
Kiara pun membuka pintunya untung saja Anggita tak melihatnya yang diantar Reyhan.
Ia pun segera ke kamarnya dan mandi lalu langsung tidur karena setelah aktivitasnya hari ini ia sangat lelah.
Baru saja ia merebahkan badanya ke kamar tidunya tiba-tiba munculah Anggita.
"Ada apa?"tanya Kiara berdiri menghadap Anggita.
"Lo di suruh mama beli bahan makanan"ucap Anggita.
"Enak aja beli sendiri,punya tangan punya kaki nyuruh nyuruh"ucap Kiara membantah Anggita.
"MAMA KIARA GAK MAU BELI"triak Anggita menggema rumah sampai Diana yang di bawah menghampiri keduanya.
"Belikan bahan makanan sekarang"ucap Diana begitu sampai di kamar Kiara.
"Lagian ini tugas anda,kenapa jadi saya?"ucap Kiara membantah Diana.
"Anak kurang ajar!belikan sekarang atau saya adukan papamu"ucap Diana mengancam Kiara.
"Dasar tukang ngadu!kalo bukan karena papa, gak sudi saya tinggal seatap sama jalang perempatan"ucap Kiara menatap sinis keduanya.
Plakk
Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi Kiara meninggalkan becak kemerahan di pipi Kiara.
"Kayaknya mama terlalu kencang menamparnya"ucap Anggita sedikit ibah melihat pipi merah Kiara.
"Dia pantas mendapatkanya"ucap Diana.
Diana menarik nafasnya dalam dalam,meredam emosinya. Ia yakin tak ada habisnya jika berdebat dan melawan Kiara terus menerus,ia akan membalas dengan cara lain nanti.
Diana memberikan dua lembar uang dan kertas kecil yang sepertinya daftar belanjaan yang harus Kiara beli.
"Gila mana cukup!tambah lagi!belanjaan sebanyak ini juga" ucap Kiara tak percaya.
"Gak!itu tugas kamu pokonya harus ngelengkapin bahan makanan"ucap Diana.
"Giliran shopping ngehabisin duit puluhan juta morotin bokap gue!"ucap Kiara membuat Diana menjadi emosi. Tangannya sudah terangkat ingin menampar Kiara namun di cegah oleh tangan Kiara,ia pun menghempas tangan Diana kasar.
"Lo suka banget nampar gue"ucap Kiara dengan tersenyum sinis.
"Dasar anak gak tau diuntung,masih bagus papa kamu mungut kamu dirumah ini"ucap Diana dengan tatapan tajam. Ia tersalut emosi karena pernyataan Kiara.
"Bukannya kebalik"ucap Kiara lalu pergi meninggalkan keduanya yang masih di kamarnya. Ia tak mau menghabiskan energinya karena berdebat dengan kedua jalang perempatan.
🌹🌹🌹
Kiara sudah sampai di tempat tujuan,memakan waktu 15 menit untuk sampai ke tempat tujuan karena jalan kaki. Supermarket memang jauh dari rumahnya.
Kiara mulai masuk ke supermarket dan memilih beberapa bahan makanan yang di butuhkan.
Setelah selesai mimilih bahan makanan. Kiara pun membawa keranjang belanjanya ke kasir.
Kiara menunggu belanjaannya yang sedang ditotal kasir,saat ini ia cemas pasalnya ia hanya diberi uang seratus ribu untunglah di sakunya masih ada lima puluh ribu.
"Totalnya dua ratus lima puluh "ucap mbak kasir.
DAMN!!!
Sesuai dugaannya,total belanjaannya tak seauai dngan uang yang di bawa. Ia meruntuki kebodohanya karena tak membawa uang lebih.
"Hmm itu dikur--"ucap Kiara terpotong.
"Tolong digabung"
Belum sempat Kiara menyelesaikan kalimatnya sebuah suara memotong pembicaraannya dengan menaruh beberapa barang lalu menyodorkan kartu ATMnya.
Kiara menoleh pada pria yang telah menolongnya. Matanya membulat sempurna mendapati Reyhan yang berada di sampingnya.
Sehabis mengantar Kiara pulang Reyhan ke rumah Alan yang dekat dengan rumah Kiara kalau naik mobil. Reyhan pun sudah ganti baju.
"Totalnya tiga ratus lima puluh"
Setelah pembayaran selesai Reyhan menarik Kiara keluar.
"Kamu ngapain malam malam keluar?"tanya Reyhan menyelidik.
"Aku belanja,emang apa lagi?"ucap Kiara.
"Besok juga bisa ra"ucap Reyhan.
Reyhan mernyerngitkan dahinya karena Kiara jalan kaki. Reyhan pun mencekal tangan Kiara membuatnya berhenti.
"Kamu naik apa?"tanya Reyhan.
"Jalan ka--"ucap Kiara terpotong.
"Kamu jalan kaki?"tanya Reyhan menatap Kiara tajam. Meski pun ia berbohong pasti Reyhan sudah tau karena mulutnya ini yang bocor.
Kiara pun hanya menggangguk sebagai jawaban 'iya'.
"Kamu gila, rumah kamu sama supermarket jauh ra"ucap Reyhan sedikit meninggi.
"Aku tau, aku cuma mau jalan kaki sambil menghirup udara malam"ucap Kiara supaya Reyhan tak mencemaskan ia jalan kaki.
"Siapa yang nyuruh kamu belanja?"tanya Reyhan menyelidik. Kiara bingung mau menjawab apa?apa ia harus mejawab di suruh jalang perempatan kan gak mungkin bisa berabe.
"Ibu tiri?"ucap Reyhan membuat Kiara kaget kenapa Reyhan bisa tau kalau ia punya ibu tiri.
"Kamu ta--"ucap Kiara terpotong.
"Aku tau dari Alan"ucap Reyhan"kamu kenapa gak cerita dari dulu kalau kamu punya ibu tiri"lanjut Reyhan menatap tajam Kiara.
Memang Alan sudah kayak ember bocor bagi Kiara.
Kiara hanya diam ia bingung harus menjawab apa. Tak mungkin ia bilang ke Reyhan kalau ibu tiri yang menyiksanya adalah ibu Anggita sahabat Reyhan.
"Pipi kamu kenapa?dia nampar kamu?"ucap Reyhan sambil mengelus pipi merah Kiara yang berlinang air mata.
Reyhan pun menarik Kiara masuk kedalam mobilnya. Reyhan pun memeluk Kiara yang menangis sesenggukan.
"Selama ini kamu anggep aku apa ra?"tanya Reyhan masih memeluk Kiara.
"Biar aku,Biar hanya aku yang ngerasain kamu jangan"ucap Kiara sambil menangis di pelukan Reyhan.
"Dengan membiarkan kamu sakit sendiri semakin buat aku sakit"ucap Reyhan masih memeluk Kiara.
"Kamu udah tau semuanya dari kak Alan kenapa tanya aku lagi?"ucap Kiara mulai merenda tangisannya.
"Seberapa besar mereka nyikasa kamu?"tanya Reyhan melepas pelukannya.
"Gak sebesar cinta aku ke kamu"ucap Kiara sambil tertawa.
"Kiara,aku serius jangan mengalihkan pembicaraan"ucap Reyhan menatap tajam Kiara.
"Aku gak mengalihkan pembicaraan,sebesar apa pun mereka menyiksa aku masih besar cinta aku ke kamu"ucap Kiara.
"Mulai besok aku antar jemput kamu"ucap Reyhan.
"Enggak,cukup kamu jemput aku di halte jangan ke rumah"ucap Kiara tak ingin Reyhan tau kalau Anggita adalah saudara tirinya.
"Kenapa?"tanya Reyhan.
"Tanpa aku beri tau suatu hari nanti kamu bakal tau semua"ucap Kiara sambil menatap mata Reyhan meyakinkan Reyhan kalau ini yang terbaik bagi mereka.
"Oke"ucap Reyhan.
"Aku gak bakal tinggal diam kamu di siksa sama ibu tiri kamu"ucap Reyhan dalam hati.
Reyhan pun melajukan mobilnya menuju ke rumah Kiara karena ini sudah malam ia tak akan membiarkan Kiara jalan kaki.
"Berhenti"ucap Kiara namun di hiraukan Reyhan.
"aku bilang berhenti"ucap Kiara sekali lagi.
"Kenapa ara?"ucap Reyhan memberhentikan laju mobilnya.
"Udah sampai sini aja"ucap Kiara tak menjawab pertanyaan Reyhan.
Kiara pun keluar dari mobil Reyhan. Namun tangannya di cekal Reyhan.
"Kamu mau aku lebih di siksa mereka?"tanya Kiara.
"Biar aku menghadapi mereka"ucap Reyhan.
"Enggak, cukup Rey aku harus pergi "ucap Kiara berjalan keluar dari mobil Reyhan.
Reyhan melihat Kiara yang sudah jauh pun mencengkeram setir mobilnya. Ia mengacak rambutnya frustrasi.
"ARGG"
Reyhan tak bisa membayangkan Kiara yang di siksa oleh ibu tirinya seperti saat ini saja membuatnya sakit melihatnya. Ia tak bisa tinggal diam melihat Kiara tersiksa.