
Tuan Muda masih berbaring dengan gelisah di tempat tidurnya, belum sepenuhnya siklus tubuhnya berfungsi dengan baik sehingga selarut ini dia belum bisa segera tertidur. Dan ada satu hal yang begitu mengganggu sekarang, hp Dria belum aktif juga padahal dia ingin sekali berbicara dengan Dria.
Setelah perbincangan dengan sang papi Sandro berpikir keras bagaimana cara menjalin kedekatan dengan Dria setelah semua terungkap seperti ini, Dria tahu tentang perjodohan dan dirinya tahu tentang ketegasan sikap Dria yang hanya menganggapnya seorang kakak selamanya.
Sandro mempertimbangkan berkali-kali niatnya menemui Dria, ingin secepatnya berangkat ke S tapi dia tidak ingin kemunculannya berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan Dria yang sudah begitu indah. Memang ada yang mengganjal sekarang akibat pemaksaan kehendaknya tentang perjalanan ke luar negara ini, dan Sandro tidak ingin hal itu semakin besar dan menjadi kendala buatnya untuk usahanya menjadikan Dria kekasih.
Ini sudah setengah sebelas malam tapi Timo nekad mengetuk pintu kamar Tuan Muda, dengan harapan si Tuan Muda belum terlelap.
Saat pintu kamar terbuka.
“Jika bukan sesuatu yang penting, aku akan menghajarmu Timo… kamu menggangguku.”
“Mana saya berani jika bukan hal penting Tuan…”
“Apa?”
Dengan ekspresi sangat terganggu si Tuan Muda berdiri di antara pintu tanpa berniat memberikan akses buat Timo untuk masuk.
“Besok tanggal 9 Tuan…”
“Tidak perlu mengingatkanku soal tanggal peringatan mami…”
“Berarti Anda melupakan sesuatu yang lain dengan tanggal itu…”
“Apa? Jangan bertele-tele!”
Suara naik satu oktaf pertanda tak ingin lebih lama meladeni Timo.
“Besok ulang tahun Non Dria juga, saya tidak mendengar anda menyinggungnya sepanjang hari, jadi saya hanya ingin mengingatkan... saya pikir itu penting buat Anda Tuan...”
Telah lama waktu berlalu dan ingatan tentang hari ulang tahun Dria tertutup oleh ingatan tentang hari kepergian sang mami. Tangan yang memegang erat daun pintu kini terlepas, pandangan berubah menjadi lebih kalem. Si Tuan Muda masuk ke dalam kamar membiarkan pintu terbuka pertanda buat Timo dia disilahkan untuk ikut masuk. Sandro duduk di sofa panjang warna broken white, menyandarkan kepalanya di sana dan tidak menginstruksikan apapun pada Timo. Timo hanya berdiri di ujung sofa bersikap menunggu. Si Tuan Muda tak bicara…
“Saya sudah memesan kue dan memberitahu Tety untuk menerima itu.”
“Tety akan ke S?”
“Tety sekarang di S Tuan, Tuan Besar membawa Tety untuk menemani Non Dria…”
Posisi tubuh Sandro segera berubah, duduk dengan kekuatan bertumpu di dua sikunya yang bersandar di pahanya.
“Masukkan nomor Tety ke hpku.”
“Baik.”
Timo mengambil hp khusus sang Tuan Muda dan melakukan apa yang diperintahkan.
“Apa aku ke sana saja Timo?”
“Jika Tuan mau… saya akan memesan penerbangan pertama besok pagi.”
“Kita berangkat malam ini, Timo…”
“Selarut ini kita tidak akan bisa mendapatkan pesawat jet yang bisa langsung berangkat, jatuhnya tetap berangkat pagi hari… sama saja dengan penerbangan biasa.”
“Ahhh… kenapa papi menjual jet kita? Akhirnya saat butuh kita harus sewa milik orang.”
“Karena itu hampir-hampir tidak digunakan Tuan… sementara biaya pemeliharaan sangat besar belum biaya parkir di bandara...”
“Apa papi kekurangan uang?”
“Menurutku bukan itu alasannya Tuan, masalah asas manfaat saja… Tuan Besar sangat ketat dengan semua aset baik yang bergerak maupun tidak bergerak, jika tidak lagi menguntungkan Tuan pasti melepaskannya.”
“Tidak usah dijelaskan Timo, aku tahu itu… tapi… kamu duduk saja Timo, aku ingin menanyakan sesuatu…”
Timo sejenak menatap Tuannya, selama ini dia selalu bersikap formal terhadap Tuannya ini sekalipun sejak pertama terlihat sekali Sandro tidak menjaga jarak dengannya. Tidak ada tempat duduk single yang dekat dengan posisinya berdiri jadi Timo duduk dengan canggung di salah satu dudukan di bagian sofa panjang itu di samping Tuan Muda.
"Aku butuh pendapatmu, apa yang harus kulakukan untuk mendekati Dria sebagai wanita... Dria tahu soal perjodohan dan Dria tidak menginginkan itu..."
Timo menelan ludahnya, Tuan Muda menanyakan sesuatu yang begitu pribadi, sekalipun setelah ada Non Dria itu bukan suatu hal yang baru, tapi dia juga mengalami masalah soal bagaimana memulai hubungan seperti ini dengan seseorang. Dia pernah ada di posisi mencintai dan tidak pernah melakukan apapun tentang itu hingga sekarang. Bagaimana dia dapat menjawab Tuan Muda?
"Timo?"
Suara mendesak Tuan Muda membuat Timo memperbaiki cara duduknya, semua teori mengenai komunikasi intrapersonal segera muncul di otaknya siap dijabarkan untuk si Tuan Muda yang duduk tak sabar menunggu Timo memulai kelas konseling pribadinya.
.
🪺
.
Ayah Rahmadi telah menunggu di depan pintu kamarnya saat Dria keluar kamar. Setiap tahun seperti ini yang terjadi di depan pintu kamarnya. Ayah menyambut Dria dengan sebuah pelukan. Dria diam dalam senyum kecilnya di pelukan ayah.
“Selamat ulang tahun Sandriana, anakku… doa ayah kebahagiaan dan keberkatan melingkupi hidupmu sepanjang tahun ini…”
“Terima kasih, ayah…”
Dria mempererat pelukan beberapa detik lalu melepaskan diri.
“Ijinkan ayah membuat acara kali ini ya?”
“Tidak, ayah… seperti biasa saja…”
“Dria… ayah pikir, mamimu justru akan bersedih jika tahu kamu tidak pernah merayakan ulang tahunmu lagi sejak kematiannya…”
Dria melangkah ke arah ruang dapur tanpa menjawab sang ayah. Si ayah menyusul di belakang Dria.
“Dria… tidak baik menyimpan duka terlalu lama…”
“Bukan seperti itu ayah, hanya rasanya tidak pas saja kita membuat pesta di hari peringatan kematian mami…”
“Ini sudah sebelas tahun, nak…”
“Aku tahu ayah, tapi sudah terbiasa seperti itu… aku tidak dapat mengubah perasaanku tentang hari ini, aku tidak dapat menganggap ini hari istimewa buatku…”
“Ayah tidak memaksamu mengubah perasaanmu, ayah hanya minta ijin membuat acara syukuran kecil-kecilan di rumah ini… ini hari spesial buat ayah selama ini, saat kamu lahir hidup ayah berubah sepenuhnya, memiliki seorang anak sepertimu itu sangat luar biasa, ayah tidak dapat melupakan hari itu, nak…”
Kalimat si ayah mengetuk hati Dria. Dia berhenti dan berbalik menatap si ayah menemukan harapan di mata ayah. Dria tidak tega membuat ayahnya kecewa, baru sekali ini ayah meminta hal seperti ini.
“Baiklah, terserah ayah saja…”
Ayah tersenyum lalu mengusap kepala Dria sejenak. Di dapur, Dria terkejut melihat di atas meja makan sebuah kue ulang tahun dan beberapa lilin kecil di atasnya telah menyala. Ada Tety yang berdiri di sisi meja.
“Tety… kamu juga tahu ulang tahunku? Ayah yang memberi tahu ya?”
“Tidak Non, tadi malam pak Timo menelponku memberitahu ada kiriman kue ini…”
“Ahh? Ini dikirim dari J?”
“Hahaha… tidak Non, dari kota ini juga, pak Timo hanya memesannya dan meminta saya menerimanya…”
“Ahh… iya, kenapa aku begitu bodoh…”
“Terima kasih Tety…”
Dria menatap kue yang sekarang telah diangkat Tety. Tety memberikan kue itu pada ayah Rahmadi, dan Dria hanya menatap itu tanpa niat melakukan sesuatu.
“Tiup lilinnya Non Dria, sebelumnya ucapkan doa dan harapan Non Dria sendiri untuk tahun ini…”
Dria tahu tradisi itu, tapi ini masih terasa asing untuk dia lakukan. Dria memandang ayahnya dan melihat pancaran wajah senyum sukacita di sana, ayah terlihat bahagia untuknya, jadi mengapa dia harus menahan hati untuk berbahagia juga di hati istimewa miliknya?
Terlalu lama dia hanya peduli dengan lukanya dan tidak melihat pada ayahnya. Ayah mengalami hal menyedihkan saat di lahir, kondisi kesehatan ibu yang semakin buruk pada tahun-tahun itu tentu merupakan kenangan yang menyakitkan. Tapi ayah memilih untuk bergembira sekarang karena ulang tahunnya ketimbang bersedih karena ibu yang sudah tiada. Perlahan sesuatu merambat di hatinya… dia juga harus belajar memilih berbahagia dari pada tenggelam dalam dukacita setiap kali berjumpa dengan hari lahirnya.
Dria menutup matanya, menaikkan sebuah harap dan keinginan di hati kepada Sang Empunya Hidup, lalu saat membuka mata segera meniup lilin yang menyala dengan sebuah senyum manis di wajahnya.
Tety bertepuk tangan...
"Selamat ulang tahun, Non Dria..."
"Terima kasih Tety. Harusnya hari ini aku ke makam mami, tahun lalu aku tidak sempat melakukannya, aku tiba di J dua hari sesudah hari kematian mami."
"Sudahlah Non... seingatku Tuan Besar dan Tuan Muda pun ke makam Nyonya Rosalie hanya pada hari raya."
"Iya... Hari raya kemarin kami bertiga berkunjung ke sana. Kebiasaan mereka memang berbeda dengan kebiasaan ayah."
"Hari ini kita merayakan hari ulang tahun Non Dria saja..."
Dria mengangguk mengiyakan Tety lalu memandang ayahnya yang sedang tersenyum padanya.
"Ayah... ayah ingin membuat acara apa?"
"Hanya mengajak karyawan ayah makan malam di sini, kita pesan makanan pada bu Ima..."
"Terserah ayah saja... aku jadi ingin membuatkan kue untuk acara ayah..."
"Itu acara ulang tahunmu, nak..."
"Ahh baik... baik. Tety, kita keluar ya... kita belanja bahan kue. Tapi sepertinya kita harus belanja peralatan untuk membuat kue juga..."
"Kapan Non?"
Tety melihat jam di gawainya, dia sudah diberitahu sesuatu oleh pak Timo.
"Nanti, toko buka di atas jam sembilan... Kita buat sarapan dulu saja..."
"Oh... baik Non... aku akan membuat nasi goreng istimewa untuk sarapan, Non Dria mandi saja sana, ganti baju yang bagus, hari ini harus lebih cantik dari biasanya karena ini hari istimewa..."
"Tety..."
"Tidak ada protes ya..."
Tety mendorong Dria kembali ke kamar. Di kamar Dria tersenyum kecil, hari yang berbeda untuknya. Hidup memang tak harus dijalani dengan cara yang sama, tak pernah ada kata membosankan jika mau membuka pintu hati untuk sebuah sukacita dan kesenangan dari sesuatu yang lain yang sebelumnya tidak dipedulikan.
Dria menuruti perkataan Tety. Tety membawa banyak baju miliknya dari J sehingga dia harus menambah satu lemari lagi di kamarnya. Dria memilih sebuah dress katun longgar tanpa lengan warna kuning muda. Sebelumnya tidak tidak menyukai dress itu karena warnanya, tapi hari ini dia memilih itu.
Selesai mandi dan sedikit berdandan Dria keluar kamarnya. Ada suara orang mengobrol di teras membuat Dria tak jadi ke dapur tetapi melangkahkan kakinya ke teras. Di ambang pintu Dria berhenti dan tertegun...
"Deedee..."
Di teras rumah ada ayah dan ada pak Timo serta kak Sandro yang sedang memegang buket bunga.
Dria kaget dan juga tak siap dengan kehadiran sang kakak tersayang hanya memandang tanpa bisa mengucapkan sesuatu. Seharusnya dia bisa memperkirakan kedatangan kak Sandro, jika pak Timo mengirimkan sebuah kue untuk ulang tahunnya, berarti kakaknya juga pasti tahu tentang hari ini.
Sandro mendekat dengan senyum tipis lalu menyodorkan bunga, setelah bunga diambil Dria Sandro hanya memeluk Dria singkat lalu...
"Selamat ulang tahun ya..."
Sandro menahan sekuat hati keinginannya untuk menyalurkan seluruh rindunya, tidak membuat afeksi yang membuat Dria tidak nyaman dan membuat dirinya senormal mungkin bukan sesuatu yang mudah.
Dria sedikit tenang saat dia keluar membeli keperluan membuat kue, tapi saat kembali dan menemukan Sandro dan pak Timo masih ada di rumah, Dria lebih banyak bersembunyi di dapur dengan alasan membuat kue. Tapi melihat sepanjang berada di sini si kak Sandro lebih banyak bercakap dengan ayah, dan sesekali saja memandang dan senyum padanya, tak ada komunikasi lain yang terlalu berarti membuat Dria menjadi nyaman dan dapat menerima secara wajar kehadiran Sandro di rumahnya.
Malam hari saat Sandro berpamitan, hanya mereka berdua di teras, Timo sudah masuk ke mobil, ayah dan karyawan ayah melanjutkan dengan minum kopi di sebuah saung yang tersedia di salah satu sudut halaman ayah yang luas ini, sebuah tempat yang sering digunakan ayah untuk menerima konsumennya.
"Dee... Kakak pulang ya..."
"Ahh iya kak Sandro, terima kasih sudah datang jauh-jauh untuk Dee..."
"Haha... kamu adikku Dee, wajar kalau kakak datang di hari ulang tahunmu... kamu memilih tinggal di sini, jadi sesekali kakak akan datang mengunjungi jika punya waktu..."
"Ahh? Terserah kakak saja..."
"Mau melakukan apa di sini? Mau kerja atau mau buka usaha?"
"Dee mau coba buka usaha, Dee sudah diajari setahun ini kan?"
Dria tersenyum dan itu terlihat sangat manis untuk Sandro.
"Usaha apa?"
Sandro bertanya pendek sambil menormalkan denyut di dada karena senyum Dria.
"Dee sudah bicara dengan ayah, Dee ingin memperluas usaha ayah saja."
"Ohh, bagus... kalau butuh saran telpon kakak saja, kakak siap bantu."
"Serius kak Sandro mau bantu?"
"Iyaaa... Untuk sekarang kakak mulai dengan saran... kamu harus yakin dengan usaha yang kamu pilih, kalau sudah yakin dengan pilihan jenis usaha apa yang kamu mau, pengelolaan harus ditata... Jika mulai dengan itu pasti bisa berjalan... kamu boleh bertanya kapan saja, kakak siap membantu."
"Ahh, baiklah... Kak Sandro Dee angkat jadi penasehat buat Dee..."
Dria mengangkat telunjuknya dan menggoyangkan di depan Sandro seperti kebiasaannya. Sandro tertawa gemas dan sedapat mungkin menahan tangannya sendiri yang ingin sekali untuk menyentuh kepala Dria.
"Hahaha... kamu harus membayar kakak, ada biaya konsultasi, dan itu tidak murah..."
Dria tertawa mendengar kalimat kakaknya.
Dari sebuah kalimat berpamitan, percakapan terjalin dengan sangat lancar dan berkembang saling menceritakan banyak hal lain, termasuk cerita tentang perjalanan Sandro ke negara lain. Dan Sandro menikmati bagaimana rindunya terurai dengan menatap Dria dan mendengarkan cerita Dria.
Tak apa hanya seperti ini, hanya memandang karena tak bisa sembarang menyentuh sekarang, dia harus meraih kepercayaan Dria terlebih dahulu. Niatnya hanya memberi Dria kenyamanan, jadi dia hanya berusaha masuk ke relung hati Dria dengan perlahan saja, sambil berharap kenyamanan Dria akan kehadirannya bisa berubah menjadi cinta, seperti yang dimilikinya untuk Dria, dia akan bersabar untuk itu.
.
🐥
.
Maaf jika alurnya berjalan lambat 🙏
.