
Keesokan paginya ketika Jun terbangun, Ia tak mendapati Hana di dapur dimana biasanya gadis itu sudah selesai menyediakan sarapan pagi, Jun melirik ke arah pintu kamar Hana dari ruang makan dengan penuh pertanyaan tidak biasanya Hana seperti ini sehingga membuat pria itu bergegas menuju kamarnya.
Di ketuknya pintu kamar Hana sambil memanggil gadis itu dengan sebutan gadis perkasa, Jun merasa panggilan itu sangat cocok untuk Hana sehingga ia ingin memanggil Hana dengan sebutan itu. Sejenak tak ada jawaban dari dalam dan Jun merasa sesuatu terjadi dengan gadis itu sehingga membuatnya langsung membuka pintu tanpa memikirkan peraturan yang Hana buat.
" Hei.., Kau kenapa?. " Tanya Jun menghampiri Hana yang masih terbaring di tempat tidur
Hana terlihat begitu pucat dari biasanya, Tak ada keceriaan di wajah gadis itu dan tubuhnya pun begitu panas sehingga membuat Jun panik.
" Bagaimana kau bisa sakit sedangkan tubuhmu jauh lebih kuat dari seekor kuda. " Ucap Jun segera menghubungi dokter untuk memeriksa Hana.
Setelah Jun berhasil menelpon dokter, Ia kembali melihat kondisi Hana yang terlihat sangat lemah, Hana sendiri masih dapat melihat Jun yang begitu mengkhawatirkan dirinya namun saat itu rasanya sangat sulit untuk bicara sehingga ia tak bisa menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh Jun.
Setelah mengecek suhu tubuh Hana dengan termometer dan melihat hasilnya, Jun seakan di buat kaget dan segera mengambil perlengkapan untuk mengompres keningnya. Sebelum Hana kehilangan kesadarannya ia sempat melihat Jun meletakkan kain di keningnya seraya memintanya untuk bertahan namun sayangnya Hana sudah tidak bisa menahannya lagi.
Selang beberapa saat dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Hana, Untungnya yang merawat Hana saat itu adalah dokter pribadi Jun yaitu Hina sensei sehingga saat wanita itu menangani Hana ia bisa terus bertanya kepada Hina.
" Berhentilah bersikap seperti anak-anak, Kau membuatku kehilangan fokus dengan bertanya terus menerus. " Tegur Hina sukses membuat Jun bungkam.
Begitu selesai memberikan pengobatan untuk Hana, Jun kembali bertanya soal keadaan gadis itu sehingga membuat Hina menatapnya dengan tajam.
" Aku tau dia gadis pekerja keras dan gigih, Tapi kau juga harus memikirkan kesehatannya, Gadis ini mengalami kelelahan dan juga trauma seperti yang sama dengan yang kau alami, Tunggu dia sadar dan tanyakan apa yang membuatnya sampai trauma seperti ini, Kalau sudah kau tanyakan beritahu aku,Oke."
Jun mengangguk paham dan berjalan menemani Hina keluar, Saat menuruni anak tangga Jun mengeluh bahwa pergelangannya sakit dan sulit untuk di gerakkan, Hina menarik lengan pria itu hingga membuatnya meringis kesakitan, Hina kembali menyuruh Jun untuk duduk dengan cara yang cukup kasar kemudian mengeluarkan perban untuk cedera dan segera membungkus tangan Jun dengan cara yang cukup membuat pria itu meringis
" Kau itu pria jadi jangan mengeluh. " Ucapnya dengan lantang.
*
Jun terus menatap wajah Hana lekat-lekat dengan perasaan yang begitu bercampur aduk, Rasanya tak tega melihat gadis yang begitu ceria setiap hari mendadak sakit seperti ini. Mendengar suara bel yang nyaring segera membuat Jun meninggalkan Hana dan menyambut tamu yang baru saja datang.
Tampaknya yang baru saja datang ialah Mimi dan Urahara, Keduanya datang begitu Jun memberitahu Mimi kalau Hana sedang sakit sehingga mereka bisa menengoknya. Namun sebelum itu karena begitu penasaran, Jun bertanya kepada Mimi soal trauma yang membuat Hana sampai seperti itu.
Jun paham betul bagaimana rasanya saat berhadapan dengan sesuatu yang di takuti, Saat mendengar cerita Mimi barusan kini Jun paham dan membiarkan gadis itu bertemu dengan Hana.
" Ada apa dengan tangamu?. " Tanya Urahara penasaran.
" Ahh benar juga kau membuatku mengingat sesuatu yang penting. " Ucapnya tanpa memperdulikan pertanyaan Urahara barusan.
Jun beralih meninggalkan Urahara menuju meja telepon, Dengan cekatan ia mencari nomor ahli lampu dan menyuruh mereka segera ke rumah untuk mengganti semua lampu yang ada di rumah Jun menggunakan lampu yang berkualitas baik tak hanya itu ia juga meminta perusahaan listrik untuk tidak memadamkan rumahnya apapun yang terjadi, Jun bahkan rela membayar mahal untuk itu agar kejadian kemarin tidak terulang lagi.
*
Perlahan tapi pasti gadis itu mulai membuka kedua matanya, Diliriknya sekitar ruangan itu dengan mencoba mengingat apa yang telah terjadi kepadanya, Di sisi tempat tidur ia mendapati Jun yang tengah tertidur sambil merebahkan kepalanya pada tempat tidur.
" Hey.. " Panggil Hana sukses membuat Jun terbangun.
" Akhirnya kau sadar juga, Sudah seharian kau tidak sadarkan diri membuat semua orang menghawatirkanmu saja. "
" Maafkan aku. "
Saat Hana mencoba untuk bangun, Jun dengan cepat membantunya untuk bersandar di kepala tempat tidur, Ia bahkan menambahkan bantal agar Hana merasa tetap nyaman dengan posisi seperti itu.
" Apa kau lapar? Aku akan memesan makanan yang kau inginkan. "
" Tidak perlu, Aku bisa masak sendiri kalau aku mau. "
" Apa kau bodoh ? Kau sedang sakit, Mana mungkin memasak sendiri. "
" Tanganmu kenapa? Apa semalam kau menahan sakitnya sampai memakai perban seperti itu?. "
" Aku tidak apa-apa, Kau tidak perlu memikirkanku, Aku akan menelpon Katakura untuk membawakanmu bubur buatan istrinya, Saat aku sakit dia selalu membawakanku itu jadi kau tunggu di sini sampai aku kembali, Dan jangan lupa minum obat herbal dan juga jus yang sudah ku buatkan untukmu. " Ucap Jun sebelum meninggalkan kamar Hana.
" Kenapa dia bersikap begitu manis akhir-akhir ini. " Gumam Hana tersenyum tipis.