
Jun memijat pelipisnya pelan dan menarik selimutnya sebatas dada, Reka adegan saat di rumah orang tuanya kembali terbayang terutama di saat Hana membiarkan tubuhnya jatuh dan dengan berani Jun menangkapnya dengan penuh kasih.
Masih jam 8 malam,dan pria itu sudah berada di tempat tidur sejak keduanya tiba di rumah, Bahkan saat mereka sampai di rumah, keduanya pun tidak banyak bicara dan memilih untuk masuk ke kamar masing-masing, Di samping itu Hana yang juga kepikiran dengan kejadian hari ini terlihat duduk di bibir tempat tidur sambil memainkan jari-jarinya.
" Ada apa denganku, Kenapa sejak tadi jantungku terus berdebar seperti ini?. " Ucap Hana mulai kebingungan.
Hana tiba-tiba teringat akan sesuatu yang ia temukan di kamar Jun, Sebuah foto semasa kecil Jun dan juga agenda milik pria itu, Hana tahu kalau Jun sudah meninggalkan rumah orang tuanya sejak usia 15 tahun dan meninggalkan barang-barang di kamarnya begitu saja, Hana pun berniat ke kamar Jun untuk menanyakan foto tersebut dan juga mengembalikan agenda tersebut.
Saat Hana baru saja membuka pintu kamarnya ia langsung di kejutkan dengan kehadiran Jun terlebih dulu. Wajah mereka tampak memerah karena malu, Namun dengan cepat Hana menghilangkan perasaan aneh yang menyelimutinya barusan.
" Aku baru saja akan ke kamarmu. "
" Ke kamarku? Untuk apa?. "
Hana memperlihatkan agenda milik Jun dan langsung membuat pria itu terdiam dengan menerimanya secara perlahan.
" Kenapa ini bisa ada padamu?."
" Ku fikir kak Rey sengaja mengurungku di kamarmu, Karena itu aku bisa menemukan ini dan memberikannya padamu. "
Jun dan Hana kemudian pindah di ruang Santai untuk melanjutkan perbincangan mereka, Selagi Jun melihat isi agendanya Hana terlihat ragu-ragu bertanya pada pria itu tentang foto yang membuatnya begitu penasaran.
" Aku ingin bertanya. "
Jun menghentikan aksinya dan melirik Hana dengan tanya.
" Soal foto ini, Aku tidak sengaja melihatnya di kamar itu, Aku penasaran dan terus bertanya-tanya, Apa Foto ini di ambil di Hokkaido?. "
Jun meraih foto tersebut dan melihatnya dengan tatapan sendu.
" Benar. Foto ini di ambil saat usiaku 8 tahun, Waktu itu Aku dan Ayahku mengunjungi Hokkaido untuk melihat festival salju di Sapporo, Dan alasanku bermimpi untuk membangun Dreamland di mulai di sana, Seorang gadis kecil membuatku berniat untuk membangun Dreamland untuk seluruh anak-anak dapat bahagia bermain di sana. "
" Tunggu sebentar, Apa kau si anak laki-laki yang menolong gadis kecil yang berebut tempat bermain di Kota Furano?. " Tanya Hana tiba-tiba.
" Bagaimana kau bisa tahu?. " Ucap Jun terkejut.
" Itu aku, Gadis yang berebut taman bermain dengan anak walikota Furano. "
#Flashback
Setibanya di sana, Jun mendapati 4 anak laki-laki yang berebut ayunan dengan 2 gadis kecil, Salah satu gadis itu memarahi pemimpin mereka dan menyuruh ke 4 anak laki-laki itu untuk pergi, gadis kecil satunya terlihat menangis tersedu-sedu karena tempat bermain mereka di rebut oleh ke 4 anak-anak tadi.
" Jangan mengganggu mereka, Ini taman bermain untuk umum kau tidak boleh menguasainya sendirian. " Sahut Jun yang mulai beraksi.
Keempat anak laki-laki dan perempuan itu itu berbalik melihat Jun yang datang dengan penuh percaya diri.
" Siapa kau? " Tanya salah satu dari anak laki-laki tadi.
" Logatnya seperti orang kota, Dia bukan asli sini. " Sambung temannya yang lain.
" Aku Misugi Jun dari Tokyo, Aku bisa membeli apa saja yang ku inginkan, Bahkan taman bermain kecil ini sekali pun. Kalian pulanglah ke rumah dan tidur dengan nyenyak, Jangan menganggu anak perempuan ini lagi. " Lontar Jun semakin membuat suasana memanas.
" Kau pikir kau siapa? Aku anak wali kota di kota ini, Seenaknya kau menyuruhku untuk pulang. "
Adu mulut antara kedua anak laki-laki itu semakin berlanjut sehingga membuat anak laki-laki yang mengaku sebagai anak wali kota menelpon suruhan ayahnya untuk datang. Jun yang kini berdiri di depan kedua gadis itu terlihat tak takut sama sekali hingga suruhan anak itu datang dan langsung menghadapi Jun.
" Ada apa Seto-Dono? " Tanya Bodyguard anak laki-laki yang bernama Seto itu.
" Usir mereka dari tempat ini, Aku tidak ingin berbagi tempat dengan anak-anak miskin itu. "
" Sebaiknya kalian meninggalkan taman ini sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak pada kalian. "
" Cih anak manja, Beraninya memanggil bantuan. "
Tak terima dengan ucapan Jun barusan, Pria yang di yakini sebagai bodyguard anak wali kota itu baru saja melayangkan tamparan pada Jun sehingga membuat Jun tersungkur ke tanah. Tak lama setelah itu Ayah Jun dan rekan kerjanya datang menjemputnya namun hal yang tak di inginkan membuat Ayah Jun naik pitam sehingga membuat Katakura sebagai ajudan pribadinya ikut turun tangan menghadapi kejadian barusan.
" Apa yang sudah terjadi di sini?. " Tanya Katakura melihat mereka yang ada di sana satu persatu.
" Pria besar itu memukulnya tanpa sebab. " Jawab gadis kecil berambut pendek sebahu.
Anak laki-laki barusan menghampiri ayahnya yang ternyata rekan kerja Ayah Jun, Melihat putranya yang melakukan hal tersebut pada Jun membuat Ayah Jun membatalkan kontrak kerja yang baru saja di lakukan di rumahnya, Wali kota tersebut meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan yang di lakukan putra dan bodyguardnya kepada Jun, Namun sayangnya Ayah Jun tak menerima permintaan maaf itu dan memutuskan untuk segera meninggalkan kota tersebut.
Keesokan Harinya setelah berkunjung ke Sapporo, Jun dan Katakura menyambangi taman bermain itu lagi dan mendapati dua gadis yang sama tengah asyik bermain ayunan, Jun yang mencoba menghampiri mereka tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan wanita paruh baya yang memarahi gadis berambut pendek.
" Kau itu hanya anak yatim piatu yang tidak tau diri, Kenapa kau mengusir anakku dari taman ini? Memangnya kau yang membangun taman ini hah? "Omel Wanita itu pada gadis kecil berambut pendek.
Mendengar omelan dari wanita barusan temannya yang berambut panjang membalas omelan wanita tadi namun sayangnya gadis kecil itu berlalri meninggalkan taman bermain diiringi tangis yang memilukan. Sudah dua kali Jun melihat gadis itu di perlakukan tidak adil hanya karena ingin bermain di taman bermain, Sejak saat itu Jun berkeinginan untuk membuat sebuah taman hiburan untuk anak-anak di mana semua anak dapat bermain di sana tanpa ada penindasan atau pun kekerasan.