Stay with me

Stay with me
Dulu dia adalah anak yang baik



Sejak saat itu, Jun menjadi pendiam dan jarang keluar kamar, Bahkan saat Ayahnya datang untuk mengajaknya bicara ia menolaknya dengan kasar, Tak hanya itu sifatnya yang mulai arogan muncul di saat Rey kakaknya mengancam untuk tidak macam-macam dengan kedua orang tuanya.


Semua orang di rumah itu tak ada satu pun yang di percaya oleh Jun lagi, Hingga saat di mana keinginannya untuk membangun taman hiburan kini telah di realisasi oleh Ayahnya, pembangunan taman hiburan atas nama Jun telah di bangun di daerah Asakusa, Namun hal itu tak membuat Jun berubah.


Sifat manis dan lembut Jun dulu kini berubah menjadi pemarah dan arogan, Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, Hingga menginjak usia 15 tahun Jun tetap memiliki sifat seperti itu.


Hari dimana peresmian Dreamland kini di buka, Semua rekan bisnis Ayahnya datang untuk memeriahkan acara pembukaan, Namun saat acara pembukaan Jun tidak datang sehingga membuat Ayahnya cukup kecewa saat itu. Terpaksa Misugi Arata sendiri yang memberikan pidato kepada setiap hadirin yang datang.



" Dimana Jun?? Katakura tolong cari anak itu, Suruh dia untuk datang " Sahut Presdir begitu selesai memberikan pidato.


" Baik Pak " Balasnya sigap.


katakura yang saat itu adalah ajudan pribadi Presdir segera mencari sosok Jun, Setaunya ia sempat melihat Jun datang ke Dreamland sebelum acara di mulai dan itu artinya Jun masih berada di tempat itu.


Katakura terkejut saat dirinya tiba di wahana es, Dimana saat itu banyak para pekerja yang berlarian memasuki ruangan tersebut, Karena penasaran ia pun mencoba ikut masuk ke dalam sana.


Lagi-lagi pria itu di buat terkejut setelah memasuki ruangan yang di penuhi oleh para pekerja Dreamland, Sosok Jun yang tak sadarkan diri dengan sebuah pisau yang menancap tepat di dadanya membuat Katakura segera menghubungi Rumah sakit.


Setelah di larikan ke Rumah sakit, Presdir beserta Moe dan Rey datang dengan keadaan cemas terutama Presdir yang begitu cemas hingga meminta semua dokter hebat datang untuk menyelamatkan putranya.


Beruntung, Jun selamat dari masa krtitisnya, Pisau yang menacap tidak begitu dalam namun ia harus mengalami gagal jantung akibat tusukannya tak hanya itu, Selanjutnya Jun akan mengalami trauma terhadap sesuatu yang mengingatkannya dengan kejadian ini.


                            *


Hana tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar cerita Katakura, Sungguh tragis dan penuh emosi, Sekarang Hana paham mengapa Jun begitu sensitif dan sulit di ajak bergaul.


" Aku menceritakan semuanya kepadamu, Karena aku pecaya padamu " Ucap Katakura.


" Setelah mendengar ceritamu aku paham bagaimana keadaan Jun sekarang, Terima kasih karena sudah mempercayakan aku. "


Malam itu juga setelah Jun sadar, Hana meminta maaf yang sebesar-besarnya walaupun Jun tidak mengerti dengan maksudnya meminta maaf, Suntikan terapi yang di berikan oleh Hina Sensei memang selalu bisa membantu Jun untuk melupakan traumanya, Begitu Jun dan Katakura pamit pulang, Hana kembali terdiam sembari mengingat kebenaran yang ia ketahui malam ini.


                             *


Urahara menepihkan mobil tepat di depan sebuah rumah besar bernuansa tradisional Jepang asli, Pria itu segera membukakan pintu untuk mimi dan kembali menggandeng tangan gadis itu sambil menatapnya lembut, kemudian mereka saling mengangguk pelan tanda persiapan menghadapi tantangan yang akan di hadapinya nanti. Keduanya segera melangkah memasuki rumah tersebut dengan kemantapan hati masing-masing.


Urahara mengehentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu bercorak bunga sakura, ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, Masih dengan menggenggam tangan mimi ia pun membuka pintu dan langsung mendapati kedua orang tuanya yang kebetulan tengah menikmati minum teh di ruang keluarga, keduanya menatap kedatangan putranya dengan heran terutama ketika melihat mimi bersamanya.


" Ada apa kyosuke, Kenapa kamu datang tanpa memberitahu kami dulu ? Dan Siapa wanita itu ?" Lontar Ayahnya terdengar serius


  Ayahnya nampak sangat geram dan menggebarak meja sambil mengatakan perkataan yang kasar kepada putranya sendiri, Urahara nampak tersentak namun masih dalam posisinya, sementara mimi mulai bergetar ketakutan dengan sikap beliau yang di anggapnya sangat keras.


" Kau mau membuat orang tua mu malu karna tindakanmu ini,  hah? " Lontarnya kembali.


" Ayah, selama ini aku sudah memenuhi setiap perintahmu tapi tolong izinkan aku memilih pendamping hidupku sendiri" Pinta Urahara mulai menatap kedua orang tuanya.


" Kyosuke, kau juga harus memikirkan kami nak, Apa kata keluarga Nozomi nanti " Sahut Ibunya kemudian.


" Aku tidak mau mendengar pembatalan pernikahan ini, kau harus tetap melanjutkannya, kalau sampai tidak. Kau akan tau sendiri akibatnya" Gumam ayahnya lagi.


" Aku tetap tidak akan melanjutkannya, Kalian harus tahu kalau keluarga mereka hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk menguasai saham Ayah "


Satu tamparan keras behasil mendarat di wajah Urahara, Mimi di sebelahnya terkejut bukan main saat beliau menampar putranya sendiri.


" Kau benar-benar anak yang kurang ajar, Ayah membesarkanmu menjadi anak yang berpendidikan selama ini, Tapi kau membalasnya dengan ini? kalau kau bersih keras untuk menolak pernikahan itu maka pergilah dari keluarga ini " Sentak Ayahnya.


" Kamu tidak harus mengatakan hal itu " Sahut Ibunya.


Perlahan tapi pasti Urahara bangkit dan menggandeng tangan Mimi, Sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu, Urahara sempat memberikan salam penghormatan dan setelah itu berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.


     


   Begitu mereka behasil meninggalkan kediaman urahara, wajahnya nampak berubah, untuk pertama kalinya urahara melawan kedua orang tuanya seperti tadi, walaupun demikian ia tak menyesal karna ia yakin pilihannya kali ini tidak bisa di ganggu gugat.


Di perjalanan pulang ke Tokyo, Mimi terus memikirkan Urahara dan Kedua orang tuanya, Ia merasa dirinya saat ini sangat tidak berguna, Di samping Urahara yang memperjuangkan hubungan mereka ia hanya dapat terdiam seperti itu.


" Sudahlah..., Kau tidak perlu memikirkannya, Aku yakin Ayahku tidak serius dengan ucapannya tadi " Balas Urahara mencoba menenangkan kekasihnya.


" Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya, Karena aku semuanya jadi seperti ini "


" Aku melakukan ini karna aku tidak ingin Ayahku di manfaatkan oleh Keluarga Nozomi, Selain itu aku juga menginginkan hubungan kita berjalan serius "


Mimi hanya dapat tersenyum senang mendengarnya, Di saat Urahara meraih tangannya, Gadis itu lebih memilih untuk menyandarkan kepalanya pada bahu Urahara.