
Pukul 06:00 pagi Jun sudah tiba di rumahnya, Katakura yang mengantarnya pulang segera pergi untuk menemui istri dan anaknya, Sementara itu Jun yang sudah tak sabar menemui Hana dan langsung membuka pintu rumahnya dengan penuh kebahagiaan, Saat pintu berhasil di buka ia berharap Hana akan menyambutnya, Melihat rumah yang terasa sepi dan dingin segera membuat Jun menuju kamar Hana.
Tanpa mengetuk pintu lagi Jun sudah membuka pintu kamar Hana, Namun tidak menemukan gadis itu di dalam, Jun mengira Hana berada di kamarnya sehingga pria itu dengan cepat beralih menuju kamarnya. Hal yang sama terjadi, tidak ada sosok Hana di mana pun, Di dapur hingga taman belakang pun tidak ada, Jelas tidak mungkin jika gadis itu sudah pergi kerja melihat jam masih begitu pagi.
" Kemana dia?, " Gumam Jun kebingungan.
Pikiran aneh tiba-tiba merasuki Jun dan membuat pria itu kembali memasuki kamar Hana, Ia membuka lemari pakaian Hana dan mendapatkan lemari tersebut dalam keadaan kosong, Bahkan koper Hana pun sudah tidak ada, Gadis itu hanya meninggalkan pakaian yang kemarin di beli oleh Jun.
Tak menunggu waktu lama, Jun mencoba menghubungi Hana namun tidak terjawab, Ia pun meraih kunci mobilnya dan bergegas menuju aparatemen lamanya, Entah mengapa Jun merasa Hana berada di tempat itu.
Setibanya di apartemen, Jun langsung mengetuk pintu apartemen Hana dengan keras sehingga membuat seseorang di dalam sana lantas segera membukanya.
" Mi-misugi San?, " Ucap Mimi terkejut dengan kehadiran Jun pagi itu.
" Dimana Hana?." Tanyanya dengan tegas.
" Hana.., Diaa... " Mimi tampak tidak bisa melanjutkan kata-katanya sehingga membuat Jun kebingungan.
Jun memaksa masuk karena Mimi yang tidak jelas menjawab pertanyaannya barusan, Dan begitu Jun masuk, Ia menemukan Hana yang tengah terbaring di tempat tidur, Jun mendekatinya dan bertanya pada gadis itu, Namun Hana tampak lemah dengan wajah memerah akibat demam yang di alaminya.
" Kita ke rumah sakit, Badanmu sangat panas." Ucap Jun setelah menyentuh kening Hana yang terasa begitu panas.
" Tidak perlu, Dengan meminum obat dan beristirahat sebentar pasti akan membaik. " Tolak Hana.
" Tapi, "
" Di sini saja, Oke. " Potong Hana akhirnya membuat Jun luluh.
Pria itu kembali memakaikan Hana selimut sembari menggenggam tangannya erat. untuk bertanya kenapa dia pergi pun percuma, Melihat kondisinya yang tidak bisa banyak bicara membuat Jun harus menunggu sampai gadis itu baikan.
Setelah Hana kembali tertidur, Jun mulai beranjak dari sana kemudian menarik Mimi untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Hana.
" Semalam dia datang saat badai salju turun, Aku juga terkejut karena dia datang di saat seperti itu, Saat tiba di sini dia sudah demam dan tidak bisa apa-apa, Ku tanya alasannya pun dia tak mau menjawabnya. "
" Biarkan aku yang merawatnya, Kau bisa bersiap-siap berangkat kerja. "
" Sebenarnya aku sudah di pecat, "
" Siapa yang memecatmu?, "
" Kemarin utusan pusat mengirimkan surat keluar padaku,"
" Jangan keluar, Kau itu bagian dari perusahaanku, Ayahku sekali pun tidak berhak memecatmu. "
" Tidak apa-apa Misugi san, Sebenarnya aku sudah lama ingin keluar, Aku sudah memikirkan untuk pergi ke Kyoto bersama Kyosuke, Tapi tunggu dulu, Kemarin saat aku di pecat Hana sempat meminta maaf padaku, Dia bilang kalau alasan aku di pecat itu karena dia. Apa ini ada kaitannya dengan Hana yang meninggalkan rumahmu juga?."
Jun tidak tahu benar apa yang sudah terjadi, Bertanya pada Hana pun percuma, Bahkan kalau Ayahnya yang mengusir Hana dari rumahnya pun tidak mungkin, Setaunya Hana dan Ayahnya memiliki hubungan yang baik, Bahkan sepatu dan tas yang pernah di pakai Hana dulu merupakan pemberian Ayahnya, Dan tidak mungkin jika hal ini ada kaitannya dengan Ayah Jun.
*
Perlahan tapi pasti Hana mulai membuka kedua matanya, Ia menadapati seorang pria yang ikut tertidur di sebelah tempat tidur sambil memegangi tangannya, Sentuhan lembut mendarat di kepala Jun sehingga membuat pria itu terbangun.
" Kau sudah bangun, Apa kau ingin makan?, " Tanya Jun masih memegangi tangan Hana.
Hana menggeleng sambil merubah posisi tidurnya menjadi duduk menyandar di kepala tempat tidur, Jun ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah Hana sambil merangkul kekasihnya dengan penuh kelembutan.
" Kita pulang yah, Supaya aku bisa merawatmu dengan baik. "
" Jun, Sebaiknya aku tidak kembali ke rumahmu lagi. "
" Kenapa?. "
" Apa salahnya kalau kita tinggal bersama? Kita kan sudah berpacaran, Kau tidak perlu membersihkan rumah ataupun memasak, Kita bisa menyewa pembantu supaya kau tidak kelelahan. "
" Kamu tidak mengerti, Kita hanya sepasang kekasih bukan suami istri. "
" Sebenarnya apa yang telah terjadi sampai kau bersikap seperti ini?" Tanya Jun seketika membuat Hana membisu.
" Apa kau benar-benar serius berpacaran denganku, Kau tahu kan aku tidak suka kalau ada rahasia di antara kita, Kenapa sekarang rasanya kau seperti menyembunyikan sesuatu padaku?. "
Lagi-lagi Hana terdiam, Bahkan melihat wajah Jun pun tidak sehingga membuat pria itu merasa sakit hati.
" Aku paham sekarang, Maaf kalau selama ini aku memaksamu menjalani hubungan sepihak. " Lanjut Jun beralih meninggalkan Hana.
" Jun bukan seperti itu, Aku hanya. "
Pintu tertutup cukup keras sebelum Hana menyelesaikan kalimatnya, Gadis itu terlihat memegang kepalanya yang terasa sakit akibat memikirkan semua masalah yang menerpanya tanpa Jun ketahui.
*
Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa tahun akan berakhir sebentar lagi, Dreamland benar-benar di sibukkan dengan festival akhir tahun dimana ini adalah event terbesar Dreamland untuk menaikkan saham, Setelah kemarin Jun bernegosiasi dengan pihak Lotte World dan Disneyland akhirnya yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Malam ini akan menjadi malam tahun baru yang meriah dan megah sepenjang sejarah Dreamland. Jun sendiri terlihat sibuk mengarahkan para pekerja untuk mendekorasi bagian Indoor, Perhatiannya tiba-tiba tertuju pada Hana yang tengah berdiskusi mengenai proyek lain bersama senior-seniornya di divisi pengembangan, Akibat terus memperhatikan Hana, Jun sampai kehilangan fokus saat salah satu pekerja bertanya kepadanya.
" Tolong tangani semua ini untuku, Aku sedang tidak badan. " Ucap Jun pada Katakura.
" Oke," Balasnya cepat.
Sekarang giliran Hana yang melirik Jun, Melihat pria itu berjalan sambil memijit keningnya membuat Hana khawatir, Sudah dua hari sejak hari itu keduanya tidak pernah saling berkomunikasi, Bahkan menyapa saat bertemu di tempat kerja pun tidak sama sekali.
" Miwako san, Aku haus, Boleh izin sebentar?, " Kata Hana melirik Seniornya yang sejak tadi menemaninya meneliti.
" Silahkan. " Balasnya segera membuat Hana beranjak pergi.
Sebenarnya Hana hanya beralasan pada seniornya kalau dirinya sedang haus, Jauh di samping itu ia hanya ingin memberanikan dirinya untuk bertemu dengan Jun. Melihat Jun yang mungkin kelelahan saat bekerja membuat Hana berinisiatif membuat kopi untuk Jun, Sebelum ia menuju ruangan pria itu ia menyempatkan diri untuk membuat minuman di ruang pantry.
Selang beberapa saat Hana telah selesai membuat kopi untuk Jun, dengan begitu ia sudah siap untuk mengantarkannya ke ruangan pria itu, Setibanya di depan ruangan Jun, Karena ruangan yang transparan dan hanya memasang tirai yang di biarkan terbuka, Hana langsung melihat seorang wanita yang mencoba untuk mendekati Jun sambil menggeser posisi duduknya.
Dengan keras Hana mengetuk pintu sehingga membuat keduanya terkejut dan menatap Hana dengan kompak.
" Ini kopi anda tuan, Maaf sebelumnya sudah mengganggu. " Lontar Hana dengan penekanan yang membuat Jun melongo.
" Who is she? " Ucap wanita barat yang beberapa saat yang lalu terlihat menggoda Jun.
" I'm His girlfriend. " Balas Hana cepat kemudian meninggalkan ruangan itu, Jun sendiri meliriknya dengan tatapan tak percaya.
Jun meraih tangan Hana saat gadis itu mencoba melarikan diri lebih jauh lagi, Kemudian ia memutar tubuh mungil Hana dan menatapnya lekat-lekat.
" Jangan salah paham dulu, Dia itu klienku dari Amerika, Sikapnya memang sedikit frontal yah seperti yang kau tahu bagaimana kehidupan orang barat. "
" Kau menyukainya? Bahkan saat dia mencoba mendekatimu dengan pakaian yang tidak senonoh, Ini musim dingin tapi memakai pakaian terbuka seperti itu. " Keluh Hana tak ingin menatap Jun.
" Apa kau baru saja cemburu?, " Lontar Jun sukses membuat Hana bungkam.
" Tentu saja, Kau ini pacarku, Kita belum putus. " Sambungnya ketus.
Jun tersenyum legah mendengar kalimat Hana barusan, Semua kesedihan yang di bendungnya selama dua hari kini menghilang di saat Hana berkata demikian. Pria itu kemudian mendekap Hana dengan erat namun membuat Hana bertanya-tanya dengan sikapnya itu.
" Aku merindukanmu. " Ungkap Jun semakin memeluknya erat
" Aku juga. " Balasnya ikut memeluk Jun