Stay with me

Stay with me
Tentang Misugi Jun




Pria itu menatap sebuah apartemen studio sederhana yang ada di depannya begitu ia tiba di sana, Matanya melirik dari sudut ke sudut hingga ke arah Hana yang berjalan meninggalkannya.


" Kau tidak ingin mempersilakan aku masuk? " Sahut Jun membuat Hana berbalik melihatnya.


" Kau ingin mampir? " Tanya Hana.


" Tentu.., aku harus melihat kondisi tempat tinggal karyawanku seperti apa. "


Hana terpaksa mengajak Jun masuk ke dalam apartemennya karena pria itu akan tetap ikut sekali pun ia menolaknya, Sesampainya di depan pintu kamar, Hana terkejut saat pintu masih dalam keadaan terkunci yang itu artinya Mimi belum pulang dari kantor.


" Direktur macam apa kau ini? Ini sudah malam dan Mimi belum pulang, Pekerjaan apa yang di lakukannya sampai semalam ini? " Serang Hana menatap Jun dengan sinis.


" Kenapa kau menyalahkanku? Bisa saja dia sedang bersama Kyosuke sekarang " Balas Jun tak mau di salahkan.


Setelah Hana dan Jun memasuki kamar yang hanya berukuran sedang dimana tempat tidur sekaligus dapur menjadi satu bahkan dari ukuran kamar mandi Jun saja ini tidak ada apa-apanya.


" Dimana aku bisa duduk? " Tanya Jun membuat Hana menoleh dengan sinis.


Dengan malas Hana menunjuk ke arah tempat tidur, Barulah Jun mulai berjalan menuju tempat yang di tunjuk Hana barusan.


" Karna kau tadi belum makan apa-apa, Aku akan membuatkan makanan untukmu " Sahut Hana yang kini mulai berkutat di dapur.


Selama Hana memasak untuknya, Jun sibuk melirik ke sana kemari dengan tatapan heran, Bagaimana bisa dua orang gadis hidup di sebuah ruangan kecil seperti ini membayangkannya saja Jun tidak akan sanggup.


Tanpa sengaja Jun menyenggol bingkai foto yang ada di samping tempat tidur, Hana yang mendengarnya seketika menghentikan aktivitasnya dan menghampiri pria itu masih dengan memegang pisau di tangannya.


" Apa yang sudah kau lakukan " Sahut Hana menatap bingkai yang di mana ada foto dirinya dan Kaji.


" Maafkan aku, Aku tidak sengaja...,  Tolong jauhkan benda itu " Lanjut Jun langsung berpaling ketika melihat pisau yang di pegang Hana.


" Kenapa? Kau takut dengan pisau..., Kau itu pria masa takut sama pisau " Lanjut Hana semakin menjahili Jun dengan menyodorkan pisau itu kepadanya.


Hana tak tahu kalau Jun memiliki phobia dengan benda tajam, Ketika Hana semakin mendekatkannya pada pria itu, Jun seketika sesak sembari memegang dadanya yang di rasa perih.


" Ya.. Kau tidak sedang bercanda kan? " Tanya Hana mulai ketakutan.


Jun terlihat semakin sesak, wajahnya pun mulai pucat dan berkeringat dingin, Hana mencoba untuk menenangkannya dengan memberikan segelas air, Namun Jun menolaknya dengan menepis gelas itu ke lantai, Hana pun semakin bingung dan ketakutan, Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi Katakura.


Hal yang tak terduga terjadi, Jun tiba-tiba tak sadarkan diri setelah Hana berhasil menghubungi Katakura.



" Kau kenapa? Jun...., Sadarlah.., Aku minta maaf karna sudah membuatmu takut, Kumohon Sadarlah " Pinta Hana namun tak berhasil membuat pria itu tersadar.


Beberapa saat kemudian Katakura datang dengan mengajak Dokter pribadi Jun, Saat itu juga sang dokter mulai menangani Jun sementara Hana masih terlihat ketakutan dengan menggenggam kedua tangannya erat-erat. Di sela-sela pemeriksaan Jun, Hana menceritakan apa yang sudah terjadi barusan, Dan hal itu membuat Katakura terlihat sangat cemas.


" Bagaimana Sensei? Apa Jun baik-baik saja? " Tanya Katakura begitu Hina Sensei selesai melihat kondisi Jun.



" Syukurlah, Terima kasih banyak Hina Sensei "


Begitu selesai menemani Hina keluar Katakura kembali dengan wajah sendunya, Hana meminta maaf sebesar-besarnya karna sudah berbuat hal yang tidak baik kepada Jun.


" Jun phobia dengan benda tajam sejak usianya 15 tahun, Selama ini dia tidak bisa melihat benda tajam lagi atau hal yang tidak di inginkan seperti ini dapat terjadi kepadanya "


" Kalau boleh aku tahu, Kenapa Jun sampai phobia seperti itu? "


" Kau tahu, Aku tidak sembarangan menceritakan soal Jun pada siapa pun, Tapi aku akan menceritakannya padamu "


~10 Tahun Yang Lalu~


Anak laki-laki itu baru saja menyelsaikan rancangan taman bermain miliknya setelah mengerjakannya selama sebulan, Misugi Jun, Putra kedua dari Presiden Direktur Dream Corporation, Hidup sebagai anak konglomerat membuat Jun tumbuh menjadi anak yang serba berkecukupan namun di samping itu dirinya memiliki ide yang sangat luar biasa, Yaitu membangun sebuah taman hiburan untuk anak-anak.


Karena memiliki ide yang menakjubkan di usianya sekarang, Presdir sudah menunjuknya sebagai ahli waris Dream Corp nantinya, Setelah berhasil menyelesaikan rancangannya, Jun dengan inisiatif ingin memperlihatkan rancangan tersebut kepada ayahnya.


Langkah kaki anak itu terhenti di sebuah pintu coklat besar di mana ruangan tersebut merupakan ruang kerja sang ayah, Baru saja ia membuka pintunya  Jun tiba-tiba dikejutkan dengan kedua orang tuanya yang tengah bertengkar hebat.


" Bagaimana bisa kau menunjuk Jun sebagai ahli waris sementara Rey adalah anak pertamamu? " Sahut seorang wanita yang tak lain adalah Ibu Jun.


" Jun adalah anakku dari Istri pertama, Sudah sewajarnya aku memberikan Warisanku padanya " Balas Ayah Jun.


" Tapi Rey juga anak kandungmu, apa kata orang nanti kalau mereka sampai memberitakan masalah ini? Anak Pertama bukan ahli waris Dream Corp? Yang benar saja "


" Keputusanku sudah bulat, Jun akan tetap menjadi ahli waris "


Suara benda terjatuh berhasil membuat keduanya berbalik ke arah pintu, Tampak Jun yang berdiri di sana dengan linangan air mata.


" Jun.., Sejak kapan kau ada di sana nak? " Tanya sang Ayah yang mencoba menghampirinya.


" Jangan menyentuhku, Sekarang jelaskan padaku aku..., Kalau dia bukan Ibu kandungku lalu dimana Ibu kandungku yang asli??? "


" Itu.., Ayah akan menjelaskannya "


Misugi Arata mencoba untuk tenang kemudian mengajak Jun ke suatu tempat, Sepanjang jalan Jun masih saja menitihkan air mata, Di usianya yang masih sangat muda memang hal yang berat mengetahui kebenaran yang sudah di sembunyikan oleh Ayahnya sejak lama.


Mereka tiba di sebuah taman atas nama Dream Corp, Taman tersebut hanya bisa di masuki oleh pemilik lahan, Dan Sore itu keduanya mengunjungi sebuah makam yang ada di taman tersebut.


" Ini adalah ibumu nak, Maafkan Ayah karena selama ini sudah membohongimu, Moe sendiri adalah Ibu sambung setelah Ibumu meninggalkan kita."


Jun menatap sebuah Foto yang ada di makam itu dengan mata yang sembab, Rasanya benar-benar kacau sehingga membuatnya kesulitan untuk bicara.


" Bagaimana Ibu bisa meninggal? " Tanya Jun parau.


" Dia meninggal setelah melahirkanmu. "