Stay with me

Stay with me
Maskot Andalan



Hari pertama bekerja tampaknya tak seburuk pemikiran Hana, tuganya pun tidak begitu sulit, ia hanya di minta untuk memakai kostum maskot Dreamland kemudian membagikan balon kepada anak-anak yang bermain di sana, hal itu tentu tidak akan sulit bagi Hana secara dirinya sudah tumbuh bersama anak-anak panti asuhan sehingga menarik perhatian anak-anak sangatlah mudah baginya.



Siang itu, Banyak anak-anak yang datang menghampiri Hana, Bukan karna menginginkan balon yang di bagikan oleh gadis itu melainkan adegan di mana Hana memainkan trik sulapnya pada salah satu pengunjung, bukan hanya anak-anak saja melainkan orang-orang dewasa pun ikut menyaksikannya. Saat itu Hana mencoba menunjukkan trik sulapnya menggunakan sebuah koin, semua penonton memberikan respond yang baik saat Hana menghilangkan koin tersebut dari genggaman tangannya, dalam hitungan detik koin itu kembali saat Hana mengambilnya dari balik telinga anak tadi.


Sorak sorai penonton membuat suasana saat itu menjadi ramai tak hanya itu, Jun pun ikut menyaksikan keahlian Hana, ia bahkan melemparkan senyuman bangga pada gadis itu, melihat sikap Jun yang lagi-lagi aneh tentu membuat Katakura semakin curiga dengan atasannya itu.


" Kau menyukai Hana " Bisiknya dengan wajah ingin tahu.


" Apa kau bodoh? Tentu saja tidak " Jawab Jun begitu cepat dan berlalu dari tempatnya menyaksikan Hana.


        


                             *


Setengah hari bekerja benar-benar membuat Hana kelelahan, bahkan jauh lebih melelahkan dari pada menjadi pelayan, selain kostum yang besar dan cukup berat di tambah musim panas yang membuat Hana kepanasan saat memakainya, Hana menjatuhkan tubuhnya di ruang ganti sambil membuka kepala maskotnya, ia mendapati sesuatu di atas meja dengan secarik kertas yang sengaja di tinggalkan untuknya.


" Kau sudah bekerja cukup baik, ini untukmu, selamat di nikmati "


~Direktur tampan~


Hana tersenyum simpul setelah membaca pesan tersebut, di atas meja kini tersedia minuman dingin dan juga cemilan untuknya.


" Dasar pria bodoh " Ucap Hana dengan senyum.


Di tempat lain, Urahara yang baru saja mendapat kabar dari pihak kepoilisan terlihat baru saja tiba di kantor polisi, setelah bertemu dengan kepala kepolisian, Ia di minta untuk duduk dan melihat hasil rekaman cctv yang di peroleh kepolisian dari tentangga Cafe miliknya.


Dalam rekaman tersebut tampak seorang pria berkumis dan dua orang lainnya tengah memantau Cafe miliknya, sejurus kemudian kedua orang tersebut menumpahkan sesuatu di pintu samping Cafe yang di yakini adalah minyak tanah, pelaku tersebut segera menyalahkan pemantik api dan meninggalkan tempat setelah mereka berhasil membakar sebagian tempat.


" Apa kamu mengenal mereka? " Tanya Pak polisi.


" Saya tidak mengenal mereka, tapi kalau memang mereka sudah merencanakannya itu artinya mereka memiliki urusan denganku, dan bisa jadi pelakunya adalah orang terdekatku sendiri " Jawab Urahara.


" Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut, apabila saudara mengetahui sesuatu tolong hubungi kami "


Begitu meninggalkan kantor polisi, Urahara langsung menemui Mimi di sebuah Taman yang tak jauh dari Dreamland.


" Sepertinya aku harus bergerak cepat " Ucap Urahara sambil menggenggam tangan Mimi.


" Apa yang ingin kau lakukan? " Tanyanya penasaran.


" Aku akan membongkar kedok keluarga Karin di kedua orang tuaku, dan meresmikan hubungan kita secepatnya "


" Tapi belum tentu kalau mereka yang membakar Cafe "


" Soal Cafe aku tidak begitu peduli, yang terpenting saat ini hanyalah meyakinkan Kedua orang tuaku kalau Ayahnya ingin merebut saham keluargaku dengan alasan perjodohan bodoh ini".


Tak ada yang dapat di lakukan Mimi saat itu, yang ia bisa hanyalah mendukung semua yang di lakukan Urahara untuk hubungan mereka berdua.


                             *


Pria itu baru saja keluar dari ruangannya di ikuti oleh Sekretarisnya, langkahnya terhenti setelah melihat sosok Hana yang tengah menenagkan seorang anak kecil yang menangis, Tak lama setelah itu ibunya datang dan menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, Ia bahkan mengucapkan banyak terima kasih kepada Hana.


Melihat Hana yang tiba-tiba berubah sendu membuat Jun merasa sedih, Ia pun kembali melangkahkan kakinya menghampiri Hana.


" Aku mau " Balasnya begitu tersadar bahwa yang mengajaknya adalah Jun.


" Tapi aku ingin makan di tempatku, aku tidak terbiasa makan di tempat mewah sepertimu " Lanjutnya cepat.


" Baiklah..,  Katakura san kau bisa pulang menemui Istri dan anakmu, aku akan pulang sendiri malam ini " Ucap Jun sontak membuat Katakura terbelalak mendengarnya.


" Baiklah kalau begitu " Jawabnya pelan.


Mereka berpisah di pintu keluar Dreamland, Namun Katakura masih memperhatikan keduanya dengan senyuman kegirangan.


" Tak kusangka gadis itu yang membuat Jun perlahan berubah" Gumam Katakura.


                             *


Setibanya mereka tiba di tempat pilihan hana, mata Jun seakan syok melihat keadaan dan kondisi tempat Hana mengajaknya untuk makan malam, Hana terlihat begitu menikmati tempat yang jauh dari kata mewah itu dengan langsung memesan makanan yang di sukainya. Jun duduk di salah satu kursi yang di tatapnya dengan jijik sambil melapisi kursi tersebut dengan beberapa lembar tisu.


" Ini adalah kedai terenak di kanto, kau harus mencicipi makanan di sini" Ungkap Hana begitu kembali dari memesan makanan.


" Apa di sini menyajikan wine? " Ucap Jun membuat hana tertawa pelan.


" Tentu saja tidak, wine hanya di sajikan di resto mewah, kalau di sini kita hanya di beri arak beras, rasanya enak ".


" Dimana arak berasnya? Aku haus ingin minum sekarang".


  


     Pelayan pun datang dengan membawa pesanan Hana dan sebotol arak beras di meja mereka, tatapan Jun terus teralih pada berbagai jenis makanan aneh yang pertama kali di lihatnya, semua makanan yang hana pesan merupakan kulit dan bukan daging seperti yang biasa ia makan, jun terlihat menyumpit kulit yang masih mentah itu dengan menatapnya begitu teliti, ia membuangnya sembarang tempat setelah merasa jijik dengan tekstur dan baunya.


" Kau ini kenapa? Ini makanan, kau harus menghargainya sedikit " Sahut Hana kesal.


" Bagaimana bisa kau menganggap ini makanan? " Lontar Jun cukup keras.


    Beberapa pelanggan menatap ke arah meja mereka dengan tatapan sinis, Sementara pemilik kedai baru saja berdeham saat Jun menghina menu mereka, sontak hana meminta maaf kepada mereka semua dan menjelaskan bahwa ini kali pertama Jun datang ke tempat tersebut sehingga bertingkah aneh seperti barusan.



" Kau harus memanggangnya dulu, setelah matang baru kau boleh mencicipinya " Ucap Hana begitu meletakkan beberapa kulit sapi di atas pemanggang


     Walaupun di panggang sekalipun tetap tak membuat Jun tertarik untuk memakannya, pria itu menuangkan arak beras ke dalam cangkir dengan tatapan jijik, ia mencium aroma minuman itu dan mulai meminumnya setelah ia merasa aromanya sama dengan bir, wajahnya sedikit menandakan bahwa ada rasa masam pada minuman itu namun jun terlihat menyukainya terbukti saat ia menghabiskan hingga 4 teguk sekaligus.


" Nah sudah matang, kau bisa mencobanya, ini.. Buka mulutmu" Ucap Hana menyodorkan sesumpit kulit ke arah Jun.


" Aku tidak mau, kau saja" Balasnya tetap tak ingin mencobanya.


     Hana mengangkat pundak pasrah saat jun menolak suapannya, ia pun memilih untuk menyantapnya sendiri, melihat hana yang terlihat menikmati makananya cukup membuat Jun tergiur, namun egonya sangat besar untuk mencicipi masakan tersebut, ia lebih memilih meminum arak itu untuk menghilangkan rasa laparnya, sebelum pergi untuk makan malam, ia memang sengaja tak makan apa-apa dan sekarang jun sangat menyesal karna harus menahan laparnya saat itu.


     Beberapa saat kemudian hana telah selesai menghabiskan seluruh makanan yang di pesannya tadi, Jun sempat kaget melihat nafsu makan gadis itu yang lebih banyak dari porsi makananya, setelah merasa kenyang Hana meminta jun untuk membayar makanan itu, dengan wajah menahan kesal pria itu mengeluarkan 10 lembar uang di hadapan hana, namun hana hanya mengambil 1 lembar untuk membayar semua itu.


" Kenapa makanannya murah? " Sahut Jun melongo.


" Itu karna perbedaan kelas yang begitu tinggi, makanya kau harus coba untuk makan di tempat murah" Jawab Hana segera meninggalkan Jun untuk membayar tagihannya.