
~2 jam sebelum Mimi mengabari Hana~
Dengan bantuan Mimi dalam meracik sup penawar mabuk, kini Jun dapat sadar kembali walaupun ia masih merasakan pusing akibat minuman keras yang di minumnya, Sejak tersadar beberapa saat yang lalu Jun belum mengucapkan sepatah katapun pada mereka yang berada di rumah Urahara. Pandangan Jun tiba-tiba beralih melihat sekotak makanan yang tak asing di ingatannya.
" Bukannya ini kotak makan Hana, Kenapa ada di sini?. " Tanya Jun akhirnya mulai berbicara.
" Sewaktu aku mengambil pakaianmu dia menitipkan ini untukmu, " Jawab Katakura cepat.
Jun meraih kotak itu dan mulai membukanya, Tanpa pikir panjang lagi Jun segera menyantapnya walaupun katakura menyuruhnya untuk di hangatkan terlebih dulu. Yang Jun fikirkan saat itu hanyalah Hana yang telah repot-repot membuatkannya bekal padahal ia tahu kalau kemarin dirinya sudah saling diam.
Di sela-sela makannya Jun tiba-tiba menjatuhkan kotak makanan itu sambil terbatuk-batuk memegang dadanya yang terasa sesak, Urahara dengan cepat menyodorkannya air namun di tangkis oleh pria itu. Katakura merasa tak asing dengan gejala yang timbul dengan Jun.
" Ba-bawa aku.. Ke.. Ru.. Mah.. Sakiithh.. " Ucap Jun terbata-bata.
Katakura mencoba mengecek makanan yang barusan di makan oleh Jun, Ia baru paham begitu mengetahui yang di makan oleh Jun adalah makanan yang mengandung pasta kacang yang di taburi di atas onigiri, Sementara itu Jun tidak bisa memakan makanan yang megandung kacang apa pun itu karena alergi yang di alaminya.
Secara bersamaan Urahara dan Katakura langsung membopong Jun menuju mobil, Sementara itu Mimi terlihat sibuk dengan ponselnya dan segera menghubungi Hana.
*
Setelah mendapat perawatan medis, kini Jun dapat di selamatkan tepat waktu, Karena pengaruh obat yang di perolehnya ia belum bangun sampai sekarang, Sampai sosok Hana datang melihatnya semua orang menatapnya dan gadis itu mulai menghampiri Jun dengan mata yang berkaca-kaca.
" Maafkan aku, Aku tidak tahu kalau kamu alergi pasta kacang, Kumohon bangunlahhhh... " Pinta Hana dengan sangat.
" Dia sedang tidur bukan koma, Jadi kau tidak perlu khawatir. " Sahut Katakura dingin.
" Sebaiknya aku berangkat kerja, Hana aku duluan yah. " Sahut Mimi di balas anggukan pelan dari sahabatnya.
" Aku akan mengantarmu. " Seru Urahara mulai mengejar langkah kekasihnya.
Kini tinggal mereka bertiga di dalam ruangan itu, Katakura yang masih kesal dengan Hana tak sedikitpun mengatakan apa-apa padanya sehingga membuat suasana menjadi tidak nyaman.
" Katakura-san, Aku tidak akan meninggalkan Jun ataupun berhenti bekerja dengannya, Aku akan tetap berada di dekatnya mulai sekarang. " Sahut Hana membuat Katakura menatapnya tak percaya.
" Kau hanya akan membuatnya semakin menyukaimu kalau kau terus berada di dekatnya. " Balasnya ketus.
" Tidak, Aku akan mencoba menerima perasaanya mulai saat ini, Aku tahu kalau selama ini aku sudah melarikan diri untuk tidak menyukai seseorang tapi kali ini aku tidak akan lari lagi, Aku akan menghadapinya mulai saat ini. "
Katakura terdiam tanpa kata, Ia tak menyangka Hana akan mengatakannya, Sayangnya saat itu Jun belum siuman sehingga ia tak bisa mendengar apa yang Hana katakan barusan.
" Ehemm.., Sepertinya aku ada keperluan mendadak, Kau bisa menjaga Jun selagi aku pergi. " Sambung Katakura beranjak pergi.
Setelah semuanya pergi, Hana melirik wajah Jun yang tertidur begitu pulas, Mata yang Indah walaupun sedang tertidur, Hidung yang mancung dan bibir merah yang menawan telah menjadikan Jun sosok pria yang begitu tampan, Hana baru menyadari akan hal itu saat melihatnya dari dekat seperti sekarang.
*
Perlahan tapi pasti Hana mulai membuka kedua matanya, Ia terkejut ketika mendapati dirinya tertidur di atas tempat tidur yang seharusnya Jun tempati, Kedua matanya mencari sosok pria itu dan berhasil menemukannya tengah berdiri menghadap keluar jendela dengan tatapan kosong.
" Kenapa kau berada di sana? Kau masih sakit, Jangan banyak bergerak dulu. " Sahut Hana mulai menghampirinya.
" Kau tidak usah memikirkan aku, Lagi pula ini hanya serangan alergi kau tidak perlu berlebihan. " Balasnya terlihat mencampakkan Hana.
" Dia masih tidak mau bicara denganku." Benak Hana menatap Jun yang melewatinya dengan santai.
" Oiya, Sepertinya aku sudah tidak membutuhkan asisten pribadi lagi, Kau bisa kembali menjadi maskot Dreamland atau apa pun itu. Kau tidak perlu khawatir dengan gajimu, setidaknya kau masih bisa mengirimkan uang untuk anak-anak panti. "
" Apa itu artinya aku sudah tidak boleh tinggal di rumahmu juga?. " Tanya Hana membuat Jun terdiam sejenak.
" Tentu saja, Aku akan menyuruh orang untuk mengangkut barang-barangmu kembali ke apartemenmu. "
" Kalau begitu aku permisi. " Ucap Hana beralih meraih tasnya kemudian meninggalkan kamar itu.
Jun menatap pintu keluar dengan wajah sendunya, Semenit yang lalu ia merasa begitu berat mengatakan semuanya kepada Hana, Menyuruh gadis itu keluar dari rumahnya di saat seperti ini sangatlah berat namun tidak ada cara lain selain melakukan hal ini, Satu-satunya cara untuk tidak mencintainya lebih dari ini.
*
Sebuah pintu baru saja terkuak dan memuncul sosok Katakura yang membawa makanan untuk Jun, Pria itu celingak-celinguk mencari keberadaan Hana dan yang di lihatnya saat itu hanyalah Jun dengan ekspresi wajah datarnya.
" Dimana Hana?. " Tanya Katakura setelah meletakkan beberapa makanan di atas meja.
" Aku memecatnya."
" Apa? Kau memecatnya? Apa kau serius dengan keputusanmu itu?. " Tanya Katakura setelah mendengar ucapan Jun beberapa saat yang lalu.
" Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu kaget mendengarnya?. "
" Jun bodoh, Sebelum kau sadar Hana mengatakan akan membuka hatinya untukmu, Dia tidak mau melarikan diri lagi dan itu artinya kau mempunyai kesempatan emas untuk mendapatkannya. "
Jun terdiam sekaligus terkejut mendengarnya, Mendengar ucapan Katakura barusan berhasil membuatnya bangkit kemudian meminta Sekretarisnya itu untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Sementara itu, Hana yang berada di rumah tampak membereskan barang-barangnya dengan perasaan yang berkecamuk, Ia memandang seisi kamar yang akan di tinggalnya dengan sejuta kerinduan, Setelah sekian lama tinggal di tempat itu tentu sudah membuat kenyamanan sendiri untuknya.
Begitu semua barangnya telah siap, Gadis itu menutup pintu kamar sembari mengucapkan selamat tinggal kemudian menarik kopernya menuruni anak tangga secara perlahan. Rumah yang sudah di anggapnya seperti rumah sendiri kini akan menjadi tinggal kenangan.
Suara gebrakan pintu tiba-tiba membuat Hana terkejut dan menatap seseorang yang baru saja masuk dengan tatapan nanar, Ia mencengkram kopernya kuat-kuat dengan menguatkan diri sementara itu Jun mulai berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di sebelah Hana tanpa menoleh ke arah gadis itu.
" Jangan pergi, Aku masih membutuhkanmu di sini. " Ucapnya dengan memegang kedua bahu Hana.
Hana menegakkan kepalanya lurus ke depan, Kini koper yang ia pegang berhasil di rebut oleh Jun yang sudah berjalan menuju ruang santai, Hana menoleh dengan mata yang berkaca-kaca seulas senyuman manis terpancar di wajahnya, Ada perasaan bahagia saat Jun menyuruhnya untuk tidak pergi, Kemudian gadis itu menghampirinya dengan wajah kegirangan.
*
Malam kembali hadir di antara Jun dan Hana, Setelah selesai makan malam keduanya menuju halaman belakang untuk melihat kemintang, Dua gelas coklat hangat menemani mereka kala itu, Tak ada percakapan dan keduanya tampak sibuk menatap langit malam.
Walaupun Jun sudah mengetahui apa yang Hana rasakan, Ia masih belum berani untuk menyatakan kembali perasaanya, Pria itu melirik Hana takut-takut dan kembali menoleh saat Hana ikut melirik ke arahnya.
" Apa kau sudah mendingan? " Tanya Hana yang memecah keheningan.
" Sudah jauh lebih baik. "
Jun menangkap sesuatu dari tangan Hana yang mengundang perhatiannya.
" Kenapa kau tidak memakai cincinmu?. " Tanya Jun akhirnya.
Hana melirik tangannya yang sudah tidak ada cincin yang tersemat, Kemudian senyuman simpul terukir di wajah cantiknya.
" Aku sudah memutuskan untuk melupakan Kaji, Seperti yang kau bilang, Aku akan mencoba untuk lebih mempercayai diriku mulai sekarang." Jawab Hana sukses membuat Jun tersentuh
Tiba-tiba saja sebuah benda berwarna putih mulai berjatuhan dari langit, Keduanya melirik benda putih yang bernama salju itu dengan wajah terpukau.
" Akhirnya salju turun di awal musim dingin, Aku jadi merindukan Furano kalau melihat salju seperti ini. " Ucap Hana menengadahkan tangan untuk menangkap salju yang jatuh.
Jun menatapnya dengan senyuman kecil, Kemudian ia berdiri menyamakan posisi Hana dan ikut menangkap salju yang turun malam itu.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
Hy..hy Reader , Maaf yah kalau selama ini Author jarang update, Untuk kalian yang masih setia membaca Stay With Me aku ucapin makasih banyak yang banyak banyak, Terus dukung Author juga yah dengan komen, Like, Share. Jangan lupa juga untuk mengaktifkan notifikasi biar tidak ketinggalan ceritanya. Kalau kalian mau lebih dekat dengan Author bisa join di grup yah :) . See you next episode 🌱