
Sejak terakhir bertemu Dria mendengarkan sendiri perkataan keras Dria tentang apa yang menjadi sikap Dria padanya, Egi bukannya berhenti memikirkan Dria terutama dia sesungguhnya sangat penasaran dengan perihal anak karena Dria mengakui adanya anak itu. Dan semakin Egi ingin mengabaikan pikiran soal anak itu justru keinginan untuk berjumpa dengan anak itu semakin kuat menarik dirinya.
Saat melihat Dria bersama seorang anak yang memanggil Dria kakak, Egi tidak terlalu memperhatikan anak itu, rasa was-was Dria menyadari siapa dirinya serta rasa penasaran dengan isi percakapan Dria dan anak itu membuat Dia tidak fokus memperhatikan wajah anak kecil itu. Padahal jika waktu itu memperhatikan wajah anak itu, mungkin dia bisa melihat sesuatu, mirip dirinya mungkin...
“Gi… kamu sudah mendekati Sandriana lagi?”
Mamanya yang dikenal orang dengan panggilan bu Betty mendatangi anaknya yang sedang duduk makan. Bila ada di rumah kegiatan Egi di luar kamar hanyalah untuk makan atau mengambil air minum untuk dibawa ke kamarnya, setelahnya dia hanya akan berada di kamar. Dia tidak pernah akrab dengan seisi rumah, tinggal di kota berbeda selama bertahun-tahun membuat hubungan dengan keluarganya menjadi kaku.
Egi tidak menanggapi pertanyaan sang mama, dia merasa tidak perlu menjawab itu. Belakangan sang mama mulai sering menanyakan tentang Dria. Bahkan menjadi sering menelpon Ivanka untuk mengorek banyak keterangan dari teman ponakannya itu. Saat Dhapne datang berkunjung, Dhapne memberitahu soal Sandriana dan tentang Ivanka sahabatnya sekaligus sahabat Sandriana dahulu.
“Egi? Mama bertanya padamu, kamu sering seperti ini, ditanyai hanya diam saja… telingamu masih normal kan?”
Egi mempercepat menghabiskan makanannya tidak lagi mengunyah dengan benar, dia tahu emosinya akan cepat naik bila mama atau Adel menyinggung soal Sandriana dan dia tidak ingin bertengkar lagi dengan sang mama. Meskipun mama bukan mama yang bisa mengerti dirinya tapi Egi tidak ingin bersikap kurang ajar.
“Gi… menurut Ivanka… seingat dia, Sandriana terlihat sakit-sakitan waktu awal masuk sekolah. Menurut mama, mama sudah mengitungnya, dia baru melahirkan pada saat itu… anak itu ada Egi, kamu jangan diam saja…”
Tidak ada suara Egi yang terdengar.
“Egi?? Kenapa sangat susah mengajakmu bicara?”
Dada Egi mulai bergemuruh, emosi mulai menguasai. Dia selalu merasakan bahwa mama tidak pernah bisa memahami sifatnya. Dan sekarang ada sang papa ikut duduk di hadapannya. Egi melirik sang papa. Egi sadar perlu menjelaskan tentang hal ini supaya mamanya berhenti membahas soal anak, dan supaya papanya juga tahu tentang sikap kurang bijaksana mereka tempo hari berdampak dalam kehidupan Egi sekarang.
“Ma… berhenti bahas soal Sandriana, apalagi soal anak, aku tidak suka.”
“Gi?? Itu anakmu. Kenapa kamu tidak peduli?”
“Tidak ada yang namanya anakku. Itu anak Sandriana, Sandriana menolak mengakui bahwa itu anakku, jadi mama berhenti membicarakan hal ini.”
“Kamu sudah membicarakan hal itu dengan Sandriana?”
Sekarang papanya yang berbicara.
“Sudah, dan tidak ada gunanya mama atau papa mendesakku tentang anak itu.”
“Tidak bisa begitu, Egi… itu cucu mama. Kita lakukan tes DNA.”
“Mama tidak paham dari tadi? Tidak perlu tes DNA karena itu pasti anakku, tapi Sandriana yang menolak untuk mengakui diriku, menolak untuk aku datang ke kehidupannya lagi.”
“Kenapa Sandriana sejahat itu? Kasihan anaknya tidak akan mengenal bapak kandungnya.”
“Lebih kasihan lagi pada waktu anak itu lahir tanpa kehadiran bapak kandungnya, dan itu karena mama. Jadi stop mengarahkan aku lagi untuk mencari anak itu, stop bertindak seolah-olah mama tidak pernah melakukan kesalahan pada Sandriana dan aku.”
“Tidak usah mengungkit masa lalu Egi, yang penting sekarang ini mama tidak seperti itu, mama ingin kamu berjuang untuk mendapatkan anakmu, paling tidak pengakuan dari Sandriana.”
“Ma, bahkan secara hukum anak itu hanya akan berstatus ‘anak ibunya’.”
“Egi…”
Papanya sekarang berbicara. Egi hanya melihat sepintas.
“Apa salahnya mengikuti perkataan mama… mama ingin memperbaiki kesalahan mama, karena itu mama mendorongmu melakukan sesuatu yang benar… lihat dari sudut pandang itu saja.”
“Aku heran dengan kalian, apa yang memicu tiba-tiba kalian bicara tentang Sandriana, tentang seorang anak yang belum tentu ada…”
“Karena kami bertemu Sandriana…”
“Hanya karena itu?”
“Kami ingin kamu memperbaiki kesalahanmu juga, Egi…”
Mamanya menjawab cepat.
Hati Egi yang sejak tadi sangat dongkol dan sangat menyesali mengapa baru sekarang kedua orang tuanya peduli tentang hal ini, sekarang bertambah dengan rasa marah karena mereka mengungkit kesalahannya. Tidak usah mengingatkan pun kesalahan itu tidak pernah hilang dari pikirannya. Egi berdiri meninggalkan meja makan, tak ingin ada pembicaraan tentang itu lagi. Pembicaraan yang hampir setiap kali dia dengar beberapa waktu ini, dan rasanya dia muak sekarang.
.
.
Bu Betty kemudian berinisiatif mencari Sandriana, anaknya sekarang tidak ingin melakukan sesuatu dan dia merasa bahwa niatnya baik maka di sini dia sekarang, duduk menunggu Sandriana. Tapi sudah lebih dari satu jam dia duduk di kafe dan sebelumnya sudah beberapa kali mengitari seluruh area toko. Di toko dia sudah bertanya pada beberapa karyawan, jawabannya sama, ibu Sandriana tidak pasti akan datang kapan ke toko, demikian juga di kafe. Setelah bertemu manajer kafe ini, dia memutuskan menunggu di dalam kafe saja.
Tak apa sedikit menunggu karena hal yang dia ingin lakukan adalah penting untuk anaknya. Bu Betty datang berdua Adeleyda, dia butuh teman untuk lebih percaya diri menghadapi Sandriana.
Adel yang tidak sabar kembali menemui bu Sonia.
“Bu… apa pasti Sandriana akan datang ke sini?”
“Biasanya begitu… jika Non Dria ada di kota ini setiap hari akan datang melihat toko dan kafe…”
“Maksudnya? Sandriana tinggal di kota lain?”
“Iya… kadangkala Non Dria ke kota J...”
“Kalau di kota ini Sandriana tinggal di mana?”
“Jika tentang hal itu, kami tidak tahu… maaf ya, saya tidak bisa lama-lama, saya harus bekerja.”
Bu Sonia melepas sebuah senyum lalu meninggalkan Adel. Karena ingin mencari lebih banyak informasi, Adel mencari seseorang yang kira-kira bisa diajak berbincang tentang bos mereka, dia mencoba dengan beberapa karyawan kafe tapi mereka semua berkata tidak mengetahui banyak.
Di depan ada seorang security terlihat berusia di atas empat puluhan, Adel mendekati security itu.
“Pak… lagi santai ya… lagi sepi…”
“Begitulah… tempat ini baru ramai pada akhir pekan…”
“Tapi tempat ini sudah terkenal pak…”
“Syukurlah…”
“Pak… kenal yang punya tempat ini, tidak?”
“Tentu saja… masih muda, sangat baik…”
“Masih muda tapi sudah berhasil ya, pak… beruntung sekali dia…”
“Ya… orang kaya memang selalu beruntung…”
“Iya… pak, apa mereka memang dari keluarga kaya? Berarti banyak usahanya?”
‘Dengar-dengar seperti itu… di kota ini, di kota J… usaha mereka banyak…”
“Oh begitu… tapi yang saya dengar, ayah yang punya tempat ini pembuat taman yang terkenal…”
“Oh itu pak Rahmadi, tapi ada keluarga ibu yang selalu datang dari kota J, mereka orang kaya yang diceritakan karyawan di sini…”
“Oh? Begitu pak?”
“Iya… tapi maafkan saya ya, saya harus bekerja lagi…”
Adel yang semakin penasaran tentang kehidupan Sandriana masih ingin bertanya lebih banyak akhirnya harus menelan kekecewaannya, security menjauh darinya dan nampaknya sengaja karena tidak ingin bicara lebih banyak, terlihat dia bercakap dengan sesama security yang bertugas sambil melirik pada Adel, pasti sedang membicarakan dirinya.
Adel masuk ke dalam kafe, dan melihat mamanya sudah berdiri di hadapan Sandriana dan seorang pria tampan yang sedang merangkul Sandriana. Adel bergegas mendekat, dia tidak ingin kehilangan momen penting ini.
.
.