Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 14. Menjadi Tanggung Jawab



Pagi-pagi, setelah selesai dengan aktivitas menjaga kebugaran tubuh, Sandro siap-siap untuk mandi. Dia mendinginkan tubuh setengah telanjang dengan berdiri di depan jendela kamarnya yang besar yang sudah terbuka, sekaligus menunggu keringat benar-benar berhenti mengalir keluar dari tubuhnya. Udara segar pagi hari dihirupnya berkali-kali sambil memandang keluar jendela, sambil terus menyeka beberapa bagian tubuhnya dengan sebuah handuk kecil.


Seorang pelayan pria yang menyiapkan kebutuhannya untuk membersihkan diri serta menyiapkan pakaiannya telah keluar, berganti dengan Timothy yang sudah rapih.


Timo mengambil tas si Tuan Muda untuk diisi dengan semua kebutuhan pribadi seperti dompet, dua hp dan tablet, serta sebuah pena mas milik sang mami yang selalu dibawa ke mana-mana.


Salah satu hp berbunyi, panggilan dari Emma Lynne.


"Tuan... Nona E..."


"Biarkan saja..."


Si Tuan Muda menuju ke kamar mandi dan Timo memeriksa gawai yang tidak memiliki sandi itu. Dia diijinkan untuk melakukannya, selama ini hampir tak ada rahasia di gawai Tuannya yang tak diketahui Timo termasuk sekarang si Tuan Muda yang telah mengganti wallpaper dengan foto selfie berdua Non Dria, jika melihat foto Sandro merangkul Dria seperti itu, jadi terlihat seperti pasangan kekasih. Timo tersenyum, apa yang diduganya lewat perubahan sikap si Tuan Muda mulai terbukti.


Dia merasa itu wajar jika Tuan Muda menyukai Non Dria, gadis itu terlalu menggemaskan untuk seorang pria dewasa, jangankan Tuannya Timo saja mengakui pesona si Nona Muda dalam kepribadiannya yang sederhana tapi sangat memikat. Terlebih dia tahu soal perjodohan yang sedang dijalankan secara diam-diam oleh Tuan Harlandy, dia merasa bahwa si Tuan Muda tidak menyadari hal itu sebab Tuan Besar tidak pernah menekan bahkan menyebutkan hal itu. Hanya dia dan pak Lucas yang tahu strategi Tuan Besar, dan nampaknya hal itu sesuai harapan, benar adanya bahwa cinta dapat tumbuh seiring waktu.


Dan setelah hampir delapan bulan berlalu, setelah hubungan si Tuan Muda dan Nona Muda mencair, Timo mulai memastikan bahwa mulai ada benih itu di hati si Tuan Muda. Mungkin karena Non Dria mirip Nyonya sehingga Tuan Muda merasa nyaman, atau pembawaan Non Dria yang selalu ceria, entahlah, selalu menjadi sebuah misteri apa yang menyebabkan tumbuhnya rasa suka pada seseorang. Para pelayan yang puluhan tahun mengabdi di sini memang mengatakan Non Dria sangat mirip Nyonya Besar, selalu tersenyum dan tidak pernah memandang mereka sebagai pelayan.


Ada sembilan panggilan tak terjawab dari Emma Lynne. Tumben kekasih Tuan Muda rajin menelpon, itu tidak pernah terjadi sebelum ini. Nona itu terlalu tak acuh sebelumnya, mungkin dia beranggapan bahwa hubungannya dengan Sandro begitu kuat. Memang selama tiga tahun ini terlihat seperti itu, Tuan Muda tidak pernah punya teman wanita lain, dan nampaknya Emma sangat percaya diri bahwa hubungan mereka akan selamanya baik.


Akhirnya gawainya sendiri yang berdering. Timo merogoh saku celananya dan dia tidak kaget lagi jika pada akhirnya kekasih si Tuan Muda menghubungi gawainya seperti kejadian tadi malam. Nampaknya dia akan mengalami ini di hari-hari selanjutnya jika menilik sikap Tuan Muda yang lebih cenderung mengabaikan Emma sekarang.


Ahh... Dia harus mulai menyiapkan kalimat terbaik untuk menangani situasi ini. Timo menjawab panggilan di gawainya.


.


"Iya halo..."


"Tim... Kenapa Sandro tidak menjawab panggilanku?"


"Tuan Muda sedang mandi Nona..."


"Kamu ada di mana? Kenapa kamu tahu Sandro sedang mandi?"


"Saya ada di kamar Tuan Muda..."


"Saya menghidupkan video call..."


"Maaf Nona... saya tidak mungkin mengaktifkan kamera, Tuan tidak lama lagi selesai mandi..."


"Tim... saya ingin tahu apa benar dia sedang mandi!"


"Astaga Nona... Saya tidak mungkin mengarahkan layar ke kamar mandi, meskipun itu tidak dikunci..."


"Timothy, alihkan panggilan sekarang!"


Timo tersentak, suara bernada arogan membuat dia sedikit terkejut, nampaknya kekasih Tuan Muda ini sedang emosi karena panggilannya tidak dijawab Tuan Muda. Timothy akhirnya mengaktifkan kamera dan mengarahkan layar sejenak ke kamar mandi dan kemudian memilih mengarahkan kamera ke arah setelan jas warna biru navy yang sudah disiapkan Age, pelayan yang khusus mengatur kamar ini sekaligus yang menyiapkan kebutuhan outfit Tuan Muda.


"Ini pakaian yang akan dikenakan Tuan Muda..."


Lalu dengan cepat mengedarkan gawainya mengitari ruangan. Bunyi pintu kamar mandi membuat kepala Timo mengarah ke sana.


"Ini benarkan kamar Tuan dan Tuan tidak ada di sini, maaf Nona Emma saya harus mematikan panggilan sekarang, Tuan sudah selesai mandi..."


.


"Timo, kasih tahu Dria, tidak boleh membawa mobil sendiri, semalam dia kelelahan..."


"Sebaiknya Tuan sendiri yang memberitahu hal itu pada Non Dria, karena kalau saya yang melakukan Non Dria pasti tidak akan serius menanggapinya..."


Dua buah kalimat ini sempat terdengar seseorang di negara seberang karena Timo terlambat menekan tombol merah di gawainya.


"Sebaiknya Tuan menjawab panggilan Nona Emma," sambung Timo kemudian.


"Jangan mengaturku Timo!"


Tuan Muda menyambar perkataan Timo dengan cepat sambil mengenakan kemeja putihnya.


"Maafkan saya Tuan..."


Siapa yang dapat mengatur Tuan Muda tentang tindakannya? Timo tahu dia tidak bisa, tapi begitulah kadangkala bibirnya keceplosan mengatakan sesuatu yang menurutnya penting, untung si Tuan Muda bukan tipe yang cepat naik darah walau suka menanggapi kelancangan Timo dengan kesal.


Timo memang tidak membantu si Tuan Muda mengenakan pakaian ataupun memakaikan sepatunya, Tuan Muda tidak harus dilayani sampai sebegitunya, tapi sejak awal dia bekerja untuk Tuan Muda, waktunya untuk bekerja telah dimulai sejak Tuan Muda terbangun hingga berbaring, walau banyak kali hanya berdiri diam sambil memperhatikan Tuan Muda bersiap ke kantor, seperti sekarang ini.


Si Tuan Muda mengamati bayangan dirinya di cermin, merasa yakin penampilannya telah sempurna Sandro melangkah keluar dari kamar.


Sandro tidak langsung turun ke bawah tapi lurus melangkah menuju pintu kamar Dria lalu mengetuk beberapa kali.


Pintu terbuka, tapi senyum Sandro langsung berubah ketika bukan wajah yang ingin dilihatnya yang muncul di balik daun pintu yang terbuka.


"Maaf Tuan... Non Dria sudah turun sejak tadi, saya sedang membersihkan kamar..."


Sandro seperti melesat ke bawah, melangkah dengan cepat seolah tak sabar untuk menemui si adik tersayang. Timo melangkah santai di belakang Tuannya, jika mengenai urusan yang satu ini, urusan hati si Tuan Muda, dia tak ingin ikut mengurusinya, dia tahu batasannya.


Di ruang makan yang besar dengan meja makan yang besar, hanya ada Tuan Harlandy yang menikmati sarapan, dan pak Lucas sedang duduk diam di sebuah kursi tak jauh dari Tuan Besar.


"Dria mana, Pi?"


"Baru saja pamit pergi."


"Kenapa dia berangkat sepagi ini?"


"Dia pamit hendak mencari penjual bunga..."


Pak Lucas menjawab si Tuan Muda.


"Bunga? Kenapa bukan paman yang melakukan atau menyuruh salah satu pelayan?"


"Non Dria ingin melakukan itu sendiri, saya sudah memberitahu tempat penjual bunga yang paling dekat dari sini..."


"Untuk apa Dria mencari bunga paman?"


"Saya tidak menanyakan itu, Tuan... Biasanya perempuan senang bunga, kan..."


Pak Lucas diam, Tuan Muda duduk untuk menikmati sarapannya.


"Apa Dria sempat sarapan?"


"Ada Tuan..."


Pak Lucas menjawab lagi sambil saling pandang dengan Tuan Harlandy, bos yang dia layani puluhan tahun dan sejalan dengan waktu akhirnya hubungan mereka menjadi hubungan persahabatan yang saling menghibur membagi kesepian karena masing-masing telah ditinggalkan istri mereka.


"Pi... Kenapa papi mengijinkan Dria membawa mobil sendiri? Ke kantor butuh hampir satu jam, itu melelahkan, kasihan dia... apalagi jika macet... lagi pula banyak resiko di perjalanan. Mulai besok Dria akan berangkat kantor bersamaku."


"Alasan Dria meminta berangkat kantor dengan membawa mobil sendiri itu siapa penyebabnya? Papi hanya menuruti permintaan Dria yang lebih nyaman seperti itu."


"Ahh... Itu dulu Pi... mulai sekarang sesuatu mengenai Dria akan jadi tanggung jawabku..."


Sandro berkata yakin dengan suara tegas, baik Tuan Harlandy maunpun pak Lucas tidak menyanggah, kedua orang yang usia mereka sudah melewati setengah abad itu hanya menyembunyikan rasa senang di hati, itulah yang mereka harapkan dan tunggu-tunggu selama ini. Mereka belum lupa bagaimana pedulinya Sandro jika tentang Dria di masa lalu, dan ini yang mereka temukan sekarang. Jika Sandro telah sepeduli ini dengan Dria, maka Tuan Besar Harlandy merasa bahwa harapannya telah mendekati kenyataan, sebagai ayah, sedikitnya ada hal yang bisa membuatnya yakin tentang hati anaknya.


.


Di situasi yang berbeda, Dria ternyata melupakan dompetnya di atas meja di dalam kamarnya, padahal dia butuh uang hari ini, dia akan membeli sesuatu. Terpaksa mobil yang dikendarainya dia putar balik arah untuk kembali ke rumah. Terburu-buru, sesampainya di rumah besar Dria memarkir kendaraannya tepat di belakang mobil sedan hitam milik Sandro yang sudah siap di depan pintu utama rumah besar ini. Dengan berlari Dria masuk rumah dan segera menuju lantai dua.


Bersamaan dengan itu Sandro dari ruang makan berjalan menuju pintu utama untuk berangkat ke kantor, pengaruh yang luar biasa dari Dria sekarang Tuan Muda berangkat ke kantor lebih pagi. Sandro tidak sempat melihat sosok Dria yang telah naik ke ruang atas.


Sampai di luar, mata Sandro menyipit memperhatikan mobil yang terparkir di belakang mobil yang sering dia gunakan sekarang yaitu sebuah sedan mahal dan mewah berwarna hitam.


Sandro mendekati mobil silver miliknya dan seketika mukanya menjadi merah karena emosi.


"Kenapa mobil ini di sini?"


"Saya tidak tahu, Tuan... saya baru dari dalam, tadi belum ada di sini..."


Pak Mulyo yang sudah standby di samping mobil hitam memberi jawaban.


"Panggil Rusli!"


Emosi di wajah si Tuan Muda bertambah setelah matanya menemukan bahwa mobil kesayangannya yang tadinya mulus sekarang penuh baret di kiri kanan body mobil, juga ada beberapa bagian yang terlihat penyok. Sandro berputar mengelilingi sambil memeriksa mobil itu dengan rasa geram yang semakin bertambah.


Tak lama Rusli datang dengan tergopoh-gopoh. Rusli adalah karyawan yang khusus menangani perawatan mobil-mobil mereka yang jumlahnya lumayan banyak.


"Kenapa mobil saya jadi seperti ini? Siapa yang ijinkan mobil ini digunakan hahhh?"


Teriak si Tuan Muda dengan kemarahannya yang segera meluap.


"Pak Lucas, Tuan... Saya tidak berani..."


"Siapa yang kurang ajar berani menggunakan ini tanpa ijin, lihat... semua goresan ini!! Ahhh!!!"


Suara si Tuan Muda seolah membahana menyalurkan kemarahannya.


"Saya tidak pernah mengijinkan siapapun, ingat, siapapun tidak boleh menggunakan mobil saya! Lihat ini!?! Mobil ini sangat berharga, kalian merusaknya!!!"


Si Tuan Muda menendang dengan marah bagian mobil yang penyok, ini membuat Rusli tidak bisa menjelaskan lebih banyak. Demikian juga Timo yang tahu siapa yang membawa mobil itu tidak bisa bicara, karena reaksi Tuan Muda sungguh di luar dugaan, pak Mulyo juga tidak dapat memberitahu siapa yang menggunakan mobil itu, mulut mereka semua terkatup karena suara si Tuan Muda sudah menggelegar seperti itu.


Di belakang si Tuan Muda Dria langsung ketakutan, dia mendengar dan melihat kemarahan kakaknya, dan dialah penyebab mobil mulus sang kakak sekarang menjadi seperti ini. Dia memang bukan driver yang penuh kehati-hatian, itulah mengapa kadang dia menyenggol sesuatu di jalanan atau di tempat parkir.


Tuan Muda sekali lagi menendang mobil silver miliknya, mobil kesayangannya, mobil yang digunakan terakhir kali mengantar mami ke rumah sakit. Ingatannya tentang mami yang terakhir kali berbicara dengannya yang sedang panik, masih meminta dia untuk berhati-hati berkendara. Beberapa waktu setelah itu mami tidak sadarkan diri, tidak bicara lagi dan setelahnya mami kembali ke rumah dengan mobil ambulance. Itulah sebabnya dia tidak menggunakan mobil itu lagi, dia ingin menyimpan memori terakhir dengan sang mami dengan baik.


Ini satu-satunya mobil milik mereka yang bertahan di garasi selama bertahun-tahun, mobil lain telah berganti dengan yang baru dan mobil silver itu masih dipertahankan dan tidak pernah digunakan lagi.


Kemarahan si Tuan Muda membuat dia melengos saat melihat sosok Dria di situ, dia langsung naik ke mobilnya sambil membanting pintu.


Dria menangis melihat itu, jika kak Sandro tahu dia yang selama ini menggunakan mobil itu berarti kemarahan kak Sandro ditujukan kepadanya, terlebih kak Sandronya tidak peduli padanya walau sudah melihat Dria.


Mobil Sandro telah berangkat, Dria mendekati Rusli dan mulai tidak bisa menahan tangisnya, airmata sudah jatuh di pipinya.


"Pak Rusli... maafkan saya pak, tidak berhati-hati membawa mobil..."


"Eh... Non...ti... tidak masalah Non.... saya juga belum sempat memperbaiki yang ini sehingga terlanjur dilihat Tuan Muda... untung yang lain sudah saya perbaiki...."


"Kita bawa ke bengkel ya pak... sekarang saja..."


"Iya...nanti saya urus ini Non... Non Dria tidak usah khawatir..."


"Tapi... saya ingin ikut ke bengkel pak..."


"Tidak usah Non... Ini tugas saya."


"Saya... saya tidak tahu jika Tuan Muda tidak mengijinkan orang lain menggunakan mobilnya, maafkan saya memilih menggunakan mobil ini. Ke... kenapa pak Rusli tidak memberitahu sejak awal kalau mobil ini tidak bisa saya gunakan?"


Dria berkata pelan sedikit tersendat karena sedang berusaha menguasai dirinya untuk menghentikan tangisnya.


"Saya juga tidak tahu Non, saya juga kaget Tuan Muda bisa semarah itu."


"Kenapa Tuan semarah itu?"


"Saya tidak tahu Non... Ini mobil paling tua di sini..."


Dria mengeringkan airmata di pipinya, dia ingin sekali minta maaf pada kak Sandro, tapi wajah kakaknya tadi terlihat begitu angker. Dria jadi takut berangkat ke kantor, takut bertemu sang kakak.


.


.


Hi pembaca yang baik.... Semoga sehat selalu, masih enjoy dengan alurnya atau mulai terasa membosankan 🤔


.


🐢🐢🐢


.