
Tuan Muda datang secara khusus di tengah padatnya kesibukan kerjanya untuk melihat rumah yang sudah selesai. Setelah bertemu kontraktor dan tim konsultan untuk serah-terima rumah, Sandro dan Dria mengitari rumah ini ruangan demi ruangan untuk memeriksa hasil akhir rumah yang sudah full furnished. Sandro mewujudkan keinginannya untuk rumah impiannya di sini dengan model rumah yang sangat berbeda dengan rumah di kota J.
Rumah berlantai dua ini dibangun dengan gaya modern minimalis, bukan karena terbatasnya lahan tetapi konsep rumah inilah yang dipilih Sandro. Memang ruangan-ruangannya berukuran besar dengan gaya arsitektur menonjolkan bentuk-bentuk geometris tanpa dekorasi dan furniture yang berlebihan serta tidak banyak sekat. Ada beberapa bagian yang dipartisi bukan untuk memisahkan ruangan tetapi hanya dengan alasan dekoratif untuk menambah kesan estetik saja. Yang paling menonjol adalah adanya lift untuk naik ke lantai atas.
Rumah ini juga menjadi menjadi salah satu perwujudan cinta Sandro untuk Dria, mempertimbangkan Dria yang akan selalu berada di kota ini karena ayahnya. Ayah Rahmadi telah menetapkan untuk tinggal di kota kelahirannya sampai akhir hayatnya, dan Dria terlihat sangat peduli dengan sang ayah. Cintalah yang membuat segala-galanya menjadi istimewa dan berharga, begitulah perasaan si Tuan Muda terhadap Dria. Dria semakin diperlakukan istimewa karena posisinya begitu berharga untuk si Tuan Muda.
“Kakak… ini sudah selesai seratus persen ya?”
“Sudah… sudah bisa ditempati… pindah ke sini saja, Dee… beritahu ayah…”
“Ayah sudah mengatakan beberapa kali… ayah tetap tinggal di rumah mungil kami… mungkin kalau kakak yang minta baru ayah berubah pikiran… Dee juga agak takut rumah sebesar ini hanya tinggal bertiga dengan Tety dan ayah…”
“Paman sudah aku minta mencari pelayan untuk rumah ini, ada beberapa pelayan lama yang dahulu minta berhenti sekarang sedang paman hubungi…”
“Ahh?? Pak Lucas?”
“Iya…”
“Ahh kakak… tidak usah seperti itu, cukup di rumah besar sana yang memiliki pelayan dengan jumlah banyak, di sini tidak usah…”
“Yah sudah, terserah nyonya rumah saja…”
Sandro meraih salah satu tangan Dria yang berjalan di depannya, menikmati setiap bagian rumah yang mereka lewati dengan antusias.
“Nyonya rumah? Siapa?”
Dria berbalik menatap kakaknya dengan tetap melangkah mundur, satu tangannya sekarang memegang tangan Sandro yang sedang memegang tangannya yang lain.
“Pura-pura tidak tahu…”
Tangan Sandro yang bebas mencubit hidung Dria.
“Ahh… Iya benar, aku pura-pura tidak tahu dan pura-pura terkejut…. Siapa? Itu Aku???”
Dria membuat drama, matanya membulat sempurna dan membuat Sandro yang gemas dengan raut Dria segera meraih punggung Dria dan melancarkan satu ciuman panjang, ciuman yang lama sekali baru bisa dia lakukan karena setiap kali ingin melakukan perasaannya selalu bias, perasaan sebagai seorang kakak yang muncul di hati seringkali mengganggu niatnya.
Sekarang Sandro membebaskan hati dan otaknya dari tuduhan tentang ketidaklaziman, karena hubungan kakak-adik yang sebelumnya begitu melekat. Dengan berani Sandro melu*mat bibir yang selalu mengundang hasratnya itu. Sejenak mereka melebur rasa dalam sebuah nikmat tautan dua bibir yang saling berpagut. Untuk pertama kali Sandro mengikuti gelora jiwanya tentang keinginan akan keintiman ini. Awalnya Sandro ragu karena berpikir Dria akan menolak, ternyata yang terjadi Dria dengan spontan merespon membuat ciuman terjadi dalam durasi yang panjang.
Keindahan rasa untuk Sandro, apa yang dia angankan yang telah tercatat dalam sistem saraf tentang keinginannya menjadi kenyataan. Lembutnya bibir Dria seperti gelombang listrik yang memicu naiknya sejumlah zat sehingga tubuhnya melepaskan semua hormon yang menghasilkan semua rasa cinta, semua rasa senang dan semua rasa bahagia sekaligus candu sehingga terus melakukan dan menikmati bibir Dria semakin dalam.
Ketika rasa semakin mendesak, Dria sadar akan sesuatu di masa lalu yang dimulai dari ciuman. Dria melepaskan ciuman mereka, menyurukkan kepalanya ke dada Sandro saat merasakan Sandro masih ingin melanjutkan. Tangannya terulur di sela dua tangan Sandro dan memeluk tubuh Sandro, merasakan dalam kesadarannya tentang rasa cinta yang semakin bertambah untuk kakaknya, cinta seorang wanita bagi kekasihnya.
“Dee cinta kakak…”
Suara Dria berbalut emosi diucapkan perlahan saja tapi begitu melambungkan rasa. Sandro begitu bahagia mendengarkan kalimat Dria yang tidak dia duga bisa diucapkan Dria sesaat tadi. Entah mengapa Dria tiba-tiba mengucapkannya, Dria hanya mengikuti dorongan hatinya untuk menyatakan kalimat itu, mungkin dampak dari keintiman tadi semakin menguatkan rasa di hati dan tak tertahan untuk diutarakan.
Sandro lebih mengeratkan pelukannya, ternyata seperti ini rasa bahagia yang sesungguhnya itu, rasa bahagia yang lahir dari rasa saling memiliki dan saling menerima keberadaan masing-masing. Bahagia yang berlipat-lipat melebihi rasa bahagia ketika mereka hanya terikat hubungan kakak dan adik.
“Aku cinta kamu Dee, sangat cinta.”
Sandro kemudian membuat jarak tapi tak melepaskan tubuh Dria, dua tangannya tepat ada di bahu Dria, menatap Dria dengan mata penuh cinta.
“Dee… mulai sekarang… jangan panggil kakak lagi, boleh?”
“Maksudnya?”
“Hubungan kita sebelum ini adalah kakak dan adik, dan itu kadang membuatku bingung memperlakukan dirimu… aku ingin kita meninggalkan itu dengan mengganti sebutan…”
“Dee harus panggil apa?”
“Apa saja yang membuatmu nyaman… sayang, yang, honey… terserah kamu…”
“Ahh??? Itu terdengar aneh…”
“Lama-lama kamu akan terbiasa, Dee…”
“Aduuuh… kenapa harus diganti? Dee nyaman memanggil kakak…”
“Biasakan Dee… aku suka terhalang dengan sebutan itu… terserah pilihanmu, ya?”
“Baiklah… lalu… kakak akan memanggil Dee apa? Jangan Sunshine, Dee tidak suka itu…”
“Hehehe, kenapa?”
Sandro mengelus-ngelus sayang pipi Dria.
“Itu terlalu basi… banyak orang memanggil kekasihnya dengan sebutan itu…”
“Banyak orang juga memanggil kekasihnya dengan sayang, yang, baby, honey, sweety… semua orang di dunia ini saling mengikuti, Dee… tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini, apa yang ada pernah ada sebelumnya hanya dilupakan untuk muncul kembali di waktu yang berbeda dengan sedikit modifikasi…”
“Lalu?”
“Sesekali aku akan memanggilmu Sunshine, karena seperti itulah dirimu untukku, Dee…”
“Aissh Tuan Muda menggombal… ahh Dee akan memanggil kakak dengan Tuan Muda saja kalau begitu, karena seperti itulah kakak selama ini, seorang Tuan Muda dari keluarga Darwis yang begitu tampan… hehehe…”
“Kamu…”
Sandro yang gemas tak bisa melakukan sebuah niat mengulang kenikmatan sebelum ini karena lebih cepat gerakan Dria yang menarik tangan Sandro untuk meneruskan tour di rumah baru mereka.
Dria kemudian teringat percakapan sebelumnya yang terputus karena sebuah kegiatan yang membuat candu yang berasal dari frasa nyonya rumah.
“Ah iya… mengenai pelayan untuk rumah ini, jangan banyak-banyak ya?”
“Baiklah… tapi harus ada, selain supaya rumah ini tidak terlalu sepi minimal ada yang bertugas membersihkan rumah, Dee… dan coba bujuk Ayah… ayah yang akan lebih banyak menempati rumah ini, jika sudah menikah kamu ikut kakak ke J…”
“Aduuh… kakak, jangan membahas soal pernikahan, Dee sepertinya belum siap… nanti saja ya...”
“Kapan kamu siap, Dee? Rasanya kamu selalu mengatakan tidak siap kalau aku membahas pernikahan… Umurku sudah semakin bertambah… kamu sendiri yang mengatakan aku sudah tua…”
Wajah Sandro memberengut dan itu mengundang senyuman Dria menjadi lebar, keusilannya muncul.
“Itu resiko jatuh cinta sama adik sendiri dengan usia terpaut sangat jauh… Lagi pula Dee masih ingin menikmati hidup Dee yang sekarang karena itu kakak jangan memaksa aku ya untuk cepat-cepat menikah, mungkin dua atau tiga tahun lagi Dee sudah siap menikah… Ahh iya, kakak tahu, waktu Dee bicara dengan papi…papi juga mengatakan tempo hari terserah Dee saja... papi berkata bahwa apapun status Dee, sama saja buat papi… jadi menikah atau tidak menikah status Dee tetap sama di mata papi…”
“Dee… itu sama saja mengantung statusku… aku sudah cukup lama bersabar, Dee…”
“Sabarnya masih kurang, tambah sedikit lagi…”
“Tidak… tahun ini kita menikah...”
Sandro berkata dengan suara tegas dan dengan mimik wajah serius.
“Ahh?? Tidak bisa negosiasi lagi? Tambah dua tahun lagi…”
“Tidak Dee!”
“Setahun lagi?”
“Tidak! Bulan depan kita menikah.”
“Astaga Tuan Muda… menikah itu butuh persiapan… butuh waktu… Sebulan mana cukup waktunya?”
“Baiklah... baiklah, tapi tidak ada penundaan, harus secepatnya, aku tidak akan mengikutimu lagi, Dee... Sekarang kamu yang mendengarkanku, mengerti?”
"Ahh?"
Tuan Muda mengambil gawai di sakunya dan melakukan panggilan.
.
“Minimal tiga bulan, Tuan Muda…”
“Kamu tahu dari mana?”
“Saya mencari tahu Tuan, saya sudah menghubungi beberapa WO…”
“WO itu apa?”
“Wedding Organizer.”
“Kenapa kamu menghubungi WO, apa kamu akan menikah?”
“Itu untuk keperluan Tuan, siapa tahu Tuan membutuhkannya, saya hanya mengantisipasi… dan ternyata Tuan menanyakan sekarang…”
“Ahh? Sejauh itu kamu melakukan untukku? Aku tidak memintamu sebelum ini kan?”
“Aku hanya memprediksinya, Tuan… sudah ada tanda-tanda yang saya lihat dari Anda…”
“Kadangkala kamu terlalu berlagak tahu Timo… Ya sudah… kamu cari WO yang terbaik…”
.
Di seberang telpon Timo tersenyum, dia menafsirkan kalimat terakhir Tuannya sebagai ucapan terima kasih dan compliment si Tuan Muda terhadap kinerjanya. Timo melanjutkan pekerjaannya, kali ini si Tuan Muda melakukan perjalanan seorang diri, itu pun karena si Non Dria.
.
🐤🐢
.
Setelah puas menikmati tour rumah baru mereka, Dria membawa si Tuan Muda ke kafe untuk makan siang di sana. Salah satu menu andalan di kafe disukai si tuan Muda.
Saat mereka berdua masuk dan duduk di meja yang sudah disiapkan khusus oleh bu Sonia, bu Betty melihat kedatangan mereka. Bu Betty ingin mendekati tetapi batal karena melihat mereka hendak makan. Bu Betty menahan tindakannya, dia juga masih mempertimbangkan pertemuan ini, terlebih melihat ada seorang pria bersama dengan Sandriana. Bu Betty hanya mengambil tempat lebih dekat saja sambil menyusun kalimat demi kalimat yang akan dia tanyakan pada Sandriana.
Bu Betty penasaran dengan pria yang ada di samping Sandriana. Rasa penasaran yang kemudian terjawab oleh percakapan dua orang wanita yang duduk di meja yang berdekatan dengannya.
“Itu pemilik kafe ini…”
“Yang mana? Pria itu?”
“Bukan… perempuan muda itu, pria itu kakaknya…”
“Kamu tahu dari mana?”
“Aku menjadi pelanggan di sini, sudah sering melihat mereka berdua, dan sudah mendengar informasi ini dari karyawan-karyawan yang kebetulan menceritakan tentang mereka…”
“Oh begitu…”
“Kamu tahu pria itu? Dia pemilik Mega Buana.”
“Mega Buana? Nama tempat apa itu? Kafe seperti ini juga?”
“Aduuh, kamu kurang update ya? Mega Buana salah satu perusahaan terbesar di negara ini, pemiliknya keluarga Darwis, ayahnya merupakan pengusaha terkaya ketiga di negara ini…”
“Ohhh? Tahu dari mana…”
“Ada di internet, cari daftar nama pengusaha terkaya di negara kita versi majalah Forbes…”
Bu Betty ber-oh juga di tempatnya. Informasi yang semakin membuatnya bersemangat untuk menemui Sandriana, ada alasan yang sangat tepat untuk dia menemui Sandriana, yaitu keberadaan cucunya. Bu Betty mulai merenung menyesali mengapa dahulu dia menolak Sandriana. Karena itu dia mulai menyusun di otaknya urut-urutan kalimat yang akan dikatakan pada Sandriana nanti.
Setelah menunggu dan memperhatikan dari mejanya, bu Betty melihat momen yang tepat untuk dia bertemu Sandriana. Sandriana sekarang telah berdiri dan berjalan sendiri, pria tampan dan tinggi dengan tubuh yang sangat menawan itu terlihat meninggalkan Sandriana seperti sedang melakukan panggilan telpon karena gawainya ada di telinganya.
Di sebuah area yang agak sepi di bagian dalam kafe itu…
“Sandriana…”
Bu Betty memanggil nama Sandriana. Dria berhenti dan menoleh. Sejenak Dria mencari tahu siapa wanita yang sekarang berdiri di hadapannya dengan senyuman. Otaknya memunculkan informasi itu dengan cepat, dia tidak akan pernah melupakan wanita di hadapannya ini.
Apakah ini sebuah kebetulan juga bertemu mama dari Reginald di sini? Atau Reginald memberitahu mamanya tentang dirinya? Reginald memang tidak terlihat datang lagi beberapa waktu terakhir. Sejenak Dria berdiri tanpa bereaksi apapun hanya memperhatikan bu Betty, Dria juga tidak membalas senyuman bu Betty. Karena Dria tidak pergi begitu saja, bu Betty merasa Dria memberi peluang untuk berkomunikasi, maka bu Betty akhirnya menjadi lebih berani.
“Sandriana… akhirnya kita berjumpa lagi… saya mamanya Egi… kamu tentu tidak lupa kan?”
“Iya benar… saya tidak lupa.”
Sandriana menjawab singkat. Setelah bertemu Reginald hati Dria menjadi lebih siap menghadapi masa lalunya. Dria memperbaiki posisi tubuhnya, berdiri dengan tangan mengunci santai di depan.
“Syukurlah… kamu tidak lupa…”
“Tentu saja, saya tidak mungkin lupa peristiwa paling menyakitkan dalam hidup saya dahulu.”
Degg, sebuah kalimat yang tepat membuat bu Betty tersenyum masam, itu sebuah sindiran pedas. Tapi bu Betty tidak ingin menghentikan pembicaraan, sudah kepalang tanggung, teruskan saja.
“Egi memberitahu sudah berjumpa dirimu… Kami memang ingin sekali bertemu dirimu sejak lama, Sandriana… ada sesuatu yang harus kita selesaikan…”
“Tidak ada yang perlu diselesaikan, saya sudah mengatakan pada Reginald. Ini sudah selesai sejak waktu ibu menolak saya dan ayah saya… jadi tidak perlu membahas lagi sekarang… terima kasih ibu sudah berkunjung di tempat kami…”
Apa Reginald meminta ibunya datang mencari dirinya? Sandriana hanya bisa menduga seperti itu, tapi itu tidak akan mengubah apapun. Dria meninggalkan bu Betty.
“Sandriana, jangan pergi… saya tahu kami bersalah di masa itu, tapi akan semakin salah jika kami tidak mencari tahu tentang anak kalian, anak kamu dan Egi…”
Hati Dria teriris lagi. Emosi di jiwanya sekarang muncul karena ibu ini mengungkit anaknya. Kenapa mereka harus muncul sekarang dan menanyakan sesuatu yang mereka sangkal dulu? Menanyakan anak yang mereka tidak mau akui dulu? Sandriana menguatkan hatinya dan berbalik menghadap bu Betty yang rupanya ikut berjalan mengikutinya.
“Bu… apa Reginald tidak memberitahu ibu, bahwa saya tidak mengijinkan kalian mengungkit lagi apa yang kalian buang dahulu? Apa ibu tidak malu menanyakan itu sekarang? Apa ibu lupa ibu yang paling keras menolak anak dalam rahimku?”
“Itu dahulu Sandriana, sekarang belum terlambat kan untuk mencarinya, dia darah daging Egi, kami tidak ingin berbuat dosa dengan menolak anak itu, sekarang kami mengakuinya…”
Kemarahan Dria sekarang semakin jelas di wajahnya.
“Sudah sangat terlambat bu… dan jangan membuat saya semakin emosi, anda dan keluarga anda tidak berhak menyebut anakku sebagai bagian dari kalian, mengerti? Silahkan pergi dari sini…”
Dria kemudian melangkah, tapi…
“Stop… jangan mengikuti saya, jangan menanyakan anak itu lagi. Jangan mencari masalah dengan saya... Kali ini saya tidak akan membiarkan kalian menghancurkan hidup saya lagi. Pergi dari sini.”
Dria segera berkata lagi saat bu Betty masih ngotot mengikutinya. Dria mengangkat dua tangannya di depan dadanya, sebuah isyarat untuk bu Betty untuk menghentikan tindakannya. Sedapat mungkin Dria menahan emosinya karena rasanya dia ingin membentak bu Betty karena emosi sudah terkumpul di wajah bahkan seluruh tubuhnya. Wanita ini begitu seenaknya? Tidak meminta maaf untuk perbuatannya dahulu dan sekarang bersikap tidak tahu malu.
DI tempatnya berdiri, gawai hampir terlepas dari tangannya, saat Sandro mendengar sesuatu yang sama sekali di luar jangkauan pemikirannya. Semua percakapan Dria dan ibu itu didengarnya dengan baik.
“Deedee memiliki seorang anak? Jadi hubungannya dengan lelaki itu menghasilkan seorang anak?”
Bu Betty masih ingin memaksa, dia mendekati Dria.
“Sandriana… beri kesempatan Egi menebus kesalahannya, beri kesempatan Egi bertemu dengan darah dagingnya…”
Sandro seolah dipukul oleh sesuatu. Kenapa hatinya terasa sakit sekali? Mendapati Dria tidak murni lagi sempat membuatnya sakit, dan rasa sakit itu perlahan memudar seiring dengan kesadarannya tentang cintanya pada Dria, tapi sekarang… ada seorang anak… di mana anak itu? Mengapa Dria tidak pernah mengungkitnya?
Sandro ingin meninggalkan Dria tetapi ketika matanya melihat gestur tubuh Dria, dia segera sadar bahwa Dria sedang tidak baik-baik saja. Spontan dia mendekat dan segera meraih Dria ke dalam pelukannya, dan itu menghentikan langkah ibu yang ada di hadapan Dria, entah apa yang hendak dilakukannya tetapi Sandro merasa bahwa Dria sedang membutuhkan dirinya untuk menghadapi wanita setengah baya itu.
.
.
☘️
.