
Tuan Harlandy keluar dari ruang baca miliknya dengan menggenggam sebuah kertas.
“Lucas…”
Suara berat itu memanggil asisten setianya puluhan tahun ini, panggilan yang menggema mengisi pagi di ruangan besar rumah ini. Seorang pelayan yang sedang bertugas membersihkan ruangan segera berlari mencari pak Lucas. Tak lama pak Lucas datang mendekati si Tuan Besar yang masih menggunakan kimono tidur warna coklat tua dengan kacamata baca di atas hidungnya.
“Ya Tuan…”
“Bagaimana cara kalian bekerja?”
Si Tuan Besar masuk lagi ke ruang baca, pak Lucas mengikuti Tuan Besar, dia tahu sesuatu telah terjadi melihat tampang si Tuan Besar.
“Ada apa Tuan?”
“Segera check di gerbang, kapan Dria lewat di sana…”
“Maksud anda?”
“Kalian kecolongan lagi… Dria telah pergi dari sini.”
Suara berat semakin berat terdengar karena sekarang diucapkan dengan sedikit emosi.
Pak Lucas melakukan panggilan ke security di pintu gerbang luar dan segera tahu bahwa mereka telah lalai mengawasi Dria, si Nona Muda.
“Tuan… yang lewat tadi pagi katanya hanya Tuan Muda… belum ada mobil karyawan yang keluar gerbang.”
“Sandro ke mana? Apa dia telah mencari Dria?”
“Sebentar Tuan… saya akan mencari tahu…”
Buru-buru pak Lucas keluar dari ruangan itu, dia harus bergerak cepat. Kembali pak Lucas mengecek dengan gawainya ke pintu gerbang untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Dengan terburu-buru pak Lucas menuju ruang kontrol untuk melihat CCTV, dalam hati bertanya-tanya apa yang telah terjadi, dan mengapa Tuan Besar mengatakan Dria telah pergi.
Timo sedang menuruni tangga baru mengecek keberadaan si Tuan Muda, biasanya sepagi ini sudah selesai berolahraga tapi sejak tadi bolak-balik kamar si Tuan Muda masih terkunci.
Pak Lucas yang melihat Timo melambai meminta Timo segera datang.
“Timo… Tuan Muda ke mana?”
“Tuan masih di kamarnya, Tuan tidak melakukan exercise, semalam Tuan tidur terlambat…”
“Kamu melihat Non Dria?”
“Mungkin masih di kamar juga pak…”
“Ah Timo, cepat bergerak… kita harus menemukan Non Dria, Non Dria tidak ada…”
“Maksudnya?”
“Non Dria kabur… beritahu Tuan Muda…”
Timo segera naik lagi. Di depan kamar Sandro Timothy bertemu Tety.
“Non Dria mana?”
“Masih di dalam, sudah sejak tadi saya mengetuk pintu tapi belum dibuka, biasanya Non Dria sudah bangun jam seperti ini…”
“Pintu masih terkunci?”
“Iya pak Timo…”
Timo heran di sini mengapa pak Lucas mengatakan Non Dria kabur. Timo mengetuk pintu Tuan Muda berkali-kali. Ketika pintu terbuka, wajah tampan masih mengantuk muncul dengan kesal.
“Aku masih butuh tidur sebentar Timo! Kamu lupa kita tidak ke kantor lagi?”
Sandro masuk ke kamarnya lagi.
“Non Dria pergi Tuan…”
“Pergi ke mana? Katakan padanya jam keberangkatan kita ke bandara…”
Sandro menjawab dengan suara masih mengantuk.
“Non Dria pergi dari rumah ini, menurut pak Lucas Non Dria kabur…”
Seperti terkena setrum gerakan cepat Sandro yang berbalik dan langsung menuju kamar Dria dengan tubuh yang hampir menyambar Timo membuat Timo terkejut. Sandro membuka pintu kamar tapi terkunci, dia segera melihat Tety.
“Dria di dalam kan?”
“Saya tidak tahu, sejak tadi saya mengetuk Non Dria tidak membuka pintu.”
“Kenapa bilang dia kabur?”
“Saya juga belum terlalu jelas Tuan, pak Lucas terburu-buru tadi saat memberitahu…”
“Timo, ambil kunci cadangan kamar ini di laci nakas sebelah kanan. Kenapa dia harus mengunci pintu?”
Timo melakukan perintah sang Tuan Muda. Untung saja waktu itu dia meminta menyimpan kunci kamar Dria.
Sandro mulai was-was. Memikirkan gadis itu, otaknya menalar dengan cepat apa yang terjadi seminggu terakhir… Dria yang marah soal paspor hingga menolak menyimpan sendiri paspornya, Dria yang beberapa kali menyampaikan penolakannya ikut dalam perjalanan bisnisnya. Sandro hampir pasti bahwa di balik pintu yang masih tertutup itu kemungkinan besar Dria memang tidak ada lagi di dalam.
Saat pintu dibuka Timo Sandro segera merangsek masuk diikuti Timo dan Tety. Tempat tidur sangat rapi menunjukkan dengan jelas tidak ada Dria. Sandro mengecek pintu ke arah balkon, anak kunci tergantung dan terkunci dari dalam, semua jendela dengan tirai putih masih tertutup, Sandro masuk ke kamar mandi yang pintunya terbuka, tidak ada Dria di dalam sana.
“Tuan… tas yang biasa Non Dria bawa sehari-hari tidak ada di sini, begitu juga tas punggung Non Dria…”
Sandro lemas mendengar suara Tety.
“Check lagi Tety… dompet, kartu identitas??”
“Sudah Tuan… saya yang selalu merapihkan barang-barang Non Dria, jadi saya tahu tempatnya… dan… beberapa pakaian Non Dria juga tidak ada…”
“Kamu yakin?”
“Iya Tuan…”
Sandro keluar dari kamar Dria, tujuannya ke ruangan kontrol keamanan rumah ini. Perasaannya menjadi tidak karuan. Di dalam ruangan ada pak Lucas dan seorang pelayan yang bertugas di sini.
“Paman?”
“Sudah saya pastikan Tuan, Non Dria keluar dari kompleks rumah ini sekitar tiga jam yang lalu menggunakan mobil Anda, security tidak mencegah karena berpikir itu anda… dan…”
“Apa???”
“Mobil Anda ditinggalkan Non Dria tak begitu jauh dari gerbang, seorang security sedang membawa mobil itu ke sini…”
“Kapan paman tahu Dria tidak ada?”
“Baru saja Tuan… Tuan Besar yang memberitahu saya…”
“Papi tahu dari mana?”
“Saya belum menanyakan hal itu Tuan…”
Kenapa justru papinya yang lebih awal mengetahui hal ini? Sandro meninju dinding di sebelahnya dengan seluruh emosinya, kemarahan terbesar muncul untuk dirinya sendiri yang tidak tanggap soal Dria baik yang pernah terjadi dua bulan silam maupun sekarang.
“Tuan… Anda dipanggil Tuan Besar…”
Age, seorang pelayan Sandro datang memberitahu. Di ruangan baca papinya, Sandro langsung disambut suara berat dan dalam menunjukkan kemarahan padanya.
“Kamu tidak becus Sandro. Kamu lalai, kamu tidak menjaga dan memperhatikan Dria dengan baik. Dria pamit dengan cara seperti ini pasti karena sesuatu!”
Sandro merebut kertas yang diacungkan sang papi dan langsung membaca tulisan tangan Dria.
.
Tuan Harlandy yang terhormat…
Saya berterima kasih diberi kesempatan yang besar untuk menjadi bagian keluarga ini. Menjadi anak keluarga Darwis, saya bahagia untuk itu. Tapi maafkan karena saya memilih kembali menjadi anak ayah Rahmadi saja, setahun ini saya sudah berusaha menghormati keinginan Mami Rosalie untuk tinggal di tengah keluarga Darwis, dan saya pikir Tuan Harlandy tidak berhutang lagi pada Mami…
Sekali lagi Terima Kasih banyak pernah menjadi bagian keluarga ini, saya tidak bisa menghitung dan membalas kebaikan hati keluarga ini. Hanya doa saya kalian terberkati.
Sandriana
.
Sandro tidak tahu bagaimana menjabarkan perasaannya saat selesai membaca surat pamitan Dria. Terasa begitu formal, biasanya dia menyapa dengan panggilan papi. Sandro merasakan bahwa Dria telah mengambil jarak, bahkan tidak menyebutkan namanya di sana.
“Kamu terlalu lambat melakukan sesuatu mengenai Dria… Kenapa Dria pergi?”
“Aku tidak tahu, kenapa papi bertanya padaku?”
“Kamu yang sehari-hari bersamanya, kalian merencanakan perjalanan ini, lalu tiba-tiba dia pergi?"
Sandro mengingat alasan Dria, apa hanya karena hal sepele itu?
"Sandro? Masa kamu tidak tahu sesuatu?"
"Deedee memang menolak ikut, dia hanya menyebutkan sebuah alasan konyol dan eh... sedikit bodoh... dia tidak bisa naik pesawat..."
"Itu bukan alasan konyol Tuan Muda... Non Dria datang dari kota S ke sini menggunakan kereta api, dia menolak naik pesawat dengan alasan yang sama..."
Pak Lucas menanggapi Sandro.
Sandro terkesiap, dua bulan lalu ketika Dria berniat pulang Sandro menjemputnya di stasiun kereta. Hatinya tiba-tiba terasa sakit mengetahui dirinya penyebab Dria pergi, justru dia yang merasa bodoh dan konyol begitu meremehkan kenyamanan Dria.
"Aku tidak tahu soal itu..."
Sandro menjawab lirih.
"Sudah... bersiap untuk perjalanan bisnismu, ini untuk masa depan perusahaan. Sandriana menjadi urusan papi sekarang.”
"Aku batal berangkat..."
Sandro segera keluar tapi…
“Sandro!!”
Suara sang papi seperti menggetarkan ruangan itu. Langkah Sandro terhenti.
“Aku akan mencarinya pi… persetan dengan urusan bisnis…”
Sandro membalas papinya dengan semua kumpulan emosi tergambar di wajahnya, keresahan, kecemasan, kepanikan dan ketakutan.
“Sandro!! Jangan bodoh! Urusanmu di sana sangat berharga… kamu membatalkan perjalananmu akan mengganggu perjanjian dengan mereka, orang yang akan bekerjasama denganmu dari negara itu sangat ketat dengan perjanjian… kamu akan dianggap breach of contract, perusahaan bisa rugi miliaran dolar. Kamu harus berangkat! Sudah papi katakan, Sandriana urusan papi!”
“Piii???”
“Berangkat, Sandro…!!”
“Ahhh…”
Sandro tahu dia tidak bisa membantah saat melihat pandangan dan gesture sang papi. Sebelum melangkah keluar dari ruangan itu Sandro melampiaskan emosinya dengan menendang memukul angin dengan tangannya, begitu kesal dan marah dengan situasi ini.
Auto fokus pada Dria, Sandro berjalan sambil memandang lantai. Senyawa kimiawi di otaknya bekerja dan segera kondisi yang tidak baik ini menghilangkan antusiamenya terhadap perjalanan ke beberapa negara. Jam keberangkatan tidak lama lagi, tapi Sandro telah kehilangan semangat.
Dia berpikir bahwa perjalanan ini akan membuat Dria semakin dekat dengannya. Setelah urusan bisnis selesai dia telah merencakan liburan berdua saja, Timo dan beberapa petinggi perusahaan dan beberapa staff akan kembali lebih dahulu. Tapi rencananya telah buyar.
Kalimat sang papi langsung tertanam di otaknya, itu benar, dia bergerak terlalu lambat. Setelah terlepas dari Emma Sandro bersikap lebih santai terhadap keberadaan Dria baginya, karena dia berpikir tentang Dria yang tidak akan ke mana-mana dan lagi Dria tidak terlihat antusias terhadap pria membuat dia merasa posisinya aman. Sandro memang tidak memasang target kapan, tapi dia ingin semua berlangsung perlahan saja, jodoh tidak mungkin ke mana-mana, tapi sekarang jodoh sudah pergi entah ke mana.
.
🐢
.
Hal yang segera terpikirkan saat tertekan karena rasa takut yang besar terhadap sesuatu adalah pergi sejauh-jauhnya dari sumber tekanan. Dria mengambil suatu tindakan untuk melepaskan diri dari kehidupan yang tidak lagi nyaman untuknya, Dria kembali ke kota S. Sepanjang malam memutar otak bagaimana pergi dari sini, akhirnya dia menemukan cara. Subuh, dia mengendap ke tempat parkir, memilih mobil yang paling sering digunakan Sandro dan nekad keluar dari rumah itu.
Ada karyawan yang melihat mobil itu bergerak tapi mereka menganggap itu Tuan Muda, termasuk security yang dengan cepat membukakan gerbang. Dria sendiri tak percaya, segampang itu dia keluar dari sana.
Dan di sini dia sekarang, dalam perjalanan kembali ke kota S menggunakan kereta eksekutif. Perasaannya jelas saja tidak sepenuhnya lega, dia harus berhadapan dengan ayahnya dan masih harus memikirkan cara bagaimana menghindari keluarga Darwis.
Ada sedikit sesal di hatinya karena rumah itu bukan sebuah neraka sebenarnya, itu surga kecil di dunia ini karena dia diperlakukan bak putri di sana, tapi keinginan untuk menjalani kehidupannya yang telah melekat dengannya sebelum datang ke kota ini lebih kuat mendominasi hatinya.
.
Helo readers...
Syukur jika masih menyukai cerita ini... Terima kasih atas dukungannya, salam sehat.
.