
Seorang asisten rumah tangga baru saja mengetuk pintu besar berwarna coklat dengan sangat hati-hati, Begitu mendengar balasan dari dalam ia pun mencoba untuk membuka pintu tersebut dan langsung mendapati seorang pria paruh baya yang tengah sibuk dengan buku bacaan di tangannya.
" Permisi Misugi-Dono, Putra anda datang untuk menemui anda."
" Untuk apa dia menunggu di ruang tamu? Suruh saja Rey masuk ke ruanganku. "
" Dia bukan Rey-Dono. "
Arata bangkit dari kursinya dengan mata membelalakkan kaget.
" Jun datang ke rumah ini?."
Asisten rumah tangga barusan mengiyakan pertanyaan Arata dan membuatnya segera menuju ruang tamu, Setelah 7 tahun meninggalkan rumah akhirnya Jun datang walaupun ia tak tau dengan pasti apa tujuannya datang hari ini.
Arata kembali di buat terkejut setelah melihat Jun yang tengah menunggu kedatangannya, Pria paruh baya itu menyambut putranya dengan penuh suka cita namun saat itu Jun menyuruhnya untuk tenang dan mendengarkan tujuannya datang ke sana.
" Aku datang untuk meminta maaf karena semalam sudah mengacaukan acaramu. "
" Apa aku tidak salah dengar?, Dia meminta maaf padaku?. " Benak Arata tak percaya.
" Aku akan mengadakan jumpa pers sore ini dan membuat pernyataan atas kesalahanku semalam. "
" Kau tidak perlu melakukannya nak, Ayah bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus mengadakan Jumpa pers. "
" Tolong biarkan aku melakukannya, Ada sesuatu yang ingin ku katakan juga di depan publik. "
*
Hana baru saja mendapat sebuah pesan singkat di ponselnya, Ia mengernyitkan dahi heran setelah membaca pesan tersebut, Dengan cepat gadis itu menyetel televisi sesuai arahan yang di berikan lewat pesan barusan. Di siaran yang Hana setel tampaknya menampilkan sosok Jun yang tengah duduk di hadapan wartawan, Hana tidak mengerti apa yang akan pria itu lakukan di sana, Ia hanya dapat menyaksikan Jun mulai berbicara mengenai kejadian semalam yang sempat viral di sosial media.
" Saya Misugi Jun putra kedua dari Presiden direktur Dream Corporation menyatakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian semalam, Hal ini atas dasar kesalahan saya sendiri dan bukan karena rumor tentang keluarga palsu yang sempat beredar di sosial media, Sejak Kecil saya sudah tumbuh di keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, Setelah menjadi Direktur Dreamland saya memutuskan untuk meninggalkan rumah agar bisa hidup lebih mandiri. Untuk itu saya mengkonfirmasi bahwa rumor keluarga palsu Misugi itu tidak benar. "
Hana tersenyum senang mendengar pernyataan Jun barusan, Ia tak menyangka kalau pria itu akan melakukan hal yang tidak pernah terduga sebelumnya.
" Dan satu lagi, Aku berterima kasih pada seseorang yang baru saja datang di kehidupanku, Dia telah membantuku menjadi pribadi yang lebih jujur, Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada dia..., Hana terima kasih atas semuanya. "
Air mata Hana terjatuh begitu mendengar kalimat Jun barusan, Ia menyeka air matanya kemudian tersenyum bahagia.
" Dasar pria bodoh. " Gumam Hana.
Di lain tempat, Di kediaman Misugi tampaknya Presdir dan istrinya tengah menyaksikan Jumpa pers Jun juga, Bahkan Rey pun yang saat itu berkunjung ikut menyaksikan adik tirinya berbicara di depan umum untuk pertama kalinya.
" Dia gadis yang kemarin Jun rebut dariku. " Balas Rey.
" Aku harus bertemu dengannya dan mengucapkan banyak terima kasih. " Lanjut Arata benar-benar tidak sabar.
" Dia gadis yang manis dan baik hati, Kau beruntung bertemu dengannya Jun. " Benak Rey tersenyum tipis dan mulai meninggalkan tempat itu.
*
Sepulangnya Jun dari Jumpa Pers, Dirinya langsung di sambut dengan meriah oleh Hana, Gadis itu mengucapkan ucapan selamat sembari memberikan sebuket bunga kepada pria itu, Jun menatapnya heran karena dirinya merasa tidak mendapat sebuah penghargaan atau apapun itu.
" Aku sudah memasak makanan yang enak untukmu, Ayo ikut aku. " Ajak Hana menarik tangan Jun menuju meja makan.
Pandangan Jun yang seharusnya lurus ke depan mendadak beralih pada tangan Hana yang saat itu menggenggamnya cukup erat.
" Lepaskan tanganku. " Ucap Jun spontan.
" Kenapa?, Aku kan hanya menarik tanganmu? " Tanya Hana melongo heran.
" Tanganmu berkeringat, Aku tidak suka memegangnya. " Jawabnya dengan wajah yang di palingkan.
Hana hanya dapat mendesah pelan kemudian meminta Jun untuk duduk dan memulai makan malam mereka.
" Bagaimana dengan Jumpa persnya? Apa aku terlihat baik menyampaikannya?. "
" Kau sangat baik sampai-sampai membuatku terharu, Aku tidak percaya kau melakukan semua ini setelah kita bicara kemarin. "
" Aku sudah ingin melakukan ini sejak dulu, Saat itu Ayah memberiku surat terakhir dari mendiang Ibuku, Dalam suratnya dia memintaku untuk tidak membenci Ayah, Ibu tiriku dan juga Rey, Tapi semua itu tidak ku lakukan karena aku terlanjur membenci mereka, Tapi setelah kemarin kau mengatakan kalimat yang menyentuh aku merasa harus melakukannya saat itu. Terima kasih kau sudah membantuku memenuhi permintaan Ibuku. "
Hana tersenyum senang kemudian menyumpitkan makanan untuk Jun dan mencoba untuk menyuapnya. Jun memajukan badannya sambil membuka mulut menerima suapan Hana, Setelah itu ia merasa sangat malu sehingga membuat wajahnya memerah bak udang rebus.
Setelah makan malam bersama Hana barusan, Jun yang telah berada di dalam kamarnya langsung menatap wajahnya di depan cermin.
" Kenapa wajahku masih memerah? Apa yang sudah terjadi padaku?. "
Selain wajah yang memerah, Jun juga merasa dirinya tengah bahagia saat ini selain itu jantungnya yang terus berdegub membuatnya kebingungan hingga mencari pendeteksi jantung miliknya dulu, Pada layar pendeteksi menyatakan detak jantung Jun berdetak hingga 170 dimana detaknya saat itu tidaklah normal. Pria itu meraih ponselnya dan menelpon seseorang secepat mungkin.
" Hina-Sensei.., Aku merasa aneh akhir-akhir ini, Jantungku berdegup begitu kencang tetapi aku tidak merasakan nyeri seperti dulu? Apa yang terjadi denganku?. "
" Jun, Dengar ya. Aku ini dokter spesialis penyakit dan bukan dokter Cinta, Soal itu kau bisa menanyakan dirimu sendiri. "
Jun terkaget mendengar jawaban dokternya, Ia bahkan tak mendapatkan jawaban yang bisa menghilangkan pikiran bodohnya itu sehingga membuatnya semakin frustasi.