
Secepatnya Dria masuk lagi ke ruang makan.
“Ayah… tolong katakan aku tidak ada…”
Dria memohon dengan suara yang seolah menyangkut di lehernya. Masih terkejut dengan kedatangan Tuan Harlandy dan masih dengan keinginan kalau boleh jangan bertemu Tuan Besar itu.
“Ayah sudah mengatakan kamu ada di sini, nak…”
“Tapi aku tidak siap bertemu Tuan Besar…”
“Temuilah Dria… dengan status Tuan Harlandy, kalau dia khusus datang untuk bertemu denganmu berarti dia beranggapan urusan denganmu sangat penting…”
“Ayah… aku harus mengatakan apa?”
“Temui saja dulu… jawab bila Tuan Harlandy bertanya, dan katakan saja apa yang ingin kau katakan, jangan berbohong atau bertele-tele… sana pergi temui Tuan Harlandy…”
Dria menyerah, tidak ada akses untuk melarikan diri di bagian belakang rumah ini. Ayah membuat pagar sekeliling rumah dan di bagian belakang ini tembok pagar setinggi rumahnya.
“Ayah juga… temani aku…”
Ayah Rahmadi tidak tega membiarkan putrinya berjumpa dengan Tuan Harlandy sendirian, wajah putrinya sekarang terlihat tertekan, maka ayah mendahului Dria berjalan ke arah teras depan tempat Tuan Besar itu duduk menunggu. Dria mengikuti dengan campuran rasa takut dan cemas terutama jika dia dipaksa untuk kembali, bagaimana cara menolak hal itu sekarang?
Di luar, ada Tuan Besar Harlandy dan pak Lucas dan dengan cepat matanya menangkap beberapa orang tinggi besar berpakaian rapi juga berdiri agak jauh di antara tanaman milik ayah di halaman, sesekali Dria berjumpa dengan mereka di rumah besar.
“Dria…”
Suara tenang yang berat ciri khas Tuan Harlandy menyapa saat Dria keluar dari pintu. Dria mendekat lalu mengambil tangan yang sudah diulurkan Tuan Besar padanya, mencium dengan penuh hormat. Dria ingin melakukan hal yang sama pada pak Lucas, tapi pak Lucas hanya tersenyum dan mengangguk hormat padanya.
“Bagaimana keadaanmu, Dria?”
Tuan Besar segera bertanya, Dria hanya menunduk tak berani memandang Tuan Besar sekarang. Sebelum kejadian ini Dria sebenarnya sudah tidak canggung berhadapan dengan Tuan Harlandy bahkan sering bercakap walau singkat saja di meja makan saat sarapan. Tapi sekarang Dria berdiri sangat canggung di sebelah ayahnya.
“Ah… eh… saya baik…”
Tuan Besar Harlandy segera bisa mengidentifikasi keadaan, Dria tak akan bisa dia dekati jika ada orang lain di sini. Secara jelas Dria menunjukkan sikap canggung dan tidak terlalu menerima kedatangannya, tapi dia sedang mengusahakan sesuatu untuk putranya, putranya yang terbilang lamban soal hubungan asmara.
Tuan Besar memberi semacam kode dengan pandangannya untuk Lucas asistennya, sebuah isyarat yang segera dimengerti dan diteruskan pada Rahmadi. Dria menangkap gerakan pak Lucas yang menjauh dan segera mengangkat muka melihat ayahnya. Ayah Rahmadi memegang lengan putrinya sesaat, Dria memandang ayahnya dengan ekspresi yang sangat jelas tak ingin ditinggalkan di sini, seolah bisa membaca apa tindakan ayah selanjutnya. Ayah hanya mengusap sejenak lengan yang tadi dipegangnya lalu beranjak mengikuti Lucas, seseorang yang cukup dekat dengan keluarganya di masa lalu.
“Di sini lebih panas ya udaranya…”
Tuan Harlandy memulai dengan sebuah kalimat ringan.
“Ahh… maaf Tuan, ayah tidak menyilakan Tuan masuk, mari masuk ke dalam saja…”
“Oh tidak apa-apa. Tadi Rahmadi mengatakan ada beberapa barang di situ, jadi tidak leluasa, papi tidak apa-apa duduk di luar sini…”
Dria mengeluh di dalam hatinya mendengar Tuan Besar Harlandy masih menyebut dirinya sebagai papi untuk Dria dan menyadari ruangan tamu memang sedikit kacau dengan barang-barangnya.
“Ah… maaf itu barang milik saya… saya akan memindahkan itu lebih dahulu, Tuan…”
Dria bergerak untuk masuk ke dalam rumah.
“Tidak usah, Dria… di sini cukup nyaman…”
Suara Tuan Harlandy menghentikan niat Dria, padahal itu salah satu cara untuk menghindari bercakap hanya berdua dengan Tuan Harlandy sebenarnya. Tuan Harlandy sendiri mengabaikan rasa gerah di tubuhnya dengan cuaca kota S yang terasa lebih panas. Dia terbiasa cuaca sejuk di pinggiran Barat kota J, terlebih rumah besarnya berada di kompleks yang penuh dengan pohon besar.
“Duduklah Dria…”
Suara tenang itu kembali menyapa gendang telinga Dria dan hati Dria segera mau menuruti saja, maka dia duduk di salah satu kursi teras dari kayu milik ayah yang warna coklatnya sudah pudar.
“Papi datang bersama temanmu…”
Tuan Harlandy bersikap lebih santai, masih menunggu moment yang tepat untuk bicarakan maksud sesungguhnya datang ke sini.
“Siapa?”
Tak urung Dria segera penasaran dan memandang Tuan Harlandy yang tersenyum padanya.
“Tety…”
Mata Dria segera mencari Tety di antara rombongan yang sekarang jadi terlihat banyak untuk Dria. Tubuh kecil Tety tersembunyi di antara para pengawal Tuan Harlandy. Tety sedang duduk di salah satu pot cor tua yang dibalik sehingga bagian bawah yang rata bisa diduduki. Ingin Dria berlari ke arah Tety, tapi dia masih mengingat aturan kesopanan, maka Dria hanya mengubah cara duduknya.
Tepat sekali jika Tety Tuan Harlandy sebut sebagai temannya, sebab Tetylah yang banyak berinteraksi dengannya sehari-hari, dan Tety juga yang mengetahui banyak hal tentang dirinya. Karena Tety sedang menunduk maka Dria juga ikut menunduk.
“Papi terkejut Dria kembali ke kota ini…”
Tuan Besar sudah memulai, Dria memilin jemarinya mengalihkan resah yang tiba-tiba bertambah derajatnya di hati Dria.
“Dria tidak betah di sana?”
“Ahh? Eh.. tidak, bukan seperti itu, Tu…”
Dria tak jadi meneruskan karena indra pelihatnya bertemu tatapan lembut Tuan Besar, tatapan yang sama dengan seseorang, tatapan yang pancarannya selalu memberitahu dirinya bahwa dia begitu disayang pemilik tatapan itu.
Mata Dria mengembun, sebuah sisi di bagian hatinya mengatakan tidak ingin kehilangan kehangatan keluarga Darwis, sebenarnya dia merasakan ini… disukai bahkan dicintai oleh banyak orang yang tinggal di rumah besar keluarga Darwis. Setahun bersama mereka, Dria merasa menemukan sebuah keluarga yang besar. Terutama Dria tidak ingin kehilangan kehangatan perhatian sang kakak tersayang bahkan kehangatan yang mulai dirasakan dari ayah yang lain dalam hidupnya, si Tuan Besar yang sekarang duduk tak jauh darinya.
Tapi dengan kenyataan perjodohan ini… sudut hatinya yang lain tidak bisa menerima hal itu.
“Rahmadi memberitahu papi… Dria sudah tahu keinginan papi dan mami untuk Dria dan Sandro…”
Deggg… Jantung Dria segera berdenyut lebih cepat. Ini yang dia takut dengarkan dari mulut Tuan Harlandy. Dria mulai menyusun kalimat penolakannya.
Sementara Tuan Harlandy memandang Dria dengan sedih, dia tidak mungkin memaksakan hal ini diterima Dria sebagaimana pada Sandro tidak dia paksakan hal yang sama, dan dia begitu bersyukur akhirnya cinta tumbuh dengan sendirinya di hati anaknya. Tapi Dria berbeda, hal ini dia amati dengan mata penuh kebijaksanaan, Dria tidak melihat Sandro lebih dari seorang kakak, bahkan Rahmadi telah menjelaskan sikap penolakan Dria.
Tuan Besar ini punya prinsip sejak lama, bahwa hal-hal yang baik dalam kehidupan memerlukan waktu. Dan hidup yang telah ditempa oleh banyak pengalaman membuat dia dapat bersabar menunggu Dria. Hanya, dia ingin datang langsung untuk menjaga agar hubungan keluarga Darwis dan keluarga Rahmadi tidak terputus karena peristiwa ini.
“Papi tidak pernah memaksakan hal ini… walau papi punya harapan itu. Papi tahu Dria menolak hal ini…”
Tuan Harlandy memang tidak ingin bertele-tele, juga dia ingin jujur saja di hadapan Dria. Dria cukup dewasa dan tidak ada alasan untuk menutupi atau menganggap sesuatu yang terjadi belakangan tidak ada sangkut paut dengan hal itu. Dia bisa menduga bahwa kepergian Dria bukan hanya karena soal ketakutannya terhadap perjalanan mengunakan pesawat. Dia telah menanyai Tety dan Timothy. Informasi Timothy tentang sikap Dria pun menjadi bahan masukan untuknya melihat lebih dalam mengenai keadaan ini.
Mendengar perkataan Tuan Harlandy Dria sedikit lega dan lebih leluasa tidak lagi duduk kaku di kursinya.
Hahh.... Dria seperti bisa bernapas dengan baik lagi mendengar ungkapan papi itu.
“Iya papi… Kak Sandro itu kakak buatku, tidak bisa menjadi yang lain, lagi pula kak Sandro sudah punya kekasih… mereka sudah merencanakan menikah… jadi jangan mengubah posisiku sebagai adik kak Sandro… itu yang aku inginkan papi…”
Sikap Dria jelas lewat kalimat itu. Tuan Besar memandang Dria lama, wajah tertunduk tapi berbicara dengan lancar dan tidak lagi menyebut dirinya Tuan… membuat hati bapa yang mencintai anak-anaknya tergetar.
Sejak Dria lahir, bukan hanya istri dan anaknya yang segera jatuh cinta terhadap bayi mungil yang punya mata yang sangat indah. Dia memang bukan orang yang mampu mengekspresikan emosinya dengan benar. Tapi sejak Dria ada di dunia ini, dia telah mengklaim bahwa Dria adalah putrinya. Dria tidak dapat diadopsi menjadi anaknya secara hukum karena Rahmadi tidak mengijinkan. Dan hati seorang bapa pula yang membuat dia merelakan ayah kandung Dria untuk mengambil kembali miliknya, dan dia tidak dapat melawan keinginan seorang ayah kandung yang tentu saja lebih berhak.
Jadi bagaimana dia akan mewujudkan agar Dria tetap menjadi putrinya selain memberikan Dria kebebasan untuk memilih langkahnya sendiri.
Walaupun tidak pernah dikatakan Sandro, tetapi dia tahu Sandro menginginkan Dria menjadi istrinya, anaknya benar-benar telah berubah sekarang. Sikap protektif setiap hari yang ditunjukkan pada Dria, serta bagaimana emosinya Sandro saat Dria tidak ada menunjukkan dengan jelas perasaan anaknya itu. Tapi soal Dria dan Sandro bersama yang merupakan keinginannya dan mendiang istrinya... biarlah itu terjadi jika yang maha mengatur hidup manusia dan penguasa semesta mengijinkannya.
“Papi menghormati keinginanmu, Sandriana… tapi ijinkan pria tua ini tetap menjadi papi buatmu, karena… kamu telah menjadi putri di hatiku sejak papi melihatmu pertama kali dua puluh tiga tahun yang lalu…”
Sebuah pengakuan yang begitu menyentuh hati Dria. Dria mengangkat wajahnya, memandang Tuan Harlandy yang juga sedang memandang tepat di wajahnya, Dria melihat riak emosi seorang papi yang sayang padanya, sorot mata itu membuat Dria merasakan bahwa dirinya menempati suatu tempat yang khusus di dalam kehidupan seseorang yang menyebut dirinya pria tua tadi.
“Tetaplah jadi putriku, Sandriana… tetaplah menjadi putri untuk keluarga Darwis… karena itulah dirimu sejak awal buat kami…”
Mata Dria terasa perih, bahkan dua ujung matanya segera mengeluarkan kristal tanda keharuan, hampir tidak percaya bahwa dia seberharga itu untuk Tuan Besar ini. Tapi saat melihat hal yang sama juga muncul di sela keriput mata papi si Tuan Besar Harlandy, Dria tahu ucapan itu sungguh-sungguh untuknya.
“Ahh… iya… iya papi…”
Untuk sementara Tuan Besar Harlandy mengesampingkan keinginan terbesarnya, dia merasa cukup untuk menerima kenyataan yang sekarang terjadi, pilihan yang dibuat Sandriana.
Emosi yang menguasai masing-masing, membuat dua orang itu duduk diam dalam waktu yang lama. Dalam diamnya Dria sangat lega mendengarkan kalimat Tuan Harlandy. Lalu nama kak Sandronya melintas dan itu memunculkan rasa ingin tahu mengenai tanggapan sang kakak terhadap perjodohan mereka. Memang dalam hati sempat bertanya-tanya soal sikap sang kakak yang menjadi berbeda terhadapnya. Tapi fakta bahwa kak Sandro punya seorang kekasih membuat Dria menganggap bahwa Sandro pun tidak menyetujui tentang hal itu. Hal ini membuat Dria tersenyum.
"Dria..."
"Iya?"
"Kita pulang?"
"Ah??"
"Kembali ke J ya? Tempatmu di sana sekarang..."
Dua pria tua yang dia hormati mengatakan kalimat yang sama, ayah dan sekarang sang papi, tapi Dria sudah membuat keputusan yang tidak mau dia ubah.
"Maaf papi, Dria memilih di sini saja..."
Dria menggeleng. Tuan Harlandy senyum lembut memaklumi.
"Tidak merindukan bu Lia? Jojo?"
"Haha... nanti aku berkunjung ke sana sesekali..."
Dria tertawa diingatkan tentang mereka, tertawa juga dengan pengalaman hidupnya yang luar biasa setahun ini... tetapi dia telah merasa cukup dengan tinggal di sini saja bersama sang ayah dengan cara hidup yang telah dia jalani yang begitu kuat melekat padanya dan mempengaruhinya.
Tuan Harlandy tidak ingin memaksa, dia tidak ingin hati Dria terganggu dengan paksaan darinya.
"Baiklah... tapi Tety akan tinggal bersamamu di sini..."
"Apa?"
"Tety akan tinggal di sini..."
"Ahh tidak usah, aku tidak ingin merepotkan..."
"Jangan menolak, Dria... jangan melihat Tety sebagai pelayanmu, tapi biarkan dia yang menemanimu di sini..."
"Ahh?"
Sejujurnya dia tak akan menolak walaupun risih terhadap keputusan sang papi. Tapi dia butuh seseorang seperti Tety sebagai teman. Selama beberapa hari ini dia belum sempat menghubungi lagi teman-temannya. Mungkin tak apa jika Tety juga mau.
.
🐢
.
Tuan Muda ada di line telpon dengan pak Lucas. Masih tersisa dua hari sebelum semua urusan bisnisnya di tempat ini selesai.
.
"Bagaimana paman? Apa Dria ikut pulang?"
Tuan Muda sangat tidak sabar dengan berita yang ingin dia dengar.
"Tidak, Tuan Muda... Non Dria memilih tinggal di S..."
"Kenapa tidak membujuknya paman?"
"Bukan saya yang berbicara dengan Non Dria, Tuan Besar yang melakukankan itu..."
"Ahhh... papi melarangku, tapi justru papi tidak bisa..."
.
Si Tuan Muda yang tidak dapat menikmati perjalanannya, kini berniat kembali secepatnya. Kekuatan alam semesta seolah selalu menarik dirinya ke arah Dria, seseorang yang kini paling dia inginkan untuk menjadi bahagian hidupnya. Kesulitan yang dia rasakan sekarang karena cintanya masih sepihak dan masih tidak tahu bagaimana membuat Dria jatuh cinta padanya, membuat sang pria tampan ini menjadi orang tergalau yang pernah ada.
.
🐣
.
Komen dong... Biar seru 🫣🫣
.