Stay with me

Stay with me
Jangan seperti ini.



Pintu terkuak saat Jun mencoba untuk kembali tidur, Di lihatnya Hana yang berjalan ke arahnya sambil membawa beberapa obat, Gadis itu tampak sedih dengan wajah yang di biarkan menunduk sehingga membuat Jun menatapnya dengan seribu tanya.


" Apa sakitku menular?. " Tanya Jun yang membuat Hana langsung menggeleng


" Aku sudah membeli beberapa obat untukmu, Kau minum dulu supaya demamnya turun. " Lanjut Hana mengalihkan topik dengan cepat


Jun menerima dua kaplet obat pereda flu dari tangan Hana kemudian menelannya dengan cepat, Jun sendiri masih terlihat penasaran pada Hana yang kembali murung sambil menatap bungkus obat.


" Katakan padaku kalau ada yang mengganggumu, Atau ada sesuatu yang membuatmu sedih? Kau membuatku khawatir dengan bersikap seperti ini, " Sahut Jun kemudian


" Apa kau masih menyukaiku?. " Tanya Hana tiba-tiba, Jun langsung terbatuk-batuk mendengarnya, Terlihat jelas bahwa pria itu terkejut mendengar ucapan Hana


Hening sesaat, Hana menatap keluar jendela dengan mata yang berbinar, Jun tidak mengerti kenapa gadis ini tiba-tiba berkata demikian.


" Kalau kau.. "


" Aku masih menyukaimu. Dan akan terus menyukaimu sampai kapanpun. " Sambung Jun sukses membuat Hana kembali menatapnya dengan terkejut.


Hana tertunduk sambil menutup matanya dengan rapat, Beberapa saat yang lalu ia bertemu dengan presdir di jalan saat menuju toko obat untuk membeli beberapa obat flu, Di sana Hana kembali di beri peringatan untuk tidak boleh menyukai Jun apapun yang terjadi, Dan perkataan itu sampai sekarang masih membekas dan membuatnya sangat kebingungan saat ini.


" Kalau aku berkata masih belum menyukaimu apa kau akan berhenti menyukaiku? " Tanya Hana mencoba untuk kembali menatap Jun.


" Aku tidak peduli harus menunggu sampai kapan pun, Aku akan tetap menyukaimu, Dan akan menunggu sampai kau menyukaiku juga. "


" Aku minta maaf, Tapi aku tidak bisa menyukaimu. "


" Kenapa? Apa karena kau masih merasa bersalah dengan tunanganmu itu? atau karena kau masih mengingat kelakuan buruk ku?. "


" Tidak, Aku sudah memutuskan untuk tidak mencintai siapapun selain Kaji, Ku harap kau tidak perlu menungguku membalas perasaanmu, Karena itu tidak akan pernah terjadi. "


Bagai di sambar petir, Jun merasa tubuhnya semakin lemah tak berdaya, Ia merasa ini adalah efek dari sakit yang di deritanya, Tapi kenyataanya ucapan Hana lah yang membuatnya semakin sakit, Dia terdiam sesaat sebelum menyuruh Hana keluar, Gadis itu meraih bekas makanan Jun kemudian meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata lagi.


 


\*


 


Waktu berlalu sangat cepat, Jun kini sudah sehat dan dapat beraktivitas kembali, Namun sayangnya belakangan ini dia selalu mengindari Hana, Setiap gadis itu mendekatinya atau mengajaknya bicara ia akan segera pergi ke tempat yang membuatnya bisa jauh dari gadis itu.


Melihat Jun bersikap demikian cukup membuat hati Hana hancur, Ia sedih di abaikan seperti itu padahal sebelumnya Jun sangat perhatian dan penuh semangat ketika bicara dengannya, Sepertinya ucapan Hana waktu itu benar-benar membuat Jun terpukul sehingga selalu menghindar seperti ini.


Hari minggu biasanya Jun tidak ke Dreamland dan menyerahkan tugasnya pada Katakura, Namun rasanya hari ini Jun seperti sedang di kantor sebab sejak tadi pagi pria itu tak kunjung keluar dari kamarnya, Hana yang telah menyiapkan makanan pun tak ada satu pun yang di sentuhnya.


Suara bel pintu membuat Hana bergegas untuk melihat siapa yang datang, Di layar intercom kini terlihat seorang wanita yang sedang menunggu pintu terbuka, Hana tidak mengenali wanita itu tetapi dia tetap membuka pintu dan menyambutnya dengan sangat ramah.


" Silahkan masuk, Aku akan memanggilkannya. " Hana mempersilahkan wanita Korea itu untuk masuk dan menunggu Jun di ruang tamu selagi dirinya bergegas menuju kamar pria itu.


Hana mulai mengetuk pintu kamar Jun beberapa kali namun tak ada jawaban dari dalam, Hana yakin kalau pria itu tidak sedang tidur karena sebelum mengetuk pintu ia mendengar suara Jun sedang menelpon dengan seseorang.


" Di luar ada seorang wanita yang menunggumu, Sepertinya dia orang Korea. " Sahut Hana cukup keras agar Jun dapat mendengar suaranya


Beberapa saat kemudian Jun keluar dengan wajah dinginnya, Ia bahkan tidak menganggap Hana ada di depan pintu saat itu, Ia menghindar dan segera menemui tamu yang datang. Hana menghela nafas panjang dan berusaha meyakinkan dirinya untuk sabar, Kemudian ia bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman pada tamu tersebut.


Karena melihat tamu tersebut berasal dari Korea, Hana pun membuatkan teh sakura untuk tamu itu, Ia ingin orang Korea tahu bahwa teh sakura adalah teh yang paling enak di Tokyo, Begitu selesai membuat teh Hana segera mengantarkannya kepada tamu tersebut.


Saat kakinya berada di ruang tamu, Hana mendapati Jun dan wanita yang bernama Lee Taeri itu duduk bersebelahan, Cukup dekat sehingga membuat Hana kesal melihatnya.


" Silahkan di minum. " Ucap Hana menyodorkan secangkir teh sakura itu pada Taeri dan secangkir lagi untuk Jun


Hana beranjak membawa nampan kosong itu dengan berjalan mundur namun masih memperhatikan keduanya yang berbicara menggunakan bahasa Korea, Hana baru tahu kalau Jun sangat fasih dalam bahasa itu, Sadar tengah di perhatikan, Jun melirik Hana sehingga membuat gadis itu sadar dan dengan cepat meninggalkan mereka berdua.


\*


Malam kembali hadir dengan cuaca yang cukup dingin, Jun dan Taeri baru saja selesai membahas sesuatu yang masih belum di ketahui oleh Hana, Saat wanita itu hendak pergi tampaknya Jun menawarkan diri untuk mengantarnya, Hana tahu walaupun mereka menggunakan bahasa yang tidak di pahaminya.


Saat menemani mereka pergi, Hana yang masih berdiri di ambang pintu menatap Jun yang mempersilahkan Taeri untuk masuk ke dalam mobilnya, Wajah Hana terlihat tidak baik saat itu, Bahkan ketika Taeri pamit pulang dia hanya tersenyum simpul kemudian kembali dingin seperti sebelumnya.


Kini kedua manusia itu pergi meninggalkan pelataran rumah Jun, Hana hanya dapat pasrah dan kembali memasuki rumah, Saat melewati ruang tamu ia mendapat sebuah dokumen yang tertinggal di atas meja, Melihat dokumen itu berisikan kerja sama antara Dreamland dan Lotte World seketika membuat perasaan Hana legah.


" Syukurlah mereka hanya membahas soal ini. " Ucap Hana kembali meletakkan dokumen tersebut dan mengangkat kedua cangkir bekas mereka tadi dan segera mencucinya di dapur.


Saat hendak mencuci cangkir itu tanpa sengaja Hana menjatuhkan cangkirnya sehingga cangkir tersebut pecah, Hana kemudian merunduk dan membersihkan pecahan tersebut tapi sayang jarinya terluka karena tidak hati-hati, Darah merah mulai keluar dari jari Hana dan menimbulkan rasa perih yang membuatnya sedikit meringis.


Mendengar suara pintu terbuka, Hana kembali beranjak dan melihat siapa yang datang, Ternyata Jun datang lebih cepat dari perkiraannya, Namun pria itu tampak berjalan menaiki anak tangga tanpa menjawab sapaanya.


Hana kembali membereskan kekacauan yang ia buat, Bahkan ia lupa dengan jarinya yang masih mengeluarkan darah segar, Pikirannya sudah kacau dan tidak tahu harus melakukan pekerjaan dengan baik dan benar.


Hal tak terduga baru saja terjadi, Jun kembali datang dengan membawa kotak P3K dan mengajak Hana untuk duduk, Ia tidak banyak bicara namun tangannya dengan cepat bekerja, Pertama-tama dia memastikan apakah ada pecahan yang tertinggal di jari Hana atau tidak, Setelah di teliti dengan baik dan tidak menemukan apa-apa, Jun pun mulai menekan Jari Hana sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


Begitu darah yang keluar di bersihkan, Barulah Jun membungkusnya dengan Handiplas, Pria itu masih enggan untuk bicara dan segera mengangkat kotak P3K menuju kamarnya.


" Tunggu. " Sahut Hana berhasil membuat Jun berhenti sejenak


" Bisakah kita tidak seperti ini, Aku tidak ingin diam-diam an denganmu seperti ini, Bukan berarti aku menyuruhmu berhenti menyukaiku kita tidak bisa dekat seperti dulu. " Lanjut Hana


Jun kembali melangkahkan kakinya namun lebih cepat, Ia tak peduli dengan apa yang Hana katakan barusan, Sementara Hana hanya dapat menatap punggungnya dengan wajah penuh sedih.