Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 49. Hanya Diakui sebagai Adik?



"Gi..."


Beberapa kali Adel memanggil di ambang pintu kamarnya.


"Egi..."


Egi tidak menoleh atau menjawab, sibuk dengan kertas-kertas dan laptopnya. Dia selalu membawa pekerjaannya di rumah. Dua tahun sudah sejak lulus kuliah dengan rekomendasi salah satu dosennya Egi bekerja di sebuah Kantor Akuntan Publik. Egi menjadi pekerja keras dengan satu tujuan utama adalah membeli apartemen, dia ingin tinggal sendiri tidak ingin bersandar atau bergantung pada orang tuanya lagi. Mobil dia punya dibelikan oleh sang papa, dia menerima itu karena butuh.


"Egi... Apa tidak ingin mendengar tentang Sandriana? Aku punya sedikit informasi, mungkin kamu ingin mengetahuinya..."


Egi hanya melengos seperti tidak butuh walau dalam hati merasa penasaran. Apa yang diketahui Adel? Melihat adiknya diam saja bahkan tidak melihat padanya sebenarnya Adel ingin meninggalkan kamar adiknya saja, tapi sang mama telah memberi perintah untuk memberitahu Egi tentang Sandriana dan itu harus dilakukan karena sang mama menunggu laporan darinya.


Sejak kembali tinggal di kota ini lagi, hubungan Egi dengan orang tuanya menjadi datar, demikian juga dengan kakak perempuannya serta adik laki-lakinya. Sejak kecil Egi agak perasa, menjadi anak kedua membuat dia merasa tidak terlalu dipedulikan. Sang papa begitu sayang dengan anak perempuan tertuanya dan sang mama menjadi lebih sayang pada si bungsu.


Adel kemudian menuju ke sebuah kursi tunggal berbahan parasut.


"Sandriana pemilik tempat yang kita datangi beberapa hari yang lalu., dia belum menikah... dan aku melihat dia bersama seorang anak lelaki. Mungkin itu anaknya, dia berusia sekitar tujuh tahun. Apa kamu tidak penasaran tentang anak itu?"


Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut Egi sebagai respon terhadap apa yang disampaikan Adel, dia terlihat fokus pada layar laptopnya.


Adel yang menunggu akhirnya menyerah karena adiknya diam saja. Adel segera pergi meninggalkan kamar adiknya di lantai dua rumah mereka. Beberapa saat setelah Adel pergi Egi mengunci pintu kamarnya lalu duduk lagi di depan meja kerjanya. Tapi sekarang dia bukan lagi menggarap pekerjaannya, pikirannya segera penuh dengan semua hal tentang Sandriana.


Anak? Tujuh tahun? Perasaan apa yang dia miliki tentang keberadaan seorang anak jika itu memang ternyata anaknya? Apakah dia berhak memiliki perasaan seorang papa? Apakah dia layak bertemu anaknya?


Egi merasa tiba-tiba tubuhnya menjadi terasa panas, merasa sangat marah dengan keadaan baik di masa lalu maupun sekarang, situasi yang menunjuk dengan jelas tentang siapa dirinya, dia merasa hanya sebagai seorang pecundang yang tidak berani melakukan sesuatu untuk Sandriana.


Egi turun ke ruang makan mencari air es untuk meredakan panas dan amarah yang bergejolak di hati.


"Egi... Kamu sudah dengar apa yang Adel sampaikan bukan?"


Mama menyambutnya di ruang makan. Egi tak menghiraukan apa yang diucapkan sang mama, dia mengambil gelas lalu mengambil air es di dispenser.


"Gi, cari tahu tentang anak itu, dia darah dagingmu... kamu harus bertanggung jawab."


Egi yang emosinya sedang naik langsung menatap mamanya dengan tajam.


"Tanggung jawab? Mama bicara tanggung jawab sekarang? Dahulu mama tidak menghiraukan itu, mama yang membuat aku tidak bertanggung jawab terhadap kesalahanku."


"Waktu itu tanggung jawabmu adalah sekolah, kalau mama tidak memaksamu tetap sekolah apa kamu akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang baik seperti sekarang? Mama memikirkan masa depanmu, Reginald!"


"Itu hanya alasan mama! Mama menekanku, mama tidak memberi aku kesempatan bahkan untuk menjelaskan pada Sandriana bahwa aku tidak pernah berniat meninggalkan dirinya."


"Kamu tidak meninggalkan Sandriana, kamu hanya mempersiapkan masa depan untuk kalian, kalau mama tidak bertindak benar memindahkan sekolahmu kamu tidak akan fokus. Sekarang saatnya kamu menemui Sandriana untuk kepentingan anakmu, belum terlambat jika kamu mau bertanggung jawab."


"Belum terlambat? Mama punya hati tidak? Apa mama pikir aku masih punya muka untuk menemui Sandriana setelah membiarkan dia dan setelah aku menghancurkan hatinya? Aku sangat bersalah padanya Ma, aku sangat malu untuk menemuinya..."


Egi serasa mau meneriaki mamanya, emosi sudah menguasai hati dan pikirannya.


"Kamu bisa minta maaf jika kamu merasa bersalah."


"Akkhhh dam*n! Mama pikir semudah itu?????"


Kali ini suara Egi keluar dengan emosi yang terlepas sepenuhnya.


"Egi?? Kamu kasar. Kamu meneriaki mamamu sendiri? Kamu memaki mama Egi..."


Bahkan Egi ingin melemparkan gelas di tangannya pada mama untuk melampiaskan seluruh amarah yang mungkin sudah ada di hatinya sejak delapan tahun yang lalu. Jika tidak mengingat karma dan jika tidak mengingat tentang rasa hormat pada mama yang sudah melahirkannya, ingin sekali Egi melakukan itu. Sedikit akal sehat masih memegang kendali saat ini sehingga dia hanya melempar asal gelas di tangannya ke atas meja makan.


Egi meninggalkan ruang makan sebelum amarahnya mencapai puncak dan membuat dia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.


.


🦀


.


Dorongan hati yang dipenuhi rasa bersalah atau dorongan karena hubungan cinta yang tidak selesai atau mungkin keduanya membuat Egi menjatuhkan pilihan menghabiskan hari minggunya di tempat ini.


Beberapa kali dia menahan hatinya untuk melakukan ini, sebulan berlalu sejak pertama kali melihat Sandriana lagi dan sejak bertengkar dengan sang mama. Akhirnya Egi menyerah untuk menuntaskan kegelisahan hatinya terhadap sosok cinta masa lalunya yang masih bertahan hingga sekarang. Terutama mengenai sesuatu yang sangat mengganggu yaitu info tentang seorang anak lelaki.


Nama tempat ini Aubrey Park, Egi segera bisa memastikan bahwa tempat ini benar-benar milik Sandriana, dia hafal itu nama kedua Sandriana. Nama kafe tempat dia duduk sekarang S2 Cafe n Resto, mengenai ini Egi memperkirakan huruf S diambil dari inisial nama Sandriana, tetapi angka 2 entah bermakna apa.


Egi telah mengitari kafe ini dan menemukan banyak hal yang mencirikan Sandriana. Cafe dan resto ini sangat luas dan mengusung tema restoran keluarga ramah anak. Konsep kayu di bahagian terbesar ruangan kafe ini menunjukkan itu.


Ada spot yang menggunakan bean bag, sofa, kursi kayu, ataupun tempat duduk panjang dengan bantal-bantal, nampaknya bagian ini dibuat senyaman mungkin untuk anak-anak. Sandriana suka dengan boneka ayam dan di spot ini ada gambar, foto dan lukisan lucu bertema ayam kecil.


Ada spot yang disediakan untuk mereka yang membutuhkan tempat nyaman untuk menggunakan internet sekaligus bisa untuk meeting informal, meja kursi bar yang tinggi-tinggi juga beberapa set sofa nyaman yang disekitarnya dilengkapi dengan banyak stop kontak menjadi ciri spot itu.


Dan tersedia juga dua ruangan yang terpisah berdinding kaca untuk berkaraoke.


Bagian outdoor juga didesain sangat nyaman menghadap ke taman yang sangat luas yang menjadi antara dengan toko S2 Houseware.


Egi telah berada di sini kurang lebih empat jam, berharap melihat sosok Sandriana, belum ada keberanian untuk menunjukkan diri hanya ingin melihat saja.


Di rumah dia mencari foto dia berdua Sandriana, ada perbedaan mencolok fisiknya yang dahulu dengan sekarang. Dahulu dia dan Sandriana tidak berbeda jauh tinggi badannya, dahulu badannya sangat kurus, sekarang bentuk tubuhnya jauh lebih tinggi dan menjadi lebih berisi dan terbentuk. Mungkin itu alasannya Sandriana tidak mengenalinya, terlebih saat berjumpa waktu itu dia menggunakan kacamata hitam dan topi.


Dengan cara berpakaian yang sama, mennggunakan topi dan kacamata hitamnya Egi datang ke sini. Makan siang sudah, minum kopi sudah, telah tiga kali berpindah tempat duduk, terakhir dia duduk di tempat yang sama seperti waktu melihat Sandriana berharap Sandriana datang ke kafe. Sering juga menajamkan pandangan ke arah toko untuk menemukan sosok Sandriana di antara banyak pengunjung hari ini.


Egi kemudian memutuskan duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di bagian tengah toko. Duduk tanpa melepaskan kacamata dan sekarang benar-benar mengamati setiap wanita yang melewatinya di balik kacamata hitamnya. Jika ada sosok yang profilnya mirip Sandriana dia kan melihat lebih lama.


Dan keinginannya dikabulkan semesta. Ada Sandriana di toko ini, sosok yang ingin dilihatnya selama beberapa jam di tempat ini.


Di tempatnya, tanpa tahu sedang diamati seseorang, Sandriana memegang tangan Jojo sambil berjalan dengan riang.


Sandriana baru sehari tiba di kota S lagi setelah kurang lebih sebulan lamanya dia ke ibukota. Rencana hanya satu minggu menjadi satu bulan karena si Tuan Muda yang punya seribu alasan menahannya berlama-lama di rumah besar. Dria akhirnya meluluskan permintaan sang kakak karena memang merindukan rumah itu dan semua teman-temannya di sana.


Dan saat kembali ke S dia membawa Jojo yang sedang libur sekolah.


"Bagaimana? Apa masih berniat pulang sekarang?"


"Rasanya aku mulai merasa sedikit betah di sini kakak Dria..."


"Sedikit betah ya? Mmmh... berarti sebentar malam saat mau tidur Jojo tidak akan menangis lagi?"


"Mungkin aku akan sedikit menangis kakak Dria, apa boleh?"


"Mmmh... baiklah, Jojo boleh sedikit menangis, wah... Jojo semakin pintar. Berarti besok tidak akan menangis dan meminta pulang ya?"


"Ehhh... iya iya... aku akan mencoba satu hari lagi, jika aku masih merindukan ayah dan ibuku, kakak harus mengantarku pulang..."


"Ahhh? Ayahmu yang akan menjemputmu minggu depan..."


"Kakak Dria... minggu depan itu berapa hari dari sekarang?"


"Sebentar kakak hitung... ahh itu tujuh hari..."


"Itu lama sekali kakak, aku pasti akan meninggal karena merindukan ayah dan ibuku..."


Jojo menjawab sendu tapi Dria hampir tertawa karena kalimat dramatis Jojo, ini karena untuk pertama kali Jojo bepergian tanpa ayah ibunya. Dria melihat di kursi panjang hanya ada seseorang yang sedang duduk, dengan menahan tawa Dria menarik Jojo ke tempat duduk itu, menunggu Jojo duduk lalu Dria duduk di sampingnya.


"Dengar, Jo... Kamu tidak akan meninggal karena rindu... Mmmh... bagaimana kalau setiap kali kamu rindu ayahmu kita membuat kue kesukaanmu... setuju?"


"Kue?"


"Iya... kali ini kamu akan menikmatinya sendiri... kakak akan membuat yang banyak untukmu..."


"Ehhh... baiklah... kakak..."


"Wah... Ini baru namanya pria tangguh, bukan pria pengecut."


Seseorang yang duduk di dekat mereka menundukkan kepala, seperti kalimat itu ditujukan padanya. Dalam duduknya yang menjadi gelisah karena Dria begitu dekat, Egi masih memperhatikan percakapan mereka.


"Sebentar ya, hp kakak berbunyi..."


Dria mengambil gawainya dari saku celana longgarnya dengan tangan satunya memegang tangan Jojo. Anak lelaki berusia ini hampir sebelas tahun tetapi karena tubuh kecilnya dia masih terlihat seperti anak kecil saja.


"Ahh dari ayah, kakak jawab panggilan dulu ya..."


.


"Iya ayah?"


"Ayah akan terlambat pulang, nak..."


"Tidak apa-apa ayah... nikmati acara ayah saja..."


"Baiklah, ayah hanya memberitahu hal ini..."


.


Telpon sudah ditutup.


"Apa itu ayahku?"


Dria menatap Jojo yang matanya memandang penuh harap.


"Ahh... Iya... "


Dria pura-pura meneruskan panggilan.


"Ayah Jojo... Jojo tidak terlalu rindu, Jojo baik-baik saja..."


Dria mengusap kepala Jojo.


"Ayo... kita ke rumah, kamu harus makan malam..."


Dria meninggalkan kursi panjang tempat di mana Egi duduk dan mendengar semua percakapan Dria dan Jojo. Hatinya teriris. Apakah anak lelaki itu hanya diakui adik oleh Sandriana? Kenyataan ini semakin memperdalam rasa bersalah di hatinya. Egi berdiri lalu mengikuti Dria dari belakang dengan memperhitungkan jarak.


.


.