
Setelah beberapa hari beristirahat kini Hana dapat kembali melakukan aktivitas seperti sebelumnya, Tangan Jun pun sudah membaik seiring berjalannya waktu dengan begitu keduanya dapat kembali bekerja. Jun yang saat itu harus ke Dreamland meminta Hana untuk tidak melakukan hal yang membuatnya kelelahan dan Hana hanya dapat mengangguk pasrah walaupun ia tak ingin menuruti ucapan pria itu.
Begitu Jun meninggalkan Hana, Gadis itu kembali mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya. Saat hendak membersihkan kamar Jun, Hana tak sengaja mendapat secarik kertas di atas meja nakasnya, Hana tercekat membaca kalimat yang ada di kertas tersebut dan segera meninggalkan kamar Jun secepat mungkin.
Di lain tempat, Jun baru saja turun dari mobilnya dan mendapati sebuah mobil lain yang terparkir di sebelah mobilnya, Tanpa babibu lagi ia pun berjalan memasuki taman makam itu sambil memegang sebuket bunga Mawar merah kesukaan ibunya.
Jun mulai memasuki bangunan putih yang menjadi tempat peristirahatan terkahir ibunya, Ia mendapati seorang pria paruh baya yang tengah mendoakan ibunya dengan sangat serius sampai tidak menyadari kehadiran Jun saat itu.
" Jun, Kau sudah datang rupanya. " Ucap Ayahnya yang baru saja tersadar.
" Sejak kapan kamu ada di sini?."
" Ayah sudah 3 jam berada di sini, Dan rasanya belum cukup untuk melepas kerinduan Ayah pada Ibumu. "
" Apa Kau begitu menyayangi Ibuku sampai berada di sini sejak pagi buta?. "
" Ayah sangat mencintainya sampai ingin memberikan kehidupan Ayah kalau seandainya itu bisa terjadi. "
Untuk pertama kalinya sejak 17 tahun yang lalu saat dirinya mengetahui kebenaran tentang mendiang ibunya Jun memang tidak pernah mendengar bahwa Ayahnya begitu menyayangi sang Ibu sampai seperti itu. Bahkan ia tak bisa membandingkan rasa cintanya kepada sosok wanita itu dengan Ayahnya.
" Selamat ulang tahun nak, Dan Maafkan Ayah atas semua kesalahan yang pernah ayah perbuat padamu. "
" Terima kasih..."
" Ayah, Mau kah kau menceritakanku tentang ibu?. " Tanya Jun langsung di balas anggukan kegirangan dari Ayahnya.
*
Akhirnya Hana tiba di sebuah taman dengan membawa sebuket bunga Mawar putih, Saat Hana mencoba untuk masuk dirinya tiba-tiba di halang oleh keamanan yang menjaga taman tersebut, Bahkan ketika Hana menjelaskan tujuannya datang tetap tak membuat Security itu memperbolehkannya untuk masuk ke dalam sana.
" Biarkan dia masuk. " Sahut seseorang berhasil membuat Hana menoleh ke arahnya.
" Kak Rey?. "
Karena kedataagn Rey saat itu, Hana jadi di perbolehkan masuk namun ketika Hana mengajak Rey masuk pria itu menolak dan meminta tolong kepada Hana untuk meletakkan buket bunganya di makam Ibu Jun.
Setibanya Hana di dalam, Ia langsung mendapati Jun yang tengah memandang foto ibunya dalam diam, Ketika Hana berdeham pelan barulah ia berbalik dengan wajah heran melihat kehadiran Hana saat itu.
" Kenapa kau datang kesini?. " Tanya Jun heran.
" Tentu saja menengok Ibumu, Aku membelikannya buket bunga spesial. "
" Kenapa ada dua?."
Setelah Hana meletakkan buket barusan, Ia kembali menatap Jun dengan senyum yang merekah.
" Selamat ulang tahun Jun. "
Yang benar saja, Lagi-lagi Hana berhasil membuat Jun berdebar tak karuan, Wajahnya memerah dan nafasnya pun terasa berpacu sangat cepat, Saat Hana memintanya untuk tutup mata Jun langsung meninggalkan ruangan itu karena merasa sangat pengap dengan kehadiran Hana barusan.
" Kenapa kau malah pergi? Aku ingin memberimu sesuatu. "Seru Hana mengikuti arah langkah Jun.
Saat pria itu berhenti dan berbalik melihat Hana, Gadis itu telah siap dengan sebuah gelang yang ia pegang dan menarik tangan Jun untuk memasangkannya.
" Ini hadiah dariku, Tidak mahal tapi aku sendiri yang mengukir namamu di gelang itu. "
Jun mengamati gelang pemberian Hana begitu teliti, Terdapat ukiran namanya di sana dan tak hanya itu, Hana juga menulis harapan pada bagian dalam gelang.
" Bahagia Selalu." -Hana-
" Terima kasih atas hadiahnya. "
Sebelum meninggalkan Taman, Hana menyempatkan dirinya untuk menengok Kaji seraya mengirimkan doa untuk pria itu, Dari belakang Jun ikut memperhatikannya dan sempat memberikan doa juga.
" Apa kau sangat mencintai mendiang tunanganmu itu?. " Tanya Jun begitu mereka hendak meninggalkan Taman.
" Tentu saja, Dia Cinta pertama dan terakhirku, Aku akan selalu mencintainya sampai kapan pun. "
Jun berhenti sejenak menatap Hana dengan tatapan sendu, Kedua mata Hana yang tampak berbinar dengan bibir merah muda yang Indah acap kali membuat Jun terpesona melihatnya, Debaran Jantung tiap bersamanya serta perasaan bahagia yang kian menyesakkan kini membuatnya mengerti dengan semua itu.
" Apa aku juga boleh menyukaimu juga?. " Ucap Jun sukses membuat Hana terkejut.
" Apa yang baru saja kau katakan?. " Tanya Hana berusaha meyakinkan apa yang di dengarnya barusan.
" Aku menyukaimu, Setiap bersamamu rasanya sangat berharga dan selalu membuatku bahagia, Saking bahagianya sampai membuat dadaku terasa sesak, Aku tau ini terdengar aneh tapi aku benar-benar sudah jatuh hati padamu Hana. "
Ucapan Jun sesaat membuat Hana syok mendengarnya, Ia tahu pria itu tidak mungkin berbohong dengan perasaanya, Jun memang bukan orang yang dengan mudahnya mengatakan suka pada seseorang, Namun di samping itu Hana merasa belum bisa membalas perasaan Jun dan meminta maaf akan hal itu.
" Tidak masalah, Aku akan menunggu sampai kau bisa menyukaiku juga. " Sahut Jun saat Hana membalikkan tubuhnya hendak pergi.
" Aku tidak bisa menjamin itu, Tapi aku tidak akan melarangmu untuk tetap menyukaiku, Itu hak mu dan aku menghargainya. "
Bagi Jun, Untuk mencintai seseorang pertama kalinya memang tidak semudah yang ia harapkan, Namun dengan tekadnya yang kuat dan perasaan yang tidak bisa di tutupi lagi membuatnya ingin berjuang mendapatkan Cinta Hana, Sekalipun itu mustahil tetapi dia akan tetap berusaha untuk mendapatkanya.