Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 9. Melewati Batasan Sendiri, Itu Tidak Sulit Ternyata



“Dria sudah berangkat?"


Sandro bertanya saat hendak masuk ke mobilnya. Timothy tidak heran lagi dengan pertanyaan tuan muda tentang Dria. Akhir-akhir ini perhatian Tuan Muda terhadap Dria makin bertambah, setiap hari ada saja yang ditanyakan mengenai Dria. Terlihat juga Tuan Muda suka canggung setiap ada Dria di sekitarnya, antara ingin menyapa atau sekedar mengatakan sesuatu tapi tertahan oleh sesuatu entah apa.


"Sudah Tuan, kurang lebih satu jam yang lalu..."


Akhirnya Timothy pun punya tambahan tugas tak resmi yang baru yaitu mengamati apa yang dikerjakan Dria mengantisipasi jika Tuan Muda menanyakan itu.


Mobil segera bergerak saat pak Mulyo melihat Tuan Muda duduk dengan baik di kursi belakang.


“Siapa yang selama ini mengantar Dria?”


Suara Sandro memecah kesunyian beberapa saat kemudian. Pertanyaan yang sudah lama ingin dia tanyakan hanya beberapa saat setelah dia menolak Dria semobil dengannya waktu itu. Dalam hati dia menyesali hal itu sekarang.


“Non Dria membawa mobil sendiri Tuan…”


Timothy menjawab sambil menoleh dari kursi depan, sejenak memperhatikan Tuan Muda yang matanya sedang memperhatikan jalanan yang mereka lewati.


“Ada banyak sopir, kenapa paman mengijinkan Dria bawa mobil sendiri?”


Dari suara Tuan Muda Timothy tahu ada nada tidak suka di sana.


“Non Dria sendiri yang meminta pada Tuan Besar, karena itu pak Lucas memberi ijin…”


“Ini perjalanan yang jauh, dia pasti kelelahan harus menyetir sendiri… harusnya Dria tidak diijinkan seperti itu, Dria perempuan, banyak hal bisa terjadi di perjalanan…”


Tuan Muda sekarang memikirkan kenyamanan Dria, ini tidak biasa tapi semakin jelas sekarang bagaimana posisi Dria di hati Tuan Muda. Timothy tak sabar ingin melaporkan lagi fenomena ini pada Tuan Besar Harlandy.


“Katanya non Dria terbiasa menyetir sendiri di kota S… mungkin karena Non Dria bersikeras seperti itu jadi Tuan Besar mengijinkannya…”


Sandro terpekur. Memperhatikan papinya sendiri yang terlihat memperlakukan Dria seperti seorang anak, membebaskan beberapa hal untuk Dria sama seperti perlakuan sang papi padanya, tidak terlalu mendikte atau menjadi ketat dalam aturan. Kekuasaan dan powernya tetap terlihat, tidak mengijinkan sesuatu terjadi di luar apa yang dia gariskan, tetapi bukan figur yang arogan atau otoriter. Walau akan tampak dominan dalam beberapa hal tapi sosok ini akan tetap menghargai keinginan Sandro walaupun tampaknya tidak setuju. Itulah sebabnya Sandro begitu menghormati sang papi.


Dan satu hal yang masih menjadi tanda-tanya besar Sandro dalam hati, sang papi tidak pernah mengarahkan dirinya untuk mewujudkan keinginan terakhir mendiang mami. Sebenarnya Sandro bisa merasakan ketidaksetujuan papinya terhadap Emma Lynne, tapi itu tak menghalangi Sandro untuk terus menjalani hubungannya dengan Emma.


Tiba di lantai yang hanya khusus untuk kegiatan pemegang kekuasaan tertinggi Mega Buana dan para sekretarisnya, Sandro keluar dari lift dan berjalan lebih dekat saat akan melewati meja Dria.


“Dee… kakak minta kopi sekarang…”


Sandro mengatakannya sambil berhenti sejenak di depan meja Dria, lalu tanpa menunggu jawaban segera berlalu dari sana meninggalkan Dria yang melongo karena terkejut Sandro meminta sendiri kopinya kali ini.


“Ah?? Eh… Apa Tuan? Maaf saya tidak memperhatikan…”


Dria mengatakan dengan suara keras karena Sandro terlihat tidak menghentikan langkah tetapi terus bergerak menuju singgasananya.


Sandro berjalan tanpa menjawab, dari yang dia tahu telinga Dria normal tidak ada gangguan.


Seperti baru saja melakukan sesuatu yang besar saja, akhirnya dia bisa mengatasi kecanggungan sikapnya pada Dria, Sandro mengangkat kedua sudut bibirnya tanpa ada yang melihat senyum nyata di wajah super tampan itu. Ternyata tidak sulit untuk melewati batasan yang telah dia ciptakan sendiri untuk Dria.


Seumur-umur baru saat menghadapi Dria Sandro bisa bersikap plin-plan, dengan wanita lain Sandro akan selamanya bersikap beku tak tersentuh. Dia memang membuat batasan soal interaksinya dengan kaum hawa sekalipun itu relasi penting. Sudah menjadi rumors di kalangan pebisnis bahwa Sandro seseorang yang tidak dapat didekati oleh para wanita, bahkan Audreey istri sahabatnya Miro merasakan batasan yang dibuat Sandro. Namanya sangat terkenal di kalangan pebisnis utama negara ini, tetapi sangat sedikit yang telah berjumpa dengannya secara langsung.


Mengenai hubungan Sandro dengan Emma, entahlah, yang pasti sejak kehilangan sang mami dan menyusul kepergian sang adik ke kota lain sepuluh tahun silam, Sandro menjadi trauma untuk kehilangan seorang wanita lagi yang dia sayangi. Dan kehadiran Emma Lynne tak sepenuhnya menghilangkan trauma itu, entahlah tapi sejujurnya hatinya tidak pernah merasa takut kehilangan Emma, dia tidak mengerti ini yang pasti Emma adalah pengecualian, dan hubungan mereka terjadi begitu saja dimulai dari beberapa kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan.


“Pak Timo… Tuan Muda meminta kopinya tadi?”


Dria mendekati Timo yang sedang menunggu pekerjaan Tuan Muda yang disiapkan Barry, memastikan apa yang didengar telinganya.


Bukan itu saja yang ingin Dria pastikan, tapi sebenarnya soal penyebutan ‘kakak’. Si Tuan Muda yang selalu menunjukkan wajah garang, beberapa waktu terakhir menjadi lembut padanya, tapi mempercayai telinganya sendiri saat mendengar suara Sandro yang menyematkan kata ‘kakak‘ untuk dirinya sendiri, bagi Dria terdengar sedikit aneh setelah selama ini Sandro bersikap seperti seorang bos kejam padanya dan dia sendiri terlanjur memposisikan Sandro sebagai Tuan Muda, sebagai atasannya.


Timo tersenyum memandang Dria yang sedang mencerna apa yang telah terjadi. Atmosfir secara signifikan telah berubah tampaknya, Tuan Muda sendiri telah membuka ruang interaksi untuk dirinya dan Dria, ini sesuatu yang baik, nampaknya Dria seseorang yang sangat istimewa sebenarnya untuk si Tuan Muda. Kemarahan dan rasa antipati yang ditunjukkan Tuan Muda secara berlebihan sebelum ini, menurut Timo bukan murni rasa marah yang sebenarnya, hanya sebuah sikap yang menutupi fakta bahwa Dria sebenarnya punya tempat istimewa karena Dria bukan orang lain.


“Apa kak Sandro kembali menjadi kakakku? Atau ini hanya bagian dari sebuah scene drama? Apa karena aku terlalu mengharapkan kak Sandro berubah seperti dulu, sehingga aku jadi sehalu ini?”


Dria masih meragukan apa yang tertangkap indra dengarnya serta fakta yang sedang berlangsung, kalimat Sandro di awal pertemuan mereka telah berhasil mengintimidasi Dria hingga detik ini.


Dria berjalan menuju ruang istirahat dalam langkah tak pasti lalu matanya mencari pandangan Sandro di balik dinding kaca. Sandro tidak melihat padanya, sekarang sibuk dengan pekerjaan yang sudah diletakkan di mejanya, tapi dari jarak yang cukup jauh, sekitar sepuluh meter Dria menemukan aura yang berbeda, walau tak ada senyum tapi wajah Sandro nampak tenang dan teduh. Wajah serius itu tak terlihat garang.


Setelah membuat kopi, Dria menuju ruangan sang'kakak'. Telah beberapa kali Dria masuk ke sini membawa kopi si Tuan Muda, tapi perasaan yang tumbuh sekarang melebihi saat pertama kali menginjakkan kaki dalam ruang yang begitu terbuka ini karena semua bisa dipandang dari luar. Hati Dria seperti sedang meletupkan sebuah perasaan, seperti sedang menantikan sesuatu yang besar yang akan terjadi untuknya. Dria berdebar, apakah dia telah menemukan sosok kakaknya lagi? Sepuluh tahun Dria telah mengharapkan pertemuan bahagia itu, dan telah tiga bulan melihat Sandro tapi dia menepis harapnya, sekarang ada harap yang sama yang kembali dan tumbuh dengan cepat.


Sandro mengangkat muka saat Dria telah dekat di mejanya. Sandro tersenyum, Dria terpana dan berhenti melangkah. Senyum Sandro membuat Dria seperti dapat memegang kembali benang layangan yang terlepas, seperti mendapatkan obat yang manjur sehingga sakit seketika menghilang. Mendapatkan sesuatu yang telah lama hilang itu sungguh menakjubkan. Dria coba membalas dengan sebuah senyum kaku sambil meyakinkan diri bahwa ini benar bukan fatamorgana, buka scene halu yang sedang tercipta di jaringan neuron khayal di otaknya saja.


“Dee… apa kopi kakak akan terus Dee pegang seperti itu?”


Suara lembut Sandro menghentikan otak Dria yang sedang memahami realitas.


“Ah? Eh… maaf…”


Dria kemudian meletakkan gelas kopi pertama hari ini. Entah kenapa si Tuan Muda menjadi lebih candu dari mereka, dia akan meminta lagi di sore hari.


“Terima kasih ya… Dee…”


Dria hanya mengangguk.


“Permisi…”


Hati ingin menyebut ‘kak Sandro’ tapi bibir terasa keluh dan kaku, walau begitu sejumput bahagia tak terhalangi lagi menyemai hati Dria. Dia berbalik dan berjalan keluar lalu mengukir senyum sambil mengembuskan napas lega, sesuatu telah terlepas dari hatinya, sikap Sandro yang tidak menjaga jarak lagi membuat dia terbebas dari rasa sedihnya berbulan-bulan di sini.


“Deedee…”


Spontan Dria berbalik dan Sandro sempat menangkap pemandangan yang menyenangkan, wajah Dria yang tersenyum dan Sandro merasa Dria sedang tersenyum untuk dirinya sekarang. Hati Sandro berdebar, senyum Dria begitu indah.


“Nanti, makan siang dengan kakak ya? Di sini... jangan turun makan di bawah lagi…”


“Ah? Eh… iya kak… iya…”


Hati Dria terasa penuh, kesepian di hati telah memudar sepenuhnya.


"Kak Sandro..."


Senyum di wajah Dria semakin lebar, Sandro juga tersenyum. Dengan cepat jiwa yang lara karena rasa kehilangan sepuluh tahun yang lalu terisi oleh sebuah rasa yang mereka pahami bersama, ikatan batin sebagai kakak dan adik yang saling menyayangi sekarang tidak dapat dibendung oleh apapun. Ini membahagiakan mereka berdua. Sandro tampak ingin bangkit berdiri dan datang ingin memeluk Dria,tapi Dria telah berbalik dengan cepat meninggalkan ruangannya.


Ini cukup untuk sekarang, sebuah lompatan yang tak terduga telah dia lakukan...


"Deedee, maafkan kakak..."


Dia ingin meneriakkan kalimat itu dengan keras. Seolah Dria tahu, kepala Dria memutar melihat Sandro lalu melepas senyum untuk sang kakak, Sandro membalas senyum itu.


.


.


🌼🌼🌼


.