
Sejak Jun menyatakan perasaannya pada Hana, Gadis itu merasa canggung tiap kali bertemu dengannya, terutama di saat seperti ini ketika mereka berdua tengah menikmati sarapan pagi bersama, Jun pun ikut canggung ketika meminta Hana untuk memberikannya toples selai, Tak ada pembicaraan yang terjadi saat itu dan keduanya fokus dengan makanan mereka masing-masing.
" Aku akan ke kantor, Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau setelah membersihkan rumah. "
" Umm.. Oke. "
Jun menyudahi sarapannya lebih awal karena tidak nyaman dengan situasi barusan, Ia tak menyangka akan seperti ini akhirnya. Begitu Jun pergi barulah Hana dapat bernafas dengan legah setelah setengah jam merasakan sesak yang begitu mengganggunya.
" Kenapa aku merasa aneh seperti ini? Seharusnya ini akan menjadi biasa saja. "
Setelah tugas rumah telah beres semua, Hana mencoba untuk keluar rumah sekedar berjalan-jalan, Sudah 2 bulan dirinya bekerja di rumah itu dan sampai sekarang dirinya belum kenimari me time untuk dirinya sendiri.
Begitu meninggalkan rumah, Hana merasa tengah di ikuti oleh seseorang, Ia berbalik secara perlahan untuk memastikannya dan benar saja, Sebuah mobil berwarna hitam tengah mengikutinya dengan laju yang cukup pelan, Karena ketakutan Hana pun mempercepat langkahnya dan semakin dipercepat begitu melihat mobil tersebut menambah kecepatan.
Di pembelokan jalan Hana mencoba untuk berhenti dan memutar arah, Hal itu ia lakukan untuk mengecoh sesorang yang tengah mengejarnya, Begitu ia sudah cukup jauh dari tempat tadi Hana pun dapat bernafas dengan legah walaupun ia masih memikirkan siapa oknum yang mengejarnya barusan.
Di lampu merah, Tepat saat Hana hendak menyebrang sebuah mobil hitam baru saja berhenti tepat di hadapannya, Seroang pria bertubuh besar baru saja keluar dari dalam mobil dan menarik paksa agar Hana dapat masuk ke dalam, Sebelumnya Hana sempat melawan namun tak berhasil karena perbedaan kekuatan yang cukup besar. Setelah Hana berhasil di bawa masuk oleh pria itu, Pria lain yang mengambil alih mengemudi langsung menancap gas secepat mungkin.
*
Setibanya di sebuah mansion mewah, Tatapan Hana seakan berbinar melihat kemewahan rumah besar yang kini berada di hadapannya, Pria yang membawanya dengan paksa tadi segera mempersilahkannya untuk masuk ke dalam. Sebuah pintu besar baru saja terbuka dan memperlihatkan barisan para pelayan rumah yang tengah menyambut kedatangan Hana dengan sangat ramah, Hana yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan itu menyuruh satu persatu dari mereka untuk mengangkat kepala dan bersikap biasa saja kepadanya.
Sampai sekarang Hana belum mengerti kenapa ia di bawa ke rumah itu, Sebelumnya pria yang menculiknya barusan tidak memberitahu apakah dan hanya meminta kepadanya untuk tenang sampai di tempat tujuan.
Dua orang pria yang bertugas membuka pintu sebuah ruangan baru saja mempersilahkan Hana untuk masuk, Hana benar-benar merasa seperti seorang cinderella yang di undang ke istana hanya saja ia tak memakai gaun seperti seorang Putri sungguhan.
Di sudut ruangan tampak seorang pria paruh baya yang langsung menyambut kedatangannya dengan sangat ceria, Ia mempersilahkan Hana untuk duduk kemudian meminta pelayannya agar membuatkan Hana minuman berserta kudapan, Pria yang tak lain adalah Ayah Jun mulai memperkenalkan dirinya secara resmi pada gadis itu, Begitu pun Hana yang memperkenalkan dirinya dengan ekspresi wajah yang kaku.
" Ku dengar kau banyak membantu dalam meluruskan masalah ku dengan Jun, Aku sungguh berterima kasih akan hal itu, Rasanya ucapan terima kasih pun tidak cukup untuk membalasnya maka dari itu aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. " Ucap Presdir sambil menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang ke hadapan Hana.
" Apa ini ?."
" Buka saja, Kau akan tau nanti. "
" Maaf tuan, Sepertinya ini sangat berlebihan. "
" Aku sangat bersyukur kalau kamu mau menerima hadiah ini, Justru sebaliknya aku merasa kalau hadiah ini sangat sederhana untuk mengucapkan rasa terima kasihku padamu. "
Tak ada cara lain untuk menolak dan melihat Presdir yang terus memohon agar Hana menerima pemberiannya akhirnya membuat Hana menerimanya dengan suka cita.
" Aku tidak tahu sedekat apa kalian berdua dan bagaimana kalian bisa bertemu, Namun satu hal yang perlu kamu camkan Hana-Chan..., Jangan sampai kamu jatuh Cinta dengan putraku, Seperti yang kau ketahui Jun adalah pewaris Dream Corp dan aku tidak ingin dia berpacaran dengan gadis yang bukan dari kalangan kami. Ku rasa kau mengerti dengan semua itu. "
" Baik tuan.. "
Cukup lama berbincang dengan Ayah Jun dan yang paling membekas di ingatan Hana ialah ketika Beliau mengingatkannya untuk tidak jatuh Cinta dengan Jun, Dan kemarin putranya baru saja menyatakan perasaannya entah mengapa Hana merasa sangat frustasi sekarang.
" Hana-chan... " Panggil seseorang sukses membuat Hana berbalik melihatnya.
" Sedang apa kau di sini?. " Tanya pria yang baru saja berdiri di hadapan Hana.
" Aku baru saja menemui Presdir, Dia memberiku hadiah karena sudah membantunya baikan dengan Jun. "
*
Jun mendapati rumahnya dalam keadaan kosong, Ia menoleh kesana kemari mencari sosok Hana namun tak berhasil menemukannya begitu pun di dalam kamar, Saat Jun mencoba menghubungi ponsel gadis itu rupanya Hana tidak membawanya dan meninggalkan ponsel miliknya di dapur.
" Dasar ceroboh, Bagaimana bisa jaman sekarang pergi-pergi tanpa membawa ponsel. " Ketus Jun.
Sebuah pesan singkat baru saja masuk di ponsel Hana, Jun yang penasaran segera membuka isi pesan tersebut.
" Kau dimana? Aku menunggumu di rumahku..., Cepatlah datang. " ~Kak Rey~
" Apa-apaan ini? Kenapa dia menyimpan kontak Rey dengan sebutan Kak? Dasar wanita bodoh, Tunggu dulu... Kenapa Rey mengirimkan pesan seperti ini? Apa Hana pergi menemuinya???.
Jun yang mulai resah dengan isi pesan barusan segera meraih kunci mobilnya dan bergegas menuju kediaman lamanya.