
Jun menghentikan langkahnya saat mendapati Rey dan Hana yang tengah tertawa dengan girang, Wajah Jun seketika berubah masam dan langsung menghampiri keduanya dengan menjatuhkan tubuhnya tepat di tengah-tengah mereka.
" Jangan tertawa dengan manis seperti itu pada pria lain. " Tegur Jun membuat Hana melongo heran
" Ada apa denganmu, Mengganggu saja. " Sindir Rey berhasil membangkitkan emosi Jun yang sempat naik kalau bukan karena Hana yang menahannya mungkin dia sudah menyerang kakanya itu.
" Apa kau sudah selesai? " Tanya Hana pada Jun, Perlahan pria itu mulai tenang dan mengangguk pelan pada Hana.
Tanpa basa basi lagi Jun segera menarik lengan Hana meninggalkan Rey sendirian, Sebelum benar-benar pergi Hana melambaikan tangan pada Rey namun langsung membuat Jun merangkul gadis itu dan membenamkan wajah Hana di balik mantelnya agar tidak dapat melihat Rey.
Saat berada di mobil, Hana terus menatap Jun dengan mood yang sudah berubah dengan cepat, Beberapa saat yang lalu wajahnya yang menggemaskan kini berubah menjadi serius dengan tatapan mata yang tajam.
" Kau cemburu karena aku mengobrol dengan Kak Rey yah? " Tanya Hana lirih.
" Cemburu itu hanya emosi yang tidak penting, Untuk apa aku cemburu dengan Kakakku sendiri. " Balasnya terdengar sedang mengelak.
" Kau jadi semakin menggemaskan sekarang " Cubit Hana pada pipi Jun sehingga membuat pria itu meringis karena sakit.
" Hari ini aku akan ke kantor, kau ikut denganku yah, Aku masih belum bisa membiarkanmu sendirian sementara penjahat itu belum di temukan hingga sekarang."
" Oke. " Jawab Hana singkat jelas dan padat.
*
Kebetulan saat itu Katakura mengajak Chika Putri kecilnya karena ibunya harus pergi ke rumah kakaknya di salah satu kota yang cukup jauh, Ibunya tidak ingin mengajak Chika karena harus sekolah, Oleh karena itu Katakura harus bertanggung jawab menjaga putrinya dan mengantar jemput Chika di hari sekolahnya besok, Karena ini hari minggu ia mengajak Putri kesayangannya itu untuk menikmati wahana yang ada di sana.
Daripada Hana tinggal diam tanpa pekerjaan di ruangan Jun, Ia pun segera menawarkan diri untuk menemani Chika bermain di wahana Dreamland.
" Chika, Jangan nakal yah, Dengar apa kata Hana-Onechan oke. " Ucap Katakura dan langsung di balas anggukan mantap dari putrinya itu.
Setelah Hana dan Chika meninggalkan ruangan Jun, Pria itu mulai bersikap serius dengan mengajak Katakura membahas seputar apa yang membuatnya curiga pada seseorang hari ini.
" Apa? Kau mencurigai Nyonya presdir? Bagaimana kau bisa mencurigai orang seperti dia.? " Ucap Katakura begitu terkejut setelah Jun menceritakan kecurigaannya pada Ibu tirinya itu.
" Aku masih belum yakin tapi aku ingin kau menyelidikinya, Tapi jangan sampai orang lain tahu bahkan Hana sekalipun. "
" Kau tenang saja, Aku akan mencaritahu soal ini segera, Tapi menurutku bisa saja nyonya persdir melakukannya, Sepertinya yang kau tahu Presdir sangat menginginkanmu untuk menjadi CEO padahal Rey merupakan anak pertamanya, Ku rasa Nyonya presdir bisa saja melakukan hal ini untuk menyingkirkanmu. "
*
Selama mencari tahu soal Ibu tiri Jun, Katakura menitipkan Chika kepada Hana dan Jun untuk beberapa saat, Untuk beberapa hari ini ia mungkin sangat sibuk dan kesulitan mengurus putrinya, Untungnya Chika akrab dengan Jun sehingga ia mau di titipkan di rumah pria itu.
Sepulang dari kantor, Hana mengajak Chika ke kamarnya, Alih-alih senang melihat Hana bisa merawat Chika, Jun terlihat sedikit kesal karena di cuekin, Pria itu hanya dapat memandang pintu kamar Hana dari lantai bawah, Sambil mendesah berat pria itu langsung meneguk sebotol air yang di ambilnya di dalam kulkas.
Suara keseruan mereka terdengar jelas sampai di ruang santai, Lagi-lagi Jun merasa kesepian dan bingung harus melakukan apa, Ia tak mungkin masuk ke sana dan ikut bermain bersama sangat kekanak-kanakan sekali pikirnya dalam diam. Tak tahan dengan keseruan mereka, Jun pun mulai beraksi dengan membunyikan perabot dapur untuk memancing perhatian Hana.
Berhasil, Pintu terkuak dan memunculkan setengah badan Hana, Jun langsung akting saat itu juga, Bukannya di perhatikan oleh Hana, Jun malah di suruh untuk masak sendiri malam ini, Dia dan Chika sudah cukup kenyang karena sudah makan sebelum pulang ke rumah tadi.
Begitu Hana kembali menutup pintu kamarnya, Jun langsung meletakkan perabot tadi dengan malas kemudian meninggalkan dapur dan menuju ruang santai kembali, Ia menyalahkan televisi dan tiba-tiba saja pria itu mengencangkan suara televisi untuk menarik perhatian Hana lagi, Dan benar dugaanya saat itu Hana keluar dengan melempar sebuah boneka pada Jun.
" Jangan berisik, Chika ingin tidur. " Semprot Hana sukses membuat wajah Jun memelas.
Hana kembali masuk, Dan Jun mulai kegirangan mendengar Chika yang hendak tidur, Itu artinya ada kesempatan untuknya dan Hana berduaan setelah ini.
10, 20 , 30 Menit, Hana tak kunjung keluar suara di dalam sana pun sudah hening sejak tadi, Karena penasaran Jun pun segera naik untuk memastikan apa yang Hana lakukan saat ini.
Perahan tapi pasti, Jun mulai membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati, Jun mendapati Hana tampak memeluk gadis kecil yang tengah terlelap dengan pulas begitu pun dengan gadis besar yang bersamanya, Jun menyeret kakinya mendekati keduanya yang terlihat begitu menggemaskan ketika tertidur, Pelan-pelan Jun memperbaiki posisi selimut agar menutupi seluruh tubuh mereka supaya tetap hangat, Setelah itu ia mengatur suhu kamar agar mereka dapat tidur dengan nyenyak.
*
Keesokan harinya, Jun mengira Hana akan melayaninya seperti biasa tampaknya Chika jauh lebih unggul saat ini, Mulai dari bangun hingga sarapan siap, Hana terus merawat Chika layaknya anak sendiri, Ia membuatkan susu dan juga makanan yang di sukai oleh gadis kecil itu, Sementara Jun hanya di sajikan Omurice dan segelas jus tomat tanpa ada kata-kata manis yang menyambutnya pagi ini.
" Bagaimana mungkin aku kalah dari seorang anak kecil. " Batin Jun menggenggam sendoknya dengan erat.
" Kau kenapa? " Tanya Hana heran melihat Jun yang menatap Chika dengan tajam.
" Tidak apa-apa, Ayo cepat makan setelah itu mengantar Chika sekolah. " Balas Jun segera menyantap omuricenya.
Setelah mereka selesai sarapan, Ketiganya langsung memasuki mobil untuk bergegas mengantar Chika ke sekolahnya, Di perjalanan menuju sekolah, Hana terus menceritakan kisah-kisah yang membuat Chika begitu antusias mendengarnya, Tak heran jika Hana mampu mencuri hati anak-anak, Dia tumbuh di panti asuhan dan ikut andil merawat mereka, Sehingga menangani satu bocah seperti ini terbilang cukup mudah.
Setibanya di sekolah Chika, Lagi-lagi Jun harus menghela nafas kasar lantaran Hana berniat untuk menemani Chika selesai sekolah, Kini waktu berduaan dengan Hana sudah hilang karena Chika, Entah sampai kapan akan seperti ini, Rasanya Jun ingin secepatnya memulangkan Chika untuk bisa bersama dengan Hana lagi.
" Kalau begitu hubungi aku kalau sekolahnya sudah selesai, Aku akan menjemput kalian. " Ucap Jun pasrah.
" Bye Yun Oniichan. " Seru Chika melambaikan tangannya dengan senyuman yang sangat manis.
" Untung bocah itu menggemaskan, Kalau tidak aku sudah mengurungnya di kamar agar tidak banyak tingkah. " Jun segera meninggalkan pelataran sekolah dengan suasana hati yang dongkol.