Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 8. Janji Seorang Kakak



Kehidupan tenang si Tuan Muda Sandro bergeser sepenuhnya, hari-hari yang dilewati sekarang ini berisi kegalauan karena seorang Sandriana.


Baru saja Dria berpapasan dengannya saat Sandro keluar dari lift dan Dria sedang menuju ke toilet. Sejenak mereka berpandangan, lalu Dria menundukkan kepala sebagaimana yang dilakukan setiap karyawan saat bertemu muka secara langsung dengan si penguasa muda Mega Buana. Tak ada yang berani menatap wajah dingin Sandro lebih lama, ini termasuk Dria sekarang.


Sandro membatin…


“Dria… sorot matanya masih sama, masih begitu mengangguku, seperti memintaku untuk…”


Dia masuk ke ruangannya dengan pikiran tentang Dria yang tak mau lepas belakangan ini. Tuan Muda Sandro Kristoffer menggelengkan kepala berkali-kali seperti mengibaskan pikiran yang begitu sembrono menganggu kinerja sistematis otaknya.


“Dria itu… dia adikku… dulu aku begitu sayang padanya… Kenapa aku sengaja menjauhkan dia dariku?”


Saat duduk di kursi maha mulianya Sandro memijit pelipisnya.


“Tuan? Ada masalah? Apa anda sakit Tuan?”


Timothy menangkap gerakan Tuannya saat meletakkan beberapa file yang harus ditanda-tangani sang Direktur utama.


“Tidak… tidak ada apapun…”


Sandro menenangkan dirinya dan meluruskan pikirannya. Setiap kali nama Sandriana Aubrey muncul lagi, ada rasa bersalah muncul dalam hati. Telah dua bulan Dria di sini dan dia begitu mengabaikan gadis itu. Sandro akhirnya mulai berhitung dalam hati, begitu cara dia mengalihkan pikiran tak menentu. Tapi pada hitungan ke lima puluh, nama itu muncul lagi…


“Timothy…”


“Ya Tuan…”


“Mana tablet saya…”


“Ini Tuan…”


Sandro mengabaikan deretan file berkulit hitam yang telah dijejerkan Timo di depannya. Dia membuka tabletnya, membuka sebuah file yang telah dia pelajari semalam, fokus pada pekerjaan mungkin lebih cepat meluruskan pikirannya. Tapi Sandro tidak dapat berkonsentrasi, pikirannya sedang keluar dari jalur yang sebenarnya.


Sandro memandang Timo sekarang, dia butuh bantuan orang lain.


“Beritahu saya pekerjaan apa yang urgen?”


Sandro meletakkan tabletnya.


“Tuan perlu menandatangani dokumen ini…”


Timothy menyimpan senyumnya, Tuan Muda tidak pernah sepelupa ini di pagi hari sehingga dia harus mengingatkan apa pekerjaan rutin pertamanya.


Setelah kesibukkan menggoreskan tanda-tangan berharganya...


“Tuan… ada Direktur MedcoEnergy di sambungan telpon…”


Timothy menyerahkan sebuah benda pipih berwarna hitam yang menjadi saluran resmi untuk beberapa percakapan bisnis jarak jauh.


Akhirnya Tuan Muda bisa masuk dalam rutinitas pekerjaannya dan menjadi sibuk hingga siang hari dan sejenak melupakan kegalauan karena Dria.


“Tuan… apa Tuan akan istirahat sekarang? Saya akan meminta mereka mengatur makan siang kalau Tuan mau makan sekarang…”


"Ya... Lakukan."


Tuan yang terhormat itu beranjak dari depan meja besar tempat dia duduk mengerjakan pekerjaannya berjam-jam ini… Sandro merenggangkan tangannya ke atas di sisi dinding kaca yang menghadap ke bagian luar menatap langit siang dari tempatnya berdiri.


Kemudian Sandro memeriksa gawai khusus miliknya, tidak sampai sepuluh nama di daftar kontaknya. Ada tambahan satu nomor baru di daftar itu, itu diam-diam dilakukan Timothy. Asistennya ini berani menyimpan nomor Dria di gawainya pasti atas perintah sang papi, dan entah kenapa sejak dia mengetahui hal itu dia tidak protes, membiarkan seperti itu dan tidak ada niatan untuk menghapusnya.


Matanya memandang catatan profil Dria, ada email Dria juga disimpan disitu dan ada foto profil Dria yang sedang tersenyum, itu sangat cantik. Bibir Sandro sedikit terangkat mengamati foto profil Dria, dia hanya bisa menikmati memandang tepat di wajah Dria dalam waktu yang lebih lama melalui foto ini.


Ingatan sepuluh tahun yang lalu datang menghampiri…


¤¤¤


“Dee… jangan sedih ya… jangan menangis lagi…”


Sandro menghapus airmata yang membasahi pipi Sandriana, memeluk erat adiknya yang menangis hebat sejak dokter menyatakan mami mereka telah pergi.


“Dee tidak bisa kak… hati Dee sakit, mengapa mami harus pergi sekarang, mami berjanji mami akan sembuh…”


“Kita tidak bisa melawan kehendak sang kuasa, Dee…”


“Dee sendiri sekarang… Dee tidak punya mami…”


“Ada kakak, Deedee… Kakak akan tinggal di sini mulai sekarang…”


“Tapi kuliah kakak?”


“Hampir selesai… kakak tidak perlu tinggal di sana lagi…”


“Kakak harus janji tidak akan tinggalkan Dee juga seperti mami… kakak satu-satunya milik Dee sekarang…”


“Iya kakak janji… kakak tidak akan jauh-jauh dari Dee, kakak akan selalu ada buat Dee… kakak janji akan terus menjagamu... ayo jangan sedih lagi ya…"


¤¤¤


Sebuah janji yang telah dia langgar, bahkan di saat pertama dia melihat Sandriana dia segera mendorong gadis itu menjauh darinya, alasan perjodohan yang dibuat mami, membuat dia melakukan itu pada Sandriana. Sekarang, dia tidak melihat papi akan mewujudkan itu. Setiap kali dia coba mengorek isi hati papi, tidak pernah dia temukan hal itu. Tapi dia terlanjur membangun tembok tebal, meninggikan gunung, memperdalam jurang, dan memperlebar jarak, antara dirinya dan Sandriana…


“Dia adikku… adik kesayanganku… apa yang telah aku lakukan padanya dua bulan ini?”


Kembali Sandro menyesali dalam hatinya tentang tindakannya.


"Tuan... Makan siang anda sudah siap..."


Timothy menghentikan pengembaraan lintas waktu sang Tuan Muda.


.


🐇


.


Menjelang sore sepulang dari sebuah meeting di luar, saat keluar dari lift Tuan Muda Sandro segera mencari Dria dengan matanya. Di belakangnya ada Timo dan Barry.


“Buatkan saya kopi…”


“Baik Tuan…”


Timothy menjawab tapi kemudian meneruskan perintah pada Barry dengan suara mirip bisikan.


“Barry… sekalian untuk kita…”


Barry segera berbelok ke ruang istirahat sambil mengambil gawai dari tas selempang kulit warna coklat terang miliknya bermaksud mengirim chat pada Dria, mengatakan langsung tidak mungkin sekarang. Siapa lagi yang bisa membuat kopi seenak buatan Dria. Tuan Muda menangkap gerakan Barry dengan ekor matanya.


“Minta Dria yang membuat kopi untuk saya seperti biasa dan minta Dria bawa ke ruangan saya…”


Timo mengolah dengan cepat perintah itu di otaknya…


“Bukankah Tuan melarang Dria melakukan sesuatu untuk Tuan dan berhubungan langsung dengan dirimu Tuan? Ah Tuan… Aku tidak salah dengar?”


Timo mempercepat langkahnya hingga hampir menyamai langkah sang pria tampan itu sambil melebarkan mata, keningnya sedikit terangkat.


“Maksud Tuan?”


“Kamu tahu maksudku… kamu tidak tuli ataupun bodoh…”


Si Tuan Muda terus berjalan dengan langkah wibawanya, pandangannya kembali menatap Dria yang sedang berdiri seperti mencari sesuatu di rak penyimpanan deretan file penting. Sementara Timo melihat arah pandangan Tuannya langsung berbelok ke arah Dria dengan perasaan tak percaya, Timo surprise dengan reaksi si Tuan Muda yang berbeda dari dugaannya. Tapi sebenarnya muncul perasaan lega karena ternyata si Tuan Muda sebenarnya tahu siapa yang membuat kopi, tak perlu menutupi hal itu lagi.


Timo jadi paham sesuatu bahwa sedikitnya dia melihat pintu hati si Tuan Muda mulai terbuka menerima dan mengakui keberadaan Dria di sini. Sikap Tuan Muda terhadap Sandriana diam-diam harus dilaporkan rutin kepada Tuan Besar.


Tuan Muda telah berbelok ke ruangannya dan Timo berhenti tepat di samping Dria.


Dria yang sedang fokus mencari file yang dia butuhkan terkejut dengan kehadiran sang sekretaris si Tuan Muda. Si sekretaris utama mundur selangkah, terlalu memikirkan sikap si Tuan Muda membuat dia tidak mengontrol langkahnya sendiri.


“Ah Maaf Non Dria…”


“Ah tidak masalah... Ada tugas apa pak?”


Timothy menatap Dria sejenak, secara pribadi dia telah memperhatikan Dria dan dia banyak kali melihat tatapan sedih Dria terhadap Tuan Mudanya. Mengetahui dari bu Lia bagaimana dulu Tuan Muda memperlakukan nona yang sangat manis ini, Timothy sebenarnya penasaran dengan perilaku si Tuan Muda sekarang ini terhadap nona Dria.


“Begini Non Dria… Tuan Muda minta dibuatkan kopi…”


“Ah? Tadi pagi sudah kan pak… sehari sebaiknya satu gelas saja…”


“Tapi Tuan meminta lagi sekarang…”


“Oh? Baiklah… sebentar pak… kak Barry mana ya?”


"Barry ada di ruang istirahat..."


Timothy menjawab lalu sedikit bergeser memberi ruang untuk Dria bergerak.


"Pak Timo ingin dibuatkan sekalian?"


"Iya Non Dria... Terima kasih..."


"Kak Delfris mau? Kak Hope dan Kak Gio juga mau?"


Dria bertanya pada tiga pria yang masih begitu serius dengan tugas masing-masing.


"Ehmm... boleh... boleh Non Dria..."


Hope menjawab sambil mengangkat mukanya yang suntuk karena pekerjaan, memandang Dria penuh rasa terima kasih.


"Baiklah... Tunggu sebentar ya..."


Dria segera menuju pantry di ruangan tempat mereka istirahat.


“Non… nanti Non Dria yang antarkan langsung ke meja Tuan Muda… tidak usah minta Barry lagi yang mengantarkannya…”


Timothy memberitahu dengan wajah sungkan, tetap saja menyuruh si Nona Muda melakukan sesuatu rasanya tidak enak, terlebih takut diketahui Tuan Besar. Tapi sikap Dria yang low profile dan selalu menampik statusnya membuat Timo sedikit adem.


Dria berhenti dan berbalik menatap Timothy sambil menggelengkan kepala. Telah sejak awal di sini Dria tahu bahwa si Tuan Muda melarangnya berinteraksi langsung dengan dirinya. Perasaan sedih tentang hal itu masih sering muncul di hati.


“Saya tidak berani, pak Timo…”


Dria berkata dalam ekspresi dan nada suara yang berubah, dia tidak ingin menghadapi langsung wajah dingin itu dalam ekspresi marah, dia pernah melihat itu saat Delfris melalaikan sesuatu yang penting berkaitan dengan janji temu dengan kolega si Tuan Muda.


“Tidak apa-apa Non Dria… Tuan Muda tahu ternyata Non Dria yang selalu membuatkan kopi…”


“Ah masa pak? Tapi kenapa Tuan Muda tidak pernah marah jika tahu tentang itu…”


“Saya tidak tahu Non, tapi tadi sangat jelas Tuan Muda meminta Non Dria yang membuatkan kopi…”


“Tuan Muda menyebut nama saya langsung?”


“Iya… jelas meminta Non Dria kali ini dan meminta Non Dria yang mengantar sendiri…”


Mulut Dria membulat dan refleks memandang ke arah Tuan Muda yang sudah duduk tenang di tahta kebesarannya. Menyusup perasaan entah apa namanya dalam dada Dria, perlahan Dria berjalan ke arah ruang istirahat, memutar lehernya sekali lagi dan mendapati tatapan Tuan Muda, beberapa detik tatapan terjalin, Dria ingin tersenyum tapi dia menahan hati tak ingin cepat-cepat menafsirkan sesuatu yang berbeda tentang sikap si Tuan Muda.


Dria lebih dulu memutus pandangan lalu mulai berpikir bagaimana nanti saat masuk di dalam ruangan utama gedung megah ini. Dia telah memandang ratusan kali ke dalam sana, dan selalu hanya bisa mengamati ruangan itu dari luar kaca.


Karena perasaan yang mulai was-was Dria tidak benar-benar fokus, hingga harus dua kali membuat ulang kopi.


“Kenapa Non Dria?”


Barry yang masih menunggu di ruang yang sama merasa heran Dria membuang kopi yang dibuatnya ke dalam wastafel.


“Itu… eh itu terlalu pahit…”


“Sebenarnya tidak masakah kalau kopinya kental, untuk Hope dan Delfris saja, kadang kalau mereka buat sendiri kopi mereka sangat kental..."


"Ah ya... tapi aku terlanjur membuangnya kak... aku buat lagi, untuk mereka berdua aku buatkan terpisah saja..."


Dria menghela dan menghembuskan napas menenangkan hatinya. Sesaat kemudian...


"Kak Barry tolong bawa yang ini... "


Dria menunjuk nampan berisi empat gelas kopi untuk barisan para pria terkeren di gedung ini, lalu dia membawa sendiri kopi milik Tuan Muda.


"Non Dria... Itu untuk Tuan Muda kan?"


"Iya... Aku yang bawa sekarang kak... Begitu kata pak Timo..."


"Oh? Serius seperti itu?"


"Ah?... Iya... Kata pak Timo seperti itu."


Keduanya memang tampak ragu, tapi tidak mungkin pak Timo menyuruh seperti itu jika tak ada dasar. Barry akhirnya membawa nampan kopi untuk mereka.


Baru sekali ini Dria membawa nampan berisi kopi dari ruang istirahat dengan penuh kehati-hatian, dia takut tertumpah setetes saja dan takut kopi buatannya kali ini berbeda dan tidak dapat memuaskan pria itu, sang pangeran pewaris bisnis yang ingin sekali dia lihat sebagai kakaknya. Tatapan Dria hanya tertuju pada gelas kopi itu, perasaan yang menguasainya seperti nasibnya sesaat nanti sangat bergantung pada segelas cairan berwarna hitam yang sedang mengepul panas.


Dan si Tuan Muda tak dapat melepaskan pandangannya pada Dria yang sedang berjalan ke arah ruangannya. Wajah serius Dria memancing sebuah ingatan masa lalu setiap kali Dria minta diajarkan sesuatu, mata almondnya akan membulat lucu dengan bibir mengerucut, tapi dia akan terus memperhatikan apa yang Sandro ajarkan. Wajah si Tuan Muda melembut.


Saat Dria masuk ke ruangannya Sandro mengalihkan pandangan ke beberapa file di mejanya, tiba-tiba sebuah rasa yang begitu asing menyerbu hatinya, ingin terus melihat Dria tapi ada rasa gengsi karena selama ini tidak pernah memperlakukan Dria dengan ramah. Dan ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya, tangannya terasa berkeringat. Sandro meraih balpoint emas miliknya, memutar-mutar di antara jari telunjuk jari tengah dan jari manis untuk mengalihkan perasaannya yang tiba-tiba menjadi tak menentu, berusaha mengendalikan diri sendiri sehingga bisa bersikap tenang di hadapan Dria.


Sebaliknya Dria mendekati meja Sandro masih dengan perasaan cemas. Ini pertama kali masuk ke ‘aquarium’ dan benar-benar seperti sedang menyelam dalam air yang dalam saja, paru-parunya seperti melambatkan fungsinya sehingga hampir kesulitan mengambil satu napas berikutnya. Dria tegang masuk ke dalam ruangan ini, ingin secepatnya meletakkan gelas kopi itu dan segera keluar.


“Permisi Tuan…”


Dria meletakkan gelas kopi di meja kerja yang telah menghasilkan jutaan dollar itu dengan hati-hati. Suara Dria keluar begitu pelan, tapi bisa menembus gendang telinga Sandro. Sandro mengangkat kepalanya, tatapan mereka bertemu. Dria terhipnotis sejenak, sorot mata Sandro yang lembut penyebabnya. Begitu berbeda dengan sebelumnya, itu tatapan yang dia kenali dari sosok pria tampan ini tatapan yang sangat melekat di benaknya, tatapan yang dirindukan Dria… hati Dria menghangat.


“Kak Sandro…”


“Eh… ini kopinya Tuan…”


“Ah iya…”


“Permisi…”


Dria segera berbalik, matanya tiba-tiba memanas dan dia tidak ingin Sandro melihatnya meneteskan airmata. Seandainya kakaknya ini tidak menjaga jarak, betapa bahagianya Dria. Sejak meninggalkan kota ini sepuluh tahun yang lalu Dria kehilangan kehangatan keluarga, ayah tidak dekat dengannya sehingga tidak dapat sepenuhnya mengisi ruang kosong hatinya saat kehilangan sang mami dan saat harus terpisah dari kakak yang dia sayang.


“Terima kasih, Dee…”


Langkah Dria tersendat mendengar suara Sandro yang juga lembut, dan panggilan itu… hanya ada dua orang di dunia ini yang menyebut namanya dengan cara seperti itu… dan ini kalimat yang sungguh-sungguh berbeda dengan kalimat Sandro sebelumnya padanya, dan cara mengucapkan pun terdengar begitu berbeda…


“Jangan pernah mengganggu dan mengharapkan sesuatu…”


Kalimat pertama yang begitu menggores hati itu segera terngiang lagi dan menyadarkan Dria, dia tidak boleh mengharapkan sesuatu dari Sandro. Cepat-cepat Dria melangkah keluar. Di dalam ruangan istirahat Dria membiarkan airmatanya mengalir, hatinya yang selalu kosong, kali ini pun terasa semakin kosong. Di balik sikap dan keriangannya selama ini sebenarnya jauh di lubuk hatinya masih menyimpan sedih yang begitu dalam karena sang mami dan karena sang kakak.


Di belakangnya, Sandro menatap dengan sedih, hatinya terasa nyeri di bagian tengah. Sebutan Dria untuknya dan sikap Dria terhadapnya seperti salah satu karyawannya sekarang membuat Sandro tidak suka.


.


.


🌼🌼🌼


.