
Betapa menyakitkan untuk Dria ketika kesalahan masa lalu diungkit lagi dan sekarang menjadi sebuah alasan bagi bu Betty untuk memaksakan pengakuan mereka yang terlalu terlambat dan tidak diinginkan Dria. Sebuah kepedulian tentang anak itu yang tidak lagi berarti dan tidak dibutuhkan.
“Stop… jangan mengikuti saya, jangan menanyakan anak itu lagi. Jangan mencari masalah dengan saya... Kali ini saya tidak akan membiarkan kalian menghancurkan hidup saya lagi. Pergi dari sini.”
“Sandriana… beri kesempatan Egi menebus kesalahannya, beri kesempatan Egi bertemu dengan darah dagingnya… jangan egois, anak itu harus mengenal ayahnya.”
Ternyata luka masa lampau tidak sepenuhnya pulih oleh waktu, begitu sakit ketika mendengarkan kata egois diucapkan untuknya sementara tindakan mereka di masa lalu lebih dari egois. Tapi Dria tidak sanggup untuk menjawab lagi, ingatan pada buah hatinya membuat airmata terburai di pipinya.
Sementara Sandro, berdiri di belakang Dria seolah hatinya diterjang oleh sesuatu yang berkekuatan besar. Kenapa hatinya terasa sakit sekali? Ada seorang anak… di mana anak itu? Mengapa Dria tidak pernah mengungkitnya? Hati Sandro tidak ingin menerima hal ini, tidak ada dalam prinsipnya menerima anak yang bukan darah dagingnya. Detik itu Sandro memutuskan pergi, merasa marah karena Dria tidak jujur padanya tentang sesuatu yang sangat penting.
Tetapi ketika matanya melihat gestur tubuh Dria dan mendengar intonasi suara Dria, dia segera sadar bahwa Dria sedang tidak baik-baik saja, feelingnya segera mengingatkan untuk melindungi Dria. Walau di saat bersamaan hantaman kekecewaan memporak-porandakan hatinya, tapi Sandro memilih segera meraih Dria ke dalam pelukannya, dan itu menghentikan langkah ibu yang ada di hadapan Dria, entah apa yang hendak dilakukannya tetapi Sandro merasa bahwa Dria sedang membutuhkan dirinya untuk menghadapi wanita setengah baya itu.
“Ibu, apa yang ingin Anda lakukan? Anda ingin melakukan kekerasan?”
“Oh sama sekali tidak, jangan salah sangka… saya hanya ingin menunjukkan kepada Sandriana tentang keseriusan saya… karena itu saya mendekat…”
“Anda siapa? Anda telah menyakiti Dria.”
Suara Sandro sekarang terdengar disertai emosi. Sandro menahan tubuh Dria yang limbung karena tekanan perasaan telah begitu menguasainya. Sandro memandang bu Betty dengan tatapan tajamnya, Sandro mulai marah karena wanita di hadapannya seolah tidak mengerti situasi, masih bersikukuh dengan niatnya, tidak menjauhi mereka sekalipun dia sudah melihat penolakan Sandriana.
“Tidak, bukan itu maksud saya… saya hanya membicarakan hal yang penting… sangat kebetulan bertemu Anda juga, saya tahu Anda kakak Sandriana, Anda tahu kan Sandriana memiliki seorang anak, itu cucu saya, saya mamanya Reginald, jadi saya meminta Anda untuk membujuk Sandriana, supaya dia tidak menghalangi kami bertemu anak itu, itu hak kami…”
Tangisan Sandriana pecah sekarang, suaranya melengking dalam terdengar sarat dengan kesedihan yang pekat. Di saat hati Sandro sakit karena fakta yang baru dia dengar mengenai adanya seorang anak dari Dria, sekaligus hatinya juga sakit karena melihat sekarang bagaimana reaksi Dria.
“Bu, tinggalkan kami! Jangan memaksa!”
“Saya tidak memaksa, saya hanya…”
Sandro semakin gusar karena bu Betty masih berdiri di hadapannya dan sekarang sudah ada wanita lain yang bertubuh tinggi besar di samping bu Betty. Sandro segera membawa tubuh Dria meninggalkan mereka.
“Ma… ada apa?”
Adel yang sudah ada di sana mencari tahu apa yang terjadi.
“Mama hanya bicara, tapi tidak tahu kenapa Sandriana tiba-tiba seperti itu…”
“Ma kita pergi saja…”
Adel menarik mamanya merasakan pria yang memeluk Sandriana sedang marah, dan bisa menduga mengapa Sandriana menangis.
“Adel, kapan lagi kita bisa bicara, mereka pasti tidak akan pernah memberi kesempatan kalau kita menyerah, mumpung ada kakaknya, dia pasti lebih bisa diajak bicara…”
“Ma… jangan keras kepala… mama tidak lihat wajah lelaki itu? Dia marah ma…”
Bu Betty belum mau meninggalkan tempat itu bahkan sekarang mengikuti Sandro dan Dria dari belakang.
“Bu Sonia!”
Sandro berteriak memanggil manager kafe ini, seorang karyawan yang ada di sekitar segera tahu ada yang tidak beres sedang terjadi saat melihat boss mereka, dia berlari mencari bu Sonia, dan seorang lagi datang mendekat.
“Tuan… ada yang bisa saya bantu…”
“Panggil security!”
Adel panik mendengar itu.
“Maa… jangan keras kepala. Mama mau kita dipermalukan di sini? Ayo maa… orang-orang sudah memperhatikan kita… kalau security datang kita akan lebih malu lagi maa… ayo pulang.”
Adel harus menghentikan mamanya yang sering tidak menggunakan nalarnya dan tidak berpikir panjang dan baru menyesal setelah sesuatu telah terjadi. Dengan kekuatannya dia menarik mamanya untuk pergi ke arah yang berbeda.
Sekarang bu Sonia berlari mendekat ke arah Tuan Muda yang sedang memapah Non Dria.
“Tuan maaf saya terlambat, ada apa…”
“Urus wanita yang mengganggu Dria tadi, minta security menahan mereka saya ingin bicara dengan mereka, saya antar Dria ke rumah lebih dahulu…”
“Baik Tuan…”
Sandro melihat situasi yang kurang mendukung jika Dria harus berjalan jauh ke belakang, Sandro kemudian meminta seorang karyawan untuk mengantar mereka dengan mobil operasional kafe ini.
Di kamar Dria, dengan hati entah bagaimana Sandro hanya bisa memeluk tubuh Dria yang menjadi lemas karena emosinya. Tangisan masih ada walau tak sehisteris tadi.
Sandro keluar sejenak setelah membaringkan tubuh lemah Dria.
“Tety, beritahu bu Sonia, Dria tidak bisa aku tinggalkan, minta bu Sonia mengatakan kepada mereka untuk jangan mengganggu Dria lagi.”
“Baik Tuan Muda, saya akan menelpon bu Sonia.”
“Ah... lakukan sekarang saja , aku ingin bicara langsung…”
Tety segera mengambil gawainya lalu menyambungkan telpon dengan bu Sonia dan segera memberikan gawainya saat nada panggilan terdengar.
.
“Ya Tety…”
“Ini saya… saya tidak bisa meninggalkan Dria, minta mereka jangan pernah mencoba bertemu Dria apalagi melukainya, saya tidak akan mengampuni mereka jika itu terjadi lagi…”
“Baik Tuan…”
.
Sandro mengembalikan gawai Tety lalu kembali ke kamar Dria. Belum sempat membuka pintu Tety sudah menyusul…
“Tuan. Bu Sonia ingin bicara lagi…”
Sandro menerima gawai hitam milik Tety.
.
“Ada apa bu Sonia?”
Sandro mengernyitkan keningnya, nalarnya dengan cepat mengolah semua hal. Dria menolak berhubungan dengan mereka bahkan reaksi Dria memprihatinkan, dan ibu itu sangat memaksa baik tadi dengan Dria kini dengannya, apa maunya ibu itu? Keinginan Sandro untuk bertemu ibu tersebut segera berubah, dia tidak suka dikendalikan terutama oleh orang yang tidak dikenalnya dan lagi baru saja berbuat hal yang menyebabkan Dria seperti sekarang.
“Saya tidak mau berurusan dengan mereka, bu Sonia. Katakan jangan membuat masalah dengan saya atau Dria.”
Panggilan langsung diakhiri.
.
Sandro masuk kamar Dria dan menutup pintu, berdiri di sisi tempat tidur sambil menatap tubuh yang kini meringkuk dan terlihat sangat lemah sekarang. Apa yang membuat Dria tiba-tiba seperti ini? Apa karena bertemu ibu dari mantannya atau karena ibu itu membicarakan… seorang anak?
Banyak pertanyaan segera mendatangi kepalanya. Sandro bergumul sekarang dengan semua pikiran yang muncul di kepalanya. Perasaan shock karena mendengar langsung tentang ini seperti memadamkan semua keinginannya bersama Dria yang baru saja disemai saat meninjau rumah baru mereka.
Kebenaran tentang ini ternyata begitu menyakitkan untuk Sandro dan dia belum tahu bagaimana menyikapi ini, apakah akan bertanya pada Dria atau membiarkan saja? Sementara dia menjadi penasaran di mana anak itu. Apakah karena memiliki anak sehingga Dria terlihat begitu peduli pada Jojo dan adik-adiknya? Apakah karena itu sehingga Dria membuat kafe ini menjadi kafe keluarga dengan banyak spot ramah anak.
Jiwa yang baru saja memproklamasikan keutuhan cinta dan kebahagiaan yang paripurna bersama Dria sekarang seperti sedang kehilangan api yang menggairahkan.
Tapi… ahh betapa rumitnya perasaan ini, di dalam hatinya pun ada cinta yang besar hanya untuk Dria, ya hanya untuk Dria. Dia selalu kesulitan bagaimana hendak memandang Dria selama ini, apakah sebagai adik yang sangat disayanginya atau sebagai kekasih yang menjadi pusat semua perasaan cintanya. Perasaan itu pula yang membuat dia tidak segera pergi meninggalkan Dria tadi.
Suara tangis Dria yang berhenti beberapa waktu yang lalu kini terdengar lagi meskipun sangat sayup di telinga, tapi suara isakan itu seperti palu yang membongkar hatinya lagi. Betapa tidak enak perasaan ini, perasaan tidak bisa menerima tentang seorang anak milik Dria dan sebentuk perasaan lain yang sangat berlawanan yaitu perasaan sedih dan ingin menghibur dan melindungi wanitanya karena melihat keadaan Dria.
Sandro mengikuti dorongan terbesar dalam hatinya. Sandro ikut berbaring di sisi Dria lalu meraih tubuh yang sedang berguncang pelan itu ke dalam pelukannya.
“Sayang…”
Sandro mengecup kepala Dria berkali-kali, dua tangannya mendekap erat menyandarkan kepala Dria di dadanya dan seketika dia merasa telah melakukan yang seharusnya, tangannya kemudian membelai punggung Dria.
“Sudah ya, Dee… ada aku di sini… ada kakak di sini Dee…”
Sandro mengatakannya dalam campuran semua rasa sayang dan cinta yang ada di hatinya.
“Diam ya sayang… aku sedih kamu seperti ini…”
Dria merasakan belaian Sandro seperti mengambil rasa sakitnya sekaligus bebannya karena masih menyimpan satu rahasia lagi dari Sandro.
Dria tak pernah bisa jujur sebelumnya, antara tidak siap dan tak ingin perasaan bahagia mereka terganggu dengan sebuah kenyataan pahit di masa lalu, antara menganggap bahwa mungkin Sandro telah mengetahui semuanya seperti yang pernah Sandro katakan tahu tentang keadaan dirinya dan pemikiran mungkin tidak apa jika tidak dia beritahu kenyataan tentang pernah ada seorang anak yang lahir dari rahimnya.
Tapi selalu ada kata hati yang datang mengingatkan bahwa dia perlu membicarakan hal ini dengan Sandro. Di tengah rasa sakit di hati yang masih menguasai Dria merenggangkan diri dari Sandro walau bersandar di dada bidang itu membuat dirinya tenang dan nyaman.
“Kakak… tadi… tadi kakak mendengarkan tentang…”
Dria tidak sanggup meneruskan, saat matanya bersirobok dengan mata Sandro tiba-tiba dia merasakan lagi perasaannya yang dulu, merasa tidak layak untuk Sandro. Dria menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, perasaan tidak berharga di hadapan Sandro kini datang menyergap. Dria terisak lagi.
“Dee… aku mendengar semuanya…”
Sandro meraih dua tangan Dria dan mengenggamnya. Walau hatinya belum sepenuhnya lurus dan belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan tapi di sini dia sebagai lelaki dan tidak ingin jadi lelaki pengecut dan berpikiran sempit. Logikanya sekarang datang mengingatkan bahwa tidak ada bedanya mengetahui tentang Dria yang tidak murni dengan sekarang mengetahui Dria yang memiliki seorang anak, dia harus belajar menerimanya sebagai satu kondisi yang sama bagi Dria, kondisi yang tidak mungkin diubah.
Dua insan ini bertatapan lurus sekarang, Dria mencoba menyelami hati kakaknya dengan menatap lekat seolah ingin menyingkapkan rahasia di balik tatapan sendu seorang Sandro. Berbeda dengannya Sandro yang menemukan kesedihan dan luka di mata Dria, itu sangat jelas di sorot mata itu.
“Kakak sudah tahu? Apa ayah memberitahu tentang itu juga?”
Dria tahu akhirnya bahwa keberadaan dirinya diceritakan ayah pada sang papi dan papi yang memberitahu Sandro, ayah yang punya maksud agar Sandro dan papinya itu tidak lagi meminta dia untuk menjadi istri Sandro. Dria tidak pernah menyalahkan kejujuran ayah terlebih saat tahu tanggapan positif sang papi dan Sandro padanya.
Sandro melepaskan sebuah napas tak kentara seperti mencoba menetralkan hatinya agar Dria tidak membaca emosi dalam suaranya.
“Tentang anakmu?”
Dria menganggguk kaku.
“Aku baru tahu, Dee… baru mendengarnya sekarang…”
Sandro mengatur intonasi suaranya serendah mungkin agar terhindar dari tekanan emosi.
“Kakak… kakak baru tahu? Apa kakak marah Dee tidak pernah memberitahu tentang itu?”
Suara Dria terdengar lemah kental dengan rasa bersalah membuat Sandro membelai kepala Dria.
“Tidak, Dee… aku hanya… hanya sedikit kaget… aku tidak berpikir bahwa dari hubunganmu yang dulu ada seorang anak…”
“Benar kakak tidak marah? Tidak benci Dee? Ini… ini yang selalu membuat Dee merasa tidak pantas jadi istri kakak… Dee punya aib…”
Airmata meluncur dengan cepat di pipi, sekarang dalam hal apapun dia merasa tidak dapat setara dengan kakaknya, kembali merasa tidak layak untuk disandingkan dengan kakaknya yang hidupnya begitu sempurna.
“Dee… jangan bicara tentang hal itu…”
“Itu kebenarannya. Jika kakak ingin mundur sekarang, Dee rela… toch kita belum melakukan apapun untuk rencana kita… Dee tidak apa-apa asal kakak mendapatkan pasangan yang seimbang dan sebanding dengan kakak…”
Dria mengatakan dengan menguatkan hatinya. Dria bangkit sekarang, lalu mengeringkan wajahnya. Sejak lama kepasrahan terhadap keadaan dirinya selalu mengembalikan kekuatan hati sehingga bisa melewati satu kesedihan berganti kesedihan yang lain. Sandro ikut berdiri dan mengikuti Dria tetap duduk di tempat tidur, sesungguhnya dia belum bisa memberikan banyak tanggapan sekarang, masih ada sedikit kerikil di hatinya.
“Jika tidak menjadi istri kakak… Dee tetap akan bahagia sebagai adik dari kak Sandro…”
Dria mencoba tersenyum, merasa perkataan ini yang seharusnya dia ucapkan, memang hubungan inilah yang ada sejak lama. Melihat Sandro yang diam saja, feeling Dria segera bekerja bahwa kakaknya terganggu dengan hal itu.
“Dee akan bantu kakak untuk melupakan Dee… kita kembali saja seperti awal hubungan kita, mungkin itu lebih membahagiakan buat kita berdua… ya?”
Pahit untuk diucapkan tapi Dria mencoba tersenyum semanis mungkin, dan perkataan itu segera menyadarkan Sandro bahwa Dria seperti sedang meminta mereka putus.
“Jangan mengucapkan kata-kata dengan sembarangan, Dee…”
Sandro bergeser ke arah Dria dan meraih tubuh Dria, memeluk sebagai seorang kekasih dengan pelukan ketat, mengangkat tubuh Dria sehingga Dria sekarang duduk di pangkuannya. Demi membebaskan dirinya dari dilema yang menghampiri yaitu perasaan yang coba menarik langkahnya untuk mundur Sandro kembali melum*at bibir Dria, pertama sedikit lembut kemudian menjadi ciuman panas yang pertama, ada sedikit emosi yang menyertai ciuman itu tetapi kemudian semua emosi dalam hati Sandro lebur dalam keindahan dan kenikmatan hakiki yang semakin dieksplore lelaki ini untuk wanitanya, memuaskan hasrat yang sekarang mengalir di seluruh pembuluh darahnya.
Sementara menikmati tautan indah mereka, Sandro mencoba membebaskan hatinya dari prinsip yang menuntut kesempurnaan raga wanitanya…
.
🐤🐢
.