
Hana menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya saat itu juga, Ia mencoba untuk tetap tenang dan mengatur nafas yang mulai tidak teratur, Gadis itu menuju cermin yang tertera di sudut kamar dan menatap wajahnya pada cermin, Wajahnya tampak memerah karena menahan malu beberapa saat yang lalu saat berada di kamar Jun.
" Akhir-akhir ini jantungku selalu berdebar tak karuan di dekatnya, Apa aku sudah mulai menyukainya? Tidak Hana.. kau tidak boleh menyukai Jun, Ingat pesan Presdir kau tidak bisa menyukai pria itu.. " Ucap Hana terus menanamkan keyakinannya itu.
Suara ketukan pintu berhasil membuat Hana terkejut dan melirik pintu kamarnya dengan mata yang membulat. " Ada apa?. " Jawabnya terdengar cukup ketus.
" Aku baru saja memesan pie strawberry kesukaanmu, Mau makan bersama? " Sahut Jun di luar sana.
Sejujurnya Hana sudah bosan dengan makanan yang berbau strawberry tapi entah mengapa kali ini ia beranjak menuju pintu, Membukanya dan mulai bertatapan dengan Jun.
" Baiklah. " Jawab gadis itu segera mengikuti langkah Jun menuju dapur
Di ruang santai, Keduanya tampak duduk bersebelahan dengan sepiring pie di hadapan mereka, Suasana canggung tiba-tiba saja menyelimuti ruangan itu hingga Hana merasa tak ada cukup udara yang di dapatnya.
Saat Hana hendak mengambil pisau untuk memotong pie miliknya secara bersamaan Jun juga ikut mengambilnya, Tangan mereka saling bersentuhan dan membuat keduanya saling menatap satu sama lain. Beberapa saat setelah sadar keduanya langsung menarik tangan mereka dan memalingkan wajah yang memerah karena malu.
Hana yang salah tingkah langsung memakan pie itu tanpa memotongnya terlebih dulu, Ia tiba-tiba tersedak dan membuat Jun Segera memberinya air, Hana menerimanya dengan cepat kemudian meneguknya dengan pelan.
" Terima kasih. " Ucap Hana mulai merasa legah
Jun tersenyum kecil kala melihat Hana yang makan dengan belepotan, Ia mulai meraih wajah Hana untuk menghapus sisa krim yang ada di sudut bibirnya, Sontak ketika Jun berhasil membersihkan sisa krim itu, Hana kembali merasa seperti ingin meledak, Ia memperhatikan wajah Jun dengan jarak yang cukup dekat, Dari mata, hidung, hingga bibirnya terlihat sangat sempurna dan baru kali ini Hana menyadari betapa tampannya pria itu.
" Kau kenapa? " Tanya Jun berhasil membuatnya sadar
" Tidak apa-apa, Pie nya enak aku suka." Lanjutnya kembali memakan pie tersebut
Jun meraih pisau dan mulai memotong pie miliknya, Begitu ia berhasil memotongnya dengan ukuran yang kecil Jun pun memberikannya kepada Hana sehingga membuat gadis itu lagi-lagi dalam mode ingin meledak.
" Kenapa dia bisa jadi manis begini?. " Benak Hana begitu gemas
\*
Keesokan harinya saat Hana telah selesai membuat makan malam, Hana tampak antusias sebab malam ini dia membuat makanan yang sangat spesial, Hana terlihat tengah menunggu kepulangan Jun di ruang makan sesekali ia melirik ke arah pintu berharap pria itu segera pulang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam dan pesan yang di kirimnya pun tak kunjung di balas membuat Hana cukup khawatir.
Sudah beberapa tempat yang ada di dalam rumah menjadi posisi Hana menunggu Jun, Dan kini gadis itu memilih untuk keluar rumah menunggunya, Gadis itu mondar mandir sambil mengusap tangannya untuk lebih hangat mengingat cuaca malam itu cukup dingin untuk berada di luar, Di lihatnya setiap mobil yang lewat dengan cermat namun tak ada satupun dari mobil tersebut adalah Jun.
" Kenapa dia tidak pulang? " Gumam Hana memelas.
*
Keesokan paginya Hana bangun lebih awal dan memastikan apakah Jun sudah pulang atau belum, Gadis itu mengetuk pintu kamar Jun pelan-pelan, Tak ada jawaban sehingga membuat Hana terpaksa membuka pintu kamar tersebut. Di atas tempat tidur tampak seorang pria yang tengah tertidur pulas masih lengkap dengan pakaian kantornya.
" Bagaimana mungkin dia bisa tidur seperti ini?." Gumam Hana mulai menyelimuti Jun dengan selimut
Bahkan saat dirinya mencoba untuk membuka sepatu Jun, Pria itu terlihat masih pulas dan tidak merasa terusik, Begitu Hana selesai menyelimutinya ia pun meninggalkan kamar dengan sangat hati-hati.
Hana kembali menutup pintu kamar Jun dan beralih ke dapur untuk membuatkan pria itu makanan saat dia bangun nanti.
*
Suara ketukan baru saja membuat Jun yang tersadar dari tidurnya segera menyahut dan menyuruh orang yang ada di luar untuk masuk ke dalam, Begitu pintu terkuak dirinya kembali merebahkan tubuh ke tempat tidur, Rasa pusing yang berlebihan membuatnya malas untuk banyak bergerak.
" Ini sudah sore, Apa kau baik-baik saja dengan tidur seperti itu? Aku sudah membuatkan sup miso untukmu dari tadi, Karena kamu tidak turun makanya aku langsung datang saja membawakannya untukmu. "
Jun mencoba untuk bangkit lagi namun perasaanya saat ini sedang tidak stabil, Kepalanya pusing dan suhu tubuhnya pun tidak normal, Hana yang menyadarinya segera menempelkan tangannya pada kening Jun, Sontak gadis itu langsung terbelalak dan segera mencari kotak P3K di kamarnya.
Selang beberapa menit Hana telah kembali dengan termometer di tangannya, Ia langsung memakaikan termometer itu pada telinga kanan Jun, Wajahnya sangat khawatir sehingga membuat Jun tampak senang di perlakukan seperti itu olehnya.
" 39 ? Bagaimana bisa suhu tubuhmu setinggi ini, Kita harus ke dokter ayo kita siap-siap " Ajak Hana sambil membantu Jun untuk bangkit.
" Tidak perlu, Di sini saja, Lagi pula dengan minum obat aku bisa sembuh dengan cepat. "
" Tapi badanmu panas sekali? Apa yang sudah terjadi sebelumnya, Apa aku memberimu makanan yang salah?. "
" Semalam aku pulang jam 2 malam, Cuaca di luar sangat dingin saat itu, Aku tidak tahu kalau akan terkena flu setelah itu. "
" Kau makan sup ini, Aku akan ke toko untuk membeli obat. "
Hana bergegas meninggalkan rumah dengan perasaan yang kacau, Sementara Jun merasa begitu bahagia akhirnya Hana memperlihatkan sikap yang berbeda, Jun benar-benar berharap kalau Hana juga memiliki perasaan yang sama dengannya.