Stay with me

Stay with me
Sebuah kecurigaan



Gadis itu perlahan membuka kedua matanya, Yang pertama kali di lihatnya pagi itu adalah sesosok pria yang sangat di cintainya, Ia memandangi wajah tampan pria itu dengan senyum yang mengembang, Hana ingat kalau semalam Jun datang untuk menemaninya sampai tertidur nyatanya Jun ikut tidur dengannya dan sekarang masih belum bangun.



Perlahan tapi pasti Hana mulai menyentuh wajah Jun, Satu sentuhan pada hidung mancungnya dan satu sentuhan lagi pada bibir merahnya, Ketika sentuhan berikutnya rupanya Jun sudah tersadar dan langsung menangkap jari Hana, Kedua matanya terbuka dan saat ini tengah memandang Hana.


" Ohayou... " Ucap Hana tersenyum manis.



Jun kemudian meraih tubuh mungil Hana ke dalam pelukannya membiarkan Hana membenamkan wajahnya di dada bidang Jun, Hana dapat mendengar debaran jantung Jun yang saat itu terdengar sangat jelas, Ia tak menyangka Jun akan berdebar seperti ini jika berada di dekatnya.


" Tubuhmu sangat kecil, Membuatku ingin menyimpannya di saku. " Lontar Jun membuat Hana memukul dadanya pelan.


" Walaupun kecil pukulannya cukup kuat, Tapi sayangnya tidak bisa melawan penjahat, Sepertinya tuhan sengaja untuk membuatku menjaga si wanita mungil ini. " Jun kemudian melepas pelukannya dan menatap Hana yang saat ini memasang wajah kecutnya.


Satu kecupan singkat baru saja mendarat di kening Hana dan seketika membuat gadis itu tidak bisa bergeming, Kini giliran jantungnya yang berdebar cukup kencang sehingga membuatnya khawatir Jun akan mendengar debaran itu.


" Aku sangat mencintaimu " Lanjut Jun kembali memeluk Hana dengan erat.


" Aku juga. "


                            *


Hari ini Jun dan Hana terlihat mendatangi kantor polisi untuk melakukan introgasi yang sempat tertunda karena Hana yang masih di rawat kemarin, Kini Hana sedang berhadapan dengan inspektur kepolisian membahas soal kronologi kejadian malam itu dan hari di mana pelaku memulai kejahatannya. Polisi tersebut memberikan beberapa foto tahanan yang kabur saat insiden kebakaran beberapa hari yang lalu, Gadis itu mulai memperhatikan satu persatu foto di hadapannya sembari mengingat wajah pria yang telah melukainya.


Samar-samar Hana merasa ada kemiripan dari salah satu foto yang di pegang nya, Dari foto itu tampak bekas luka yang ada di keningnya membuat Hana ingat pelaku yang mencekiknya waktu itu memiliki bekas luka yang sama.


Jun terkejut begitu Hana memilih foto itu sebagai tersangka, Bukan soal foto yang di curigai adalah si pelaku melainkan foto yang Hana pilih barusan merupakan pelaku yang waktu itu menusuknya di Dreamland.


" Apa kau yakin dia pelakunya? " Tanya Jun berusaha meyakinkannya.


" Aku yakin. " Jawab Hana mantap


Sepertinya pelaku yang telah menyerang Hana ini memilki dendam tersendiri dengan Jun, Saat pelaku itu di jebloskan di penjara Jun memang tidak pernah datang menemuinya terlebih lagi pria itu tidak mau bicara walau di paksa sekalipun sehingga cara satu-satunya hanyalah mengurungnya di sel yang terburuk di sana, Akibat kebakaran waktu itu dia berhasil kabur dan kembali melanjutkan aksinya, Tapi untuk apa? Jun tidak tahu dan saat ini dia hanya bisa meminta kepada Inspektur polisi itu untuk menemukan pelaku sampai dapat bagaimana pun caranya, Jun tidak peduli harus membayar banyak asalkan pelaku tersebut segera di temukan.


                             *


Selama pencarian pelaku itu sedang dalam proses, Jun yang saat itu termenung di dalam kamar tampak memikirkan sesuatu, Pria itu mulai mencaritahu siapa saja yang berpotensi mencelakainya sejak ia kecil, Jika ingin di hitung sebenarnya sudah banyak kejadian-kejadian yang menimpanya namun sampai saat ini dia belum menindak lanjuti masalah ini karena Jun percaya dirinya akan baik-baik saja.


Jika di ingat-ingat seputar kejadian penusukan 7 tahun lalu dan saat penusukan itu kembali terjadi terdengar saling berkesinambungan, Jun ingat betul kalau pria yang menusuknya 7 tahun yang lalu tidak menyerupai pria yang sekarang sedang di cari, Jun mengira bahwa dalang di balik semua ini merupakan orang yang sama.


Kejadian waktu itu terjadi saat peresmian Dreamland saat di mana Jun meraih kesuksesannya sejak usia muda, Dan kejadian ini terjadi di saat dirinya akan mengembangkan Dreamland lebih maju lagi, Apakah orang yang melakukan kejahatan ini memang sengaja agar Jun tidak dapat meraih kesuksesan yang di miliknya.


Dering ponsel miliknya berdering cukup nyaring sehingga membuat pria itu meraih dan melihat nama yang tertera di layar.


" Ada apa?. " Tanya Jun datar


" Pulanglah, Ayah terserang serangan jantung, Dia terus mencarimu. " Jawab seseorang di seberang sana.


Saat berpaspasan dengan Hana di anak tangga, Pria itu meminta Hana untuk ikut bersamanya, Setelah di jelaskan kemana tujuan mereka pergi, Hana langsung bergegas mengambil mantelnya juga.


                            *


Setibanya di kediaman Misugi, Keduanya langsung memasuki pintu utama menuju kamar Ayahnya yang berada di sayap kanan atas rumah besar tersebut, Selama menuju kesana Jun tetap menggenggam tangan Hana seakan tak ingin membiarkan gadis itu jalan sendirian.


Di depan sebuah pintu besar berwana putih, Jun mulai mengetuk pintu kamar dan perlahan tapi pasti pintu itu terbuka, Rey orang yang membuka pintu barusan ikut keluar dan kembali menutupnya.


" Jangan membawa Hana masuk, Kau bisa membuat kondisi Ayah semakin buruk, Biarkan dia menunggumu di luar. " Seru Rey tampak membuat Jun tidak terima


" Tapi..., "


" Aku akan menunggumu di luar, Kau masuklah dan lihat kondisi beliau. " Potong Hana dengan cepat


Sebenarnya Jun bukan tidak mau mengajak Hana untuk masuk, Melainkan ia tak mau kalau Hana sampai bersama Rey selama ia berada di dalam, Mau tidak mau Jun harus segera masuk dan melihat kondisi Ayahnya.


Seorang pria paruh baya yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur dengan di temani oleh seorang wanita yang tak lain adalah istrinya seketika menyunggingkan senyum pada Jun saat itu. Moe istrinya segera beranjak dari tempatnya kemudian memberikan ruang untuk anak dan ayah itu untuk saling berbicara.


" Apa yang sudah terjadi.? " Tanya Jun ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah beliau


" Ayah terkena serangan jantung, Sepertinya karena kelelahan bekerja. " Balasnya terdengar begitu lemah.


" Kalau begitu istirahat dulu jangan mengurus pekerjaan yang membuatmu sampai sakit seperti ini. "


" Ayah akan lebih senang kalau kamu mau mengambil alih perusahaan, Kau juga harus tahu nak, Dulu sebelum kau lahir ibumu selalu ingin perusahaannya di wariskan pada anaknya, Dan setelah kamu lahir dia memberitahu dokter sebelum akhirnya meninggalkan kita kalau dia ingin suatu hari nanti putranya dapat mewarisi perusahaan Dream ini."


" Aku tidak bisa, Kenapa tidak menyuruh Rey saja untuk mengurus semuanya, Dia kan anak ayah juga."


" Rey itu anak yang pintar dan penurut, Tapi dia tidak memiliki jiwa pebisnis sepertimu nak, Ayah mohon kali ini saja kamu menerima tawaran untuk menjadi CEO Dream Corporation. "


Menjabat sebagai CEO Dream Corp memiliki tanggung jawab yang besar, Terlebih lagi Jun tahu kalau dewan pemegang saham banyak yang tidak menyukainya semenjak dirinya memiliki sifat emosian, Untuk saat ini Jun masih belum bisa menerimanya dan meminta kepada Presdir untuk bersabar sampai dirinya yakin untuk mengambil alih perusahaan besar itu.


Setelah menemani Ayahnya cukup lama, Kini beliau telah tertidur dengan pulas dengan begitu Jun dapat segera meninggalkan kamar tersebut. Ketika Jun menutup pintu kamar ia tak sengaja mendengar percakapan seseorang yang menarik perhatiannya.


Di balik sebuah tirai tempatnya berdiri tampak Ibu tirinya tengah menelpon seseorang yang entah siapa, Namun dalam percakapan mereka Jun terlihat berusaha mendengarkan dengan jelas apa yang sedang di bahasnya.


" Aku tidak mau tahu, Kau tidak boleh datang untuk sementara waktu sampai aku menyuruhmu untuk datang baru kau boleh datang, Untuk apa uang yang selama ini ku kirimkan padamu kalau kau tidak menuruti perintahku. Paham. "


" Bibi.. " Panggil Jun sukses membuat Moe terperanjak kaget dan langsung mengakhiri percakapannya barusan.


" Jun, Ada apa nak ? Apa kau membutuhkan sesuatu ?" Tanya tampak gugup.


" Tidak ada, Aku hanya ingin pamit pulang, Tolong jaga Ayahku dengan baik, Aku permisi. " Lanjutnya segera berlalu meninggalkan wanita itu.