Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 42. Papi dan Ayah



Dria sudah dipindahkan ke ruang rawat inap setelah satu hari di emergency room. Kondisi sudah sadar tapi masih sangat lemah. Selang infus masih terpasang di lengan kirinya. Tuan Harlandy yang datang dan mengetahui Dria dilarikan ke rumah sakit, juga sempat menunggui bersama ayah Rahmadi di luar ruangan saat Dria masih ICU. Pak Lucas mengatur semua sehingga Dria mendapatkan penanganan khusus, termasuk mendapatkan kamar perawatan paling baik.


Tuan Harlandy belum kembali ke ibukota, hati masih begitu khawatir dengan keadaan Dria, walau dokter telah memberi penjelasan tentang kondisi Dria yang sudah teratasi, tapi Tuan Harlandy memilih menunggu Sandro muncul di sini. Timo memberitahu mereka dalam sehari akan tiba di sini.


Setelah diberitahu Dria sudah dipindahkan ke ruang rawat, dari hotel Tuan Harlandy datang ke rumah sakit.


Berdiri di sisi kiri ranjang rumah sakit, Tuan Harlandy menatap dengan perasaan sayang seperti seorang bapa untuk putrinya, sebuah perasaan yang tumbuh dengan baik setelah berjumpa saat Dria datang ke rumahnya. Kehadiran Dria seperti cahaya bagi dirinya, bagi putranya Sandro, bahkan bagi karyawan yang begitu banyak di rumahnya. Itulah sebabnya mengapa Dria menjadi istimewa untuknya.


Tuan Besar diberitahu Tety bahwa Dria hanya menutup matanya, bukan sedang tidur.


“Dria… bisa dengar suara Papi?”


Suara berat Tuan Harlandy terdengar lembut mencoba menyapa Dria, tangan besarnya perlahan meraih tangan kanan Dria yang terbujur, suhu tangan Dria yang dingin langsung terasa di telapak tangan Tuan Besar.


“Dria…”


Tuan besar mengulangi tanpa melepaskan genggamannya seperti ingin memberiahu Dria tentang kehadirannya.


Ayah Rahmadi memberikan sebuah kursi untuk Tuannya di masa lalu, Tuan Harlandy tanpa melepaskan tangan Dria duduk di kursi yang diatur oleh ayah Rahmadi, sementara Tety menyingkir dari area brankar tempat Dria terbaring berdiri bersama pak Lucas agak jauh dari tempat tidur Dria.


“Dria… ada Tuan Besar…”


Ayah menimpali saat memperhatikan Dria tidak membuka matanya. Mata Dria masih terpejam tapi dua bulir airmata keluar dari ujung matanya. Tuan Harlandy menjadi trenyuh memandang itu.


Setelah mengorek keterangan Tety dan dihubungkan dengan Sandro yang pergi keluar negara ini tanpa membuat rencana lebih dahulu dan tanpa tujuan bisnis, Tuan Harlandy bisa meraba duduk persoalannya, dua anaknya yang menghadapi masalah hati masing-masing dan sayangnya dia tidak bisa berbuat banyak untuk itu, dia hanya bisa membiarkan jalan hidup mendewasakan dua anaknya dalam pencaharian cinta mereka sendiri.


“Dria… kakakmu beberapa waktu ini pergi kei negara J, ada urusan di sana… tapi papi sudah memberitahu keadaanmu… kakakmu memutuskan pulang karena khawatir padamu… dia dalam perjalanan kembali ke sini…”


Tuan Harlandy tidak tahu apakah informasinya berpengaruh untuk Dria atau tidak, jika benar bahwa awal Dria seperti ini karena kepergian Sandro, semoga informasi kedatangan Sandro menjadi sesuatu untuk Dria. Dan kenyataannya airmata menetes semakin banyak di pipi Dria.


“Sabar ya Dria… kakakmu mungkin tiba di sini sebentar malam… masih beberapa jam lagi…”


Sang papi meneruskan kalimatnya karena tidak tahu harus melakukan apa untuk situasi Dria ini. Ayah Rahmadi yang melihat reaksi Dria segera ikut mendekati dan tangannya segera mengusap kepala Dria.


Jika orang tidak tahu, melihat pemandangan sekarang mereka tidak akan tahu mana ayah kandung Sandriana, terlihat ada dua orang pria memandang dengan kekhawatiran yang sama, dua pria yang bertindak seperti seorang bapa yang mengasihi putri mereka yang sekarang sedang terbaring tidak berdaya.


Sebenarnya betapa beruntungnya Dria mendapatkan kasih sayang dan kepedulian dari tiga orang pria, dua pria yang memasuki masa lansia yang memberikan rasa sayang seorang ayah serta seorang pria dewasa dengan cinta seorang anak Adam yang sedang mencari tulang rusuknya.


“Nak… apa yang kamu rasakan? Beritahu ayah…”


“Iya Dria… beritahu kami…”


Tuan Besar mengekori Ayah Rahmadi. Dua pria itu dengan gurat emosi yang sama yaitu khawatir dengan keadaan Dria.


Dan emosi Dria yang terus meningkat, tangisan yang kemudian menjadi lebih keras membuat pak Lucas yang berdiri sigap di ujung ruangan VVIP ini segera tahu apa yang harus dilakukannya, memanggil dokter untuk menangani Dria.


“Tenang ya nak, ada ayah di sini…”


Ayah Rahmadi masih mengusap kepala putrinya. Dokter datang lalu melakukan tindakan, memberi Dria obat sehingga tak lama kemudian Dria menjadi tenang lalu tertidur. Dokter kemudian berbicara dengan ayah Rahmadi memberitahu kondisi terkini Dria.


Tuan Harlandy dan ayah Rahmadi kemudian duduk di sofa yang berada di luar ruangan. Tety yang meggantikan duduk di samping Dria, batinnya juga terikat dengan Nona Muda yang baik hati ini.


“Semoga Dria membaik setelah ini.”


Tuan Harlandy membuka ruang percakapan.


“Iya… saya berharap seperti itu, Tuan…”


“Dokter tadi mengatakan sesuatu?”


“Iya… soal keadaan psikisnya, kemungkinan Dria mengalami tekanan atau sesuatu yang traumatis sehingga dia seperti itu… tapi secara umumnya dia baik saja, hanya perlu asupan makan dan gizi yang baik, jadi hanya menunggu fisiknya kuat dia boleh pulang… tapi soal psikisnya, menurut dokter... keluarga perlu mendukung penuh dan memberi perhatian, mendampingi sampai dia bisa terlepas dari tekanannya.”


Ayah Rahmadi menjawab dengan suara yang lemah, kesedihan semakin jelas di wajahnya.


"Apa yang dilakukan Sandro?"


Tuan Besar jadi bertanya dalam hati karena sepeninggal Sandro Dria menjadi seperti ini.


"Tuan... Saya... Saya harus menceritakan sesuatu..."


Ayah Rahmadi memutuskan menceritakan sedikit tentang situasi Dria. Dia telah menimbang sejak lama, sejak Dria menolak dijodohkan dengan Sandro tapi dalam pengamatannya Sandro justru sebaliknya. Mungkin lebih baik mereka tahu sedikit sehingga Tuan Harlandy tidak terlalu berharap, Sandro juga, dan putrinya Dria bisa terlepas dari tekanan perjodohan ini.


"Ada apa, Rahmadi?"


"Ini... Ini mengenai anakku, Tuan..."


"Dia putriku juga, Rahmadi..."


Ayah Rahmadi tersenyum getir, apa Tuan Besar masih akan menganggap Dria anak jika tahu masa lalu Dria?


"Dria... selalu berkata tidak akan menikah, bahkan setelah tahu tentang perjodohan dengan Tuan Muda dia masih bersikeras tidak akan pernah menikah..."


"Apa alasannya?"


"Dria punya memang pernah mengalami peristiwa pahit, Tuan... sampai sekarang saya menyesali saat di mana dengan egois saya mengambil Dria dari rumah besar, merasa saya paling pantas untuk membesarkannya, kenyataannya saya tidak bisa menjaga Dria dengan baik..."


Ayah Rahmadi mengatakan kalimatnya dengan dua buah kristal muncul di sudut matanya.


"Apa yang terjadi?"


"Saya memang tidak becus menjaga Dria, saya selalu meninggalkan dia sendirian di rumah... Saya tidak bersikap sebagai ayah, hubungan kami seperti dua orang asing dalam rumah selama bertahun-tahun... saya... saya membiarkan dia berteman dengan seorang teman lelakinya, saya tidak pernah menasihati atau mengontrol sehingga...."


Ayah Rahmadi terhenti di sana, menunduk dalam dan menangis. Tuan Besar terkejut sekarang, walaupun kata-kata itu tidak berlanjut lagi tetapi Tuan Besar bisa tahu apa yang telah terjadi dan mengapa hubungan Sandro dan Dria tidak pernah maju seperti yang mereka harapkan.


"Ini kesalahan saya Tuan, saya tidak hisa memaafkan diri saya karena tidak mampu menjaga dan melindungi anak saya satu-satunya...."


Tuan Besar diam.


"Saya... saya mohon Tuan jangan menceritakan ini pada Tuan Muda... saya terpaksa mengatakan ini supaya Tuan Besar paham keadaan Dria. Dia... sangat malu dengan keadaanya di waktu yang lalu, kami berdua ditolak oleh orang tua teman lelakinya dengan alasan mereka masih remaja, mereka sepenuhnya menyalahkan Dria dan itu sangat melukai Dria..."


Tuan Besar masih diam.


"Saya mohon Tuan tidak menunjukkan pada Dria jika Tuan sudah tahu keadaannya, ijinkan juga saya memohon untuk jangan menolak Dria sebagi putri Tuan, keluarga Tuan begitu melekat di hati anak saya... Dan itu salah satu hal yang membuat dia bahagia akhir-akhir ini ketika dia bisa terhubung lagi dengan Tuan Besar dan Tuan Muda..."


Ayah Rahmadi mengatakan itu tanpa berani mengangkat mukanya. Menunggu dengan berdebar aoa yang akan dikatakan Tuan Besar, ayah khawatir jika keluarga ini memutuskan hubungan dengan Dria anaknya akan semakin terpuruk.


"Rahmadi... Sandriana itu tetap putriku apapun keadaannya, saya dan Sandro sangat menyayangi dia..."


Suara tenang dari Tuan Besar Harlandy serta isi kalimatnya membuat ayah mengangkat muka. Anggukan penegasan dari Tuan Besar membuat Ayah melepaskan napas lega.


"Terima kasih Tuan... Tapi mohon Tuan membujuk Tuan Muda untuk tidak meneruskan perjodohan ini..."


"Rahmadi... Ini bukan lagi tentang perjodohan, sekarang ini adalah keinginan Sandro sendiri karena dia begitu menyayangi Dria, biar Sandro yang putuskan langkahnya, bukan keputusan kita...."


"Tapi Tuan... saya berani mengatakan lerihal Dria pada Tuan karena saya tahu Tuan bijaksana, tapi mengenai Tuan Muda... Saya khawatir Dria merasakan hal yang sama seperti waktu itu..."


"Saya akan bicara dengan Sandro, jika dia keberatan dengan keadaan Dria... Dria tetap akan menjadi adik buatnya. Tapi, biarkan Sandro yang putuskan sendiri."


Tuan Besar hanya berharap Sandro berpikiran terbuka dalam menyikapi masa lalu Dria, Sandro telah dewasa dan dia tahu hati anaknya seperti apa jika mengenai Dria.


.


🌼🌼🌼


.


Hi kk semua, mn komennya?


Makasih msh membaca cerita ini.


.