
Suara dering bel baru saja membuat seorang pria yang tengah sibuk melipat pakaian di buat bergegas menuju monitor intercom untuk melihat siapa yang datang, Kedua matanya membelalak kaget tatkala melihat sosok Jun yang terus menerus menekan bel rumahnya.
Cekrek...
Jun langsung masuk begitu pintu terbuka dan segera menuju kamar Urahara begitu pintu terbuka, Pemilik rumah langsung menyusulnya dengan seribu pertanyaan.
" Ada apa denganmu? Tidak biasanya seperi ini?," Tanya Urahara melirik Jun yang sudah terbaring di tempat tidurnya.
" Biarkan aku tinggal di sini untuk beberapa saat. "
" Apa? Tinggal di rumahku? Tidak.. Tidak.., Kau sudah punya rumah yang begitu besar tapi kenapa mau tinggal di rumahku?."
" Berisik " Sahut Jun membuat Urahara tercengang.
" Jangan ganggu aku, Aku mau tidur." Lanjutnya perlahan menutup kedua matanya.
Urahara hanya dapat pasrah menghadapi sikap Jun yang sulit di tangani, Pria itu keluar dari kamarnya sendiri kemudian langsung menghubungi Katakura.
" Katakura-san apa yang terjadi pada Jun, Kenapa dia tiba-tiba datang ke rumahku dan memutuskan untuk tinggal? " Tanya Urahara via telepon.
" Terima saja dia untuk sementara sampai stresnya hilang."
Panggilan langsung di akhiri oleh Katakura sendiri, Urahara melirik layar ponselnya dengan wajah kebingungan.
" Apa maksudnya? " Gumamnya mengangkat alis sebelah.
\*
Ketika Hana terbangun di pagi hari, Ia terkejut karena tidak menemukan Jun dia mana pun, Seingatnya semalam pria itu memang tidak pulang, Bahkan mengirim pesan pun tidak, Merasa khawatir Hana pun langsung menghubunginya namun sayang Jun tidak menjawab panggilan tersebut.
" Seharusnya dia mengabariku, Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya di luar sana."
Saat Hana menuruni tangga hendak ke dapur, Suara bel sempat membuatnya segera membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang di layar intercom.
" Katakura san? Ada apa pagi-pagi ke sini?. " Tanya Hana .
" Aku datang untuk mengambil sesuatu di kamar Jun, " Balasnya membuat Hana bingung.
" Kenapa dia tidak pulang untuk mengambilnya sendiri? Atau menyuruhku membawakannya ke kantor? Bukannya itu adalah tugasku.?" Sambung Hana mengikuti langkah Katakura
" Jun sedang sibuk dan tidak sempat untuk pulang ke rumah, Dia memintaku mengambil keperluannya sekalian mengambil dokumen penting yang hanya aku dan Jun yang mengetahui kode berangkasnya. " Balasnya sempat menatap Hana sebentar
" Baiklah kalau begitu, " Balas Hana dengan pasrah.
Di saat Katakura menyiapkan keperluan Jun, Buru-buru Hana menyediakan bekal untuk pria itu, Selang beberapa menit Katakura keluar dari kamar Jun dengan membawa satu koper besar yang berisikan pakaian Jun.
" Apa yang kau bawa? Kenapa kopernya besar sekali? Apa Jun akan keluar kota?. " Tanya Hana semakin cemas.
Katakura melepaskan pegangannya pada koper barusan dan mengajak Hana untuk duduk berhadapan. Kali ini dia tidak akan menutupi kebohongan yang seharusnya tidak ia lakukan.
" Sebenarnya Jun memintaku untuk mengambil barang-barangnya dan membawanya ke rumah Kyosuke, Dia ingin tinggal di sana beberapa waktu."
" Apa ini semua karena aku?. "
" Sepertinya pembicaraan kita sampai di sini saja, Ini kotak bekal untuk Jun, Tolong berikan padanya. " Ucap Hana beranjak pergi.
" Tunggu dulu. " Sahut Urahara membuat langkah Hana berhenti.
" Kalau begitu tinggalkan Jun untuk kebaikannya, Jangan berada di dekatnya kalau kau hanya ingin membuatnya terus berharap, Aku bisa memberimu pekerjaan lain selain menjadi asisten pribadinya, Jun sudah ku anggap sebagai adikku dan sudah lama tidak melihatnya bahagia setelah mengenalmu, Tapi kalau kau hanya ingin menambah bebannya ku minta untuk segera meninggalkan rumah ini. " Lanjut Katakura tegas.
Hana yang sempat menghentikan langkahnya sejenak sebelum kembali melangkahkan kaki menuju anak tangga, Sementara Katakura kini sudah pergi dengan barang-barang bawaanya tadi.
*
Mendengar suara pecahan kaca tiba-tiba membuat Urahara yang sedang berada di dalam kamar segera keluar melihat kegaduhan barusan, Jun terlihat meratapi pecahan botol wine dengan wajah sendunya, Mata yang sembab dan wajah yang memerah menandakan dirinya sudah mabuk total.
" Tidak di Cafe tidak di rumahku, Kau selalu saja mabuk seperti ini. " Keluh Urahara mencoba membantu Jun menjauh dari peahan tersebut.
" Jangan..., Aku masih mau minum, Berikan segelas lagi padaku. " Pinta Jun dengan sempoyongan.
" Tidak boleh, Kau sudah mabuk, Duduklah di situ selagi aku membersihkan kekacauan yang kau perbuat. "
Pria itu merebahkan kepalanya di sofa dan menatap langit-langit ruangan dengan ekspresi putus asa.
" Kenapa dia menyuruhku untuk bersikap baik-baik saja sementara aku sudah sangat menyukainya? Aku sungguh-sungguh mencintainya, Bahkan sebelum kami akrab seperti ini..., Kenapa Hana begitu kejam padakuuu... Kenapa????."
Urahara menatap Jun dan mulai mengerti kenapa Jun meminum alkohol di pagi hari, Ia tak menyangka karena sosok Hana pria itu meminum alkohol lagi hingga mabuk seperti itu.
Suara dering bel berhasil membuat Urahara yang baru selesai membuang pecahan botol segera membuka pintu, Sosok Katakura yang sudah berada di depan pintu membuat Urahara segera menyuruhnya masuk dan melihat keadaan Jun.
" Dasar anak bodoh, Pagi ini dia akan meeting dengan klien, kenapa dia mabuk-mabukan seperti ini?. "
" Sepertinya ini karena Hana, Sejak semalam Jun terus mengurung diri dan baru keluar hanya untuk minum. "
" Aku tidak akan menyerah mendapatkannyaaaa... HANA BERIKAN AKU KESEMPATAN, SEKALI LAGI. " Teriak Jun dengan nada suara yang naik turun.
" Dia benar-benar menjadi bodoh karena Hana, Cih.. Dasar. " Ucap Katakura tersenyum tipis.
*
Gadis itu baru saja tiba di sebuah taman makam keluarga Misugi, Saat melintasi pintu masuk tampaknya kedua penjaga taman tidak menghalang Hana lagi, Sehingga ia bisa masuk tanpa harus berurusan dengan mereka.
Kini Hana berdiri tepat di makam Kaji sambil meletakkan sebuket bunga Mawar, Tatapannya mulai sendu dan berkaca-kaca, Tanpa sadar air matanya mengalir di pelupuk matanya.
" Apa aku boleh menyukai orang lain selain kamu? Sampai saat ini aku masih belum bisa melupakanmu, Entah karena aku takut jatuh Cinta lagi dan harus kehilangan seperti ini, Ini sangat memberatkan bagiku, Kaji... Apa yang harus ku lakukan???."
Dering ponsel Hana tiba-tiba berdering cukup nyaring sehingga membuatnya langsung menyeka air matanya, Di layar terdapat nama Mimi sehingga Hana langsung menjawab panggilan sahabatnya itu.
" Hallo. "
" Hana..., Kau di mana? Apa kau tahu kalau Misugi san masuk rumah sakit. "
Hana tersentak mendengar pengakuan Mimi barusan, Tanpa babibu lagi Hana pun segera meninggalkan makam Kaji dan menuju rumah sakit.