
Sandriana masuk dengan langkah pelan serta perasaan hati yang malu bercampur takut. Sejak semalam moment sarapan pagi ini yang membuat dia cemas. Mendengar cerita Tety semalam bahwa orang rumah gempar dan sibuk mencari dirinya, itu termasuk pak Lucas dan kak Sandro. Rasa malu Dria jadi bertambah karena mengetahui bahwa Tuan Harlandy juga tahu peristiwa kemarin hari. Benar kata ayahnya, dia telah membuat susah banyak orang dengan tingkahnya.
“Selamat pagi, Tuan…”
Dria memaksakan diri masuk ruang makan, sudah ada Tuan Besar duduk di posisi kepala meja seperti biasa. Dria berdiri dengan lutut agak gemetar di dekat Tuan Besar.
“Selamat pagi Dria…”
Tuan Harlandy memandang Dria, dan dia tersenyum saat membaca ekspresi Dria.
“Kenapa berdiri di situ? Ayo duduk… ini sarapannya enak… ayo, nak…”
Sikap dan suara tenang Tuan Harlandy meneduhkan hati Dria yang diliputi berbagai macam rasa, terutama rasa enggan dan rasa malu untuk bertemu Tuan Harlandy. Dria duduk di kursi yang memang khusus untuk dirinya di sekeliling meja makan kayu klasik berwarna coklat tua bercampur gold yang begitu panjang ini.
“Maafkan saya Tuan, saya menyusahkan banyak orang kemarin…”
Sandriana menundukkan wajahnya. Dia belum berani menyentuh sarapannya.
“Dria… tidak apa-apa, kamu tidak menyusahkan siapa-siapa, hanya… kamu memang membuat Papi cemas.”
“Papi?”
Dria mengangkat muka dan memberanikan diri beradu pandang dengan Tuan Harlandy. Dria menemukan sorot mata yang teduh serta senyuman kecil tapi begitu hangat. Seperti menemukan pancaran kasih sayang di wajah itu untuknya, Dria langsung mengingat ayahnya.
“Saya… eh aku minta maaf…”
“Makanlah…”
Tuan Harlandy masih memandang Dria. Dria membalas senyum Tuan Harlandy, kalimat yang dia dengar seperti menunjukkan siapa dirinya untuk Tuan Besar. Mungkin dia harus belajar memanggil Tuan Besar dengan cara yang baru mulai sekarang. Dria pun memulai sarapan paginya dengan hati yang lebih tenang.
“Selamat pagi…”
Sandro datang dan langsung duduk di sebelah Dria lalu memberi isyarat pada seorang pelayan yang berjaga di ujung meja untuk memindahkan piringnya. Tuan Harlandy mengerling melihat dengan ekor mata tanpa menghentikan suapannya, tetap menjadi pengamat saja, bahkan mungkin saatnya undur membiarkan semua proses apa adanya. Terlebih saat melihat anaknya tak memutus pandangannya mengamati Dria dengan tatapan yang berbeda, dia tahu isi tatapan itu, pengalaman hidup memberitahu dia tentang arti tingkah laku anaknya.
“Makan yang banyak Dee, porsi makanmu sedikit sekali.”
“Biasa seperti ini, kak Sandro saja yang tidak memperhatikan.”
“Ahh?? Tapi itu terlalu sedikit Dee…”
“Porsi makan wanita berbeda dengan porsi makan pria, ini cukup buat Dee…”
Dria bicara tanpa melihat sang kakak, dia fokus pada omeletnya, sedangkan si Tuan Muda hampir setiap selesai satu suapan kepalanya menengok ke samping kanannya.
“Rotinya enak Dee… coba cicip…”
Dria yang baru akan minum air putih menatap setengah kaget roti yang disodorkan si kakak, ada bekas gigitan di sana, dulu iya dia memang suka meminta makanan apa saja yang sedang dimakan sang kakak tapi sekarang…
“Dee… ini roti favoritmu dulu…”
Sandro semakin mendekatkan roti itu di mulut Dria, spontan Dria menjauhkan kepalanya.
“Ahh??? Dee sekarang… ehh tidak terlalu suka roti.”
Dengan menggeleng Dria berkata sembari mengambil gelas berisi air putih dan segera menghabiskan hingga tetes terakhir, sengaja berlama-lama untuk menghindari Sandro memaksanya makan roti yang memang terlihat enak itu. Akhirnya sandro menikmati sendiri roti di tangannya.
Sejak berjumpa lagi di stasiun kereta api, Dria merasakan sikap Sandro yang semakin banyak melakukan sesuatu untuknya.
Dria pernah merasakan perhatian seintens ini dari seseorang dulu, seseorang yang begitu dekat dan terlihat begitu sayang tapi yang justru kemudian meningggalkan rasa sakit yang begitu besar. Ini membuat Dria merasa memutuskan untuk meniadakan berpacaran dalam kamus hidupnya makanya dia selalu tak nyaman diperlakukan sedekat ini oleh lawan jenis, rasa tak nyaman ini juga dia rasakan dengan kak Sandronya.
“Mulai sekarang ikut mobil kakak lagi ya?”
Dria hanya mengangguk karena merasa Sandro sedang menatapnya, tanpa ditanya pun Dria memang berniat berangkat bersama lagi karena Sandro sekarang selalu berangkat kantor lebih pagi, dia tidak akan terlambat. Dria memang tidak punya pilihan lain lagi, dia tidak berani membawa mobil sendiri lagi menyadari dia termasuk pengendara yang buruk, bisa dipastikan nasib mobil itu akan sama dengan mobil Audi kesayangan si kakak. Dia juga tidak ingin diantar sopir, itu bukan gayanya.
“Tapi hari ini kita tidak ke kantor…”
“Apa langsung ke tempat meeting?”
“Tidak, ada yang mewakili kakak untuk semua meeting hari ini.”
“Apa kak Sandro akan menghadiri sebuah acara?”
“Tidak…”
Sandro menjawab santai dan tenang.
“Lalu kita mau ke mana?”
“Kita ke Sandiego Hills, hari ini hari peringatan ibu kan?”
“Iya… tapi Dee baru dari sana kemarin, kak…”
“Tidak apa-apa kita pergi lagi, karena ini harinya…”
“Tapi… menurut ayah tidak apa-apa juga Dee tidak pergi hari ini, Dee sudah bolos kerja sehari… tidak enak menambah satu hari lagi…”
“Deedee… kamu tidak enak pada siapa? Yang mengajakmu adalah CEO tempat kamu bekerja… dan pemilik perusahaannya ada di sini, dan kamu itu anak pemilik perusahaan itu…”
Tuan Besar bertatapan dengan Dria. Tatapan Dria seolah meminta pendapat yang berbeda dengan Sandro, sangat berharap Tuan Harlandy dapat mengerti keinginannya dan lebih berpihak kepadanya.
“Pergilah Sandriana… ini hari penting untukmu…”
Tuan Harlandy bicara lalu berdiri meninggalkan ruang makan, memberi ruang untuk anak lelakinya dan anak perempuannya. Dari sikap-sikap yang Dria tunjukkan selama ini, Tuan Besar itu membayangkan bahwa anak lelakinya butuh perjuangan untuk memenangkan hati Dria.
“Ahh… baiklah, tapi Dee pergi sendiri saja kak, kak Sandro ke kantor saja… masa CEO tidak masuk kerja hanya untuk mengantar Dee ke kuburan…”
“Tidak masalah, Dee… selama ini kakak sudah bekerja dengan baik… bekerja keras untuk perusahaan, sesekali kakak perlu lebih santai menikmati waktu, menemanimu dan mengantarmu itu penting buat kakak…“
“Ahhh?? ”
Dria tak bisa lagi menyanggah.
Tak lama setelahnya mereka pun berangkat, Dria duduk di sisi Sandro dalam diam, mulai memikirkan sebuah hal yang ditangkap feelingnya sebagai wanita mengenai sikap-sikap Sandro terhadap dirinya.
"Pak Mul, kita mampir beli bunga di tempat kemarin..."
.
.
Guys, nanti aku edit lagi yang mungkin ada typo... Nulis di sela-sela kegiatan yang padat, akhirnya bisanya cuma seperti ini...
Happy new year 🎉✨️🎈🧨
.