
Pria itu berlari tergesa-gesa menuju ruangan yang bertuliskan Direktur , Langsung saja pria itu membuka knop pintu dan menatap wajah Jun dengan ekspresi yang terbelalak, Perlahan ia mengatur nafas sebelum mengeluarkan kalimat yang sudah di susunnya saat berlari menuju ruangan ini.
" Kau kenapa.? " Tanya Jun penasaran
" Pelakunya sudah di tangkap, Kepolisian bilang kalau pelaku di temukan di Hokkaido setelah mengecek manifes penumpang yang meninggalkan kota dari hari kejadian, Saat ini pelaku di bawa ke sel tahanan Tokyo untuk di tindak lanjuti. " Jelas Katakura
" Akhirnya aku akan tahu siapa yang membuat pria itu melakukan hal jahat padaku dan Hana. " Gumam Jun legah.
" Kapan biasanya Chika pulang sekolah? " Tanya Jun lagi.
" Biasanya jam begini sudah pulang, Kenapa.? " Tanya Katakura balik
" Tolong urus segala sesuatu yang ada di sini, Aku akan menjemput mereka. " Balas Jun tanpa menggubris pertanyaan Katakura sebelumnya.
" Dasar anak aneh. " Celetuk Katakura terkekeh-kekeh
Jun meninggalkan ruangannya dengan cepat, Sementara itu Katakura yang rada bingung dengan sikap aneh Jun hanya dapat menggelengkan kepala.
Di lain tempat, Hana yang telah selesai menemani Chika sekolah kini bergegas untuk segera pulang, keduanya menunggu Jun di pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapan mereka, Kaca jendela perlahan turun dan memperlihatkan sosok yang membuat Hana terkejut bukan main.
Seorang pria lain baru saja keluar dari mobil itu kemudian membukakan pintu mobil untuk Hana dan Chika.
" Masuklah. " Ucap pria yang tak lain adalah Presdir Misugi.
Awalnya Hana ragu untuk masuk ke dalam mobil, Tapi Sekretarisnya bilang kalau dirinya akan di ajak makan siang bersama hari ini, Walaupun alasannya terdengar bersahabat tapi Hana tahu kalau itu hanyalah cara Persdir untuk memperingatinya lagi.
Setibanya di sebuah restaurant Bintang lima, mereka tiba di salah satu ruangan vvip yang hanya bisa di pesan oleh orang sepertinya, Hana sendiri tidak biasa di ajak makan di tempat seperti ini bahkan saat Jun mengajaknya saja dia menolak dan balik mengajak Jun ke rumah makan sederhana.
Beberapa pelayanan mulai memasuki ruangan itu kemudian menyajikan berbagai macam makanan yang enak, Presdir kemudian meminta Hana dan Chika untuk menyantap hidangan tersebut, Chika tanpa ragu mulai makan sementara Hana masih berada di zona ketegangan, ia bahkan tidak sanggup untuk memegang sumpit.
" Kenapa tidak makan Hana-Chan? Aku sudah memesan makanan enak ini untuk kalian berdua, Ayo silahkan di makan. " Ucapnya begitu ramah
Di balik keramahan itu tersimpan sejuta pertanyaan di benak Hana, Gadis itu berusaha untuk bersikap santai dan mulai menyantap salah satu hidangan, Walaupun berusaha untuk santai nyatanya Hana masih merasa canggung.
Setelah menyudahi makan siang, sebelum meninggalkan ruangan itu, Presdir Misugi meminta Hana untuk mendengarkan penjelasannya, Hana sudah menduga akan hal ini sehingga ia tidak begitu terkejut dan mulai mempersiapkan diri.
" Aku mendengar kalau kemarin kau baru saja mengalami kecelakaan, Aku turut berduka tapi kau tahu Hana-Chan, Aku juga bersyukur karena saat kejadian itu Jun tidak ada di sana, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kalau saja dia ada pas kejadian terjadi. "
" Oiya, Kau masih memegang janji antara kita berdua kan.? " Lanjutnya menunggu jawaban dari Hana.
" Maaf tuan, Saya dan Jun sudah berpacaran. " Jawab Hana tanpa rasa takut.
" Wah.. Kau berani juga rupanya, Apa kau ingin membuat anakku terluka kemudian hari.? " Serang Presdir
" Saya berjanji tidak akan membuatnya terluka, Bahkan saya ingin melindunginya jika itu membuat anda menerima hubungan kami. "
" Jangan bermimpi Hana-Chan, Ini bukan kehidupan di negeri dongeng di mana seorang gadis biasa bisa bersama seorang pangeran. "
Presdir terdiam setelah mendengar penjelasan Hana barusan, merasa semua sudah cukup, Hana bergegas meninggalkan ruangan itu bersama Chika, Namun sebelum itu ia mengucapkan banyak terima kasih karena telah di teraktir makanan lezat hari ini.
*
Hana yang telah tiba di rumah seketika mengingat Jun yang berjanji untuk menjemputnya di sekolah, Gadis itu merogoh isi tasnya dan segera menemukan ponselnya, Namun sayang ponselnya mati total sehingga membuatnya cepat-cepat mencari charger, Hana berpikir kalau Jun pasti sangat khawatir karena tidak menemukan dirinya dan Chika di sekolah.
Baru saja Hana mencolokkan kabel charger pada ponselnya, Pintu terkuak dan menunculkan seorang pria yang baru saja masuk dengan terburu-buru, Melihat keadaan gadis yang di sayanginya baik-baik saja ia pun merasa begitu legah.
" Kamu dari mana saja? Aku sudah menelponmu beberapa kali tapi tidak aktif, Aku bahkan mencari kalian di tempat yang biasa di kunjungi oleh Chika tapi tidak ada, Membuat orang khawatir saja. " Celetuk Jun panjang lebar.
" Aku dan Chika makan di kedai ramen kemudian pulang ke rumah, Maaf karena tidak memberitahumu dulu. " Jawab Hana berusaha menutupi kebohongannya.
" Bohong, Hana-Onechan berbohong. " Sahut Chika membuat Jun dan Hana berbalik melihatnya
Hana beranjak memeluk Chika sembari membisikan kata-kata yang membuat gadis kecil itu menarik ucapannya barusan.
" Ada apa dengan kalian? " Tanya Jun melongo heran.
" Urusan perempuan kau tidak akan mengerti. " Lanjut Hana sambil tertawa garing
*
Malam itu Jun datang ke kantor polisi begitu pelakunya sudah tiba, Dengan ditemani Hana keduanya langsung berhadapan pada sebuah kaca besar yang menyambungkan dua ruangan, Dari sana Jun hanya dapat melihat pelaku yang tengah di interogasi oleh Seorang kepala kepolisian, Hana yang teringat kejadian waktu itu tampak bergetar ketakutan namun Jun dengan cepat menenangkannya dengan menggenggam tangannya.
Kepala polisi telah memberikan beberapa pertanyaan padanya namun pria itu tak menanggapinya sama sekali, Ia memasang wajah tak tersalah dengan kedua mata yang di permainkan, Seperti sebelumnya pria ini tidak akan mau bicara walau di pukul sekalipun.
Seseorang baru saja memasuki ruang interogasi dengan membawa sekantong kecil bubuk berwarna putih yang di yakini sebagai sabu-sabu, Pria itu bereaksi saat melihatnya dan mulai berusaha untuk merebutnya dari polisi yang masuk barusan.
" Kami akan memberimu ini kalau kau mengatakan yang sebenarnya. "
Menurut informasi baru, Pelaku merupakan pemakai narkoba yang sudah sangat parah itu sebanya dia bisa bersikap seakan-akan tidak bersalah, Dan setelah di perlihatkan bubuk putih itu dia mengeluarkan reaksi yang cukup mengejutkan.
Pria itu berbalik menoleh ke arah Jun dan Hana walaupun ia tak melihat mereka ada di sana tetapi pria itu tahu bahwa keduanya sedang memperhatikan dari luar.
Kemudian pria itu kembali duduk dengan wajah memelasnya, Tangisnya pecah sehingga membuat semuanya kebingungan dengan emosinya itu. Pria yang bernama Takada Kenshi itu mengaku kalau dirinya adalah seroang pekerja di taman hiburan Dreamland 3 tahun yang lalu, Dia di pecat oleh Jun karena kelalaiannya saat memperbaiki wahana yang saat itu membuat seseorang terluka saat memainkannya, Tidak terima dengan perlakuan Jun yang membuatnya di pecat waktu itu membuat Takada membenci Jun, Karena sikap sombong Jun, Takada tidak bisa menghidupi istri dan anaknya yang waktu itu sedang sakit parah.
Bertahun-tahun Takada mencari cara untuk balas dendam dan akhirnya ia mencoba melakukan kejahatan pada Jun waktu itu di taman bermain, Namun siapa sangka yang terkena adalah Hana, Dan setelah kebakaran yang terjadi di sel membuat Takada kabur, Dia bergabung dengan para yakuza di daerah Kanto dan di sana ia berkerja cukup baik dengan bekerja sebagai kurir berbagai macam narkoba, Sejak saat itu dia mulai kecanduan untuk memakai narkoba, Takada berkata kalau balas dendamnya masih ada sehingga malam itu dia datang untuk melukai Jun di rumahnya, Ia memutuskan semua aliran lampu saat itu dan membuat rekaman cctv ikut terputus, Tapi karena Hana sempat menutup pintu dengan cepat ia jadi tidak bisa masuk ke dalam.
Beberapa hari setelahnya dia kembali setelah membobol sandi rumah Jun, Saat itu ia ingin memasang cctv dan perekam suara untuk dapat mengontrol keseharian Jun sehingga ia bisa melukainya kapan saja Tetapi Hana datang memergokinya, Takada yang saat itu tiba-tiba sakau langsung menyerang Hana tanpa henti, Begitu Hana pingsan ia melarikan diri dari rumah Jun, Dan keesokan harinya berangkat ke Hokkaido untuk bersembunyi.
Setelah mendengar cerita Takada, Alih-alih kesal pada pria itu, Jun sedikit larut dalam perasaanya setelah mengetahui kalau dia melakukan hal ini hanya untuk balas dendam karena kepergian istri dan anaknya. Ada perasaan legah yang di rasakan Jun yang itu artinya tidak ada dalang di balik semua ini, Hana menatap Jun dengan sayu seakan ikut merasa kasihan pada Tadaka yang di tinggal seperti itu.