
Kedua mata Hana seakan membelalak melihat semua hidangan mewah yang telah Jun pesan untuknya , Karena Hana akan menolak jika di ajak ke restaurant Jun pun dengan inisiatif memesan makanan itu dan memakannya bersama Hana di kantor.
" Itadakimasu " Ucap Hana penuh semangat.
Selagi Hana menikmati makanannya, Jun tampak menatapnya dengan senyum yang merekah, Melihat Hana yang makan begitu lahap membuat perasaanya senang seakan ada sesuatu yang menggelitik perutnya, Sadar bahwa sejak tadi di perhatikan membuat Hana melirik Jun dengan tatapan kebingungan.
" Kau tidak makan? " Tanya Hana.
" Aku sudah kenyang " Jawabnya cepat.
" Wah..., Kau menganggap aku ini **** yah? Mana bisa aku menghabiskan makanan sebanyak ini sendirian?? "
Hana menyumpit sepotong daging panggang dengan sedikit kecap asin kemudian menyodorkannya ke arah Jun.
" Buka mulut Aaa... " Gumamnya sambil mengimingkan sumpitnya.
Perlahan tapi pasti Jun mulai membuka mulut, Membiarkan Hana menyuapnya dengan lembut, Wajah Jun seketika merona di buatnya ini pertama kali baginya di suap oleh seorang wanita dan itu benar-benar membuatnya tak karuan.
*
Setelah menunggu sekian lama kini pelaku pembakaran Cafe milik Urahara berhasil di temukan oleh pihak kepolisian, Siang itu juga Urahara dan Mimi datang ke kantor polisi untuk melihat pelakunya. Dan setibanya di sana dugaan Urahara selama ini benar, Pelaku yang membakar cafe miliknya adalah Ayah Karin.
" Kenapa paman melakukan ini?? " Tanya Urahara yang sudah tidak dapat menahan emosinya lagi.
" Aku melakukannya agar kau dan Karin dapat menikah secepatnya, Karena megurus Cafe bodoh itu kau selalu menunda pertemuan keluarga, Bahkan setiap Karin datang mengunjungimu kau selalu tidak pernah menemaninya " Balas Tn Nozomi ketus.
" Asal paman tau, Aku dan Karin sudah memiliki pasangan masing-masing, Dan Karin juga memberitahuku kalau penikahan ini hanyalah akal-akalan Paman untuk menrebut saham Orang tuaku bukan? ."
" Jaga ucapanmu, Aku tidak pernah berpikiran seperti itu "
" Awalnya aku tidak percaya, Tapi setelah mengetahui pelaku pembakaran Cafe aku semakin percaya..., Dan ingat paman, Aku akan memberitahukan Kedua orang tua ku soal ini "
Urahara menarik tangan Mimi keluar dari ruangan itu, Bahkan ketika Tn Nozomi memanggilnya ia tak menggubris panggilan itu dan lebih memilih untuk pergi meninggalkannya. Selanjutnya ia akan menyerahkan kasus tersebut pada pihak kepolisian.
*
Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap layar ponselnya, Pada layar terdapat sebuah nomor dengan nama kontak Cerewet', Senyuman kembang kempis terlihat jelas di wajah pria tampan itu, Ragu-ragu ia menekan gambar sebuah telpon dan langsung panik begitu panggilan tersebut terhubung.
" Hallo? " Sahut seseorang di seberang sana.
Jun terdiam sambil menahan nafas agar tidak kedengaran oleh Hana, Namun karena Hana yang belum memiliki nomor Jun terdengar masih bingung dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.
" Di matikan? " Ucap Jun rada kesal.
Suara bel berdering terdengar sangat nyaring, Karena Jun tidak memiliki pembantu rumah tangga ia pun terpaksa menyeret kaki menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang malam-malam begitu.
Begitu Jun membuka layar monitornya, Ia mendapati sosok Urahara di luar sana meminta untuk segera membukakannya pintu. Saat Jun membuka pintu menggunakan tombol otomatis, Urahara muncul dengan sebotol wine merah dengan wajah yang tidak bersemangat.
" Kau kenapa? Apa pelakunya sudah di temukan? " Tanya Jun berjalan menuju ruang tamunya.
" Oiya, Sepertinya aku akan membeli bangunan baru yang ada di Kanto sebagai Cafe baruku, dengan begitu Hana dapat bekerja di tempat lagi"
" Tidak boleh, Maksudku Kau beli lahan kosong lalu membangun yang baru saja dari pada membeli bangunan yang sudah jadi " Potong Jun tak terima.
" Kenapa aku harus membeli lahan kosong sementara aku bisa membeli bangunan yang sudah jadi? " Tanya Urahara kebingungan.
" So-soal itu.., Kau tau sendiri kan bangunan sekarang belum tentu berkualitas baik, Sebagai temanmu sejak kecil aku akan membantumu mencari lahan yang strategis kau serahkan saja padaku, Oke"
" Kenapa aku merasa kau seakan tidak ingin Hana keluar dari Dreamland?. "
" Siapa bilang? Aku tidak menyuruhmu membangun Cafe karena gadis gila itu."
" Baiklah.. Baiklah.., Aku akan menuruti apa maumu saja. "
Malam itu kedua pria yang sudah berteman sejak mereka kanak-kanak terlihat menikmati wine yang di bawa Urahara sampai mereka mabuk, Seperti biasa Jun yang tidak kuat minum alkohol sudah terkapar tak berdaya sementara Urahara hanya dapat melihatnya dengan tatapan nanar.
" Pokoknya kau tidak boleh merebut Hana kembali, Aku akan menyuruhnya berhenti menjadi maskot dan memindahkannya kebagian Divisi, Awassss saja kalau kau sampai merebutnya dariku. " Teriak Jun dengan menunjuk-nunjuk Urahara.
" Dasar pria bodoh, Apa jujur sangat sulit baginya" Gumam Urahara geleng-geleng kepala dengan tingkah temannya itu.
*
Hana dan Mimi yang baru saja tiba di stasiun harus dibuat kesal dengan seorang pria yang berdiri di barisan antri tiket, Pasalnya pria yang berada di depan antriannya terlihat kebingungan menentukan arah tujuannya, Dengan memberanikan diri Hana menanyakan tujuan keberangkatannya dengan sangat sopan.
" Aku tidak tau caranya mengambil tiket" Jawabnya yang membuat Hana terkejut.
" Memangnya kau ingin kemana? "
" Asakusa "
" Kau bisa mengambil tiket yang sama dengan kami, Kebetulan aku dan temanku akan kesana juga " Lanjut Hana segera mengambil alih.
Begitu mereka bertiga memasuki kereta, Hana dan Mimi terus menatap pria yang kini duduk di hadapan mereka dengan wajah yang keheranan.
" Apa ini pertama kalinya kau menaiki kereta? " Tanya Hana.
" Benar, Ini pertama kalinya aku menaiki kereta umum " Balasnya malu-malu.
" Masih ada saja orang seperti dia? Apa dia anak sultan? " Benak Hana tak habis fikir.
" Hana, Apa kau tidak asing melihat pria itu " Bisik Mimi begitu hati-hati.
" Dia seperti artis " Balas Hana begitu polos.
" Kurasa aku pernah melihat pria itu sebelumnya, Tapi dimana yah??? "
Begitu mereka tiba di stasiun asakusa Hana dan Mimi lagi-lagi di buat heran dengan pria tadi, Pria itu terus mengikuti mereka saat menaiki bus menuju Dreamland, Namun Hana tidak ingin menanyakannya apa-apa lagi dan memilih untuk tetap diam