akan mengirimkan uangnya. "



" Kita lihat saja apa Hana mau berhenti kerja atau tidak, Dan soal uang, Aku tidak membutuhkannya. " Balas Dean


Jun terlihat menahan emosinya dengan mengepal kedua tangan sambil menatap Dean dengan tatapan tajam, Tanpa basa-basi lagi Jun segera beranjak pergi dari hadapan pria itu .


Begitu Jun meninggalkan apartemen Dean, Pria yang berprofesi sebagi publik figur itu terlihat tersenyum kecil sambil melirik cctv yang tertera di sudut ruangan.


                             *


Pria itu menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat seharian bekerja, Wajahnya benar-benar pucat dan tak bersemangat, Ia menatap pintu keluar dengan penuh harap Hana datang menemuinya, Ia bahkan belum datang untuk mengambil barang-barangnya yang sudah di ambil di apartemen Dean.


" Jun, ini sudah jam makan siang, Kau tidak ingin keluar untuk makan? Atau kau ingin ku bawakan sesuatu?. " Suara Katakura baru saja membuat lamunan Jun buyar sehingga membuatnya langsung menggeleng sebagai bentuk penolakan dari pertanyaan Sekretarisnya itu.


Katakura tahu kalau Jun saat ini dalam keadaan buruk, Di tambah pekerjaan yang semakin membuatnya lupa makan dan juga soal Hana yang kemarin membuatnya naik pitam. Katakura berencana untuk mencari Hana di tempat kerja gadis itu tanpa sepengetahuan Jun.


Setibanya di JM Entertainment, Katakura langsung bertanya pada salah satu staf yang bekerja di sana namun sayangnya dia tidak mengenal Hana sehingga membuat Katakura kesulitan mencari gadis itu, Tiba-tiba saja keajaiban datang, Hana baru saja turun dari sebuah mobil van dan langsung bertatap muka dengan Katakura yang berada di depan gedung perusahaan itu.


" Katakura san?. " Sahut Hana terkejut.


" Hana, Aku ingin bicarakan sesuatu denganmu. "


Hana melirik seorang pria yang berjalan bersamanya tadi kemudian meminta izin pada manajer Dean barusan untuk berbicara bersama Katakura, Setelah mendapat izin dari pria itu, Hana dan Katakura segera menuju cafe terdekat untuk membahas apa yang akan di bicarakan oleh Sekretaris Jun itu.


" Hana, Kau harus tahu kalau saat ini Jun sedang berusaha untuk menempati posisi CEO Dream Corp, Saat ini dia sedang dalam masalah karena sebagian dewan tidak berpihak padanya, Untuk sekarang Jun sedang menyiapkan projek besar-besaran agar dewan pemegang saham mempercayakan wewenang ini pada Jun. "


" Untuk apa Jun melakukan semua itu? Bukannya dia tidak ingin mengambil posisi CEO itu?. "


" Jun melakukannya karena suatu alasan, Yang terpenting saat ini, Tolong datanglah untuk menghiburnya walau sebentar, Kemarin setelah mengetahui kalau kau di tinggalkan di Kyoto, Jun sangat khawatir padamu, Jangan biarkan dia sampai menunda projek ini hanya karena mengkhawatirkanmu setiap hari, Tolonglah, Datang padanya. "


Sepanjang perjalanan menuju apartemen Dean, Gadis itu tampak melamunkan ucapan Katakura beberapa saat yang lalu, dengan posisinya yang sekarang tentu Hana tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti permintaan Dean, Tapi kali ini dia benar-benar tidak tahan dan ingin berhenti bekerja dengan pria itu, Hana sudah tidak peduli lagi apa yang akan di katakan oleh Dean nantinya yang jelas hari ini juga ia akan berhenti dari pekerjaan ini.


Setibanya di apartemen, Hana terkejut ketika melihat wajah Dean yang lebam, Ia baru tahu kalau alasan Dean tidak keluar rumah lantaran wajahnya yang memerah entah karena apa, Hana sempat bertanya tentang memar di wajah Dean namun pria itu menoleh dengan tatapan nanar.


" Ini semua karena ulah pacarmu, Dia datang ke apartemenku dan langsung memukulku tanpa sebab. "


" Tolong jaga ucapanmu, Jun tidak mungkin melakukan hal itu, Sudah cukup..., Aku berhenti menjadi asistenmu, Kalau kau ingin meminta denda maka aku akan memberikannya. " Baru saja Hana hendak meninggalkan kamar pria itu, Dean menyuruhnya berhenti dan memperlihatkan layar laptopnya.


Dengan sekali sentuhan sebuah video berdurasi pendek mulai terputar di mana memperlihatkan aksi Jun saat memukul wajah Dean hingga membuatnya tersungkur, Hana membelalak kaget tak percaya melihatnya, Ia tak tahu kenapa Jun melakukan hal itu, Alih-alih kecewa pada Jun, Hana tetap tetap memutuskan untuk pergi namun lagi-lagi Dean menahannya.


" Aku akan membawa kasus ini kepengadilan sebagai kasus kekerasan, Tapi aku bisa saja menghapusnya dengan satu syarat tentunya."


Hana menoleh dan menghampiri Dean dengan tangan yang di kepal erat. Hana ingat kalau Jun saat ini berjuang untuk melakukan posisi CEO, Tentu dengan adanya masalah ini namanya akan menjadi semakin buruk bukan hanya di mata dewan pemegang saham melainkan semua masyarakat yang telah mengenal keluarga Misugi.


" Kau ingin aku melakukan apa?. " Tanya Hana dengan berani.


" Aku suka respon cepatmu itu. " Balas Dean tersenyum tipis.


                           *


Suara ketukan pintu behasil membuat pria yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu seketika mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang baru saja masuk, Jun tampak tersenyum ke arah Hana dengan wajah lelahnya akibat pekerjaan yang menumpuk.


" Aku membawakan makanan untukmu. " Ucap Hana sambil memperlihatkan kotak makanan pada Jun.


Jun merentangkan tangan meminta Hana untuk datang ke pelukannya, Gadis itu menghampiri Jun dan mulai memeluknya dengan mesra, Kecupan kecil mendarat di kening Jun dan membuatnya tersipu malu.


" Kenapa baru datang? Aku sudah menunggumu sejak tadi. "


" Maafkan aku, Aku sibuk dengan pekerjaanku dan baru bisa datang malam ini. "


" Kau masih bekerja dengan artis itu? Aku sudah meminta padanya untuk memberhentikanmu bahkan aku bersedia membayar denda berapa pun itu. "


" Aku tidak mungkin membiarkanmu mendapat masalah, Sebentar lagi kau akan menjadi CEO, Aku tidak mau kamu sampai kehilangan jabatan itu karena aku. " Batin Hana sambil menatap mata Jun dengan lembut


" Aku masih akan bekerja dengan Dean sampai kontrak itu habis, Bukannya aku tidak ingin menurutimu tapi ini soal tanggung jawabku. "


" Tapi dia sudah tega meninggalkanmu di suatu tempat yang jauh dengan membawa barang-barangmu, Bagaimana jika waktu itu Rey tidak datang, Apa yang akan terjadi padamu?. "


" Kalau begitu aku akan membalasnya di kemudian hari, Intinya kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, Aku bisa menjaga diriku sendiri. "


Hana beralih pada makanan yang di bawanya saat Jun mulai diam tanpa membahasnya lagi, Ia tahu Jun pasti kesal tapi tidak ada cara lain untuk menuruti permintaan Dean itu.